29 October 2007

Romo Magnis pahlawan korban lumpur


Minggu, 28 Oktober 2007.

Bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, korban lumpur lapindo menggelar upacara bendera di halaman Pasar Baru Porong. Di sini, kita tahu, sekitar 3.000 korban lumpur asal Desa Renokenongo bertahan karena menolak skema ganti rugi 20:80 dari Lapindo Brantas Inc, yang direstui pemerintah. Mereka menuntut 50:50.

Menarik, karena korban lumpur masih sempat memperingati Sumpah Pemuda. Sementara begitu banyak remaja di Jakarta, orang kota, yang diwawancarai televisi, mengaku tidak tahu apa gerangan Sumpah Pemuda itu. "Sumpah Pemuda itu apa sih? Kagak tahu deh," kata seorang gadis manis di SCTV, Minggu [28/10] petang.

Usai apel bendera, di Porong, warga memberikan penghargaan kepada tujuh tokoh yang dianggap sebagai pahlawan korban lumpur. Tujuh pahlawan versi teman-teman kita, korban lumpur lapindo, adalah:

1. KH Salahuddin Wahid [pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, bekas ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia],

2. Prof Dr Sjafi'i Ma'arif [cendekiawan muslim, bekas ketua PP Muhammadiyah],

3. Prof Dr Franz Magnis-Suseno SJ [pastor Katolik, intelektual STF Drijarkara],

4. Rieke Dyah Pitaloka [artis, sastrawan],

5. KH Muslim Imam Puro [ulama Nahdlatul Ulama},

6. RP Muhammad Noer [mantan gubernur Jawa Timur],

7. Prof Dr Subroto [bekas menteri pertambangan dan energi].

"Mereka kami nilai sebagai tokoh yang konsisten membela korban lumpur sesuai dengan kapasitas masing-masing. Mereka juga berusaha agar persoalan lumpur dengan segala dampaknya dituntaskan," ujar Sunarto, koordinator warga Renokenongo di Pasar Porong Baru.

Kenapa hanya tujuh orang? Kenapa tidak ada nama-nama lain macam Emha Ainun Nadjib, budayawan yang berada di garis depan dalam advokasi korban lumpur? Saya kira, panitia punya daftar nama-nama lain lagi. Tapi mungkin untuk tahap pertama tujuh orang ini dulu. Sistem arisan macam penghargaan seni ala gubernur Jawa Timur lah!

Dari tujuh nama ini, saya hanya menyoroti Franz Magnis-Suseno SJ. Yesuit asal Jerman, yang sudah menjadi warga negara Indonesia sejak 1977, ini beberapa waktu lalu membuat keputusan mengejutkan. Romo Magnis dengan tegas menolak Achmad Bakrie Award di bidang pemikiran sosial. Penghargaan ini boleh dikata sangat bergengsi dan sangat selektif. Masing-masing penerima, kalau tak salah, menerima uang tunai Rp 100 juta.

Cendekiawan atau dosen mana yang tidak tergiur uang sebanyak itu? Belum prestise sebagai intelektual terpandang. Tapi Romo Magnis punya prinsip sendiri. Menurut penulis buku-buku filsafat dan kebudayaan ini, Lapindo Brantas Inc--bagian dari Bakrie Group--belum tuntas menyelesaikan persoalan lumpur di Sidoarjo.

"Itu sikap moral saya," tegas penulis buku 'Kuasa dan Moral' itu.

Ah, ternyata Romo Magnis, salah satu idola saya, tidak hanya pandai berteori di buku-buku, tapi juga memberikan teladan nyata. Upaya pendekatan dari panitia Achmad Bakrie Award tak membuat Romo Magnis luluh. Ia tidak datang ke acara penerimaan penghargaan yang disampaikan oleh Aburizal Bakrie.

"Kami menghargai sikap Romo Magnis," kata Aburizal saat itu.

Saya kira, tidak banyak intelektual di Indonesia yang berani memperlihatkan sikap moral macam ini. Tidak banyak intelektual kita yang memilih bertahan sebagai idealis, pencerah masyarakat. Lihat saja, beberapa intelektual di Komisi Pemilihan Umum yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di penjara.

"Romo Magnis itu kan romo, pastor, nggak punya istri anak. Beda lah dengan orang awam yang butuh uang untuk membiayai macam-macam kebutuhan," ujar teman saya.

Terlepas dari latar belakang itu, bagi saya, keteguhan pastor yang berkarya di Indonesia sejak 1961 patut dihargai tinggi. Romo, pendeta, kiai, ustaz, biksu, tentara, pengusaha--apa pun profesinya, saya kira perlu bersikap tegas membela rakyat banyak yang tertindas. Bahasa katoliknya: preferential option for the poor! Dari sini, saya berpendapat, tidak salah kalau teman-teman di Porong memilih Romo Magnis sebagai 'pahlawan korban lumpur'.

Romo Magnis sendiri mengaku tak pernah menyangka mendapat penghargaan dari korban lumpur. Tak ada uangnya macam Achmad Bakrie Award, acaranya pun di lokasi pengungsian. Semua serba prihatin. Tapi Romo Magnis terlihat gembira bisa hadir di tengah-tengah pengungsi lumpur. Ia pun memerhatikan piagam penghargaan itu dengan saksama. Kemudian berdiskusi dengan Salahuddin Wahid [adik Gus Dur], kiai yang sudah ia kenal.

Kepada wartawan, Romo Magnis mengatakan bahwa bencana semburan lumpur di Porong sejak 29 Mei 2006 [yang menyebabkan korban sekitar 20.000 warga dari delapan desa] bukanlah bencana alam, tapi akibat ulah manusia, akibat kebodohan pihak tertentu. Persoalan menjadi ruwet ketika kepentingan politik ikut bermain.

"Saya prihatin karena sampai sekarang ribuan korban masih sengsara, ganti rugi belum beres," tegas Romo Magnis.

Rohaniwan sederhana ini juga menyoroti kerusakan budaya karena warga yang telah bersosialisasi di desa-desanya secara turun-temurun harus pindah. Tercecer ke mana-mana. "Kalau orang pindah atas kemauan sendiri, tidak apa-apa. Tapi kalau dipindah secara terpaksa, maka kebudayaan di Sidoarjo akan rusak," tegas Romo Magnis.

Yah, kerusakan multidimensi: kerusakan ekologis, kerusakan infrastruktur, kerusakan fisik, kerusukan psikis, kerusakan budaya, dan sebagainya. Siapa bisa memperbaikinya? Tanyakan pada rumput yang bergoyang, meminjam ungkapan Ebiet G Ade. Tapi, jangan lupa, sekarang ini tidak ada lagi rumput di Renokenongo!

Malik Bz prihatin musik dangdut


Tadi [29/10] saya ikut halal bihalal di rumah Bapak Abdul Malik Buzaid [A Malik Bz], tokoh musik melayu di Jawa Timur. Ia penulis lagu Keagungan Tuhan yang terkenal itu. Minum kopi ala Arab, menikmati camilan kecil, lalu... diskusi soal musik.

Kalau ketemu Pak Malik memang susah menghindar dari bincang-bincang soal musik. Sebab, saya sering dinilai bukan wartawan biasa, tapi juga pengamat musik. Hehehe.... Maka, dia merasa perlu 'curhat' ke saya. Siapa tahu unek-uneknya didengarkan 'insan-insan dangdut' yang salah arah.

"Musik melayu [dangdut] sekarang makin terpuruk. Dan yang merusak, ya, insan-insan dangdut sendiri," kata Malik Bz.

Kalau sudah memulai tesis macam ini, biasanya Pak Malik akan bicara panjang lebar. Saya pun menyimak dengan serius, sambil sekali-sekali menyela atau bertanya.

Pak Malik mengaku sedih karena dalam setahun ini para penyanyi dangdut lebih gandrung lagu-lagu pop. Di televisi, show di daerah, rekaman VCD... justru lagu-lagu pop yang dibawakan. Biasanya, hit milik band terkenal macam Dewa, Radja, Samsons, Kangen, dan seterusnya. Lagu-lagu hit ini dilantunkan dalam irama koplo atau dangdut. Pop ala dangdut.

"Lha, kalau caranya seperti ini, bagaimana nasib penulis lagu dangdut kayak saya dan ratusan orang lain di Indonesia? Mau dibawa ke mana musik dangdut," kata Pak Malik dalam nada tinggi.

Ironisnya, menurut komposer senior ini, pengusaha rekaman dangdut pun ikut arus. Tak ada upaya untuk menjaga eksistensi dangdut. "Saya tanya teman-teman produser, musisi. Mereka bilang, mau gimana lagi, ini kan ikut pasar. Lha, pasar itu kan seharusnya kita kendalikan. Bukan seperti ini," tegas pria keturunan Arab yang tinggal di Desa Kureksari, Kecamatan Waru, Sidoarjo, ini.

Saya tambahkan bahwa fenomena itu mulai terasa sejak Inul Daratista merajai blantika dangdut pada 2003-2005. Berlatar penyanyi pop-rock, Inul membawakan lagu apa saja, Indonesia, Barat, daerah. Dangdut gaya Inul pun menjadi lebih cair, bisa dinikmati oleh penggemar musik pop. Bahkan, Inul didaulat mendampingi beberapa konser artis pop ternama. Tentu saja, imej penyanyi dangdut lain mengekor sukses Inul Daratista.

"Analisis itu benar. Tapi sekarang tambah parah. Kita makin sulit menemukan lagu yang benar-benar ditulis sebagai lagu dangdut. Yang ada di televisi itu lagu pop didangdutkan," kata pria yang mengaku mula pertama belajar orgel gereja dari mendiang Jack Lesmana di Surabaya pada 1960-an.

"Orang pop itu kan pintar-pintar, anak-anak kuliah, nggak kayak insan dangdut. Lha, kalau lagunya dipakai untuk orkes atau penyanyi dangdut, ya, mereka tentu mau saja. Lain dengan orang dangdut yang sejak dulu saling iri, cemburu, jegal-jegalan," tambah Pak Malik.

"Apakah pemusik-pemusik dangdut, katakanlah PAMMI [Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia], sudah merespons kasus ini?" tanya saya.

"Wah, mana sempat mikir? Sejak dulu insan-insan dangdut hampir tidak pernah memikirkan hal-hal strategis kayak begini? Rhoma Irama [ketua PAMMI] juga saya rasa tidak sempat mikir. Yang ramai kan waktu dia 'berkelahi' dengan Inul Daratista itu thok," tandas Pak Malik, juga pengurus PAMMI Jawa Timur.

Obrolan makin seru, sementara kopi di gelas saya sudah habis. "Saya mau pulang dulu, Pak. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi."

Kalau tidak segera dipotong, obrolan seputar musik dangdut bersama Pak Malik akan sulit dihentikan. Tapi saya bersyukur selalu mendapat wawasan baru setiap kali berbincang dengan Abah Malik Bz.

NASKAH TERKAIT

Malik Bz pencipta lagu Keagungan Tuhan.

Mengenang A. Kadir, pemimpin OM Sinar Kemala

Korban lumpur belajar melukis


Rumah Hesti di Siring, Porong, sebelum ditenggelamkan lumpur.

"Ini lukisan terbaru saya. Coba lihat," kata Hesti, 37 tahun, kepada saya di kawasan Pondok Mutiara, Sidoarjo, akhir pekan lalu.

Lukisan bunga matahari, lumayan bagus untuk ukuran pemula. Ibu rumah tangga lagi. Hesti beberapa waktu lalu ikut pameran bersama di Sidoarjo dan Surabaya. Pengalaman baru yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Semua bermula dari semburan lumpur panas di kawasan Porong pada 29 Mei 2006.

Rumah Hesti yang hanya berjarak 200-an meter dari Sumur Banjarpanji I milik Lapindo Brantas Inc [pusat semburan lumpur] tenggelam. Kemudian seluruh Desa Siring habis. Nah, sejak itu Hesti dan suaminya, Totok, mengungsi di Pasar Porong. Tak betah, Hesti bersama suaminya mencari kontrakan di Pondok Mutiara.

Kemudian, korban lumpur asal Perumahan Tangulangin Anggun Sejahtera I datang menyusul ke Pondok Mutiara. Kita tahu, Perum TAS I tenggelam gara-gara pipa gas Pertamina meledak pada 22 November 2006. Sejumlah korban lumpur pun mengisi waktunya dengan macam-macam kegiatan. Salah satunya, ya, menggambar.

"Kebetulan saya ini kan pernah belajar nggambar waktu kecil. Jadi, waktu dibimbing sedikit saja sudah bisa," tutur Hesti lalu tersenyum.

Tinggal di Pasar Seni Pondok Mutiara [meski pasar seninya tidak jalan, hanya nama] membuat Hesti bergaul tiap hari dengan pelukis-pelukis Sidoarjo dan Surabaya. Mereka memberikan masukan, membimbing, hingga Hesti dan beberapa ibu rumah tangga lain bisa mengambar. Kegiatan ini sedikit banyak mengalihkan perhatian mereka pada kerugian luar biasa akibat lumpur lapindo.

"Rumah kami yang besar itu sama sejumlah barang berharga tidak bisa diselamatkan. Kamu tahu itu kan rumah tua, warisan, yang di dalamnya banyak koleksi benda-benda berharga. Saya dan Mas Totok hanya bisa menyelamatkan barang-barang yang gampang diangkut," tutur Hesti.

Kalau bicara soal lumpur, Lapindo, kenangan di Desa Siring, Hesti selalu sendu. Keriangan karena lukisan saya puji seperti tiba-tiba hilang. Asal tahu saja, saat ini kampung tua bernama Siring sudah menjadi lautan lumpur. Tinggi air lumpur sudah melampaui bubungan rumah, bahkan pabrik arloji PT Catur Putra Surya, bekas tempat kerja mendiang Marsinah [pahlawan buruh] dulu. Tugu Kuning, tetenger khas Siring, masih ada, tapi saya pastikan akan segera lenyap.

