14 September 2007

Puasa minoritas muslim Flores Timur





Umat Islam di Flores Timur tidak banyak, minoritas, karena daerah saya memang didominasi orang Katolik. Umat Protestan boleh dikata tidak ada. Aliran kepercayaan alias agama asli cukup banyak.

Meski jumlahnya sedikit, gairah beribadah sangat tinggi. Setiap Jumat, misalnya, laki-laki, perempuan, anak-anak, ramai-ramai menunaikan salat Jumat di masjid. Di Jawa Timur, saya lihat salat Jumat didominasi oleh laki-laki. Kaum perempuan malah tenang-tenang saja di rumah.

"Perempuan kan nggak wajib. Jadi, perempuan gak jumatan gak apa-apa," kata Dewi, teman saya, mantan aktivis ormas mahasiswa Islam. Kok di kampung saya semua perempuan salat Jumat? tanya saya. "Itu malah bagus. Tapi yang wajib itu laki-laki," tambah Dewi. Oh...!

Bagaimana puasa Ramadan di kampung saya, Lembata, Flores Timur? Kebetulan keluarga kami, marga Hurek Making, banyak yang mengurus masjid, menjadi tokoh muslim di kampung. Nenek saya dari pihak mama beragama Islam, sangat religius. Sehingga, sedikit banyak saya tahu tradisi puasa di kampung meskipun saya beragama Katolik.

Sehari sebelum puasa, semua muslim di kampung saya melaksanakan ritual MANDI BERSAMA di laut. Boleh dikata, ini ritual wajib sebelum puasa. Ziarah kubur ada juga, tapi tidak semeriah mandi bersama di laut.

Kebetulan kampung saya berada di pinggir pantai. Bapak Muhammad Ansyahari Paokuma, imam Masjid Nurul Janna [masih tergolong paman saya], memimpin ritual ini. Katanya, sebagai simbol menyucikan diri untuk menyambut kedatangan bulan suci, puasa sebulan penuh.

Saya suka menyaksikan adegan mandi bersama ini. Waktu anak-anak, saya pun ikut mandi, tapi tidak bercampur dengan jemaat muslim agar tidak mengganggu. Suasana sangat ceria. Usai mandi, makan bersama. Kami semua, tak peduli apa agamanya, diajak mencicipi makanan lezat. Besoknya puasa.

Karena umat Islam sangat sedikit, tak ada larangan ini-itu macam di Jawa Timur. Warung bebas buka, orang boleh makan di mana saja, kapan saja. Tak ada perda macam-macam seperti di Jawa Timur. Saudara-saudara muslim sadar benar hal itu, toh puasanya tidak terganggu.

Ibadah diperbanyak dengan pengajian di masjid kampung. Anak-anak dan remaja muslim juga suka main beduk, latihan kasidah, dan macam-macam. Mengapa kasidah? Sebab, ada tradisi di kecamatan saya menggelar lomba kasidah antardesa setiap tahun.

Kak Aisyah Hurek [anaknya Pak Abdul Madjid Hurek], masih kerabat kami, berperan sebagai pelatih kasidah. Suaranya lumayan bagus meski serak-serak basah. Berkat gemblengan Kak Aisyah, kampung saya kerap mendapat juara kasidah tingkat kecamatan. Tapi kalau ikut lomba tingkat Kabupaten Flores Timur, biasanya kalah. Hehehe...

Menjelang sore, keluarga muslim sibuk menyiapkan menu buka puasa. Menunya sangat lezat, jauh di atas menu harian. Kelapa muda, kolak pisang, kolak kacang hijau, kolak singkong, kolak ubi jalar, kolak umbi-umbian... pasti ada. Dicampur gula merah atau gula putih, sedapnya sangat terasa. Saya selalu ngiler sehingga sering mencicipi lebih dulu sebelum kaum muslim berbuka.

Azan magrib selalu ditunggu-tunggu. Diawali dengan memukul beduk, azan dikumandangkan oleh beberapa 'spesialis' yang kebetulan marganya pun HUREK seperti saya. Bisa Pak Hasan Kotak Hurek atau anak-anaknya yang kebetulan tinggal di dekat masjid. Keluarga Pak Hasan Hurek memang ditugaskan untuk merawat dan membersihkan masjid yang dibiayai kampung itu.

[Masjid Nurul Janna ini dibangun dan dibiayai warga desa yang mayoritas Katolik. Di kampung saya, perbedaan agama sama sekali bukan masalah. Tak ada kecurigaan kristenisasi, islamisasi, dan macam-macam. Kampung saya memang benar-benar melaksanakan Pancasila dan asas Bhinneka Tunggal Ika. Hehehe....]

