29 September 2007

Selamat Jalan Franky Sinai

Sahabat saya, Franky Sinay, meninggal dalam usia muda akibat penyakit kanker. Saya terkejut karena wartawan asal Maluku ini tak pernah memperlihatkan penyakitnya kepada orang-orang dekatnya, termasuk saya.

Ah, ternyata penyakit yang bersarang di tubuh Franky sangat parah. Ia tak kuat menghadapinya. Mengutip kata-kata Chairil Anwar: "Hidup hanya menunda kekalahan." Kita semua, pada akhirnya, akan kalah setelah diberi peluang oleh Tuhan untuk hidup beberapa tahun di dunia yang ramai ini.

Saya menilai Franky Sinai sebagai wartawan yang langka. Memulai karier sejak 1980-an, jadi reporter surat kabar ASAS [diterbitkan oleh sejumlah tokoh Flores Timur di Surabaya], Franky kemudian fokus pada media-media kristiani. Ini menarik karena, kita tahu, media-media rohani [kristiani] rata-rata beroplah sedikit. Sulit dijadikan andalan untuk mencari nafkah.

"Saya memang ingin mengangkat liputan-liputan gerejawi agar dibaca khalayak luas. Bukankah di gereja banyak hal menarik, sementara wartawannya sedikit?" ujar Franky Sinai suatu ketika.

Tidak gampang menjadi jurnalis media rohani di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Kenapa? Agama Kristen Protestan itu ternyata punya ratusan gereja, dan terus berkembang [atau pecah] menjadi gereja-gereja baru. Tiap bulan, saya rasa, selalu muncul denominasi gereja baru.

Sebagai orang Flores yang hanya mengenal Gereja Katolik, saya sungguh terkejut dengan begitu banyaknya gereja di lingkungan Kristen Protestan. Ada rumpun Protestan. Kemudian Pentakosta [jenisnya paling banyak, sulit didata]. Baptis. Karismatik [pertumbuhannya paling pesat, paling kerap membelah diri jadi gereja baru]. Lutheran. Kalvinis. Advent Hari Ketujuh. Juga rumpun-rumpun baru, yang kontroversial, macam Mormon hingga Saksi Yehuwa.

"Kalau Bung Hurek membuat tulisan tentang gereja-gereja Protestan, Bung harus mendalami semua gereja ini. Tidak bisa main pukul rata karena masing-masing gereja punya kekhasan sendiri-sendiri," begitu pesan almarhum Franky Sinai ketika tahu bahwa dulu saya aktif menulis acara-acara gerejawi di Jawa Timur.

Selain memahami latar belakang gereja, Franky meminta wartawan [khususnya yang beragama Nasrani] mengetahui tata ibadah, liturgi, atau pola kebaktian masing-masing gereja. Gereja-gereja karismatik, misalnya, suka bikin acara di convention hall, plaza, restoran mewah, hotel berbintang, dengan mendatangkan selebriti atau pendeta terkenal. Mereka juga pakai musik [band] yang menggelegar.

"Bung jangan kaget karena kebiasaan di Karismatik memang begitu. Bung harus ingat bahwa tradisi di Gereja Katolik dengan Protestan, dengan Karismatik, dengan Pentakosta, dengan Advent... sangat berbeda," pesan Franky.

Yah, berkat 'arahan' Franky Sinai, saya akhirnya pelan-pelan bisa memahamai keragaman gaya di lingkungan Kristen Protestan. Saya bisa memosisikan diri secara objektif saat membuat laporan kegiatan-kegiatan gereja di Surabaya. Saya pun diberi akses untuk mewawancarai hampir semua tokoh penting berbagai gereja di Surabaya.

"Kalau Bung bertemu Pendeta Stephen Tong, gayanya begini. Uraiannya begini. Pendeta Benny Santoso begini. Pendeta Gilbert Lumoindong begini. Yusuf Ronny begini. Lain lagi dengan orang Advent, mereka lebih eksklusif," urai sahabat Franky Sinai.