Kini, setelah mampu menggambar, Hesti melukis tiap hari. Lukisannya, ya, kembang, kembang, dan kembang. Macam-macam kembang dengan corak atau karakter yang berbeda. Kembang atawa bunga itu bisa dikreasi menjadi seribu satu macam, seakan tak berhingga. Hesti menyimpang lukisan di sebuah ruang khusus, semacam showroom.

"Saya melukis kapan saja saya suka. Kadang kala malam pun saya tidak tidur karena melukis. Nggambar thok sampai pagi. Yah, kehidupan saya sudah kayak seniman beneran," papar perempuan kelahiran Lumajang pada 1970 ini.

Tak jauh dari situ terdengar irama keroncong. Beberapa pemusik tua main musik, pelukis tua nyanyi, meski suaranya fals, buat hiburan. Masih di kompleks sama, beberapa seniman diskusi, bicara ngalor-ngidul, tentang kesenian di Surabaya, Sidoarjo, Jawa Timur umumnya. Syaiful Hajar, perupa, sedang membuat karya untuk biennale di Bandung beberapa waktu mendatang.

Seni memang sarana katarsis terbaik buat korban lumpur. "Kapan pameran lagi? Lukisan sampean kan sudah banyak?" tanya saya. Mas Totok, suami Hesti, tertawa kecil.

"Wah, belum ada rencana. Yang penting, menggambar, menggambar, menggambar. Lihat situasi saja," kata Hesti. Tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Tapi, usut punya usut, setelah saya tanya beberapa orang yang tepat, rangkaian pameran bersama korban lumpur beberapa waktu lalu tidak berjalan mulus. Ramai dan terkesan sukses di media massa, tapi menyisakan persoalan di kalangan sesama seniman. Banyak protes, ketidakpuasan, karena ini-itu.

"Itu proyek ruwet. Katanya untuk korban lumpur, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Transparansi juga kurang, sehingga timbul saling curiga. Dan itu tidak sehat," kata Bambang Haryadi, pelukis senior. Suara sumbang juga disampaikan beberapa pelukis asal Sidoarjo.

Malam itu, saya melihat Hesti makin asyik melukis. Melukis bunga. Rupanya, dia enggan terlibat dalam keruwetan khas seniman daerah yang tak putus dirundung kemelut. Hesti, teruslah melukis!

Syamsi penemu artis dangdut di kampung


Orangnya sederhana, khas warga desa. Tapi siapa sangka Syamsi merupakan talent scouter dangdut di Jawa Timur. Penyanyi-penyanyi kampung ‘disulap’ jadi artis beken.


"Sekarang saya punya 200-an cewek. Kapan saja dibutuhkan, saya siap kirim. Untuk show di televisi, bintang tamu, konser, dan sebagainya," ujar Syamsi kepada saya di rumahnya, Dusun Nyamplung, Desa Sumokali, Kecamatan Candi, Sidoarjo.

Syamsi tak hanya bicara. Ia memperlihatkan empat album besar berisi foto-foto ‘anak buahnya’, berikut beberapa contoh surat perjanjian kontrak dengan artis-artis itu. Di ruang tamu rumahnya, juga terpampang pigura besar berisi foto-foto artis. Semuanya, 100 persen, perempuan. Mana artis laki-laki?

"Di dangdut itu penyanyi laki-laki gak payu. Siapa yang mau lihat laki-laki goyang?" tegas Syamsi.

Ini memang tuntutan pasar hiburan yang harus dipenuhi Syamsi. Sebagai pemasok, pria kelahiran Candi, 12 Maret 1971 ini tak akan mau menyediakan artis-artis yang tidak dibutuhkan oleh pasar.

Yang jelas, lagi-lagi sesuai dengan logika pasar, artis itu harus cantik, segar, bodi bagus, usia relatih muda. ‘’Di bawah 25-lah. Kalau di atas 30 sudah nggak menarik lagi, kecuali beberapa penyanyi yang punya kemampuan khusus seperti Inul Daratista. Bodi oke, suara juga harus lumayan. Kalau jelek, ya, nggak bisa tahan,’’ ujar Syamsi.

Dia kemudian menyebut nama artis muda, cantik, beberapa kali muncul di televisi. Goyangannya maut [Inul kalah dahsyat], "tapi suaranya nggak ngangkat. Jelas sangat sulit untuk maju."

Bagaimana cara Syamsi ‘menemukan’ segepok penyanyi lokal?

"Saya sering ngeluyur ke kampung-kampung di seluruh Jawa Timur, hajatan-hajatan kecil, nguping sana-sini. Pokoknya, harus aktif. Nggak bisa menunggu lamaran," urai Syamsi, menggebu-gebu.

Contohnya Uut Permatasari, penyanyi asal Kemasan, Kecamatan Krian, yang tengah naik daun. Vokalis berjuluk ‘Putri Panggung’ ini ditemukan Syamsi di acara hajatan kecil di pelosok Sidoarjo. "Bayarannya waktu itu Rp 15 ribu," kenang Syamsi.

Feeling Syamsi: Uut bisa diorbitkan ke puncak. Syamsi kemudian melakukan pendekatan dengan Uut, orang tuanya, agar bisa ikut orkes-orkes dangdut serta acara-acara besar. Akhirnya, Uut yang tadinya penyanyi kampung bertarif Rp 15 ribu terus melejit. Tanggapan makin banyak, honor naik terus. Menurut Syamsi, honor artis itu selalu naik seiring meningkatnya popularitas.

"Jangan dibalik. Belum apa-apa rewel, minta bayaran tinggi. Kita yang susah," ujarnya.

Artis pemula asal Sidoarjo dan Surabaya dianggap terlalu ‘rewel’, sehingga kurang disukai talent scouter seperti Syamsi. Selain Uut, nama-nama populer lain adalah Ida Miranda, Dewi Sansan, Dessy Sansan, Tyas Sasmita, Endang Sonia. Syamsi pun memasok artis untuk acara dangdut di TVRI Jatim, JTV, hingga Trans TV.

"Belakangan saya diajak untuk membantu acara pemilihan artis dangdut muda di televisi, tapi saya kasihkan orang lain. Saya agak sibuk,’’ tukasnya.

Akankah 200-an artis yang ditangani Syamsi dijamin sukses?

Tentu tidak. Sebab, sukses atau popularitas artis itu ditentukan oleh banyak faktor, termasuk hoki alias keberuntungan. Fisik oke, suara bagus, kesempatan ada, tapi kalau dijauhi ‘dewi fortuna’, ya, sulit terkenal. Belum ada rumus baku menjadi artis terkenal di Indonesia.

Syamsi menyebut artis muda yang dulu selalu diajak Inul di setiap konser. Modalnya besar. "Tapi dia nggak bisa naik. Begitu-begitu sajala, kemudian tenggelam."

Mengurus ratusan artis cantik, seksi, ternyata tidak selalu menyenangkan. Syamsi, yang mulai terjun pada tahun 1985, erasakan sendiri bagaimana ulah artis-artis yang dengan susah-payah diorbitkan dari kampung. Setelah namanya mulai mencuat, bikin ulah dengan mengingkari kontrak awal. Jasa-jasa Syamsi dilupakan begitu saja.

"Mereka lari ke manajemen lain secara diam-diam. Yah, begitu itu risikonya mengurus artis. Lika-likunya sangat banyak," paparnya.

Agar bisnis ini mulus, orang macam Syamsi harus bisa menjaga diri. Sebab, godaan sangat banyak. Tidak boleh ‘aneh-aneh’ sama artis-artis cantik itu. Harus tahan godaan cewek! Hanya dengan begitu, kepercayaan penyanyi-penyanyi pemula [serta keluarganya] bisa dijaga.

"Kalau sampai selingkuh atau tidur sama mereka, ya, habis," tegas Syamsi.

26 October 2007

Baik buruk kawin muda


Gaya pelajar SMA yang berpacaran di pantai wisata Gresik, asyik banget. Mungkin lebih baik kalau dua teman kita ini kawin muda saja lah.

Kawin muda berbahaya?

Pendapat umum mengatakan demikian. Namun, konsultan sekaligus pendeta terkenal di Bandung, Dr. Stanley Head justru sangat menganjurkan kawin muda yang bertanggung jawab. Para mahasiswa dan mahasiswa diimbau segera menikah kalau sudah punya pasangan tetap.

Saya beberapa kali meliput ceramah Dr. Stanley di Surabaya. Di depan para mahasiswa Universitas Kristen Petra, misalnya, Stanley menegaskan keyakinannya bahwa kawin muda jauh lebih baik daripada kawin tua.

Dan usia mahasiswa Indonesia [rata-rata di bawah 24 tahun] dianggap sudah sangat layak untuk menikah. "Jangan tunda perkawinan kalau kalian sudah siap. Kenapa menunggu lama-lama," kata Stanley dengan logat bule, tapi sangat enak berbahasa Indonesia. Dia sudah menulis banyak buku yang berkaitan dengan psikologi dan agama Kristen [Protestan].

"Tapi, Pak, mahasiswa kan belum punya penghasilan. Masih bergantung penuh pada orang tua, bagaimana biaya untuk menghidupi keluarga?" pasti selalu muncul pertanyaan macam begini di setiap ceramah Stanley. Pendeta bule ini tentu sudah mengantisipasi.

Menurut Stanley, orang tua berkewajiban membantu anaknya yang menikah ketika belum mandiri secara finansial. Makan, minum, tinggal... ikut orang tua atau mertua, kata dia, bukan masalah yang harus dicemaskan. Orang tua kedua pihak diharapkan membantu secara fisik dan psikis hingga pasutri muda ini mandiri. Termasuk menyelesaikan kuliah, mencari pekerjaan, mengemong anaknya sampai mentas.

"Pernikahan pada usia muda sangat ideal dan produktif jika ada kerja sama dari orang tua kedua belah pihak," tegas Stanley. Harus ada catatan: karena belum punya penghasilan, kuliah S-1 belum kelar, diharapkan tidak punya anak lebih dari satu dulu. Kecuali memang dianugerahi Tuhan anak kembar, tentu saja.

Kenapa Stanley sangat menganjurkan kawin muda? Kok beda dengan pendapat umum yang berkembang di Indonesia saat ini? Stanley mengatakan, berdasar pengalamannya memberikan konsultasi, adaptasi dua pribadi muda jauh lebih gampang daripada orang yang berusia 30 tahun ke atas. Tambah tua tambah sulit.

Mencari jodoh pada usia di atas 25 tahun pun biasanya lebih sulit karena kesibukan kerja. Lebih sulit lagi bagi kaum minoritas yang hidup di tengah-tengah mayoritas mutlak macam di Jawa. Betapa susah menemukan calon istri/suami yang seagama, apalagi segereja. Bagaimana bisa ketemu kalau anda tinggal di daerah yang 99,5 persen Islam, sedangkan anda ingin istri Katolik?

"Orang muda lebih fleksibel. Awalnya memang agak sulit, jatuh bangun, karena persoalan ekonomi dan sebagainya. Tapi dengan bantuan orang tua kedua pihak persoalan ini bisa diatasi," tegas Stanley.

Ibarat besi keras, orang yang berusia 30-an tahun, itu sudah sangat keras, sulit dibengkokkan. Karakter pribadi sudah terbentuk, sudah matang. Anak-anak muda sangat lentur, bisa dibentuk, diarahkan menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia.

Saya dan teman-teman mahasiswa geleng-geleng kepala, tapi juga bisa menerima pendapat Stanley. "Anda mau nikah sebelum usia 21?" tanya saya kepada Andreas, mahasiswa keturunan Tionghoa.

"Wah, susah, Bang, mau makan apa? Omong di seminar, di buku sih enak, tapi apa bisa diterapkan di kehidupan nyata? Aku kok gak berani deh. Lagian, aku kan gak punya pacar. Belum pernah berpikir menikah selama masa kuliah," katanya.

Sejumlah mahasiswa yang saya tanya pun menjawab sama. Menikah ketika mahasiswa bisa-bisa membuat orang tua murka. Ujung-ujungnya, biaya kuliah yang sangat mahal itu distop. Mau kerja apa kalau belum punya ijazah sarjana? Begitu pikiran kawan-kawan mahasiswa. Dus, saran Dr. Stanley ini perlu dikaji baik-baik sebelum memutuskan untuk menikah yang [idealnya] hanya sekali seumur hidup itu.

Praktik kawin muda, bahkan sangat-sangat muda, sebenarnya sudah menjadi budaya di sejumlah daerah di Jawa Timur. Khususnya di pelosok kawasan 'tapal kuda' macam Jember, Bondowoso, Situbondo.


Waktu menjalani kuliah kerja nyata [KKN] di daerah Desa Sumberwaru, Kecamatan Curahdami, Bondowoso, saya jadi tahu bahwa daerah itu menganut tradisi kawin sangat muda. Tapi agak berbeda dengan kawin muda yang dianjurkan Dr. Stanley Head.

Di pedalaman Bondowoso dan sekitarnya, mencari jodoh merupakan urusan orang tua. Tidak dibenarkan anak-anak mencari pasangan hidup sendiri. Hebatnya lagi, sejak kanak-kanak alias balita, orang tua sudah menetapkan jodohnya. Jadi, ketika tamat sekolah dasar [SD] anak-anak ini langsung menikah. Anak-anak SD di sana tentu sudah tahu dengan siapa ia akan menikah setelah lulus SD.

