19 October 2007

Frater Monfoort teliti rumah adat Keo


Di tengah kesibukan sebagai biarawan Bunda Hati Kudus [BHK] di Malang, Jawa Timur, Frater Maria Monfoort BHK menekuni riset di kampung halamannya, Flores. Akhirnya, Frater Monfoort berhasil meraih gelar doktor di Universitas Merdeka Malang.

Disertasi frater bernama asli Klemens Mere ini berjudul Nilai-Nilai Budaya, Fungsi, dan Makna Simbolik Rumah Adat Keo dalam Konteks Perubahan Masyarakat di Desa Lajawajo, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur".

"Saya melihat perubahan sosial masyarakat membawa perubahan besar bagi kehidupan di Mauponggo. Bahkan, tak sedikit yang mulai melupakan tradisi,” ungkap biarawan ini.

Menurut Monfoort, masyarakat Keo sampai sekarang masih menjaga nilai-nilai luhur rumah adatnya. Rumah adat Keo tak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tapi juga sebagai tempat perlindungan atau pengayoman. "Konsepnya unik," kata laki-laki kelahiran 9 Agustus 1967 ini.

Konsep perlindungan itu bisa dilihat dari tata letak dan bentuk rumah. Tata letak rumah adat Keo melingkar seperti rantai dan bentuknya mirip kubah. Tiang-tiang banguan kokoh menopang rumah. Di tengah-tengah rumah adat terdapat sao pu’u dan sao yedha.

"Benda adat ini memiliki nilai pengayoman dan perlindungan bagi masyarakat dan sangat dihargai sampai sekarang," kata sang frater.

Bagi saya, riset tentang adat-istiadat Flores macam ini perlu dikembangkan dan diperbanyak. Siapa lagi yang akan memperkenalkan Flores, Nusa Tenggara Timur, kalau bukan warga keturunan Flores sendiri? Terlalu banyak objek menarik di kampung halaman yang bisa diangkat, dikupas, menjadi karya ilmiah.

Jika terus disosialisasikan, insya Allah, masyarakat di luar Flores pun akan tertarik. Sehingga, image Pulau Flores pelan-pelan bisa berubah menjadi lebih baik. Syukur-syukur, bisa memberi sumbangan bagi kemajuan masyarakat di Flores, Lembata, Adonara, Solor, Alor, dan pulau-pulau kecil di NTT.

Bukan apa-apa. Selama ini sebagian orang di Jawa masih menganggap Flores sebagai pulau tempat tinggal orang-orang primitif yang belum mengenal peradaban modern. Juga, maaf, orang-orang bodoh, terbelakang, miskin, tertinggal di hampir semua bidang. Citra ini beroleh konfirmasi ketika surat kabar nasional menulis tentang kelaparan ekstrem di NTT. Masyarakat makan buah bakau, minum air pisang, serta kondisi ekstrem lainnya.

Tahun 2004 kita dikejutkan oleh temuan fosil manusia purba setinggi satu meter di Liang Bua, Kabupaten Manggarai, Flores. Temuan Peter Brown dari Australia itu menyebutkan bahwa 'manusia Flores' itu [alias Hobbit] hidup 13.000 tahun lalu.

Dunia antropologi geger. Polemik berkembang luas di dalam dan luar negeri. Ah, manusia Flores menjadi bahan kajian kelas berat! Debat soal manusia Flores berakhir setelah pakar-pakar dari Indonesia, khususnya Prof. Dr. Teuku Jacob [meninggal 17 Oktober 2007] mementahkan klaim Peter Borwn dan timnya.

Disebutkan bahwa manusia Flores [Homo Floresiensis] itu ternyata sama saja dengan Homo sapiens macam kita inilah. Hanya saja, tinggi si Hobbit hanya semeter karena mengalami kelainan. Buktinya, masyarakat di dekat Liang Bua pun sampai sekarang rata-rata tingginya di bawah 1,4 meter.

Bagi saya, riset antropologi ini ibarat promosi gratis untuk Flores. CNN, BBC, Time, Newsweek, media-media besar dunia berpaling ke Flores. Di mana sih Flores itu? Manusianya kayak apa? Lingkungannya macam apa? Budayanya? Kondisi mutakhir?

Saya yakin, temuan manusia Flores yang kontroversial ini akan terus mencuat karena masih banyak periset yang akan mengembangkannya lebih lanjut. Isu manusia katai dari Liang Bua jelas sangat menarik.

Saya berharap, orang-orang Flores di mana pun berada, khususnya mahasiswa S-1 hingga S-3, untuk tidak jemu-jemu mengembangkan riset di kampung halaman. Sekali lagi, masih terlalu banyak objek menarik yang belum dikupas. Informasi ilmiah tentang Flores masih terlalu sedikit.

Kita, orang Flores, Nusa Tenggara Timur, jangan terus-menerus menjadi objek penelitian. Kita harus menjadi subjek, pelaku! Akan sangat aneh jika kita harus jauh-jauh ke Australia, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Kanada... hanya untuk belajar tentang Flores.

2 comments:

  1. Saudara Lambertus yang baik dan kreatif. Pertama-tama, proficiat atas publikasi mengenai kebudayaan, khususnya menyangkut rumah adat subsuku Keo, dengan tokoh Fr. Montfoort. Saya, P. Ludovikus SMM, putra Nagekeo, desa Jawapogo, kec. Mauponggo, dan kebetulan juga separoki dengan Fr. Monfoort. Saya kini berkarya sebagai pembina para calon imam Montfortan di Ruteng, Manggarai, Flores. Saya merasa sangat senang dapat menemukan blog Anda dengan isi yang mengejutkan. Ternyata, secara diam-diam Fr. Monfoort telah melakukan sebuah karya besar, mengangkat kebudayaan sendiri dalam sebuah karya yang menjadi mahkota bagi studi doktoralnya. Semoga teladan Fr. Monfoort dapat memberikan inspirasi bagi siapapun, terutama para mahasiswa yang berasal dari Flores (NTT) umumnya dan Nagekeo khususnya.
    Proficiat atas keberhasilan Fr. Monfoort dan terima kasih kepada Sdr. Lambertus. Tuhan memberkati Anda dan Selamat menjalankan Masa Puasa.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih banyak Pater Ludovikus, sudah baca dan merespons tulisan ringan saya. Yah, semoga teladan Frater Montfoort menjadi inspirasi bagi kita semua.
    Selamat puasa dan pantang juga. Salam damai!

    ReplyDelete