26 October 2007

Baik buruk kawin muda


Gaya pelajar SMA yang berpacaran di pantai wisata Gresik, asyik banget. Mungkin lebih baik kalau dua teman kita ini kawin muda saja lah.

Kawin muda berbahaya?

Pendapat umum mengatakan demikian. Namun, konsultan sekaligus pendeta terkenal di Bandung, Dr. Stanley Head justru sangat menganjurkan kawin muda yang bertanggung jawab. Para mahasiswa dan mahasiswa diimbau segera menikah kalau sudah punya pasangan tetap.

Saya beberapa kali meliput ceramah Dr. Stanley di Surabaya. Di depan para mahasiswa Universitas Kristen Petra, misalnya, Stanley menegaskan keyakinannya bahwa kawin muda jauh lebih baik daripada kawin tua.

Dan usia mahasiswa Indonesia [rata-rata di bawah 24 tahun] dianggap sudah sangat layak untuk menikah. "Jangan tunda perkawinan kalau kalian sudah siap. Kenapa menunggu lama-lama," kata Stanley dengan logat bule, tapi sangat enak berbahasa Indonesia. Dia sudah menulis banyak buku yang berkaitan dengan psikologi dan agama Kristen [Protestan].

"Tapi, Pak, mahasiswa kan belum punya penghasilan. Masih bergantung penuh pada orang tua, bagaimana biaya untuk menghidupi keluarga?" pasti selalu muncul pertanyaan macam begini di setiap ceramah Stanley. Pendeta bule ini tentu sudah mengantisipasi.

Menurut Stanley, orang tua berkewajiban membantu anaknya yang menikah ketika belum mandiri secara finansial. Makan, minum, tinggal... ikut orang tua atau mertua, kata dia, bukan masalah yang harus dicemaskan. Orang tua kedua pihak diharapkan membantu secara fisik dan psikis hingga pasutri muda ini mandiri. Termasuk menyelesaikan kuliah, mencari pekerjaan, mengemong anaknya sampai mentas.

"Pernikahan pada usia muda sangat ideal dan produktif jika ada kerja sama dari orang tua kedua belah pihak," tegas Stanley. Harus ada catatan: karena belum punya penghasilan, kuliah S-1 belum kelar, diharapkan tidak punya anak lebih dari satu dulu. Kecuali memang dianugerahi Tuhan anak kembar, tentu saja.

Kenapa Stanley sangat menganjurkan kawin muda? Kok beda dengan pendapat umum yang berkembang di Indonesia saat ini? Stanley mengatakan, berdasar pengalamannya memberikan konsultasi, adaptasi dua pribadi muda jauh lebih gampang daripada orang yang berusia 30 tahun ke atas. Tambah tua tambah sulit.

Mencari jodoh pada usia di atas 25 tahun pun biasanya lebih sulit karena kesibukan kerja. Lebih sulit lagi bagi kaum minoritas yang hidup di tengah-tengah mayoritas mutlak macam di Jawa. Betapa susah menemukan calon istri/suami yang seagama, apalagi segereja. Bagaimana bisa ketemu kalau anda tinggal di daerah yang 99,5 persen Islam, sedangkan anda ingin istri Katolik?

"Orang muda lebih fleksibel. Awalnya memang agak sulit, jatuh bangun, karena persoalan ekonomi dan sebagainya. Tapi dengan bantuan orang tua kedua pihak persoalan ini bisa diatasi," tegas Stanley.

Ibarat besi keras, orang yang berusia 30-an tahun, itu sudah sangat keras, sulit dibengkokkan. Karakter pribadi sudah terbentuk, sudah matang. Anak-anak muda sangat lentur, bisa dibentuk, diarahkan menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia.

Saya dan teman-teman mahasiswa geleng-geleng kepala, tapi juga bisa menerima pendapat Stanley. "Anda mau nikah sebelum usia 21?" tanya saya kepada Andreas, mahasiswa keturunan Tionghoa.