Maka, kawin muda ala Bondowoso ini selalu di usia belasan tahun. Tamat SD nikah! Bahkan, banyak yang terpaksa putus sekolah dasar agar segera kawin. Mereka tidak sempat melanjutkan sekolah karena sudah keburu berumah tangga. Kerja di kebun, merantau, atau kerja apa saja seperti kakek neneknya dulu. Pasutri-pasutri muda [banget] ini rata-rata tidak segera punya anak meski sudah menikah secara sah.

"Mungkin belum tahu caranya bikin anak. Wong umurnya sangat muda, bahkan di bawah umur kayak begitu," ujar Muhammad Asnan, teman saya yang sama-sama KKN di Bondowoso pada akhir 1990-an.

Tradisi di sana, setelah menikah si laki-laki wajib tinggal bersama keluarga perempuan. Rumah perempuan akan diperpanjang, ditambahkan pada bangunan lama, sebagai tempat tinggal keluarga baru. Karena itu, keluarga yang punya banyak anak perempuan, otomatis mendapat tambahan anggota keluarga baru, ya, menantu laki-lakinya.

Pasutri baru ini makan, minum, kerja di ladang seperti layaknya orang desa. Kehidupan desa tradisional, komunal, konservatif, membuat urusan perkawinan sangat-sangat mudah. Ibarat makan-minum sehari-hari yang tidak membutuhkan rencana dan pemikiran panjang dan berbelit-belit.

Sistem pacaran, mencari jodoh sendiri, macam di kota tidak dikenal di kampung-kampung tapal kuda yang berlatar budaya Madura itu. Jangankan pacaran, berjalan bersama dua insan berbeda jenis kelamin yang bukan muhrim bisa menjadi masalah besar di kampung-kampung. Kita pun tidak dibenarkan berbincang lama-lama dengan istri orang. Jika suami tak ada di rumah, sebaiknya anda cepat-cepat pulang. Sebab, bisa timbul fitnah macam-macam yang berujung pada tindakan carok untuk mempertahankan harga diri.

Nah, fakta yang banyak terjadi, seperti saya dapatkan langsung di lapangan, angka perceraian sangat tinggi. Menikah hanya demi mengikuti ketentuan adat, keinginan orang tua saja, tanpa menghayati makna berumah tangga. Karena itu, para mahasiswa Universitas Jember senantiasa diminta mensosialisasikan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 yang mensyaratkan usia minimal pernikahan 17 tahun. Kalau belum 17, tunggu dululah.

Ceramah UU Perkawinan ini boleh dikata belum 100 persen sukses. Buktinya, sampai sekarang saya masih mendengar banyaknya janda-janda dan duda-duda muda di pelosok tapal kuda Jawa Timur. Usia masih 15 tahun, tapi sudah janda. Sudah duda.

"Bagaimana lagi, Mas? Saya cerai karena menikah pada usia sangat muda. Kami belum matang untuk menghayati makna pernikahan," ujar Badriah, perempuan Bondowoso, yang kerja di Sidoarjo.

Saya kira, Dr. Stanley tidak menginginkan kawin muda ala kampung-kampung tradisional di Jawa Timur. Jalan tengahnya, barangkali, menikah pada usia yang tidak terlalu muda, tapi juga tidak terlalu tua. Sebab, ekstrem tua dan ekstrem muda sama-sama tidak baik.

Bicara soal kawin-mawin, saya selalu teringat kutipan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945:

"Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata: Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gaji f 500. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul, sudah mempunyai meja kursi yang selengkap-lengkapnya, sudah mempunyai sendok garpu perak satu set, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinderuitzet, barulah saya berani kawin.

Ada orang lain yang berkata: Saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat, yaitu meja makan, lantas satu zitje, lantas satu tempat tidur.

Ada orang yang lebih berani dari itu, yaitu saudara-saudara Marhaen. Kalau dia sudah mempunyai gubuk saja dengan satu tikar, dengan satu periuk, dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, dengan satu periuk, dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, satu gubuk, kawin! Sang klerk dengan satu meja, empat kursi, satu zitje, satu tempat tidur, kawin.

Sang Ndoro yang mempunyai rumah gedung, electrische kookplaat, tempat tidur, uang bertimbun-timbun, kawin. Belum tentu mana yang lebih gelukkig, belum tentu mana yang lebih bahagia: Sang Ndoro dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul atau Sarinem dan Samiun yang hanya mempunyai satu tikar dan satu periuk, Saudara-Saudara!

Tekad hatinya yang perlu! Tekad hatinya Samiun kawin dengan satu tikar dan satu periuk, dan hati Sang Ndoro yang baru berani kawin kalau sudah mempunyai gerozilver satu kaset plus kinderuitzet buat tiga tahun lamanya!"


Asal tahu saja, proklamator kita itu kawin dengan Siti Oetari [usia 14], anaknya bapak kos, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, di Peneleh Gang VII/29 Surabaya, pada 1919. Usia Bung Karno saat itu 18 tahun. Pada 1923 Bung Karno bercerai [talak tiga] dengan Oetari. Lalu, pada 24 Maret 1923 [Bung Karno 22 tahun] kawinlah dia untuk kali kedua dengan Inggit Ganarsih, ibu kosnya di Bandung. Inggit itu bekas istri Sanusi, bapak kosnya Soekarno. Jadi, Bung Karno 22 tahun, Inggit 36 tahun.

Nah, kalau sekarang teman-teman mahasiswa kawin muda, menikahi anaknya pemilik kos, kenapa tidak? Sejak dulu bapak bangsa kita, Bung Karno, sudah kasih contoh. Hehehe....

22 October 2007

Ungu Band tumbuh 1.000 kali




Oleh Lambertus Hurek
Wartawan Radar Surabaya

UNGU baru saja tampil dalam konser Salam Lebaran di Stadion Tambaksari, Surabaya. Saya tak sempat menonton, namun teman saya, Cak Munir yang bertugas sebagai fotografer, mengatakan bahwa penonton membeludak. Satu stadion penuh. Sambutan penonton pun luar biasa.

Band beranggota Pasha [vokal], Makky [bas], Rowman [drum], Enda [gitar], Oncy [gitar] ini memang lagi ngetop di Indonesia. Saking populernya, Ungu muncul di berbagai stasiun televisi, jadi bintang iklan, diundang konser ke mana-mana. Album rekamannya, saya dengar, 'meledak' alias laku luar biasa.

Selama bulan puasa, Ungu juga selalu eksis karena dia punya single khusus rohani [Islam]. Di tayangan infotainmen, Pasha dan kawan-kawan juga kerap dipuji sebagai band anak muda religius. "Ungu ini masih muda, tapi sudah memikirkan surga. Beda dengan saya dulu, waktu muda tidak ingat Tuhan, tuan baru insaf," kata Gito Rollies, bintang rock 1970-an, yang kini intens di dakwah Islam.

Pada 2002/2003 saya kebetulan menjadi reporter musik, hiburan, dan kebudayaan di Radar Surabaya. Tentu saya meliput banyak band terkenal saat itu: Padi, Dewa, Sheila on 7, Jamrud, Elemen, Ada, Slank, dan sejenisnya. Ungu baru merintis karier di industri musik Indonesia. Suatu ketika saya dan teman-teman diundang jumpa pers Ungu Band.

"Ungu iku band opo to? Kok gak pernah dengar? Paling band ecek-ecek, pemula, gak terkenal. Kalaupun ditulis pasti tidak muat sama redaktur," kata beberapa teman wartawan. Memang benar Ungu belum punya nama saat itu. Nilai jualnya boleh dikata belum ada.

Tapi saya datang saja ke Cadik Cafe di Jalan Jemusari Surabaya [sekarang tutup], kafe pemula di Kota Surabaya. Rupanya, manajemen Ungu belum punya biaya untuk jumpa pers di hotel berbintang seperti band-band top masa itu.

"Ah, jumpa pers saja di Cadik. Pasti band itu nggak bonafid," kata teman wartawan lain.

Saya menemui personel Ungu di sana. Saya berkesempatan bincang-bincang dengan Pasha dan kawan-kawan. Pasha pendiam, tak banyak bicara, sehingga saya lebih banyak bicara santai dengan Makky. Gayanya sangat Suroboyoan: santai, ceplas-ceplos, tanpa beban.

Mau tanya apa? Bahan tentang Ungu belum banyak, lagu-lagunya di album perdana belum dikenal publik. Yah, saya tanya kontroversi soal nama band, Ungu, karena nama ini sama dengan band asal Kediri, juara festival band versi Log Zhelebour. Menurut Makky, soal nama ini sudah selesai karena band Kediri akhirnya ganti nama.

"Mudah-mudahan nama ini membawa hoki," kata Makky.

Saya lihat Pasha alias Sigit ini tersenyum mengiyakan pernyataan juru bicaranya. Mereka optimistis album perdana Ungu laku di pasaran. Sebab, salah satu lagunya dipakai sebagai sound track sinetron di televisi. Numpang promosi macam ini diharapkan bisa membuat nama Ungu terangkat.

Waktu itu musik Indonesia dikuasai Padi, Sheila, Dewa. Para personel Ungu pun gamang oleh nama besar band-band papan atas tersebut. "Kira-kira bisa nggak Ungu menyaingi Padi?" tanya teman wartawan yang datang belakangan.

Hehehe... Pasha dan kawan-kawan tertawa bareng. Bersaing dengan Padi? Wah, berat nian pada saat itu. Target Ungu, kata Pasha, tidak muluk-muluk. Menjual kaset perdana sekitar 20.000 keping saja sudah bagus. Yang penting, nama Ungu dikenal dulu di belantika musik Indonesia. Kemudian ada target baru dan seterusnya.

"Tapi kami sangat serius masuk ke industri musik," tegas Makky dalam bahasa campuran Jawa-Indonesia. Kami kemudian makan siang, masakan Jawa, sederhana saja. Tak ada kesan makan bersama personel band yang bakal menjadi sangat populer di Indonesia.

Malam hari, sesuai dengan komitmen, saya meliput konser perdana Ungu di Surabaya. Tepatnya di Cangkir Cafe Jalan Sriwijaya, belakang BCA Darmo. Mau tahu berapa yang hadir?

Jangan kaget: tidak sampai 50 orang! Ditambah pekerja kafe, manajemen Ungu, penggembira, ya, sekitar 70. Seingat saya, tak banyak wartawan meliput karena Ungu saat itu belum punya nilai berita. Belum masuk kategori nama makes news!

Bayangkan konser di depan 50-an penonton? Band atau penyanyi mana pun pasti sedih. Ini tamparan berat buat band, penyanyi, aktor. Toh, saya melihat Pasha tampil semangat layaknya berhadapan dengan ribuan orang. Pasha yang pendiam saat jumpa pers ternyata atraktif di panggung. Suaranya oke. Personel Ungu yang lain pun bermain bagus, wajar, penuh dedikasi.

Selama konser, satu jam lebih, Pasha praktis nyanyi sendiri. Sebab, lagu-lagunya memang belum dikenal publik. Waktu itu mencari kaset Ungu--yang berwarna ungu--tidak mudah di Surabaya dan Sidoarjo. Toko-toko kaset umumnya tidak mau ambil risiko dengan menampung barang yang dianggap tidak akan laku. Meskipun tanggapan perdana di Surabaya sangat buruk, teman-teman Ungu menuntaskan konser dengan baik.

Beberapa waktu kemudian, saya menawarkan kaset perdana Ungu, pemberian manajemen Ungu, kepada cewek-cewek magang Biro Jawa Pos di Sidoarjo. "Siapa mau kaset gratis? Ungu Band," kata saya.

Adik-adik ini tampak kurang berminat. Mereka justru minta kaset/CD Padi, Sheila, atau Slank. Ungu Band siapa yang mau? Mungkin, karena kasihan, Titin [asal Gedangan] akhirnya mau menerima kaset gratis itu. Saya tidak tahu apakah kaset perdana Ungu itu diputar Titin di rumahnya atau disimpan saja, atau dikasihkan ke orang lain lagi.

Setelah menyaksikan konser perdana Ungu, saya tidak lagi meliput acara-acara musik. Saya dimutasi ke Sidoarjo. Nama Ungu Band pun nyaris tidak terdengar. Album perdana saya kira kurang sukses meskipun ada satu dua lagu yang diingat masyarakat. Berkat titip promosi di sinetron.

2006 boleh dikata menjadi tahun sukses Ungu. Siapa tak kenal Ungu? Siapa tak kenal Pasha? Siapa tak hafal lagu-lagu Ungu? Siapa tak mau kaset/CD gratis Ungu? Ungu yang tadinya nothing, tak ada apa-apanya, berubah menjadi band paling top di Indonesia.

Band papan atas, bahkan melebih band-band besar sebelumnya macam Padi, Sheila, Dewa. Ungu dengan vokal khas Pasha memberikan warna baru di persada musik Indonesia. Konser Ungu tidak lagi di kafe, melainkan di stadion, dihadiri ribuan penggemar. Bahkan, saya baca di media massa, ada penggemar pingsan, konser kisruh, saking banyaknya penonton. Ungu menjadi band besar.

Saya pun terkenang perjumpaan akrab dengan para personel Ungu di kafe, kemudian konser di kafe yang hanya dilihat 50-an orang, di Surabaya dulu. Sedikit banyak saya ikut menjadi saksi bagaimana Pasha dan kawan-kawan merintis karier dari bawah, dari titik nol, melata, hingga akhirnya mencetak sukses di industri musik.

Banyak hikmah yang bisa dipetik dari kasus Ungu. Salah satunya: jangan sekali-kali menganggap remeh band atau artis pemula. Saya yakin, gadis-gadis manis itu kini menyesal karena telah menolak hadiah kaset Ungu dari saya. Hehehe....