Buka puasa merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu. Umat Islam selalu berusaha melakukan buka bersama di masjid. Mereka membawa menu dari rumah masing-masing, lantas dinikmati bersama di masjid. Saling tukar makanan lah. Di mana-mana yang namanya kaum minoritas sangat kompak dan solid karena merasa sedikit.

Kami, anak-anak non-Islam, bermain-main di halaman masjid yang terletak di tengah-tengah kampung. Setelah kaum muslim buka bersama, kami dipanggil ke pelataran masjid. "Silakan dihabisi makanan ini," kata Pak Hasan Hurek. Maka, dalam hitungan menit, sisa makanan buka bersama tandas disikat anak-anak kampung.

Malam hari, tarawih bersama di masjid. Setelah itu dilakukan berbagai kegiatan untuk anak-anak muslim seperti kasidah, mendengar cerita islami, hingga pelajaran agama Islam. Suasana akan semakin meriah manakala ada kunjungan pejabat, polisi, tentara, yang beragama Islam. Biasanya, dia ikut buka bersama, tarawih, serta berbagi pengalaman.

Pejabat-pejabat asal luar Flores [Jawa, Sumatera, Kalimantan, NTB, Sulawesi, dan lain-lain] umumnya kagum dengan kerukunan umat beragama di kampung saya. Bagaimana tidak. Meski umat Islam sangat sedikit, masjidnya cukup bagus dan dibangun secara gotong royong oleh warga yang hampir semuanya beragama Katolik. Ketua pembangunan masjid Bapak Carolus Keluli Nimanuho, yang juga kepala desa pada 1980-an.

Maka, saya selalu heran dengan ribut-ribut soal pembangunan tempat ibadah di Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan daerah-daerah lain. Kenapa sih bikin rumah ibadah kok ramai, sulit, kontroversial... terus-menerus? Yah, lain padang lain belalang, lubuk lain ikannya!

Kini, saya tinggal di Jawa Timur. Jujur, saya masih merindukan menu buka puasa di kampung halaman yang pernah saya nikmati semasa anak-anak. Sederhana, lezat, dan benar-benar menjalin kebersamaan di antara kami, warga kampung.

BACA JUGA TULISAN TERKAIT
Islam di Flores Timur.

7 comments:

  1. Terharu....
    Saya dua kali ke Flores Timur, tepatnya ke Larantuka, Solor Timur dan Solor Barat. Indaaaaahhhhh....bukan hanya alam yang indah tapi juga toleransinya. I felt at home, pokoknya!! Dulu Lembata masuk Flotim ya, kayaknya sekarang sudah jadi kabupaten sendiri kan???

    salam kenal, ade

    ReplyDelete
  2. sekarang pak daniel hurek jadi wali kota kupang ya? wah, salam kenal untuk mas lambertus.

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas respons Ade dan teman satunya. Ini memang catatan kecil, sederhana, tentang kehidupan orang-orang sederhana di kampung saya. Tidak ada pretensi apa-apa selain berbagi pengalaman.

    Koreksi sedikit. Pak Daniel Hurek itu WAKIL WALI KOTA Kupang, bukan wali kota. Salam damai.

    ReplyDelete
  4. DULU SAYA TIDAK PEDULI DENGAN PROPINSI NTT, BUT NOW, SAYA SELALU SEARCH BERITA TENTANG NTT KHUSUSNYA LEMBATA, YANG SAYA SANGAT INGIN TAHU BUDAYA BERBURU PAUS YANG ADA DI NTT, BEGITU BERANINYA NELAYAN2 YANG HANYA MENGGUNAKAN ALAT TRADISIONAL.

    SALAM KENAL, SANTI

    ReplyDelete
  5. Bangga saya menjadi bagian dari warga Flores Timur karena rasa kekeluargaannya sangat tinggi, tidak mengenal agama dan ras, saya pun mengalami hal yang sama sejak kecil, sudah sepantasnya INDONESIA meniru kehidupan bermasyarakat Flores Timur, Maju terus Bang jadikan Blogmu sebagai Penyebar KASIH, pemersatu bangsa

    ReplyDelete
  6. emang di jawa perasaan antinasrani sangat kuat, bang. gak heran, org2 nasrani yg bangun gereja dipersulit. boro2 bantuin dana atau material, izin aja susah. bahkan, gereja yg sdh berdiri pun mau dihancurin dgn berbagai2 alasan.
    maka, aq senang baca tulisan ttg kehidupan beragama di flores yg toleran dan damai.

    ReplyDelete
  7. Assalamualaikum...

    Salam perkenalan dari Malaysia..jika ada yg sudi saya ingin berkenalan dengan orang Flores Muslim... silah emel saya.... muslimahmaid@gmail.com

    ReplyDelete