06 October 2007

Cuti bersama rusak etos kerja

Di televisi, Jumat [5/10/2007], Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengatakan bahwa cuti bersama Lebaran tidak akan mengurangi produktivitas. Sebab, perpanjangan cuti bersama sudah dihitung secara cermat oleh pemerintah. Jusuf Kala lalu tertawa kecil.

Beberapa hari sebelumnya, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie pun menyatakan hal serupa. Bersama Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni, Aburizal dengan enteng mengumumkan penambahan cuti bersama. Saya, yang bukan pegawai negeri, dan tak mengenal 'cuti bersama, terheran-heran dengan kebijakan pemerintah ini.

Tahun ini, 2007, tadinya cuti atau libur Lebaran untuk pegawai negeri hanya 12-16 Oktober. Lima hari cukuplah. Bandingkan dengan era Presiden Soeharto di mana libur Idul Fitri hanya dua hari. Dulu, banyak pegawai bolos, tapi secara umum disiplin kerja ala Orde Baru masih bagus.

Lha, kok tiba-tiba pemerintah yang sama, kabinet sama, presiden sama, mengumumkan penambahan cuti? Ada apa ini? Bagaimana komitmen Presiden Susilo bahwa bangsa ini harus kerja keras, meningkat produktivitas?

Saya tidak paham. Saya banyak membaca tulisan orang-orang sukses yang gila kerja. Kerja, kerja, kerja! John Wood, bekas eksekutif Microsoft, pernah mengatakan, mereka yang libur itu orang-orang lemah. John Wood mengaku tak pernah libur, apalagi cuti bersama berhari-hari macam pegawai negeri di sini. Waktu itu uang!

Dahlan Iskan, bos Grup Jawa Pos, pada awal Agustus 2007 menjalani operasi transplantasi lever di Tianjin, Tiongkok. Dahlan pekerja keras, nyaris tak pernah libur. "Kerja, kerja, kerja," begitu filsafat Dahlan Iskan, raja media di Indonesia.

Bahkan, baru saja dioperasi berat pun Pak Dahlan bekerja, bikin tulisan panjang 32 seri tentang pengalaman menjalani operasi pergantian lever di Tiongkok. Saya pastikan, wartawan yang tidak sakit sekalipun, termasuk saya, tidak akan bisa menulis sebagus dan sepanjang itu. Tulisan yang benar-benar inspiratif, edukatif, informatif, juga sarat dengan filosofi KERJA KERAS.

Dahlan Iskan sejak 1990-an menghapus 'tanggal merah' dari koran-koran di lingkungan Grup Jawa Pos. Tanggal merah, libur nasional, ya, harus terbit. Sebab, pembaca perlu membaca informasi pada saat libur. Menurut Dahlan Iskan, justru pada saat libur itu pembaca punya waktu luang untuk membaca. Dus, kenapa koran harus libur?

Bagaimana dengan Lebaran, hari raya Islam yang sangat fenomenal itu? Sama saja. Jawa Pos tetap terbit pada dua tanggal merah dengan KORAN LEBARAN. Redaktur, wartawan, penata letak, pefoto... tetap masuk. Tidak semua tentu. Tapi ada mekanisme sehingga Jawa Pos tetap terbit meskipun Lebaran. Tradisi ini sudah berjalan empat tahun berturut-turut. Filsafat Dahlan Iskan--kerja, kerja, kerja--sungguh mewarnai koran-koran di Grup Jawa Pos.

Kembali ke cuti bersama yang diperpanjang. Saya hitung pegawai negeri tahun ini libur dua minggu, bahkan lebih. Mulai 8 Oktober, saya kira, suasana kerja di kantor-kantor sudah rusak. Orang ramai-ramai fokus ke mudik atawa pulang kampung. Lantas, menurut teori, kerja lagi mulai 22 Oktober.

Benar demikian? Teorinya, masuk kerja acaranya ya salam-salaman, jabat tangan, makan-makan, halal bihalal. Acara santai ini bisa berlangsung satu minggu, hingga 27 Oktober. Praktis selama Oktober 2007 produktivitas pegawai negeri kita berada di titik terbawah.

Selama bulan puasa, sejak 13 September, praktis jam kerja dipangkas agar pegawai bisa menjalankan puasa. Saya juga melihat betapa begitu banyak PNS di Surabaya dan Sidoarjo hanya bersantai, baca koran, ngobrol. Tidak terlihat mereka sibuk kerja macam di kantor swasta, apalagi media massa.

Kapan negara maju kalau etos kerja manusia Indonesia, yang rendah, dirusak justru oleh pemerintah? Kapan kerja keras menjadi budaya? Kapan kita melihat manusia Indonesia berjalan bergegas macam di Hong Kong atau Singapura karena manusia sangat menghargai waktu? Bisakah kita bersaing di era globalisasi?

Sejak pengusaha besar menjadi pejabat seperti Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie pascareformasi tahun 1998, saya pikir budaya kerja keras ala swasta 'ditransplantasikan' ke tubuh birokrasi. Kalla pekerja keras. Aburizal juga gila kerja. Tapi apa lacur?

