06 September 2007

Wartawan kloning kejahatan berat

Joko Susilo, anggota parlemen dari Fraksi Partai Amanat Nasional, pada 1980-an bekerja sebagai wartawan Jawa Pos di luar negeri. Ketika teknologi informasi belum sehebat sekarang, Joko sudah malang-melintang ke Amerika Serikat, Australia, Inggris, Argentina, dan banyak negara lagi.

Dia harus kerja keras memburu berita di negara tempat ia ditugasi. Selalu ada hambatan bahasa, budaya, habit, dan macam-macam lagi. "Saya wawancara sendiri. Saya cari narasumber yang pantas dikutip pernyataannya," ujar Joko Susilo saat membagi pengalamannya di Graha Pena Surabaya, Selasa 4 September 2007.

Meskipun kerja sebagai wartawan sangat berat, Joko Susilo mengaku sangat menikmati profesi ini. Ia dikenal masyarakat karena pernah menjadi wartawan Jawa Pos. "Saya ini anggota DPR. Kalau pensiun saya akan disebut mantan anggota DPR. Tapi istilah 'mantan wartawan' tidak pernah ada. Sekali anda menjadi wartawan, maka seumur hidup anda tetap wartawan."

Sampai hari ini Joko Susilo mengaku tetap wartawan. Ia rajin menulis artikel atau catatan di Jawa Pos yang sejatinya pekerjaan jurnalistik. Dengan menulis, Joko tidak mendapat banyak uang [bandingkan dengan gaji anggota parlemen], tetapi kepuasan rohani yang tidak ternilai. Saya ingat betul kata-kata Joko Susilo: "Sekali menjadi wartawan, maka seumur hidup anda menjadi wartawan!"

Di gedung DPR/MPR Joko Susilo sering berdiri, jalan-jalan, makan-minum, di kompleks gedung parlemen, Senayan, Jakarta. Banyak wartawan berada di sana. "Tapi saya tidak ditanya-tanya. Lha, setelah ada wartawan Kompas mendekati saya untuk wawancara, wartawan lain pada mengerubuti saya. Saya lihat, di Jakarta, wartawan-wartawan melakukan pola liputan seperti itu. News by peg," kritik Joko Susilo.

Dia hanya ingin mengatakan bahwa saat ini makin sulit menemukan wartawan yang percaya pada liputan sendiri. Wartawan mandiri. Wartawan yang berusaha menentukan arah liputan, cari sumber sendiri. Dulu, pada 1980-an, kata Joko, penyakit gerombolan belum terasa di tubuh wartawan.

"Jurnalisme kerumunan" erat kaitannya dengan berita kloning. Wartawan meminta berita dari temannya, dikloning ke 10, 20, 30... wartawan. Maka, yang keluar di koran berita-berita sama, baik sumber, sudut, gaya bahasa. Semuanya sama, namanya juga kloning. Teknologi komputer memudahkan kloning ini dengan copy-paste. Atau, wartawan cukup mengirim berita jadi kepada temannya lewat surat elektronik.

Joko Susilo pernah menjadi korban berita kloning. Suatu ketika dia diwawancarai satu dua wartawan. Eh, pernyataan Joko dikopi oleh puluhan wartawan media seluruh Indonesia. Joko Susilo ketawa-ketawa saja karena tahu persis penyakit kloning alias copy-paste memang sudah kronis di Indonesia.

"Lucunya, si wartawan kloning itu kurang cerdas. Berita yang keluar kira-kira begini:'... seperti dikatakan Joko Susilo kepada REPUBLIKA. Padahal, korannya beda. Ini kan keterlaluan!"

Joko Susilo mengingatkan kami, para redaktur surat kabar, untuk tidak memberikan toleransi sekecil apa pun terhadap wartawan kloning. Orang-orang macam ini selain merusak koran dari dalam, juga menghancurkan profesi wartawan. Mutu jurnalisme akan jatuh ke titik nadir.

"Saya menganggap kloning berita itu sebagai skandal berat. Ia sama dengan korupsi di lingkungan wartawan. Tolong anda-anda yang redaktur mencermati betul setiap berita yang ditulis repoter anda. Apa betul dia wawancara sendiri, minta data dari teman, atau terima jadi [kloning]. Ingat, reputasi media anda dipertaruhkan!" ujar Joko Susilo, pria asal Sidoarjo, Jawa Timur.

Ramadhan Pohan, mantan wartawan Jawa Pos, yang kini menjadi pemimpin redaksi Jurnal Nasional, pun bicara keras soal wartawan kloning. Pohan bilang korannya tidak memberi toleransi pada wartawan macam begini.

"Saya langsung memberikan surat peringatan pertama kepada wartawan yang melakukan kloning berita. Sebab, itu penyakit berbahaya," kata Pohan.

Joko Susilo mengaku sangat heran dengan budaya kloning berita yang berkembang subur di Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Heran, karena teknologi informasi sangat maju. Ponsel dipegang [hampir] semua orang, surat elektronik, internet, dan seribu satu kemudahan. Dalam bayangan Joko, fasilitas-fasilitas ini seharusnya membuat wartawan-wartawan sekarang lebih mudah menjangkau sumber. Gampang mewawancarai siapa saja.

Eh, faktanya terbalik. Ketika teknologi makin maju, kualitas wartawan justru makin buruk. Sebab, teknologi dan segala kemudahan dimanfaatkan untuk mengkloning berita-berita dari sesama wartawan di lapangan.

No comments:

Post a Comment