10 October 2007

Handoko, ketua PITI Sidoarjo



Selasa, 9 Oktober 2007.

Saya mampir ke rumah Haji Muhammad Handoko [Poo Tjie Swie] di kawasan Sedati Gede, Sidoarjo. Rumah Pak Handoko benar-benar gede, menyatu dengan showroom Yamaha terbesar di Kabupaten Sidoarjo. Dia memang bos Al Handoko Motor. Dia membeli bekas kantor Polsek Sedati dan menyediakan lahan baru di tempat lain.

Berbeda dengan pengusaha keturunan Tionghoa umumnya yang alergi politik, Handoko justru sangat aktif berpolitik. Sampai sekarang ayah tiga anak ini masih tercatat sebagai bendara Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa [PKB] Kabupaten Sidoarjo. Posisi strategis, tentu saja.

Dan, jangan lupa, Handoko ikut aktif mendeklarasikan PKB pascajatuhnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Foto Gus Dur dan ulama NU menghiasi ruang kerja dan rumahnya. Dia mengaku cocok dengan lingkungan NU, yang sangat menghargai budaya dan keraifan lokal.

"Saya siapkan bendera, kaos, dan segala macam atribut PKB. Waktu itu kami membentuk PKB dari nol. Belum ada apa-apanya," cerita Handoko kepada saya. Tak heran, pengusaha ini dikenal keluarga KH Abdurrahman Wahid [Gus Dur], bekas presiden Republik Indonesia, yang juga pendiri partai berbasis Nahdlatul Ulama tersebut.

Gus Dur beberapa kali mampir ke rumah Handoko di kawasan Bandara Juanda, biasanya untuk urusan partai atau pengajian. "Saya ikut terjun ke politik ini karena ikut Gus Dur. Saya juga ikut mengurus NU di kawasan Sedati," tuturnya.

Masih ada lagi kegiatan HM Handoko yang tak kalah penting. Yakni, menjadi ketua Dewan Pimpinan Cabang Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) Sidoarjo. PITI yang dulu bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia dirancang sebagai wadah bagi umat Islam keturunan Tionghoa. Karena tergolong mualaf, pemeluk baru, orang-orang Tionghoa ini ditempa dulu di PITI agar tahu seluk-beluk ajaran agama Islam. Termasuk belajar salat, mengaji, memahami Alquran, dan sebagainya.

"Saya sudah tiga periode ini menjadi ketua PITI Sidoarjo. Saya sudah lama minta berhenti, tapi teman-teman maksa saya untuk bertahan. Ya, sudah, saya laksanakan saja amanah ini," ujar Handoko sambil tersenyum.

Di Kabupaten Sidoarjo, kata dia, ada sekitar 3.000 orang yang tercatat sebagai anggota PITI. Padahal, jumlah muslim Tionghoa sebenarnya lebih banyak dari ini. Hanya saja, karena orang-orang Tionghoa itu sibuk berdagang, mereka merasa tak punya waktu untuk aktif di PITI.

Lalu, bagaimana pembinaan para mualaf Tionghoa itu? "Kan ada masjid di tempatnya masing-masing. Ya, mereka langsung belajar di situ. Idealnya sih belajar langsung di PITI, tapi kita kan nggak punya masjid. Kantor sekretariat saja nggak punya," urai Handoko panjang lebar.

PITI Surabaya [sekaligus Jawa Timur] selama ini menjadi rujukan PITI-PITI lain di kabupaten/kota se-Jawa Timur. Sebab, PITI Surabaya punya masjid berarsitektur Tionghoa, Masjid HM Cheng Hoo, di Jalan Gading 15 Surabaya. Selain arsitekturnya unik, pengurus PITI menggunakan Masjid Cheng Hoo sebagai ajang pengislaman warga keturunan Tionghoa. Salah satunya, Herman Halim, bos Bank Maspion. Pembinaan untuk para mualaf pun dilakukan secara intensif di Masjid Cheng Hoo.

Karena itu, saat dilantik sebagai ketua PITI Sidoarjo (2004-2009), Handoko bertekad mendirikan masjid PITI berarsitektur Tiongkok di Kabupaten Sidoarjo. Bupati Sidoarjo Win Hendrarso yang hadir saat itu, di halaman rumah Handoko, sangat mendukung. "Bisa diatur. Di Sidoarjo kan banyak fasum dan fasum. Kita bisa pakai untuk membuat masjid Tionghoa," kata Win Hendrarso.