Wisata lumpur di Sidoarjo


Kami, penduduk Kabupaten Sidoarjo, sudah jenuh dengan lumpur lapindo. Semburan yang bermula pada 29 Mei 2006 itu boleh dikata mustahil ditutup. Pemerintah sudah kehilangan akal. Kita hanya tinggal berdoa dan pasrah kepada Tuhan.

Sekitar 20.000 korban lumpur asal Desa Siring, Jatirejo, Kedungbendo, Renokenongo, Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera I, kemudian Ketapan, Mindi dan beberapa bagian desa lain sudah tak berdaya. Pikiran mereka sederhana saja: ganti rugi atas rumah dan lahan mereka harus segera dibayar. Uang muka 20 persen rata-rata sudah diterima, tinggal sisa 80 persen.

"Saya nggak percaya semburan di sini akan berhenti," ujar Ahmad, warga Siring, Kecamatan Porong.

"Katanya 31 tahun akan berhenti?" pancing saya saat jalan-jalan ke kawasan lumpur lapindo, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu [21 Oktober 2007].

"Wah, saya nggak percaya sama sekali. Kalau melihat volume semburan yang stabil, kami nggak percaya. Saya kok yakin lumpur itu akan menyembur seterusnya. Kita hanya bisa serahkan kepada Allah," ujar penjual VCD bencana lumpur lapindo ini.

Saya melihat kondisi lumpur lapindo di Porong dan Tanggulangin kian mengerikan. Tanda-tanda kehidupan tak ada lagi. Semua tanaman mati. Rumah-rumah terendam hingga ke bubungan, bahkan lebih. Pabrik tempat mendiang Marsinah [pahlawan buruh] bekerja, PT Catur Putra Surya, yang bikin arloji di Desa Siring, sudah tak terlihat lagi. Yang ada hanya kolam air bercampur lumpur, tanggul dari pasir-batu, serta kegiatan pekerja BPLS [Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo].

Cerita tanggul jebol menjadi hal biasa. Padahal, dampaknya akan sangat mengerikan manakala tanggul jebol terus-menerus. Bisa menenggelamkan kampung-kampung yang belum masuk peta terdampak lumpur. Dan itu berarti masalah baru karena Lapindo Brantas Inc. menyatakan hanya mau membayar kompensasi untuk kawasan di dalam peta terdampak.

Jika benar lumpur meluber konstan sampai 30 tahun, bagaimana nasib desa-desa sekitar yang masih bertahan? Permisan? Mindi? Glagaharum? Kawasan tambak di Kecamatan Jabon? Saya yakin, jika penanganan lumpur seperti sekarang, tak sampai 30 tahun desa-desa lama itu bakal tinggal sejarah. Sama lah dengan Siring, Jatirejo, Kedungbendo, dan Renokenongo yang telah hilang dari peta Sidoarjo.

Di balik tragedi dahsyat ini, sejumlah korban lumpur, khususnya asal Jatirejo dan Siring, memanfaatkan untuk sekadar mendapat tambahan dana. Mereka bikin wisata lumpur. Klop, karena banyak orang [dari berbagai daerah di tanah air] ingin melihat dari dekat semburan lumpur itu. Musim libur Lebaran kemarin pengunjung membeludak.

"Lumayan ada rezeki. Sekarang warga sudah tersebar ke mana-mana, banyak yang nggak punya pekerjaan. Terpaksa begini, Bang," kata Tarmizi, warga Jatirejo [Porong]. Ia pemandu wisata saya meski sebenarnya sudah tahu banyak cerita di balik tenggelamnya desa-desa di sekitar Sumur Banjarpanji I milik Lapindo Brantas Inc.

Wisata di lokasi bencana sedahsyat di Porong? Istilah 'wisata' jelas tidak pas karena di sini para pengunjung tidak beroleh kelegaan rohani. Orang datang lebih karena ingin bersimpati, merasakan langsung betapa ribuan manusia terusir gara-gara kesalahan fatal di lokasi tambang gas bumi. Tapi tidak apa-apa. Koran-koran di Surabaya memang menyebut lokasi seluas 400 hektare lebih itu sebagai kawasan wisata lumpur.

Hampir setiap akhir pekan saya mampir di lokasi semburan lumpur ini. Saat anda tiba, banyak tukang parkir menyambut kendaraan anda. Sekali parkir Rp 2.000. Parkir mobil Rp 5.000. Naik ke atas tanggul bayar lagi Rp 2.000. Tidak pakai tanda terima apa pun. Beberapa laki-laki sibuk 'bancakan' uang dari pengunjung.

Saya heran, objek wisata kok liar begini? Kenapa Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, BPLS, atau Kecamatan Porong dan Tanggulangin tidak menatanya? Akuntabilitasnya bagaimana? Apa ada jaminan uang dari pengunjung [ratusan orang per hari, bahkan ribuan] jatuh ke tangan yang tepat? Dikelola untuk korban lumpur?

Di atas tanggul, kita seakan berada di padang gurun yang tandus. Bau busuk khas lumpur. Retakan lumpur kering. Kolam penampung air berlumpur. Alat-alat berat milik BPLS. Ribuan rumah yang tenggelam. Laki-laki menyelam untuk bongkar bahan bangunan yang masih layak pakai. Puluhan tukang ojek. Penjual VCD lumpur. Penjual es atau makanan kecil. Sangat meriah layaknya tempat wisata terkenal.

Jalan kaki ke dekat pusat semburan, Desa Renokenongo, jelas melelahkan. Juga sangat panas karena semua tanaman di lahan 400 hektare lebih [ada koran menulis 500 hektare] sudah mati. Mau tak mau kita memakai jasa tukang ojek. "Pulang pergi Rp 10.000," kata Tarmizi, pemandu wisata, tukang ojek, sekaligus penjual VCD.

Saya geleng-geleng kepala, tapi terpaksa menuruti 'kebijakan' Tarmizi dan kawan-kawan. "Kok gampang banget cari uang ya? Di balik bencana ada saja tangan-tangan yang beroleh rezeki," pikir saya.

Tiba di garis batas BPLS, pengunjung tak boleh beranjak lebih jauh, saya melihat 50-an turis lokal di sana. Melihat semburan lumpur berbalut asap putih tebal yang tak pernah berhenti. Juga sejumlah pekerja mengoperasikan alat berat untuk memperkuat lokasi sekitar semburan.

"Kalau mau sampai ke dekat semburan, ya, bayar Rp 50.000. Tapi sekarang dilarang karena dianggap sangat berbahaya. Apalagi, tanggul baru saja jebol beberapa kali," jelas Tarmizi.

Dia juga mengingatkan bahwa pada 22 November 2006 pipa gas milik Pertamina meledak, sehingga belasan orang terkubur hidup-hidup. Ah, siapa yang mau mati konyol di sana? Penjelasan Tarmizi ini kontan membuat pengunjung kehilangan minat jalan-jalan ke dekat pusat semburan.

Saat pulang, Tarmizi menawarkan VCD seharga Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per keping kepada saya. Menurut dia, VCD itu mengambarkan situasi bencana lumpur lapindo yang telah menimbulkan korban 20.000 orang lebih, berikut dampak sosial, kerusakan jalan raya, rel kereta api, dan sebagainya.

"Yang buat VCD ini teman-teman wartawan. Kalau anda beli berarti anda ikut menyumbang korban lumpur. Yah, buat kenang-kenangan setelah wisata ke sini," kata Tarmizi dengan rayuan khasnya. Saya tidak membeli karena sudah lama mengoleksi VCD lumpur lapindo.

Saya pastikan, Minggu [21/10] siang, ratusan turis berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Lihat saja mobil-mobil berplat nomor Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Denpasar, bahkan luar Jawa. Jangan tanya plat nomor Jawa Timur yang pasti paling banyak: L [Surabaya], W [Sidoarjo], P [Jember], N [Malang], AE [Madiun]. Logat bicara pengunjung pun macam-macam.

"Yang dari manca negara juga banyak, Bang," kata Tarmizi. "Pokoknya ramai terus, nggak peduli Lebaran atau bukan. Orang kan ingin melihat langsung semburan lumpur di Porong itu kayak apa. Kalau sekadar lihat di televisi kan nggak puas."

Fenny bersama keluarga, asal Semarang, menyempatkan diri berkunjung ke lokasi bencana lapindo. Hampir satu jam mereka jalan-jalan, foto bersama, ambil gambar. Gunawan [Jakarta] pun sama. "Saya memang niat ke sini kalau kebetulan ada waktu ke Jawa Timur. Ternyata, bencana ini benar-benar dahsyat," ujar Gunawan.

Ya... benar-benar dahsyat!

Kris Mariono penggerak seni rupa

Teman saya yang satu ini, Kris Mariono, tidak bisa melukis. Tapi apresiasinya terhadap seni rupa sangat baik. Kris juga bergaul luas dengan para pelukis [pemula hingga senior] di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang. Hampir semua pelukis di Jawa Timur yang menggelar pameran di Surabaya atau Sidoarjo dia kenal.

Maklum, sehari-hari Kris Mariono bekerja sebagai reporter RRI [Radio Republik Indonesia] Surabaya. Kris banyak dipercaya membuat reportase tentang seni budaya, khususnya seni rupa. Teman-teman pelukis merasa kurang afdal manakala Kris tidak kelihatan batang hidungnya.

"Kris RRI mana? Kok gak kelihatan?" begitu komentar Bambang Harryadjie, pelukis senior Sidoarjo, dalam sebuah pameran bersama di Sidoarjo beberapa waktu lalu.

Karena bergaul rapat dengan para pelukis [dia tidak pilih-pilih pelukis], pria yang tinggal di Sidoarjo ini lama kelamaan menjadi kolektor. "Yah, kolektor kecil-kecilan lah. Saya simpan untuk apresiasi dan sewaktu-waktu akan saya pamerkan."

Kris Mariono bukan wartawan biasa. Kalau wartawan atawa reporter umumnya hanya wawancara, cari data, menulis, memublikasikan laporan, Kris menjalin ikatan dengan para pelukis. Hampir tiap hari dia 'jagongan' dengan pelukis. Diskusi membahas macam-macam gaya lukisan, peluang pasar, hingga menggagas pameran lukisan. Maka, Kris kemudian dikenal sebagai salah satu panitia penyelenggara [event organizer] pameran lukisan.

Saya mencatat pada tahun 2004 Kris menggarap begitu banyak pameran lukisan di Surabaya dan Sidoarjo. Pelukis-pelukis pemula, sedang, hingga senior diajak pameran bersama baik di Surabaya maupun Sidoarjo.

"Saya ingin karya teman-teman pelukis dikenal masyarakat. Punya karya, tapi tidak dikenal orang, untuk apa? Lukisan itu kan sebaiknya dikoleksi orang," ujar laki-laki murah senyum ini.

Profesi wartawan RRI membuat Kris Mariono bisa menjalin komunikasi dan lobi ke mana-mana. Di daerah, pendekatan pada pejabat macam bupati, wali kota, kepala dinas... sangat penting. Juga omong-omong dengan pengusaha, calon kuat kolektor lukisan. Kadang-kadang sambil wawancara untuk medianya, Kris diskusi kecil soal pengembangan seni lukis di daerah. Bagaimana kalau bikin pameran yang melibatkan pelukis ini, ini, ini.

Begitulah. Kris pernah berhasil meyakinkan pejabat di Sidoarjo bahwa pameran lukisan itu penting untuk mengangkat citra Kabupaten Sidoarjo. Apalagi, Bupati Win Hendrarso sejak tahun 2000 mencanangkan Sidoarjo sebagai kota festival. "Kita harus gulirkan event-event seni rupa. Kalau bisa sebanyak mungkin," tuturnya.

Dr. Emmy Susanti, istri Bupati Win Hendrarso, akhirnya setuju dengan program pameran lukisan khusus perempuan pelukis. Pameran bersama dilakukan di pendapat kabupaten, kawasan alun-alun Sidoarjo. "Saya kerja sama dengan Anita [Sechan, pelukis asal Waru]," kenangnya.

Pameran itu cukup berhasil. Pendapa yang tadinya terkesan 'angker', sulit didatangi rakyat biasa, akhirnya bisa dinikmati ramai-ramai. Bersamaan dengan peringatan Hari Kartini, Kris Mariono bersama pengurus PKK [Pembinaan Kesejahteraan Keluarga] Sidoarjo, yang dipimpin Bu Emmy Susanti, memecahkan rekor Muri [Museum Rekor Indonesia] untuk bordir terpanjang. Peristiwa ini beroleh liputan luas dari media massa.

Sukses menggelar pameran untuk pelukis-pelukis Sidoarjo, Kris Mariono kemudian mengajak pelukis-pelukis dari kota lain di Jawa Timur.
Istilahnya, Sidoarjo plus. Alasannya: "Kita tidak bisa jalan sendiri tanpa kolaborasi dengan teman-teman pelukis dari daerah lain. Ini juga sekalian untuk menambah referensi teman-teman pelukis Sidoarjo."

Benar saja. Rencana Kris akhirnya terwujud. Teman saya ini memang selalu fokus pada rencananya. Kalau Kris sudah menyiapkan rencana, program, gagasan, biasanya jalan. Dananya dari mana, siapa saja pendukungnya, biasanya teratasi meskipun awalnya berat.

Kuncinya: "Kita harus jalan terus, jangan menyerah meski banyak rintangan. Jangan mundur di tengah jalan."

Menurut Kris, mengurus seniman, apalagi pelukis, apalagi di Jawa Timur, itu tidak gampang. Sebab, para pelukis ini orang bebas yang tidak pernah terikat tenggat waktu [deadline] macam wartawan atau profesi lain. Janji menyerahkan lukisan tanggal 10, misal, tanggal 12 belum jadi. Omongannya sulit dipegang.

