04 October 2007

Aryani Widagdo pencetak desainer Surabaya



Usaha apa saja, jika dilakoni dengan tekun dan setia, maka niscaya akan berbuah. Kunci utama sukses adalah mencintai pekerjaan, berbahagia dengan pekerjaan. Begitulah resep sederhana dari Aryani Widagdo, pendiri sekaligus pemilik Arva School of Fashion, yang beralamat di Jl Sambas 16 Surabaya.

"Saya memulai sekolah ini dari nol. Awalnya saya nggak punya apa-apa. Murid saya hanya empat orang, pegawai hanya satu," cerita Aryani Widagdo kepada saya di ruang tengah Arva School of Fashion, pekan lalu.

Sambil berbincang santai, empat perempuan berusia 50-an tahun masuk ke sekolah mode ini. Kemudian datang pula gadis-gadis cantik. Juga beberapa ibu muda bersama anaknya yang masih kecil. Sementara televisi kabel tak henti-hentinya menayangkan program fashion show di Paris, Milan, dan sejumlah kota ternama di Eropa.
"Suasana di sini tiap hari, ya, begini ini. Selalu ramai dengan orang-orang yang ingin belajar fashion. Semuanya kami layani dengan baik," tutur Aryani seraya tersenyum.

Cerita tentang sekolah mode yang hanya punya empat siswa dan satu pegawai, ketika Aryani Widagdo merintis Arva School pada 1990, kini tinggal sejarah. Sebab, ruangan Arva tidak lagi sempit kayak di Jl Adityawarman dulu. Sekarang kondisi Arva sudah jauh berubah. Gedungnya megah bertingkat, pakai AC, dengan rancangan modern.

Sekarang ini siswa tetap yang menempuh pendidikan Diploma I di Arva sekitar 30 orang. Bila ditambah dengan peserta kursus singkat, maka jumlahnya mencapai ratusan. Aryani sendiri mengaku tidak bisa memastikan karena kursus di Arva sangat bervariasi. "Ada yang kursus satu hari, satu minggu, satu bulan. Ada yang hanya sekadar belajar bagaimana pasang kancing dan sebagainya," tutur ibu dua anak ini.

Kenapa Aryani mendirikan sekolah mode? Apakah terkait dengan latar belakang pendidikannya? Aryani tampak tertawa kecil mendengar pertanyaan saya. Maklum, latar belakang Aryani sama sekali bukan keluarga pengemar mode. Orangtuanya pedagang biasa di Semarang. "Tapi saya memang pernah membayangkan menjadi desainer."

Celakanya, di Semarang, juga kota-kota lain di tanah air, belum ada sekolah perancana busana atawa school of fashion. Karena itu, tamat dari SMA swasta terkemuka di Semarang, Aryani memutuskan masuk ke Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro di kotanya. Hitung-hitungannya sederhana saja: arsitektur itu masih berurusan dengan rancang-merancang. Dus, ada benang merah dengan rancang busana.

Setelah kuliah di arsitektur, Aryani mengaku kurang 'in' karena dirasa membosankan. Merancang bangunan dengan merancang busana ternyata lain. Toh, Aryani berhasil menyelesaikan studi strata satu di situ. Hampir bersamaan Aryani berkenalan dengan pelaut asal Surabaya, Freddy Haryanto, yang kemudian menjadi suaminya. Aryani pun hijrah dari Semarang ke Surabaya untuk merancang kehidupan baru di Kota Pahlawan.
Syukurlah, Aryani punya suami wiraswasta [setelah meninggalkan dunia pelayaran] yang sangat mendukung cita-cita lamanya sebagai desainer. Aryani pun mulai belajar menjadi perancang busana pada Doyok Prawoto (alm). "Belajarnya nggak begitu lama kok," tutur nenek satu cucu ini.

Lantas, ikut kursus lagi pada Madame Elena di Jakarta. Merasa kurang puas, Aryani ikut paket kuliah dua tahun dari International Corespondence School Pennsylvania, Amerika Serikat.

Setelah bekalnya dirasa cukup, Aryani seharusnya ingin menekuni dunia desain mode. Apalagi, saat itu, pada 1980-an, desain mode belum terlalu marak di Surabaya dan sekitarnya.

Tapi, belajar dari beberapa kursus yang pernah diikutinya, Aryani sadar bahwa Kota Surabaya sejatinya tidak punya lembaga pendidikan mode yang memadai. Silabus, kurikulum, fasilitas, jenjang akademik... serba terbatas. Kursus-kursus sih ada, tapi seadanya saja. Karena itu, Aryani Widagdo tergerak untuk mendirikan sekolah mode di Surabaya.