Beberapa waktu lalu, sepulang umrah di tanah suci, Handoko mengaku mendapat kepastian lahan untuk Masjid Cheng Hoo Sidoarjo. Lahan itu terletak di kompleks Perumahan Puri Surya Jaya, Gedangan. Adalah Michael, bos Puri Surya, menyumbangkan lahan fasilitas umum (fasum) untuk kebutuhan PITI Sidoarjo. Sebelumnya, PITI mendapat tawaran dari pengembang lain di Sidoarjo Kota, tapi batal.

"Kalau yang di Puri Surya ini cukup memadailah. Saya dikasih tahu sekitar 1.500 meter. Cukuplah untuk Masjid Cheng Hoo dan beberapa fasilitas pendukungnya," papar pria yang pada 2004 dijegal sebagai anggota DPD Sidoarjo itu.

Awalnya, Handoko mendapat tawaran lahan kosong 750 meter persegi. "Eh, ternyata setelah pulang dari tanah suci justru naik dua kali lipat. Mungkin ini yang namanya berkah dari Mekkah. Hehehe...."

Tak hanya Masjid Cheng Hoo, Handoko berangan-angan mendirikan lembaga pendidikan, pusat budaya Islam dan Tionghoa, serta beberapa fasilitas pendukung. Kantor PITI pun akan didirikan di kompleks masjid itu. "Kita juga rencana studi banding di Tiongkok melihat langsung masjid berarsitektur Tiongkok. Kalau sekadar di Surabaya, rasanya kok kuang puas. Biar lebih detail," paparnya.

Kini, hampir dua tahun berlalu, angan-angan Handoko dan pengurus PITI Sidoarjo belum berbuah. Lahan kosong belum diserahkan ke PITI. Aksi penggalangan dana sejak 2004 kini tak jelas juntrungannya. Apalagi, ketika Sidoarjo dilanda musibah lumpur lapindo pada 29 Mei 2006, fokus pemerintah dan pengusaha pun tertuju ke Porong dan sekitarnya. Energi pemerintah daerah tersedot ke lumpur. Pengusaha Sidoarjo pun cari akal agar bisa bertahan di dalam kubangan lumpur.

"Terus terang, belum ada realisasi. Tapi niat kita di PITI tetap tidak berubah. Insya Allah, masjid khas Tiongkok harus berdiri di Sidoarjo," tegas Handoko yang pada pemilihan presiden 2004 aktif mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla.

Kepada saya, berkali-kali Handoko mengeluh betapa sulitnya mengurus organisasi sosial keagamaan macam PITI. Tak hanya di Sidoarjo, di kabupaten/kota lain di Jawa Timur roda organisasi tidak begitu bergerak mulus. Regenerasi kurang jalan karena banyak pengusaha segan tampil ke depan.

"Orang dagang itu tidak suka disibukkan dengan urusan organisasi. Sudah capek, pusing, kita harus rela keluar uang dari kantung sendiri untuk kegiatan-kegiatan organisasi. PITI memang tempat pengabdian, bukan tempat cari uang atau lobi. Kita mengabdi semata-mata karena Allah SWT," ujar Handoko.

Lantas, apakah PITI ini masih relevan di Sidoarjo? Bukankah muslim Tionghoa [mualaf] juga banyak dibina organisasi-organisasi Islam mapan macam Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama?

Menurut Handoko, PITI tetap relevan dan diperlukan bagi warga muslim Tionghoa, namun perlu direvitalisasi. Visi dan misinya harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Pengurus PITI pun perlu diremajakan agar organisasi ini dinamis, lincah, tidak mandek.

"Makanya, di PITI Sidoarjo saya melibatkan sebanyak mungkin anak muda. Mereka-mereka ini yang akan meneruskan kepemimpinan saya," tegas Handoko.

Bagi saya pribadi, Pak Handoko merupakan tokoh muslim Tionghoa yang pluralis, multikultural, sangat menghargai pemeluk agama lain. Anak-anaknya bahkan sekolah di sekolah Katolik. "Saya memberi kebebasan kepada anak-anak saya. Mereka bisa menentukan keyakinan dan masa depan mereka sendiri. Sebagai orang tua, saya hanya mendukung, memberikan restu. Kalau baik, positif, masa kita tidak dukung?" tandasnya.