"Tahu sendiri lah kerja sama pelukis itu bagaimana. Tapi kita harus sadar bahwa dunia seniman memang kayak begitu. Mereka bukan buruh atau pekerja kantoran yang diatur-atur dengan aturan ketat," tutur Kris.

Toh, dia tidak jera bekerja sama dengan pelukis karena sudah telanjur mencintai seni rupa. Mengurus pameran seni rupa--jangan tanya keuntungan, katanya--membawa kepuasan batin tersendiri baginya. Puas karena dia bisa memberikan sedikit sumbangan untuk kesenian di Jawa Timur. "Saya senang kalau pameran itu mendapat apresiasi luas," katanya.

"Misalnya ada lukisan yang laku. Bagaimana pembagian hasil antara pelukis dan panitia? Kemudian, bagaimana komitmen pelukis dengan panitia?" saya bertanya.

Menurut Kris Mariono, soal ini sangat sensitif dan belum ada aturannya di Jawa Timur, bahkan Indonesia. Karena itu, pelukis-pelukis kerap mencurigai panitia dan sebaliknya. Iklim kesenian kita pada umumnya belum sehat, belum profesional, sehingga perlu waktu untuk memperbaikinya. Panitia yang sudah kerja capek-capek untuk bikin pameran selalu dicurigai 'makan' lukisan. Menilep pelukis. Alamak!

"Yang penting, kita saling komunikasi dan saling terbuka," ujar Kris.

Sejak tahun 2006 saya melihat gairah Kris Mariono tidak sehebat tahun-tahun sebelumnya. Capekkah? Saat saya hubungi beberapa waktu lalu, Kris mengaku sibuk mengelola BENDE, jurnal kebudayaan versi Taman Budaya Jawa Timur. Juga aktif berdiskusi dengan komunitas seniman di Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya.

"Sekarang giliran teman-teman lain dulu yang bergerak. Kalau terlalu diforsir, bisa sakit kita," ujar Kris. Tiarapnya jangan lama-lama, Cak!

19 October 2007

Siao Cia penyanyi dan guru vokal klasik


Minat pengusaha Surabaya menyanyikan lagu-lagu klasik cukup tinggi. Ini tak lepas dari kehadiran Surabaya Symphony Orchestra [SSO] sejak akhir 1996. SSO yang dipimpin Solomon Tong memang gencar memperkenalkan musik vokal klasik berstandar internasional.

SSO ibarat membangun macan-macan tidur. Pengusaha, ekspatriat, istri diplomat, bahkan birokrat yang selama ini diam saja, akhirnya muncul dan mengakui bahwa mereka pernah belajar seni suara klasik [seriosa]. Solomon Tong kemudian mengajak beberapa di antara mereka menyanyi bersama orkes simfoni.

Cang Siao Cia salah satunya.

Perempuan asal Tiongkok ini ternyata piawai menyanyi seriosa. Apalagi, kalau repertoair dari negara tirai bambu. Suara sopran yang lantang ditambah cengkok Tiongkok yang khas. Penonton SSO yang sebagian besar warga keturunan Tionghoa memberikan aplaus meriah. Lebih meriah lagi kalau Siao Cia menyanyikan Sepasang Mata Bola, karya Ismail Marzuki.

Wuih, bukan main! Saya ikut merinding.

"Saya suka sekali lagu itu. Saya tanya teman-teman apa cerita di balik lagu itu. Lagu ini bagus banget," ujar Siao Cia kepada saya. Kini, setiap kali Siao Cia tampil di Surabaya hampir pasti ada Sepasang Mata Bola.

Siao Cia juga bikin konser tunggal di Kowloon, klub hiburan terkenal di Surabaya. Penggemarnya cukup banyak. Selain suaminya, warga Tionghoa yang juga pengusaha sukses, punya jaringan luas, para murid Siao Cia ramai-ramai datang ke konser. Mereka ingin melihat langsung bagaimana sang guru musik menyanyi secara baik dan benar.

"Tapi saya masih kesulitan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Makanya, koleksi lagu-lagu Indonesia masih sedikit. Kalau Sepasang Mata Bola sih saya hafal. Juga Indonesia Pusaka yang sangat merdu," tutur Siao Cia kepada saya saat menonton sebuah konser opera Milan, Italia, di Hotel Mojopahit Surabaya beberapa waktu silam.

Siapa saja murid-murid vokal Siao Cia?

Mereka tak lain para pengusaha, istri pengusaha, keluarga pengusaha, yang suka menyanyi di karaoke. Biasanya, pertemuan bisnis, mentraktir klien, pengusaha cari hiburan, ya, di tempat-tempat khusus yang ada musiknya. Bisa musik hidup atau karaoke. Yang suka nyanyi sumbang suara.

Ada yang lumayan, ada setengah fals, fals, hingga berantakan. Nah, saat Siao Cia bergabung [dia menetap di Surabaya sejak 2000] orang-orang terkesima. "Kalau ini sih bukan suara biasa. Lebih dahsyat daripada penyanyi-penyanyi terkenal. Kok mirip penyanyi opera ya? Nggak mungkin bisa nyanyi kayak begini kalau tidak berlatar belakang pendidikan musik klasik," kata teman-teman baru Siao Cia.

Benar saja. Usut punya usut Cang Siao Cia ini lulusan Akademi Musik Xing Hai di Guangzhou, Tiongkok. Dia juga beberapa kali tampil dalam konser musik klasik di Tiongkok dan Korea. Wah, pantas saja suaranya dahsyat, bagus, sangat akademis. Sejak itulah, sekitar tahun 2001, Siao Cia didatangi sejumlah pengusaha yang ingin belajar menyanyi.

"Saya kasih teknik dasar bernyanyi: pernapasan, teknik vokal, dan sebagainya. Tapi tidak sampai mendalam karena mereka kan menyanyi karena hobi saja. Beda dengan penyanyi profesional," tuturnya.

Eh, beberapa 'murid' Siao Cia kecanduan menyanyi ala klasik. Saya pernah lihat beberapa bos perusahaan besar menyanyi dalam konser SSO. Tidak sangat istimewa memang, tapi mereka bisa mengatasi tingkat kesulitan nomor-nomor klasik yang sulit. Siao Cia pun bangga dengan prestasi anak-anaknya.

"Saya belajar nyanyi, ya, sama Siao Cia. Dia yang membuat saya bisa menyanyi dan terus menyanyi sampai sekarang," ujar seorang bos pabrik besar.

Surabaya memang panas, macet, hiruk-pikuk, belum punya infrastruktur musik yang memadai. Orkes simfoni hanya satu: Surabaya Symphony Orhestra. Gedung konser atau gedung kesenian tidak ada. Toh, Siao Cia mengaku sangat senang tinggal di Surabaya. "Saya suka di sini. Bahkan, saya lebih banyak menyanyi di sini," aku Siao Cia.

Maka, perempuan kelahiran Korea yang dibesarkan di Tiongkok ini mengurus naturalisasi alias pindah kewarganegaraan. Dia bilang telanjur mencintai Indonesia sejak tiba di Surabaya pada tahun 2000. "Saya cinta Indonesia, terutama kerupuknya. Hehehe...."

Keinginannya menjadi WNI juga karena didorong oleh murid-murid kursus vokal di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang. Mereka protes saat Siao Cia pulang ke Tiongkok untuk mengurus berbagai surat seputar izin kerja dan izin tinggal. "Butuh waktu lama."

Kini, dia plong. Setelah masa penantian sekitar lima tahun, Siao Cia akhirnya resmi menjadi warga negara Indonesia. Dia juga sudah bisa mengerti bahasa Indonesia, bisa berbicara sedikit-sedikit. Kalimatnya masih kacau, tapi masih bisa dipahami. Kalau di tulisan ini Siao Cia terkesan bicara lancar, spontan, enak, hehehe... itu karena sudah saya sunting di sana-sini.

"Sekarang saya merasa punya tiga tanah air: Korea, Tiongkok, dan Indonesia," ujar Siao Cia, bangga.

Sebagai wujud kebanggaannya pada Indonesia, tanah air baru, Siao Cia berjanji belajar bahasa Indonesia lebih giat lagi. Juga belajar lagu-lagu patriotik macam Sepasang Mata Bola, Indonesia Pusaka, dan sebagainya. Dan, jika bikin konser tunggal, Siao Cia berusaha menyertakan lagu-lagu Indonesia.

Di ujung percakapan, saya meminta Siao Cia membawakan lagu Sepasang Mata Bola, yang juga sangat digemari mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. "Saya sudah kangen suara anda. Suara yang sangat indah, lantang, tegas," rayu saya.

Ah, ternyata Siao Cia terpancing. Lalu, meluncurlah Sepasang Mata Bola dari mulut Siao Cia. Bahasa Indonesia, namun kental dengan nuansa Tiongkok. Oh, ya, saya memang punya kebiasaan 'mengetes' penyanyi macam begini. Dulu, saat jumpa pers pun, saya suka 'memaksa' si biduan menyanyi. Hehehe....

Hampir malam di Jogja
ketika keretaku tiba
remang-remang cuaca
terkejut aku tiba-tiba

Dua mata memandang
seakan-akan dia berkata
lindungi aku pahlawan
daripada si angkara murka

Sepasang mata bola
dari balik jendela
datang dari Jakarta
menuju medan perwira

kagum ku melihatnya
sinar sang perwira rela
pergilah pahlawanku
jangan bimbang ragu
bersama doaku

Frater Monfoort teliti rumah adat Keo


Di tengah kesibukan sebagai biarawan Bunda Hati Kudus [BHK] di Malang, Jawa Timur, Frater Maria Monfoort BHK menekuni riset di kampung halamannya, Flores. Akhirnya, Frater Monfoort berhasil meraih gelar doktor di Universitas Merdeka Malang.

Disertasi frater bernama asli Klemens Mere ini berjudul Nilai-Nilai Budaya, Fungsi, dan Makna Simbolik Rumah Adat Keo dalam Konteks Perubahan Masyarakat di Desa Lajawajo, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur".

"Saya melihat perubahan sosial masyarakat membawa perubahan besar bagi kehidupan di Mauponggo. Bahkan, tak sedikit yang mulai melupakan tradisi,” ungkap biarawan ini.

Menurut Monfoort, masyarakat Keo sampai sekarang masih menjaga nilai-nilai luhur rumah adatnya. Rumah adat Keo tak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tapi juga sebagai tempat perlindungan atau pengayoman. "Konsepnya unik," kata laki-laki kelahiran 9 Agustus 1967 ini.

Konsep perlindungan itu bisa dilihat dari tata letak dan bentuk rumah. Tata letak rumah adat Keo melingkar seperti rantai dan bentuknya mirip kubah. Tiang-tiang banguan kokoh menopang rumah. Di tengah-tengah rumah adat terdapat sao pu’u dan sao yedha.

"Benda adat ini memiliki nilai pengayoman dan perlindungan bagi masyarakat dan sangat dihargai sampai sekarang," kata sang frater.

Bagi saya, riset tentang adat-istiadat Flores macam ini perlu dikembangkan dan diperbanyak. Siapa lagi yang akan memperkenalkan Flores, Nusa Tenggara Timur, kalau bukan warga keturunan Flores sendiri? Terlalu banyak objek menarik di kampung halaman yang bisa diangkat, dikupas, menjadi karya ilmiah.

Jika terus disosialisasikan, insya Allah, masyarakat di luar Flores pun akan tertarik. Sehingga, image Pulau Flores pelan-pelan bisa berubah menjadi lebih baik. Syukur-syukur, bisa memberi sumbangan bagi kemajuan masyarakat di Flores, Lembata, Adonara, Solor, Alor, dan pulau-pulau kecil di NTT.

Bukan apa-apa. Selama ini sebagian orang di Jawa masih menganggap Flores sebagai pulau tempat tinggal orang-orang primitif yang belum mengenal peradaban modern. Juga, maaf, orang-orang bodoh, terbelakang, miskin, tertinggal di hampir semua bidang. Citra ini beroleh konfirmasi ketika surat kabar nasional menulis tentang kelaparan ekstrem di NTT. Masyarakat makan buah bakau, minum air pisang, serta kondisi ekstrem lainnya.

Tahun 2004 kita dikejutkan oleh temuan fosil manusia purba setinggi satu meter di Liang Bua, Kabupaten Manggarai, Flores. Temuan Peter Brown dari Australia itu menyebutkan bahwa 'manusia Flores' itu [alias Hobbit] hidup 13.000 tahun lalu.

Dunia antropologi geger. Polemik berkembang luas di dalam dan luar negeri. Ah, manusia Flores menjadi bahan kajian kelas berat! Debat soal manusia Flores berakhir setelah pakar-pakar dari Indonesia, khususnya Prof. Dr. Teuku Jacob [meninggal 17 Oktober 2007] mementahkan klaim Peter Borwn dan timnya.

Disebutkan bahwa manusia Flores [Homo Floresiensis] itu ternyata sama saja dengan Homo sapiens macam kita inilah. Hanya saja, tinggi si Hobbit hanya semeter karena mengalami kelainan. Buktinya, masyarakat di dekat Liang Bua pun sampai sekarang rata-rata tingginya di bawah 1,4 meter.

Bagi saya, riset antropologi ini ibarat promosi gratis untuk Flores. CNN, BBC, Time, Newsweek, media-media besar dunia berpaling ke Flores. Di mana sih Flores itu? Manusianya kayak apa? Lingkungannya macam apa? Budayanya? Kondisi mutakhir?

Saya yakin, temuan manusia Flores yang kontroversial ini akan terus mencuat karena masih banyak periset yang akan mengembangkannya lebih lanjut. Isu manusia katai dari Liang Bua jelas sangat menarik.