"Wah, susah, Bang, mau makan apa? Omong di seminar, di buku sih enak, tapi apa bisa diterapkan di kehidupan nyata? Aku kok gak berani deh. Lagian, aku kan gak punya pacar. Belum pernah berpikir menikah selama masa kuliah," katanya.

Sejumlah mahasiswa yang saya tanya pun menjawab sama. Menikah ketika mahasiswa bisa-bisa membuat orang tua murka. Ujung-ujungnya, biaya kuliah yang sangat mahal itu distop. Mau kerja apa kalau belum punya ijazah sarjana? Begitu pikiran kawan-kawan mahasiswa. Dus, saran Dr. Stanley ini perlu dikaji baik-baik sebelum memutuskan untuk menikah yang [idealnya] hanya sekali seumur hidup itu.

Praktik kawin muda, bahkan sangat-sangat muda, sebenarnya sudah menjadi budaya di sejumlah daerah di Jawa Timur. Khususnya di pelosok kawasan 'tapal kuda' macam Jember, Bondowoso, Situbondo.


Waktu menjalani kuliah kerja nyata [KKN] di daerah Desa Sumberwaru, Kecamatan Curahdami, Bondowoso, saya jadi tahu bahwa daerah itu menganut tradisi kawin sangat muda. Tapi agak berbeda dengan kawin muda yang dianjurkan Dr. Stanley Head.

Di pedalaman Bondowoso dan sekitarnya, mencari jodoh merupakan urusan orang tua. Tidak dibenarkan anak-anak mencari pasangan hidup sendiri. Hebatnya lagi, sejak kanak-kanak alias balita, orang tua sudah menetapkan jodohnya. Jadi, ketika tamat sekolah dasar [SD] anak-anak ini langsung menikah. Anak-anak SD di sana tentu sudah tahu dengan siapa ia akan menikah setelah lulus SD.

Maka, kawin muda ala Bondowoso ini selalu di usia belasan tahun. Tamat SD nikah! Bahkan, banyak yang terpaksa putus sekolah dasar agar segera kawin. Mereka tidak sempat melanjutkan sekolah karena sudah keburu berumah tangga. Kerja di kebun, merantau, atau kerja apa saja seperti kakek neneknya dulu. Pasutri-pasutri muda [banget] ini rata-rata tidak segera punya anak meski sudah menikah secara sah.

"Mungkin belum tahu caranya bikin anak. Wong umurnya sangat muda, bahkan di bawah umur kayak begitu," ujar Muhammad Asnan, teman saya yang sama-sama KKN di Bondowoso pada akhir 1990-an.

Tradisi di sana, setelah menikah si laki-laki wajib tinggal bersama keluarga perempuan. Rumah perempuan akan diperpanjang, ditambahkan pada bangunan lama, sebagai tempat tinggal keluarga baru. Karena itu, keluarga yang punya banyak anak perempuan, otomatis mendapat tambahan anggota keluarga baru, ya, menantu laki-lakinya.

Pasutri baru ini makan, minum, kerja di ladang seperti layaknya orang desa. Kehidupan desa tradisional, komunal, konservatif, membuat urusan perkawinan sangat-sangat mudah. Ibarat makan-minum sehari-hari yang tidak membutuhkan rencana dan pemikiran panjang dan berbelit-belit.

Sistem pacaran, mencari jodoh sendiri, macam di kota tidak dikenal di kampung-kampung tapal kuda yang berlatar budaya Madura itu. Jangankan pacaran, berjalan bersama dua insan berbeda jenis kelamin yang bukan muhrim bisa menjadi masalah besar di kampung-kampung. Kita pun tidak dibenarkan berbincang lama-lama dengan istri orang. Jika suami tak ada di rumah, sebaiknya anda cepat-cepat pulang. Sebab, bisa timbul fitnah macam-macam yang berujung pada tindakan carok untuk mempertahankan harga diri.