Berkat pengalaman dan wawasan yang dalam di bidang 'kegerejaan', Franky Sinai diajak Bapak HB Prawiromaruto [almarhum], pengembang yang juga pendiri Badan Musyawarah Antargereja [Bamag], untuk mengelola Majalah TIANG API. Launching-nya di Hotel Hyatt Surabaya. Saya diundang secara khusus untuk mengenali tokoh-tokoh Bamag, diskusi, serta bikin tulisan. Pemimpin redaksi TIANG API, waktu itu, Hanny Christian Potabuga, bekas wartawan Manado Pos [Grup Jawa Pos].

Saya melihat Franky begitu bahagia dengan TIANG API. Ini karena dia dan teman-teman wartawan rohani diberi wadah khusus untuk menyajikan informasi seputar gereja. Sebagai media interdenominasi, TIANG API bisa meliput berita apa saja di lingkungan gereja-gereja di Indonesia. Bahkan, mewawancarai pejabat-pejabat berkaitan dengan isu seputar gereja. TIAP API sempat menjadi majalah kristiani beroplah besar pada awal tahun 2000.

Namun, sepeninggal HB Praiwiromaruto, pelan tapi pasti, TIANG API merosot. Oplah turun drastis, donatur pada kabur, sehingga majalah ini terbit tidak teratur. "Kondisi TIANG API sudah sekarat, Bung. Yah, banyak problem internal sehingga kami sulit berkembang. Bung tolong angkat isu ini agar ada respons dari tokoh-tokoh Kristen di Surabaya," kata Franky kepada saya saat bekerja sebagai fotografer konser Surabaya Symphony Orchestra [SSO] beberapa waktu lalu.

Solomon Tong, dirigen SSO, pernah membantu TIANG API. Namun, apalah arti seorang Tong yang juga harus mati-matian menghidupi orkes simfoninya. Maka, TIANG API pernah terbit dengan empat halaman saja. Informasi seadanya.

"Saya harus cari kerja di tempat lain, meskipun saya tidak bisa lepas dari jurnalisme gerejawi," tegas Franky yang menikah dengan seorang perempuan pendeta. [Karena selalu tampil bersama para pendeta, tokoh-tokoh kristiani, hadir di hampir semua event besar di Jawa Timur, Franky sering dikira pendeta. Padahal, dia orang awam macam saya. Eh, dia akhirnya kenalan dan menikahi pendeta. Puji Tuhan!]

Ketika TIANG API kolaps, Franky bekerja di sebuah yayasan pendidikan kristiani. Yayasan ini membantu sekolah-sekolah kristen dalam soal manajemen serta pengembangan sumber daya manusia. Franky yang tadinya tinggal di Candi, Sidoarjo, kemudian memilih pindah ke Surabaya agar dekat dengan kantor yayasan.

"Mulai mapan sebagai orang kantoran?" pancing saya.

"Hehehe... Bung bisa saja. Tapi saya ini tetap wartawan. Saya menganggap profesi wartawan sebagai sarana bagi saya untuk melakukan pewartaan," ujar Franky.

Lama tak bertemu, belakangan saya membaca banyak liputan Franky Sinai di GLORIA. Ini tabloid mingguan kristiani yang diterbitkan Grup Jawa Pos, beralamat di Jalan Karah Agung 45 Surabaya. Saya tidak terkejut karena saya tahu itu memang bidangnya Franky Sinai. Dia tahu terlalu banyak tentang seluk-beluk gereja dan tokohnya di Surabaya. Dia bisa menulis puluhan artikel rohani [gerejawi] secara mendalam dan jernih.

Saya hanya membaca tulisan-tulisan Franky di GLORIA tanpa sempat menelepon, apalagi diskusi tentang liputan atau medianya yang baru. Eh, tiba-tiba saya mendapat pesan pendek [SMS] dari istri Franky, bahwa suaminya sudah 'kembali ke Rumah Bapa'.