Saya berharap, orang-orang Flores di mana pun berada, khususnya mahasiswa S-1 hingga S-3, untuk tidak jemu-jemu mengembangkan riset di kampung halaman. Sekali lagi, masih terlalu banyak objek menarik yang belum dikupas. Informasi ilmiah tentang Flores masih terlalu sedikit.

Kita, orang Flores, Nusa Tenggara Timur, jangan terus-menerus menjadi objek penelitian. Kita harus menjadi subjek, pelaku! Akan sangat aneh jika kita harus jauh-jauh ke Australia, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Kanada... hanya untuk belajar tentang Flores.

15 October 2007

Virus HP di gereja


Gereja Katolik HKY Kayutangan, Malang, yang antik dan gagah. Tapi dewan paroki perlu menertibkan umatnya agar tidak ber-HP saat perayaan ekaristi.

Minggu, 14 Oktober 2007.

Saya ikut misa di Gereja Hati Kudus Yesus, Kayutangan, Malang. Gereja ini tua [diresmikan 1906], antik, sangat bagus, jadi cagar budaya dan ikon kota Malang. Dia menjadi simbol keberadaan umat Katolik di Kota Malang.

Letak Gereja Kayutangan sangat strategis, persis di tengah kota, hanya 50-an meter dari alun-alun. Kini, di samping Gereja Kayutangan ada gerai McDonald's, tempat orang makan-makan dan bersantai. Saya pikir lama-kelamaan gereja tua nan awet itu bakal digusur oleh kekuatan kapitalisme dan hedonisme.

Misa jam delapan pagi itu meriah. Meski bersamaan dengan libur Lebaran, gereja penuh. Bahkan, temat duduk tambahan di samping gereja pun penuh. Saya dan belasan jemaat terpaksa duduk paling belakang meski harus berhadapan dengan sinar matahari. Antusiasme umat mengikuti perayaan ekaristi di Malang patut dipuji.

Mazmur dinyanyikan seorang perempuan bersuara sopran. Cukup bagus meski kurang semangat. "Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita," begitu refrein mazmur yang harus diulang oleh umat. Melodinya diciptakan Philipp Nicolai, kemudian dimodifikasi oleh Romo Karl Edmund Prier, S.J.

Saat umat asyik bermazmur, eh tiba-tiba saya melihat seorang nona manis, Tionghoa, asyik bicara di ponsel alias HP [handphone]. Suaranya agak keras. Mungkin, karena penting sekali, si nona merasa perlu berjalan keluar agar bicara lebih bebas. Berjalan sambil bicara. Tidak ada rasa risi sama sekali dengan ratusan umat yang memperhatikannya.

Saya juga perhatikan anak muda, juga gadis, yang duduk di samping gereja. Dia asyik ber-SMS, senyam-senyum. Kemudian, laki-laki berusia 40-an tahun, agak gemuk, duduk sama istri, memamerkan ponselnya saat pastor berkhotbah. Khotbah cukup menarik, tentang 10 orang kusta yang disembuhkan Yesus, tapi hanya satu yang mengucapkan terima kasih. Sang pastor memanggil 10 umat untuk peragaan di depan altar. Sangat menarik.

"Kok begini ya misa di Kayutangan? Kok tidak ada instruksi mematikan HP dan semua perangkat komunikasi saat masuk gereja ya? Umat asyik bicara di HP kok dibiarkan? Petugas tata tertib kok diam saja? Apa tidak bisa mematikan HP selama misa yang hanya satu jam lebih?"

Dan banyak lagi pertanyaan yang muncul spontan di dalam hati saya. Saya teringat pada kata-kata Yesus Kristus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?" [Matius 26:40].

Tapi saya berusaha memahami kegandrungan manusia modern pada ponsel, alat komunikasi yang efektif dan makin mempengaruhi gaya hidup kita. Di Kota Surabaya, sejak tiga empat tahun lalu hampir semua gereja Katolik menulis larangan berponsel di dalam gereja selama perayaan ekaristi. Larangan ini cukup dipatuhi meski awal-awalnya, ya, kayak di Kayutangan ini.

Begitulah. Di zaman modern nan canggih ini manusia modern makin sulit fokus pada Tuhan. Gereja masih penuh, kebaktian raya di mana-mana, tapi pikiran orang lari ke mana-mana. Meditasi makin sulit. Memusatkan pikiran susah.

Dulu, tahun 1990-an, para mahasiswa Katolik di Jawa Timur sering dilatih mempraktikkan Doa Yesus yang hanya mengandalkan pernafasan dan konsentrasi. Fokus di satu titik, tarik nafas, menyebut nama Ye... su... berulang-ulang. Saya akui tidak gampang meski sangat sederhana. Tapi banyak teman yang berhasil, kemudian menangis dan mengalami banyak perubahan hidup.

Lha, di zaman HP macam begini apa bisa ya umat [tak hanya Katolik] benar-benar fokus pada Tuhan? Silakan dijawab sendiri. Sebab, setiap manusia punya persoalan dan pergumulan masing-masing.

Di Jawa Timur, orang-orang kristiani yang kaya mendirikan tempat retret, bukit doa, rumah doa, griya samadhi, atau apa pun namanya di tempat wisata pegunungan macam Pacet, Prigen, Trawas, Batu. Ini saya kira mencontoh Yesus Kristus yang kerap naik ke bukit, mencari tempat sunyi, untuk berdoa. Bukit doa dan tempat-tempat retret ini selalu ramai dikunjungi jemaat kristiani.

Tapi apa yang terjadi? Lagi-lagi manusia kota sulit melepaskan beban pikirannya di kota. Badannya di bukit, tapi pikirannya masih ada di tempat kerja, keluarga, teman-teman, hingga area konkow-kongkow. Alih-alih meninggalkan HP beberapa hari selama retret, perangkat komunikasi jarak jauh itu dibawa-bawa saat refleksi, meditasi, dan sebagainya.

Saat meditasi ada saja HP berdering. Saat sharing pengalaman, banyak peserta yang mengirim atau menerima SMS. "Ada juga lho gembala umat, entah itu romo, pendeta, evangelis, yang tidak bisa meninggalkan HP. Dia memimpin misa atau kebaktian, tapi HP masih on di kantongnya. Hehehe...," kata seorang teman.

Cerita-cerita konyol tentang perilaku rohaniwan yang gila HP [suka pamer HP terbaru, fitur-fitur ajaib, bikin SMS konyol] sudah sering saya dengar di Surabaya. Saya tertawa di mulut, tapi menangis di dalam hati. Karena itu, saya salut pada romo-romo yang memilih tidak mengunakan HP apa pun agar lebih fokus pada tugas rohaninya.

"HP saya ini pemberian umat. Kalau nggak dikasih, ya, saya nggak punya HP," ujar seorang romo senior saat berkhotbah di Sidoarjo beberapa waktu lalu.

Andai saja beliau tidak menggunakan HP itu, saya kira, lebih bagus. Sebab, perangkat HP sangat menggoda di zaman hedonisme macam ini. Bisa-bisa uang kolekte diambil untuk membeli pulsa. Hehehe....

Seorang romo senior di Surabaya, asal Flores, dikenal gagap teknologi. Mengetik di komputer tak bisa, HP nggak bisa, singkatnya sulit memahami teknologi informasi. Bagi saya, bukan masalah karena reksa pastoralnya justru sangat bagus. Dia disenangi umat.

Suatu ketika saya bertemu romo ini. "Sekarang saya sudah punya HP, diberi umat," ujarnya.

Wah, HP romo ini tergolong edisi terbaru. Beda dengan HP saya yang hanya bisa SMS dan menelepon. Pastor senior ini tampak asyik dengan mainan baru tersebut. Sebentar-sebentar HP-nya berdering.

"Siapa yang telepon?" tanya saya.

"Yah, umat yang kasih saya HP ini," jawabnya santai. "Saya diundang untuk doa di rumahnya. Dia punya acara ulang tahun."

Makin lama makin sadarlah saya bahwa beberapa rohaniwan sudah 'disetir' oleh umat pemberi HP. Merasa berutang budi, si pastor pun sulit menolak undangan ulang tahun dan acara-acara remeh di rumah orang kaya. Lha, di mana option for the poor?

Kriiing! Kriinggg! Lamunan liar saya di Gereja Kayutangan buyar gara-gara deringan HP seorang laki-laki [50-an tahun] di samping saya. "Hallo, saya masih di gereja. Kira-kira setengah jam lagi kita ketemu," suara laki-laki itu.

Ah, urusan bisnis rupanya!

"Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?"

Gisela Borowka pahlawan kaum kusta



Penyakit kusta bisa disembuhkan
Biarlah mereka hidup bersama kita
Mereka juga citra Allah
Tuhan sayang kita semua
Jangan lukai hati mereka,
Mereka telah terluka
Orang-orang kusta tidak saja sakit fisik,
tapi juga sakit hati.

[Gisela Borowka]


Libur Lebaran 2007 yang hanya dua hari saya manfaatkan untuk membaca tiga buku: Gisela Borowka, John Wood, serta Yohanes Surya. Mereka orang-orang hebat yang telah memberikan inspirasi dan dedikasi kepada sesama manusia.

Kali ini saya membuat catatan singkat tentang Gisela Borowka, perempuan asal Jerman, yang sangat terkenal di Lembata, Flores Timur. Gisela jauh lebih terkenal daripada bupati atau gubernur, bahkan presiden, yang telah beberapa kali diganti. Gisela sangat dekat dengan orang Lembata, Flores Timur umumnya.

Kami di pelosok Lembata lebih mengenal Gisela Borowka dengan sapaan Mama Putih. Selain Mama Putih. ada juga Mama Hitam, yakni Isabella Diaz Gonzales. Dua mama ini dikenal di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, sebagai mama penderita penyakit lepra alias kusta.

Ketika penderita lepra dikucilkan, dicap sebagai kutukan Tuhan atau dewa, Mama Putih dan Mama Hitam justru menampung mereka. Sejak 1963 Gisela Borowka berjuang mendampingi penderita lepra [kusta] di Lewoleba. Saat itu di Pulau Lembata jumlah penderita kusta cukup banyak, tersebar di berbagai pelosok, dijauhi masyarakat karena takut tertular.

Saya masih ingat, pada 1980-an Gisela Borowka datang ke kampung-kampung [jalan raya sangat buruk, listrik tidak ada, sanitasi, dan sebagainya sangat buruk] untuk memberi penerangan kepada masyarakat. Bahwa lepra itu bukan penyakit kutukan. Bahwa lepra bisa disembuhkan. Bahwa obat-batan untuk membasmi lepra sudah tersedia. Bahwa kita tidak boleh mengucilkan orang kusta. Bahwa kita tidak boleh percaya pada takhayul kun yang sangat menyesatkan. Dan seterusnya.

Mama Putih bicara dengan bahasa Indonesia ala Flores Timur. Sangat sederhana. Dia juga membawa beberapa bekas penderita lepra untuk kasih kesaksikan bahwa mereka benar-benar sudah sembuh. Mereka, para bekas penderita lepra, punya komunitas di Lewoleba, bisa kerja, produktif, bisa main teater, paduan suara, dan seterusnya.

Tapi kami, anak-anak kecil dan warga kampung, tidak percaya begitu saja. Orang kampung sudah telanjur termakan takhayul bahwa lepra penyakit kutukan. Celakanya lagi, kitab suci banyak menceritakan tentang penderita kusta di zaman Yesus Kristus yang juga dikucilkan masyarakat. Klop! Jadi, benar-benar sulit menghapus pandangan lama.

Gisela Borowka alias Mama Putih pertama kali menginjak bumi Lembata pada 28 Agustus 1963. Saya tidak bisa membayangkan Lembata pada tahun 1960-an. Sebab, pada 1980-an saja kita harus jalan kaki dari pelabuhan sederhana ke 'kota'. Kota harus pakai tanda kutip karena jauh berbeda dengan kota di Jawa. Sampai sekarang saya tidak menganggap Lewoleba sebagai kota meskipun sejak reformasi sudah menjadi ibu kota kabupaten. Masih terlalu sederhana ala kampung-kampung umumnya.

Misi sosial Gisela ke Lembata dimungkinkan karena sebelumnya ia berkenalan dengan Isabella Diaz Gonzales, perawat yang menjadi teman akrabnya saat menempuh pendidikan di Wuezburg, Jerman. Mereka bahkan satu kamar di asrama. Isabella [belakangan menjadi Mama Hitam] bercerita betapa masih banyak penderita lepra di Flores Timur dan Indonesia umumnya.

Saat itulah Gisela Borowka teringat Pastor Damian de Veuster SSCC yang dikirim ke Hawaii pada 1863. Di sana orang-orang kusta dibuang ke Pulau Molokai. Cepat atau lambat para penderita kusta akan mati karena tidak ada perawatan. Pastor Damian menawarkan diri berkarya di Pulau Molokai agar bisa merawat para penderita kusta.

Selama 16 tahun Damian tinggal di pulau terkucil itu. Ia terkena lepra juga, dan meninggal di situ. Damian kemudian dijuluki pahlawan kusta dari Molokai. Nah, Gisela Borowka membaca cerita Pastor Damian saat masih kelas lima sekolah dasar di Jerman Timur.

"Hati kecil mengatakan bahwa saya harus mengikuti jejak Pastor Damian," kata Gisela Borowka dalam buku yang ditulis Florens Maxi Un Bria, Pr. ini. Pada 1963, saat tiba di Lembata, cita-cita masa kecil Gisela mulai mewujud. Kondisi Lembata memang tidak separah Molokai, tapi status orang kusta sama-sama terkucil.