Handoko juga selalu cermat memilih kiai, ustaz, atau mubaligh, yang akan mengisi pengajian PITI Sidoarjo. Dia pelajari betul rekam jejak sang pembicara, wawasan kebangsaan, pemahaman keislaman, dan sebagainya. Dia menolak pembicara yang hanya menjelek-jelekkan sesama muslim atau ajaran agama lain.

"Saya tidak suka orang ekstrem. Indonesia ini membutuhkan orang-orang yang bisa memberikan kesejukan dan kedamaian. Sebab, Islam itu agama damai, memberi rahmat bagi alam semesta. Orang Islam harus menyebarkan kedamaian, bukan kebencian," tutur Handoko dalam bahasa Indonesia berlogat Tionghoa Jawa Timur.

Handoko tak hanya berteori. Sebelumnya, dia meminta anak buahnya menyediakan minuman ringan, teh botol, untuk saya. "Terima kasih, Pak Handoko! Ini kan bulan puasa. Nggak enak ah, teman-teman di sini kan puasa semua," kata saya.

"Hehehe.... Yang puasa itu orang Islam. Anda kan tidak puasa, ya, silakan minum atau makan seperti biasa," ujar Handoko dengan keramahan yang tidak dibuat-buat.


Pak Handoko baru memeluk agama Islam pada usia 40 tahun. Pengusaha terkenal di kawasan Sedati ini mengatakan, dia masuk Islam [agama semula Konghuchu] bukan karena mendapat mimpi atau bisikan-bisikan tertentu, tapi karena lingkungan.

Sejak kecil dia sudah mengenal agama mayoritas rakyat Indonesia ini. Ketika masih sekolah dasar di Buncitan, tak jauh dari Bandara Juanda, Pak Handoko sudah tertarik belajar Islam. Dia pun selalu kumpul dengan teman-teman sebaya yang hampir semuanya Islam.

"Tapi secara sistematis saya belajar dari Pak Haji Ridwan dan Pak Haji Rohim. Kedua beliau ini mengajarkan kepada saya agama Islam yang benar."

Yang menarik, Pak Handoko belajar Islam secara diam-diam. Takut diketahui orang tua? "Nggak juga. Keluarga saya itu terbuka, demokratis. Tapi aku gak enak karena mereka kan Konghuchu," papar pengusaha yang gemar berbakti sosial ini.

Pak Handoko pun makin memahami bahwa Islam itu agama yang baik. Tidak ada agama yang mengajarkan keburukan. Yang buruk itu orangnya. Namun, ia tidak langsung menyatakan masuk Islam.

"Saya baru masuk pada tahun 1994 ketika berusia 40. Saat itu saya sudah berkeluarga, punya dua anak," paparnya. Pak Haji Halim yang membimbing Handoko mengucapkan kalimat syahadat.

Hanya setahun menganut Islam, Pak Handoko menunaikan ibadah haji. "Saya ajak teman saya [pengusaha Tionghoa] yang lebih dulu masuk Islam karena takut salah saat menjalankan rukun haji," kenangnya. Alhamdulillah, rukun kelima itu ditunaikan dengan baik di Tanah Suci.

Lalu, bagaimana dengan istri dan anak-anaknya?

Pak Handoko menegaskan, mereka tetap memeluk agama yang diyakininya. Namun, syiar agama tetap dilaksanakan Pak Handoko dengan bijaksana. Saat ini tiga keponakannya sudah menjadi mualaf. Setiap tahun Pak Handoko juga memberangkatkan orang untuk menunaikan ibadah haji tanpa memandang mereka kerabat dekat atau bukan.

"Tahun ini kebetulan keponakan saya sendiri. Mungkin rezekinya dia untuk naik haji. Hehehe," ujar Pak Handoko.

Setelah menjadi haji--Haji Muhammad Handoko--pria yang biasa bicara ceplas-ceplos ini dipercaya menjadi pengurus sejumlah organisasi Islam baik di Sidoarjo, Surabaya, hingga Jawa Timur.

2 comments:

  1. salam buat pak handoko ya...

    ReplyDelete
  2. Ayo kapan berangkat ke kantor bos ??? Hehehe

    ReplyDelete