Nah, fakta yang banyak terjadi, seperti saya dapatkan langsung di lapangan, angka perceraian sangat tinggi. Menikah hanya demi mengikuti ketentuan adat, keinginan orang tua saja, tanpa menghayati makna berumah tangga. Karena itu, para mahasiswa Universitas Jember senantiasa diminta mensosialisasikan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 yang mensyaratkan usia minimal pernikahan 17 tahun. Kalau belum 17, tunggu dululah.

Ceramah UU Perkawinan ini boleh dikata belum 100 persen sukses. Buktinya, sampai sekarang saya masih mendengar banyaknya janda-janda dan duda-duda muda di pelosok tapal kuda Jawa Timur. Usia masih 15 tahun, tapi sudah janda. Sudah duda.

"Bagaimana lagi, Mas? Saya cerai karena menikah pada usia sangat muda. Kami belum matang untuk menghayati makna pernikahan," ujar Badriah, perempuan Bondowoso, yang kerja di Sidoarjo.

Saya kira, Dr. Stanley tidak menginginkan kawin muda ala kampung-kampung tradisional di Jawa Timur. Jalan tengahnya, barangkali, menikah pada usia yang tidak terlalu muda, tapi juga tidak terlalu tua. Sebab, ekstrem tua dan ekstrem muda sama-sama tidak baik.

Bicara soal kawin-mawin, saya selalu teringat kutipan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945:

"Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata: Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gaji f 500. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul, sudah mempunyai meja kursi yang selengkap-lengkapnya, sudah mempunyai sendok garpu perak satu set, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinderuitzet, barulah saya berani kawin.

Ada orang lain yang berkata: Saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat, yaitu meja makan, lantas satu zitje, lantas satu tempat tidur.

Ada orang yang lebih berani dari itu, yaitu saudara-saudara Marhaen. Kalau dia sudah mempunyai gubuk saja dengan satu tikar, dengan satu periuk, dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, dengan satu periuk, dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, satu gubuk, kawin! Sang klerk dengan satu meja, empat kursi, satu zitje, satu tempat tidur, kawin.

Sang Ndoro yang mempunyai rumah gedung, electrische kookplaat, tempat tidur, uang bertimbun-timbun, kawin. Belum tentu mana yang lebih gelukkig, belum tentu mana yang lebih bahagia: Sang Ndoro dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul atau Sarinem dan Samiun yang hanya mempunyai satu tikar dan satu periuk, Saudara-Saudara!

Tekad hatinya yang perlu! Tekad hatinya Samiun kawin dengan satu tikar dan satu periuk, dan hati Sang Ndoro yang baru berani kawin kalau sudah mempunyai gerozilver satu kaset plus kinderuitzet buat tiga tahun lamanya!"


Asal tahu saja, proklamator kita itu kawin dengan Siti Oetari [usia 14], anaknya bapak kos, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, di Peneleh Gang VII/29 Surabaya, pada 1919. Usia Bung Karno saat itu 18 tahun. Pada 1923 Bung Karno bercerai [talak tiga] dengan Oetari. Lalu, pada 24 Maret 1923 [Bung Karno 22 tahun] kawinlah dia untuk kali kedua dengan Inggit Ganarsih, ibu kosnya di Bandung. Inggit itu bekas istri Sanusi, bapak kosnya Soekarno. Jadi, Bung Karno 22 tahun, Inggit 36 tahun.

Nah, kalau sekarang teman-teman mahasiswa kawin muda, menikahi anaknya pemilik kos, kenapa tidak? Sejak dulu bapak bangsa kita, Bung Karno, sudah kasih contoh. Hehehe....

5 comments:

  1. tp pointnya yang tua dan muda tetep butuh kawin kan! he.he. :)

    ReplyDelete
  2. yg pnting mahk setya wehk lahk .

    ReplyDelete
  3. setuju, tapi kadang malah orang tua yang melarang karena alesan belum mapan ekonomi...

    ReplyDelete
  4. natu khou batu soyo ihi ninau bakha bawa doau

    ReplyDelete