"Ingat lho, sekolah mode. Di sini orang sering mengacaukan sekolah mode dan modelling school. Kalau sekolah mode itu mencetak desainer, modelling school mencetak model. Model-model itu yang memperagakan rancangan karya desainer atau perancang busana," papar perempuan yang gemar membaca ini.

Bikin sekolah mode ibarat menanam jati, bukan menanam pisang. Buahnya tidak bisa dinikmati segera, tapi jangka panjang. Maka, ketika hanya punya empat siswa pada awal pembukaan Arva School, Aryani tidak cemas. Sebab, dia sudah memprediksikan bahwa cepat atau lambat mode alias fashion akan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kota besar macam Surabaya.

Teknologi informasi, televisi, internet, ponsel, berkembang begitu cepat, dan semua itu memengaruhi selera masyarakat. Fashion pun menjadi kebutuhan utama warga metropolis. Benar saja. Sekolah yang awalnya dicibir orang, pelan tapi pasti, diminati anak-anak muda di Surabaya dan sekitarnya. Perkembangannya tidak dahsyat, tapi selalu menjanjikan. "Saya pasang iklan kecil dan bagi-bagi brosur ke mana-mana," kenang Aryani Widagdo.

Pada 1996, di usia enam tahun, Aryani memberanikan diri menggelar fashion show karya siswanya di tempat umum. Para siswa diberi kebebasan untuk berkarya. Merancang buasana eksperimental atau karya-karya avant garde yang kerap dianggap nyentrik atau aneh-aneh oleh masyarakat umum. Tak ayal, acara ini mendapat liputan luas dari media massa cetak dan elektronik.

"Saya sendiri heran kok akhirnya bisa membuat desain busana yang unik. Saya yang tadinya awam di fashion, eh setelah ikut Arva School, akhirnya bisa," ujar Cupa, alumnus Arva School, suatu ketika. Siswa-siswa lain pun mengutarakan pengalaman serupa.

Lantas, Aryani Widagdo menunjukkan catatan prestasi anak didiknya. Sejak 1994 siswa Arva School beroleh penghargaan dalam berbagai lomba desain busana tingkat nasional, bahkan internasional. Jumlah terlalu banyak untuk ditulis semuanya. Grace Dewi dan Charles Sie, misalnya, memenangi Prix d'Incitation Concours International des Createurs de Bijoux di Paris, Prancis. Boleh dikata, anak-anak Arva School selalu menjadi langganan juara lomba-lomba desain mode tingkat nasional.

Kini, Arva School sudah 17 tahun hadir di Surabaya. Menurut Aryani Widagdo, masyarakat Surabaya kian sadar mode, fashionable, ketimbang katakanlah 10-20 tahun lalu. Era globalisasi dengan akses informasi sangat luas dan cepat membuat karya-karya desainer di pusat fashion dunia bisa dinikmati dengan cepat di sini.

Karena itu, sekolah-sekolah mode akan semakin dibutuhkan oleh masyarakat yang sadar mode. Aryani sendiri sebetulnya bisa saja menekuni dunia desain yang lebih cepat mendatangkan keuntungan. Tapi dia memilih menjadi guru, membina lembaga pendidikan mode. Jadi orang di belakang layar, kata dia, pun tidak kalah mulia. Bahkan, Aryani merasa mendapat kepuasan batin ketika melihat para mantan anak didiknya berhasil sebagai desainer.

"Kalau semua orang menjadi desainer, lantas siapa yang akan mendidik para calon desainer?" tukas Aryani, sang pendidik sejati.

Dia mengibarakan guru mode dengan guru nyanyi. Orang yang ingin belajar menyanyi tentulah datang belajar pada guru vokal. Tidak mungkin orang belajar vokal pada penyanyi meskipun si penyanyi itu sangat terkenal dan kelihatan hebat. Kris Dayanti, penyanyi terkenal, misal, berguru nyanyi pada Catherine W Leimena, guru vokal klasik di Jakarta. Tapi tidak ada orang yang belajar menyanyi pada Kris Dayanti.