Jusuf Kalla, saat menjabat menteri koordinator kesejahteraan rakyat era Presiden Megawati Soekarnoputri, justru memelopori 'cuti bersama'. Tanggal merah, meski itu hari keagamaan, diundur atau dimajukan agar tidak ada hari kejepit. Hari libur diakumulasi.

Alasannya, agar manusia Indonesia berkesempatan jalan-jalan ke objek wisata pascateror bom di Bali. Wisata meningkat, perputaran uang naik. Libur Lebaran pun ditambah sebanyak mungkin agar ada kesempatan pulang kampung. "Kalau tidak begini, nanti pegawai negeri tidak masuk, bolos, dengan alasan masih di kampung halaman," kata Aburizal Bakrie di televisi pekan ini.

Ah, konyol nian Aburizal! Konyol nian Basyuni! Konyol pula Jusuf Kalla! Bukankah pemerintah harus memaksa rakyatnya bekerja keras? Bukankah pemerintah punya sistem untuk menertibkan pegawai-pegawai malas yang suka bolos? Kok pemerintah lembek, justru mengikuti etos pegawai negeri yang memang rendah?

Indonesia berdempetan dengan Singapura, negara kecil nan makmur. Tapi etos kerja kita sungguh berbeda dengan mereka. Singapura beruntung punya pemimpin sekaliber Lee Kuan Yew yang gila kerja, tahu persis resep untuk memajukan negaranya. Kerja, kerja, kerja! Saat berada di Singapura, saya melihat langsung betapa warga Singapura benar-benar bekerja keras, dan cerdas, di bidangnya masing-masing.

Tiongkok saat ini maju pesat. Beda dengan Tiongkok tahun 1980-an yang lamban, tertinggal, bahkan dari Indonesia. Kenapa Tiongkok bisa berlari cepat? Jawabnya: kerja, kerja, kerja! Saya kira, pemerintah Tiongkok mengondisikan rakyatnya agar kerja keras, tidak berleha-leha, tidak bermalas-malasan dengan dalih cuti bersama.

Kalau Singapura dan Tiongkok yang sudah maju saja kerja-kerja-kerja, lha kita orang kok doyan cuti bersama? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, apa tidak tahu kalau dunia luar sudah bergerak cepat meninggalkan kita?

5 comments:

  1. Di negera saya ada 45 hari libur untuk pegawai. Pemerintah mau kecilkan waktu liburan, karena globalisasi. Tapi, kenapa tidak libur ? Saya mengerti pemimpin perusahaan mau kerja kerja kerja... Tapi buat pegawai negeri apakah mereka punya insentif ? Kalau ada instrumentasi untuk dapat gaji menurut produktivitas pasti pegawai mau kerja lebih keras. Masalah produktivitas pegawai negeri ada dimana mana di dunia (missalnya di perancis). Tapi argumentasi "globalisasi" sering berarti condisi pegawai (swasta dan negeri) direvisi... dan harus di memperkecilkan... Buat pemimpin dapat profit lebih besar...
    Di kasus indonesia, saya setuju, orang pegawai negeri orang yg "privilesi" dibanding pegawai swasta (dan orang yg nggangur)
    Tapi, revisi hak (atau privilese) pegawai negeri harus datang bersama dengan revisi management sumber daya manusia. Begitu, administrasi indonesia memang jadi modern dan mustajab
    Au revoir.
    Ps congratulation for your blog. It is very intersting and I'm sorry for my poor indonesian
    (maaf bhs indonesia saya sedikit rusak)

    ReplyDelete
  2. Philippe, thank you very much for reading my blog. Good luck!

    ReplyDelete
  3. Di Republik Islam Iran, libur Idul Fitri hanya satu hari. Begitu berita detikcom, 8 Oktober 2007.

    ReplyDelete
  4. Produktif bukan hanya dilihat dari banyaknya hari kerja tapi juga bagaimana cara bekerja. Kalaupun tiap hari di kantor, tapi pikiran sama keluarga atau ke persoalan yang lain, lebih baik dikasih cuti biar ada waktu untuk kunjungi keluarga, teman dan selesaikan soal2 lain di luar urusan kantor. Dengan demikian kalau kerja lagi pikiran sudah lebih fresh... bisa lebih "produktif" -- harapannya.

    Sebenarnya yang dibutuhkan adalah bagaimana kerja pintar dan bukan hanya kerja keras.

    Ide yang baik kasih libur panjang, tapi lebih baik lagi kalau diimbangai dengan bagaimana menciptakan kondisi untuk orang bisa pintar dan creative dalam bekerja.

    Negara lain juga punya cuti yang panjang. Di Australia, tiap tiga bulan, jatah cuti sudah terhitung 5 hari kerja. Satu tahun minimal 20 hari kerja diluar public holiday.

    Tapi mereka bisa tetap maju karena sistem yang ada bisa membuat orang pintar dalam bekerja.

    Anyway ... I am proud of you.... Very nice blog and enjoy reading it ....

    ReplyDelete
  5. emang, di indonesia liburnya 130 hari setahun. perlu ditata lagi lah.

    ReplyDelete