Franky meninggal dunia? Di usia yang belum sampai 40? "Benar, Bang," kata istri Franky. "Saya baru sempat SMS karena syok cukup lama."

Saya pun tak bisa bicara apa-apa lagi. Hanya bisa diam, mengenang sahabat saya, Franky Sinai, yang telah memberikan begitu banyak masukan kepada saya tentang berbagai hal di lingkungan Kristen Protestan. Saya kenang betul Franky, yang membuka sangat banyak akses kepada saya untuk mengenal begitu banyak tokoh Kristen Protestan di Surabaya dan Jawa Timur.

Franky Sinai, selamat jalan, selamat berbahagia di kediaman abadi, di Rumah Bapa!


Oh, ya, almarhum Franky Sinai pernah dipercaya sebagai ketua Rukun Tetangga (RT) di Sidoarjo. Harian Radar Surabaya edisi Desember 2004 pernah menampilkan sedikit sepak terjang Franky sebagai Pak RT. Berikut petikannya:


JADI ketua rukun tetangga (RT) itu benar-benar pelayanan. Tak ada gaji, harus mengurus berbagai persoalan warga, tapi membahagiakan.

Begitu pengalaman Franky Sinai, nyong Ambon yang baru saja ‘lengser’ sebagai ketua RT 08/RW 03 di Perumahan Palem Putri, Desa Balonggabus, Kecamatan Candi.

‘’Saya lengser karena terlalu sibuk di pekerjaan. Kalau saya menjabat terus nanti malah keteteran,’’ ujar Franky Sinai kepada RADAR Surabaya, kemarin.

Sebagai pendatang baru, pria yang juga pengelola beberapa media rohani ini mengaku terkejut ketika warga memintanya sebagai ketua RT. Apalagi, pada 2003 itu Franky masih bujang. Karena didesak terus, akhirnya Franky pun menerima jabatan sebagai ketua RT.

"Jelek-jelek begini saya dipanggil Pak RT," tutur pria yang baru menikah tahun lalu itu.

Sebagai Pak RT, kewajiban pertama Franky adalah mendata sekaligus ‘menghafal’ 100 keluarga yang ada di RT 08. Keliling, silaturahmi dari rumah ke rumah, sehingga ia tahu persis komposisi penduduk di wilayahnya.

"Jadi ketua RT itu memang berat. Kayaknya lebih enak jadi anggota dewan. Hehehe...," tukasnya.*

1 comment:

  1. Shalom

    Sebelumnya saya berusaha utk mencari-cari informasi ttg Bung Franky, tapi saya tidak tahu kemana. Dan saya pun tidak tahu teman-temannya. Saat ini saya tinggal di California.
    Dua minggu terakhir ini, pikiran saya sangat kuat terhadapa Bung Franky. Saya coba browse di internet, akhirnya muncul artikel saudara Lambertus ttg Fanky Sinai di Wong kam pung.
    Saya sangat terkejut sekali. Berita terakhir yg saya dapat hanyalah kabar kematian. Itu yg tidak pernah saya harapkan. Itu sangat memukul saya.
    Tapi ada suatu kabar gembira juga, akhirnya Bung Franky menikah juga selama hidupnya dengan seorang pendeta.
    Terakhir saya ketemu dan sempat bicara dgn Bung Franky th.1998. DAn setelah itu saya kehilangan kontak.
    Saya ketemu Bung Franky saat saya bekerja di majalah Tiang Api dibagian marketing dulu.
    Saya yakin saudara Lambertus adalah sahabatnya Bung Franky (alm).
    Kalau tidak ada anda, siapakah yg bakalan menulis artikel ttg almarhum? Hanya Tuhanlah yg membalas kebaikan hati saudara.

    Saya ingin tahu lebih banyak ttg artikelnay Bung Franky(alm) di Gloria, gimana caranya? Bisa kasih saya informasi?

    Sekali lagi, terimakasih atas artikelnya.


    thank's
    Ni Wayan Sumiasih

    ReplyDelete