Apakah ada alumni Arva School yang mengikuti jejaknya dengan membuka sekolah mode? Aryani menggeleng. Bukan saja tidak mudah mendirikan lembaga pendidikan, tapi juga menjadi guru itu tidak gampang. Uangnya sedikit. "Sehingga, orang harus punya passion, mencintai pekerjaan, berbahagia dengan pekerjaan," tegas Aryani.
Yah, Aryani Widagdo memang salah satu dari sedikit pencetak desainer di Kota Surabaya. (*)


Sumur Tak Pernah Kering

"Guru itu harus banyak belajar, membaca, menambah ilmu. Sebab, ilmu pengetahuan berkembang semakin cepat di abad informasi sekarang," ujar Aryani Widagdo.

Sejak mendirikan Arva School of Fashion pada 1990, Aryani sangat sadar akan pentingnya perpustakaan. Sebuah lembaga pendidikan entah itu sekolah dasar, sekolah menengah, universitas, maupun pendidikan luar sekolah wajib memiliki perpustakaan memadai. Karena itu, Aryani mengaku mengeluarkan banyak uang untuk mengoleksi buku.
"Saya selalu menyisihkan uang untuk beli buku," papar ibu dua anak ini.

Aryani bahkan sejak 1990-an menjadi pelanggan www.amazone.com, toko buku online yang bermarkas di Amerika Serikat. Amazone sejauh ini dianggap sebagai toko buku paling lengkap di dunia. Apalagi, buku-buku tentang mode (fashion) yang memang hampir mustahil dijumpai di Indonesia.

"Satu bulan saya bisa paling sedikit habis Rp 2 juta hanya untuk membeli buku di Amazone," paparnya.

Kini, setelah bukunya berjibun, Aryani membuka perpustakaan khusus di lantai dua sekolahnya. Perpustakaan itu bisa dimanfaatkan kapan saja oleh para siswa Arva School maupun pengunjung dari luar. Apa saja yang berkaitan dengan fashion, kata dia, bisa diperoleh dari buku-buku itu.

"Saya buka perpustakaan setiap hari kerja pada jam kerja," paparnya. Hanya saja, karena buku-buku koleksinya mahal dan langka, Aryani tidak berani meminjamkannya kepada pengunjung untuk dibawa pulang.

Bukan apa-apa. Kita di Indonesia selain belum punya budaya membaca buku, juga kurang menghormati buku sebagai gudang ilmu pengetahuan. Di sejumlah perpustakaan, banyak buku hilang atau beberapa halamannya dirobek. "Lha, kalau ada satu saja halaman yang hilang, ya, namanya bukan lagi buku," kata Aryani lalu tersenyum.

Sebagai pendidik, Aryani tergolong orang yang tidak pelit membagikan ilmu pengetahuannya kepada siswa, peserta kursus, atau wartawan. Berbeda dengan narasumber umumnya, Aryani senantiasa memberikan informasi-informasi dasar seputar dunia mode yang berkembang di Indonesia maupun dunia. Sebab, dia sadar betul bahwa wartawan di Jawa Timur umumnya meliput berbagai masalah sehingga pemahaman fashion-nya tidak begitu dalam.

Menurut Aryani, guru itu ibarat sumur yang airnya tak akan pernah habis meskipun ditimba orang setiap hari. Karena itu, dia tidak pernah merasa rugi membeberkan semua koleksi bukunya untuk dibaca para siswa dan pengunjung perpustakaan. "Pokoknya, guru itu tidak akan pernah berhenti belajar. Jadi, sumurnya tidak bisa kering," katanya.



Nama : Aryani Widagdo
Lahir : Semarang, 6 Juli 1949

Pendidikan :

SMAK SMA Sedes Sapientiae Semarang
Universitas Diponegoro, Semarang
International Corespondence School Pennsylvania, Amerika Serikat.

Suami : Freddy Haryanto
Anak : Dibya Adipranata (lahir 1973)
Satya Pramatana (lahir 1977)


ARVA STUDIO SURABAYA

Jalan Sambas 6 Surabaya 60241
Telepon : 031 - 5672537
Fax : 031 - 569567

4 comments:

  1. luar biasa bu aryani ini. apa yg beliau lakukan sangat inspiratif.

    ReplyDelete
  2. penddikan d arva school of fashion sampai S1 saja ?
    bagaimana kalau akn lanjut ke jenjang yang lebih tinggi ?
    lalu biaya pendidikannya berapa ya ?
    makasih .

    ReplyDelete
  3. Silakan hubungi langsung Arva Studio di alamat yang sudah dicantumkan di blog ini. Saya tidak tahu sistem pendidikan di Arva. Terima kasih.

    ReplyDelete
  4. inspirsi yg luar biasa

    ReplyDelete