"Setiap hari kami sibuk mengurus orang sakit. Pekerjaan ini membuat aku senang dan bahagia.... Setiap saat selalu ada orang sakit kusta datang meminta obat. Mereka akhirnya berkeputusan tingga bersama kami sebab di masyarakat mereka disisihkan. Mereka harus tinggal jauh dari keluarga. Untuk itu, Isabella membangun dua pondok darurat untuk mereka," cerita perempuan kelahiran Neisse, Jerman, 25 Agustus 1934, ini.

Situasi di pondok kusta pada 1960-an sangat sulit. Atap bocor. Kutu busuk. Nyamuk banyak sekali. "Setiap pagi kami dikejutkan oleh luka baru yang parah. Kami akhirnya tahu bahwa luka itu bekas gigitan tikus karena kaki mereka mati rasa. Mereka tidak tahu kalau malam tikus datang menggigit tangan dan kaki mereka.

"Kami memberi mereka kaus kaki pada malam hari. Hasilnya, setelah bangun kaus kakinya telah tiada karena telah dibawa si tikus nakal. Kami merasa ngeri sekali."

Pada 1966 Gisela Borowka mendapat bantuan dari Jerman berupa bahan-bahan untuk mendirikan rumah sakit kusta di Lewoleba. Masyarakat menyebutnya rumah besi karena bahan-bahannya memang dari besi dan eternit. Pada Desember 1968 Rumah Sakit Lepra 'Damian' resmi beroperasi di Lembata. Lalu, dibangun dapur umum, paviliun, kamar cuci, kamar mandi, kakus, hingga kebun. Bagi Gisela Borowka, ini semua berkat bantuan doa Pater Damian, tokoh idolanya.

Kehadiran rumah sakit lepra membuat pelayanan Mama Hitam dan Mama Putih makin mudah. Orang-orang kusta akhirnya sembuh dan membentuk komunitas khusus. Masyarakat umum di Flores Timur pun tidak takut lagi dengan penyakit kusta. Boleh dikata, sejak akhir 1990-an tidak ada lagi penderita kusta di Flores Timur, khususnya Lembata. Jikapun ada, begitu tahu gejala-gejalanya, langsung diobati sehingga tidak merusak organ tubuh penderita.

RS Lepra semakin terkenal karena sering mementaskan teater di berbagai tempat. Gisela Borowka memanfaatkan Teater Padma untuk menjelaskan penyakit kusta di masyarakat. Semua pemain teater bekas penderita kusta. Teater ini main di kampung-kampung hingga Kupang, ibu kota provinsi NTT.

Pada 1980 RS Lepra diserahkan kepada kongregasi suster-suster CIJ. Gisela Borowka merasa bahwa tugasnya di Indonesia sudah selesai. Banyak penderita kusta sembuh dan telah kembali ke rumahnya masing-masing. Gisela mulai memikirkan berlibur ke Jerman, bahkan mungkin tinggal di negaranya itu. Misi kemanusiaan di Lembata tuntas dengan sempurna!

Namun, pada 1987 Uskup Kupang Mgr. Gregorius Monteiro meminta Gisela Borowka berkarya di Pulau Alor. Pulau ini terpencil dan lebih menantang ketimbang Lembata. Di Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor, Gisela melayani orang-orang kusta di Kampung Kusta Benlelang.

"Saya sangat sedih karena banyak dari mereka sudah cacat. Hati saya iba melihat tangan cacat mereka, namun masih bisa pegang palu besar untuk memecahkan batu-batu besar yang diambil di kali. Mereka menyekop pasir dari dalam air, dan itu semua dikerjakan dengan tangan cacat," cerita Gisela Borowka.

Seperti di Lewoleba dulu, pada 1989 Gisela mendirikan rumah sakit lepra di Alor. Pasien yang parah dirawat di rumah sakit. Sementara kunjungan ke pelosok-pelosok untuk mengobati penderita kusta di lapangan tetap dilakukan. Pada 1990 pemerintah mengirim dokter spesialis dari RS Kusta Sitanala di Tangerang untuk membantu Gisela dan kawan-kawan di Alor.

Bekas penderita kusta yang cacat dioperasi agar anggota tubuhnya bisa lebih sempurna. Biaya ditanggung oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pelayanan Gisela berkembang karena donatur di dalam dan luar negeri terus membantu. Setiap tahun Kedutaan Besar Jerman di Jakarta mengadakan acara pengalangan dana untuk penderita kusta di Pulau Alor.

"Saya senang karena bantuan-bantuan itu pekerjaan kami menjadi ringan dan lebih baik," kata Gisela Borowka. Dia juga membuka Panti Asuhan Damian di Kalabahi karena banyaknya anak keluarga miskin yang tidak mendapat layanan pendidikan dan kesehatan yang layak.

Pada 20 September 1996, bertepatan dengan masa pensiunnya, Gisela Borowka resmi menjadi warga negara Indonesia. Status WNI membuat ia lebih leluasa bekerja untuk penderita kusta dan orang-orang yang terbuang. "Saya percaya bahwa Tuhan telah mengatur semuanya dengan baik. Saya tidak berpikir lagi untuk pulang ke Jerman sebab tenaga saya masih dibutuhkan di Indonesia," tegas Gisela.

Gisela Borowka alias Mama Putih telah berbuat banyak, bahkan terlalu banyak, untuk penderita kusta dan orang-orang telantar di Flores Timur dan Alor. Dia pahlawan orang kusta di Indonesia!


BIOGRAFI SINGKAT

Nama : Gisela Borowka
Lahir : Neisse, Jerman, 25 Agustus 1934
Pendidikan : Pendidikan perawat di Missionsaertztliche, Wuerzburg, Jerman, 1953.

TUGAS PELAYANAN

1958-1962 : Merawat penderita kusta di Ethiopia.
1963-1987 : Merawat penderita kusta di Lewoleba, Lembata, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
1987- sekarang : Merawat penderita kusta dan anak telantar di Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

PENGHARGAAN

1980 : Penghargaan tertinggi dari pemerintah Jerman atas dedikasinya sebagai pekerja sosial.
11 November 2000: Sido Muncul Award dari PT Sido Muncul Semarang atas jasa-jasanya di bidang sosial kemanusiaan.




SUMBER FOTO:
http://images.whityrosse.multiply.com/

14 October 2007

Wisata ziarah Gunung Kawi



"Gunung tidak perlu tinggi asal ada dewanya."

Pepatah populer di kalangan Tionghoa ini bisa menjelaskan kenapa Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sangat populer. Kawi bukan gunung tinggi, hanya sekitar 2.000 meter, juga tidak indah. Tapi gunung ini menjadi objek wisata utama masyarakat Tionghoa.

Tiap hari ratusan orang Tionghoa [dan warga lain] naik ke Gunung Kawi. Masa liburan plus cuti bersama Lebaran ini sangat ramai. Karena terkait dengan kepercayaan Jawa, Kejawen, maka kunjungan biasanya dikaitkan dengan hari-hari pasaran Jawa: Jumat Legi, Senin Pahing, Syuro, dan Tahun Baru.

"Pokoknya selalu ramai, Mas,'' ujar Ahmad [nama samaran], pemandu wisata yang mengantar saya ke Gunung Kawi pada hari pertama Lebaran, Sabtu, 13 Oktober 2007.

Mas Ahmad tidak salah. Saat berjalan kaki sejauh satu kilometer menuju pusat wisata utama [makam dan kelenteng], saya melihat lautan manusia. Macam pasar malam. Pengemis ada sekitar seratus orang [anak-anak sampai orang tua]. Toko-toko suvenir berdempetan hingga pesarehan.

Penginapan, kata Ahmad, lebih dari 10 buah, dengan tarif Rp 30.000 hingga Rp 200.000. Restoran Tionghoa yang menawarkan sate babi dan makanan tidak halal [buat muslim] cukup banyak. Tukang ramal nasib. Penjual kembang untuk nyekar. Penjual alat-alat sembahyang khas Tionghoa. Belum lagi warung nasi dan sebagainya.

''Gunung kok ramai begini kayak di kota? Saya pikir yang namanya gunung itu jalan setapak, sepi, serba alami,'' komentar saya.

''Gunung Kawi ya memang begini ini. Fasilitasnya sudah direnovasi oleh yayasan, ya, pakai uang sumbangan pengunjung. Mereka yang dapat rezeki, usahanya lancar, sumbang macam-macam. Akhirnya, dibuat bagus seperti sekarang,'' tutur Ahmad, 33 tahun, asli Wonosari.

Dia sudah beberapa tahun menjadi pemandu wisata sekaligus pembawa barang-barang pengunjung macam saya. Ahmad tahu banyak seluk-beluk Gunung Kawi. Usai kunjungan, kita bebas memberikan tips kepadanya. Tidak pakai tarif-tarifan buat guide ala Gunung Kawi.

Apa yang dicari orang-orang di Gunung Kawi? Kekayaan? Rezeki? Usaha lancar? Macam-macam lah niat orang. Saya sendiri datang karena penasaran saja. Tidak lebih. ''Ya, kita olang mo beldoa semoga dikasih rejeki. Pokoke, usaha kita olang lancal lah,'' ujar seorang ibu asal Surabaya dengan logat khasnya.

Jawaban sejenis disampaikan pengunjung lain. Karena itu, warga Jawa Timur kerap mencitrakan Gunung Kawi sebagai tempat pesugihan. Tapi, bagi kalangan kejawen, penggiat budaya Jawa, Gunung Kawi lebih dilihat sebagai tempat pelestarian budaya Jawa. Banyak ritual kejawen diadakan di sini secara teratur dan diikuti aktivis budaya Jawa di seluruh Pulau Jawa.

Di Gunung Kawi ada makam dua tokoh kejawen: RM Imam Soedjono [wafat 8 Februari 1876] dan Kanjeng Zakaria II alias Mbah Djoego [wafat 22 Januari 1871]. Keterangan tertulis di prasasti depan makam menyebutkan, Mbah Djoego ini buyut dari Susuhanan Pakubuwono I [yang memerintah Kraton Kertosuro 1705-1717]. Adapun RM Imam Soedjono buyut dari Sultan Hamengku Buwono I [memerintah Kraton Jogjakarta pada 1755-1892].

Jadi, kedua tokoh ini orang Islam, dimakamkan secara Islam serta adat kraton. Makam keduanya berdampingan di gedung utama. Ada larangan keras untuk memotret atau mengambil gambar saat kita masuk kompleks ziarah utama ini. Para pekerja, semua berbusana adat Jawa, mengawasi semua pengunjung dengan keramahan yang khas.

Kalau masuk makam dua mbah ini, anda harus membeli kembang seharga Rp 2.000. Sebelumnya, bayar retribusi untuk Desa Wonosari Rp 2.000. Lalu, kita menyerahkan KTP [kartu tanda penduduk] atau identitas lain di satpam untuk didaftar nama dan alamat kita. Sumbang lagi uang tapi sukarela. Jangan kaget kalau anda menjumpai banyak sumbangan atau retribusi di aset wisata Kabupaten Malang ini.

Saat saya masuk ke kompleks Gunung Kawi, hampir 95 persen warga keturunan Tionghoa. Anak-anak, remaja, profesional muda, hingga kakek-nenek. Saya heran orang-orang itu bersembahyang layaknya di kelenteng. Masuk ke makam, jalan keliling makam, sambil membuat gerakan menyembah macam di kelenteng. Tidak ada arahan atau instruksi, mereka semua melakukan gerakan-gerakan itu.

Saya bisa pastikan, hampir tidak ada Tionghoa itu yang beragama Islam. Kok begitu menghormati dan sembahyangan di depan makam Imam Soedjono dan Mbah Djoego? Apa mereka tahu siapa yang dimakamkan di situ? Belum lagi kalau kita bahas secara teologi Islam atau Kristiani tentang boleh tidaknya melakukan ritual di Gunung Kawi.

"Memang, Mas, semua orang yang datang pertama kali di Gunung Kawi pasti bertanya begitu. Saya juga nggak tahu kenapa. Yang jelas, sejak dulu ya begitu. Kalau sudah tradisi dan kepercayaan orang, ya, mau apa lagi?" kata Ahmad dengan sangat sopan.

Para pemandu wisata di Gunung Kawi berusaha tidak menyinggung kepercayaan atau agama orang lain. Selain sensitif, mereka tak ingin bisnis mereka terganggu. Harus diakui, warga Desa Wonosari mendapat banyak berkah dari objek wisata Gunung Kawi. Tak sedikit penduduk mengais rezeki di kawasan Gunung Kawi mulai pemandu wisata, penjual bunga, warung, satpam, parkir, dan sebagainya.

Selain berdoa sendiri-sendiri, Yayasan Gunung Kawi menawarkan paket ritual tiga kali sehari: pukul 10.00, pukul 15.00, pukul 21.00. Ritual ini dipimpin dukun atau tukang doa setempat, namun harus pakai sesajen untuk selamatan. Siapa yang mau ikut daftar dulu di loket.

Saya lihat antrean pendaftar Sabtu siang itu sangat banyak. Tarif barang-barang selamatan ditulis jelas di loket yang bagus. Ada dua tipe selamatan agar ujud anda [dapar rezeki, usaha lancar] tercapai. Bagi mereka yang percaya! Tidak percaya, ya, nggak apa-apa!




Mau tahu tarif selamatan? Berikut beberapa item yang saya catat. Harga versi tahun 2007:

Minyak tanah Rp 60.000
Solar Rp 100.000
Minyak goreng Rp 250.000
Beras Rp 400.000
Kambing Rp 500.000
Sapi Rp 7.500.000
Ayam Rp 25.000
Wayang kulit Rp 750.000
Ruwatan Rp 4.000.000

Masih ditambah beberapa elemen lain yang sudah tentu menguras dompet pengunjung. Toh, antrean sangat panjang dari saudara-saudari kita yang hendak memburu rezeki di Gunung Kawi.

Melihat nilai rupiah itu, saya geleng-geleng kepala. Berdoa kok mahal banget? Apa ada jaminan jadi kaya? Apa Tuhan perlu begitu banyak sayur, makanan, daging, wayang kulit, ruwatan...? Kalau kita miskin, tak punya uang, apa harus utang untuk membeli barang-barang itu?

"Itu terserah pengunjung, Mas. Mereka yang percaya ya, nggak akan keberatan," jelas Ahmad sambil tersenyum.

Di luar kompleks makam, ada Kelenteng Kwan Im. Lilin-lilin merah, besar, terus bernyala. Puluhan warga Tionghoa secara bergantian berdoa di sana. Sayang, saya tidak sempat bertanya karena suasana tidak memungkinkan. Juga ada ciamsi: metode meramal nasib ala Tiongkok kuno.

Sekitar enam kilometer dari kompleks makam ada pertapaan Gunung Kawi. Jalannya bagus. Kompleks ini pun penuh dengan ornamen Tionghoa. Di ruang utama ada tiga dukun yang siap menerima kedatangan tamu, berdoa agar rezeki lancar. Tapi sebelum itu si dukun membeberkan tarif selamatan yang jutaan rupiah seperti tertera di daftar harga itu.

Ah, keluar uang lagi!
Keuangan yang mahakuasa!


Anda punya komentar? Silakan tulis. Matur sembah nuwun!

Helios, hotel turis ransel di Malang


Mau ketemu dan omong-omong dengan turis? Datang saja ke Hotel Helios di Jalan Patimura Nomor 37 Malang. Hampir tiap hari ada turis bule [Eropa dan Amerika] yang menginap di sana. Mereka selalu berkelompok, ramah, dan mau diajak omong-omong kecil.

Saya perhatikan sejak dulu para bule penghuni Hotel Helios ini hampir semuanya turis ransel alias backpackers. Ini golongan pelancong yang kantongnya tidak tebal [ukuran Barat], suka bertualang, menikmati eksotisme, di dunia ketiga. Mereka berlibur dengan biaya sekecil mungkin, namun memuaskan.

Begitulah. Pada libur Lebaran tahun 2007 ini saya bertemu dengan sekelompok gadis cantik asal Belanda. Mereka hendak ke Bromo. Kemudian seorang bapak [kepala botal] bersama istrinya, orang Belanda, yang jalan-jalan melihat gedung-gedung tua di Malang. Juga kota lain di Jawa Timur.

Si Belanda ini sewa kamar paling murah, Rp 35 ribu semalam. Tarif ini, saya kira, tidak mahal pun untuk ukuran orang kita. Kamar bersih, dua tempat tidur, satu meja. Ada air putih. Kamar mandi di luar pakai shower. Sederhana tapi bersih, dan itu disukai para turis ransel.

"Kenapa harus tinggal di hotel berbintang yang mahal? Kami kan hanya perlu kamar untuk istirahat dan tidur. Makan kan bisa di mana saja, di warung, restoran... sambil jalan-jalan," kata laki-laki asal Belanda yang enggan menyebut namanya.

Siang itu dia asyik membaca buku cerita. Begitu juga turis-turis lainnya. Saya perhatikan para turis Barat ini sangat doyan membaca. Ini membuat mereka tidak kesepian meskipun Hotel Helios tidak punya restoran dan fasilitas hiburan apa pun. Macam rumah biasa lah. Selain turis-turis ransel, Hotel Helios digemari tamu-tamu dari berbagai kota di Indonesia yang berlibur ke Malang Raya.

Beroperasi sejak tahun 1960-an, Hotel Helios hanya punya 24 kamar. Kamar paling murah [kamar mandi di luar] cuma Rp 35 ribu. Kemudian ada standard fan [Rp 75.000], fan TV [Rp 95.000], AC [Rp 100.000], AC TV [Rp 120.000], superior [Rp 150.000]. Harga ini berlaku pada Oktober 2007. Pengelola hotel bisa menaikkan sewaktu-waktu sesuai dengan tingkat inflasi di Indonesia.

'Paling banyak tamu kami dari Belanda dan Australia. Tapi ada juga Prancis, Amerika, dan negara-negara lain,' jelas Agus, staf Hotel Helios.

Apakah Hotel Helios mengadakan promosi ke negara-negara Barat? Kok setiap hari selalu ada tamu bule? Ternyata, tidak ada promosi apa pun. Hotel melati mana punya anggaran promosi?

Brosur saja ala kadarnya. Tapi, rupanya, para pelancong berjiwa petualang ini saling getuk tular setelah kembali ke nagaranya. Sehingga, orang-orang Barat yang hendak ke Jawa Timur, khususnya Malang, niscaya tahu Hotel Helios. Konon, saya belum cek nih, Hotel Helios tercantum dalam buku panduan wisata di Eropa. 'Kalau mau melancong ke Malang, mampirlah ke Hotel Helios,' kira-kira begitu.

Agus dan kawan-kawan di Hotel Helios juga menawarkan paket BROMO TOUR. Rutenya: Malang, Gunung Bromo, Gunung Ijen, lantas ke Pelabuhan Ketapang, selanjutnya Bali. Turis juga boleh memilih paket ke perkebunan cokelat, karet, dan kopi di Kalibaru [Banyuwangi]. Selanjutnya, bisa ke Bali, Jogja, atau kota mana saja.

'Paket tur ini sangat disukai turis. Mereka bukan tipe turis yang senang mendekam saja di dalam kota. Mereka sangat menikmati pemandangan alam kita yang indah dan alami,' tambah staf Hotel Helios lainnya.

Para oma dan opa asal Belanda lain lagi hobinya. Sepanjang hari mereka berjalan kaki di berbagai pelosok kota Malang. Lihat gedung-gendung tua macam gereja, tangsi tentara, restoran tempo doeloe, alun-alun, serta tempat-tempat bersejarah.

'Kalau saya sudah jatuh cinta sama Indonesia, termasuk orang Indonesia,' kata Paul Figarro, warga California, Amerika Serikat.

Paul bersama kekasihnya, orang Jawa Timur, tinggal di kamar paling murah. Dia fasih bahasa Indonesia karena punya guru privat yang tak lain kekasihnya. 'Kalau ada uang dan kesempatan, saya usahakan datang ke Jawa Timur, nginap di sini. Sekarang uang saya sudah habis, maka saya mau pulang. Jangan dikira semua orang Amerika itu uangnya banyak. Hehehe...,' ujarnya ramah.

Hotel Helios
Jalan Patimura 37 Malang
Telepon : [0341] 362741
E-mail : helios37@yahoo.com

10 October 2007

Solomon Tong dapat penghargaan gubernur


Gubernur Jawa Timur Imam Utomo menyerahkan penghargaan kepada 10 seniman berprestasi di Jawa Timur, Sabtu [6/10/2007]. Ini merupakan tradisi Pak Imam sejak ia menjabat gubernur sejak 9 tahun lalu. Katanya, tradisi ini akan berlanjut meskipun tahun depan Jawa Timur punya gubernur baru.

Para seniman penerima penghargaan:

1. Agus Sunyoto [sastra, Malang]
2. Tjuk Sudarma [karikatur, Surabaya]
3. Amenan/Parman/Bolet [tari, Jombang]
4. Emil Sanossa [film, Malang]
5. Max Arifin [teater, Mojokerto]
6. Sabrot D. Malioboro [teater, Surabaya]
7. Solomon Tong [musik klasik, Surabaya]
8. Subiyantoro [musik tradisi, Sidoarjo]
9. Sumitro Hadi [tari, Banyuwangi]
10. Umi Kulsum [ludruk, Surabaya]


Jumat siang, sehari sebelum penyerahan penghargaan, saya mampir ke kantor Surabaya Symphony Orchestra [SSO]. Solomon Tong, dirigen sekaligus pendiri SSO, kebetulan berada di sana. Saya sudah baca di koran kalau Pak Tong bakal menerima penghargaan. "Selamat ya, semoga terus berprestasi," kata saya. Pak Tong tersenyum lebar.

Tiga perempuan, staf SSO--Jujuk, Yanti, Miming--tampak bahagia karena bosnya beroleh penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur. Ternyata, Pak Tong mendapat informasi ini secara mendadak. Ada staf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur mengirim surat undangan ke Pak Tong. Kemudian minta isian formulir biografi singkat.

Sebagai orang yang sudah banyak makan asam garam di dunia seni musik klasik [Barat], Pak Tong tampak biasa-biasa saja menanggapi penghargaan ini. Toh, ia bersyukur karena pemerintah akhirnya mengapresiasi kerja kerasnya selama ini. Ingat, membina musik klasik, apalagi orkes simfoni [symphony orchestra], di Indonesia tidaklah ringan. Perlu kerja keras, tekad, kemauan, dan semangat baja. Juga uang, sponsor, serta pemusik berkualitas internasional.

Masing-masing seniman beroleh uang Rp 10 juta dari Gubernur Imam Utomo. "Saya tidak akan gunakan uang itu. Saya akan salurkan ke yayasan sosial. Apa kamu bisa cari yayasan sosial yang sangat membutuhkan bantuan?" ujar Pak Solomon Tong kepada saya.

"Bagaimana kalau duitnya dibagi-bagikan ke karyawan? Atau untuk makan-makan," tukas Miming, staf kantor SSO. Hehehe.... Kami semua tertawa. Kalau urusan makan enak, wah, para staf kantor SSO memang boleh lah. Mereka tidak takut kelebihan kolesterol atau asam urat. Toh, badan mereka kurus-kurus.

Saya juga ditanya staf SSO apakah Pak Solomon Tong pantas mendapat penghargaan? Apakah pilihan panitia objektif? Atau, sekadar sistem arisan, ganti-ganti seniman tiap tahun?

"Wah, kalau Pak Solomon Tong, ya, sangat pantas. Saya malah heran kok Pak Tong baru dapat tahun 2007. Menurut saya, mestinya Pak Tong sudah dapat tahun 1990 atau 1986. Boleh dikata, penghargaan untuk Pak Tong ini sangat terlambat," ujar saya dengan tegas.

Beberapa tahun sebelumnya, pemusik senior macam Buby Chen dan Slamet Abdul Sjukur sudah menerima penghargaan. Lha, kok Solomon Tong tidak dapat-dapat? Padahal, beberapa seniman muda, yang jam terbangnya masih pas-pasan, dapat. Kapan Solomon Tong diberi penghargaan? Begitu pertanyaan terpendam saya sejak beberapa tahun terakhir.

Saya tidak sedang memuji-muji Solomon Tong di depan anak buahnya. Buat apa cari muka? Toh, selama ini saya cukup objektif menulis catatan-catatan konser SSO. Saya juga pernah membuat catatan kritis yang tidak selalu diterima Pak Tong dengan senyum.

Saya cukup intens mengikuti perjalanan Solomon Tong bersama SSO dan sekolah musik yang dipimpinnya. Solomon Tong, kelahiran Xia Men, Tiongkok, 20 Oktober 1939, memang sangat gigih mempertahankan orkes simfoni di Kota Surabaya. Padahal, upaya itu tidak mudah.

Kepada saya, Pak Tong mengatakan bahwa dia tekor Rp 100 juta setiap kali konser. Satu tahun minimal SSO mengadakan tiga kali konser besar. Kemudian konser-konser kecil, kemudian home concert untuk para siswa. Sekali konser besar, biasanya di Hotel JW Marriott, Pak Tong membutuhkan biaya produksi sekitar Rp 230 juta. Tapi SSO kok bisa bertahan sampai sekarang?

Pak Tong selalu tersenyum mendengar pertanyaan macam ini. Lalu, gaya pendetanya muncul. "Pak Tong itu apa lah. Pak Tong is no body, tapi saya punya kemauan yang besar. Dan saya selalu didukung oleh DIA," ujar Pak Tong sambil menunjuk ke atas. Pendiri beberapa sinode gereja di Surabaya ini hendak mengatakan bahwa berkat Tuhan lah yang membuat SSO bertahan sampai hari ini. Berkat campur tangan Tuhan pula ia bisa membina begitu banyak pemusik klasik muda di Kota Surabaya.

Tak terasa, Solomon Tong berdedikasi di musik klasik selama 50 tahun. Menjadi pendidik, pelatih paduan suara, mengajar piano, mengajar di universitas, gereja, dan berbagai lembaga lain. Pada 1996 Solomon Tong bersama beberapa pengusaha yang tergabung dalam Visi dan Misi membuat gebrakan besar: mendirikan Surabaya Symphony Orchestra. Orkes simfoni permanen yang diharapkan menjadi ikon, kebanggaan, Kota Surabaya.

Kini, Pak Tong sudah bisa memetik hasilnya. SSO sudah punya komunitas tetap yang siap hadir dalam setiap konser. Jumlahnya kurang lebih seribu orang. Bagi Pak Tong, keberadaan orkes simfoni di kota sebesar Surabaya adalah mutlak, tidak bisa ditawar-tawar. Suka tak suka, symphony orchestra merupakan simbol peradaban kota raya.

Mudah-mudahan saja, setelah penghargaan terhadap Solomon Tong, pemerintah daerah lebih memperhatikan kehidupan musik klasik di Jawa Timur. Yang mendesak saat ini adalah penyediaan gedung konser alias concert hall berstandar internasional. Juga, insentif berupa penghapusan pajak, pengadaan instrumentasi, beasiswa, master class, dan sebagainya.

Meneer Tong, beter telaat dan noit! Selamat!

NASKAH TERAIT DI BLOG INI
Surabaya Symphony Orchestra