19 September 2007

Musik ramadan makin garing


Sebagai bangsa muslim terbesar di dunia [200 juta penduduk, tidak main-main lho!], seharusnya bulan Ramadan ini menjadi momentum emas bagi seniman-seniman musik untuk adu kreativitas. Sayang, setelah KANTATA TAKWA kreativitas itu nyaris tak muncul lagi.

Kita kaya dengan ribuan macam bebunyian maupun instrumen etnik yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Semua itu merupakan bahan baku yang luar biasa. Tinggal kepekaan, ketelitian, kecerdasan... sang seniman untuk meramunya menjadi karya seni musik.

Menurut saya, kelebihan utama seni musik islami adalah perkusinya yang luar biasa. Contoh sederhana. Menjelang sahur,anak-anak kampung keliling permukiman sambil memainkan musik perkusi yang indah. Musik patrol, begitu istilah di Jawa Timur, bisa dimainkan di mana saja, oleh siapa saja.

Lantas, apakah bahan-bahan dasar musik dari bumi nusantara itu mewujud dalam industri musik Indonesia? Maaf saja, sampai sekarang tidak ada. Industri jalan dengan logika sendiri, seakan-akan tak ada hubungan tradisi musik nusantara. Padahal, televisi-televisi kita mengisi ramadan dengan aneka macam program islami. Bukankah itu peluang berkreasi yang luar biasa?

Sayang sekali, ketika industri musik makin maju, pemusik-pemusik 'islami' [agamanya tidak harus Islam] tidak menghasilkan karya yang khas nusantara. UNGU, grup band paling terkenal saat ini, baru saja merilis album mini lima lagu islami. Ini untuk mencoba mengulan sukses tahun lalu. Jelas sekali, proses produksinya dibuat sangat cepat agar bisa rilis menjelang ramadan.

"Beberapa materi kami garap di studio," ujar Sigit Purnomo alias Pasha, penyanyi sekaligus pemimpin UNGU. Bisa dibayangkan, apa hasilnya jika sebuah album digarap buru-buru di dalam studio. Kalau mau serius, ya, seharusnya pola penggarapan album rohani [Islam] tidak bisa dilakukan dengan jalan pintas macam ini.

Hasilnya, ya, begitu-begitu saja. Album ramadan Ungu ternyata 100 persen sama dengan warna ben selama ini. Tata musik sama. Cara nyanyi sama. Yang beda hanyalah syair berlirik islami, disesuaikan dengan iklim ramadan. Ragam pesona bebunyian nusantara, Timur Tengah, kekhasan musik islami sama sekali tidak berasa.

Syukurlah, orang Indonesia yang sejak 10 tahun terakhir dicekoki musik industri oleh beberapa kapitalis asing menerima begitu saja. 'Sukses' Ungu juga dinikmati GIGI Band serta GITO ROLLIES, penyanyi The Rollies terkenal era 1970-an. Gito malah hanya sekadar mengganti syair lagu-lagu cinta lama dengan muatan rohani.

Pola melodi dan lain-lain sama saja. Lantas, Gito mengklaim album barunya ini sebagai 'album religi'. Hehehe.... Orang sekaliber Gito Rollies ternyata terjebak pula dalam banalitas yang memang dikembangkan oleh industri musik pop saat ini. Hanya menjajakan kulit, tanpa banyak usaha menciptakan kreaitvitas baru untuk musik Indonesia.

Kata orang Jawa: "Sekarang zaman edan. Kalau nggak edan, nggak kebagian!" Yah... daripada tidak kebagian, ya, lebih baik menceburkan diri di industri musik sekarang. Siapa tahu popularitas pulih, materi pun datang.

Pada tahun 1990-an saya terkagum-kagum dengan kreativitas beberapa seniman musik yang tergabung dalam KANTATA TAKWA. Dimotori Setiawan Jodi, proyek musik beranggotakan Iwan Fals, Sawung Jabo, Inisisri, Yockie Suryo Prayogo, W.S. Rendra ini memang luar biasa. Selain musiknya yang sangat kaya, efek perkusi luar biasa, syair-syairnya sangat kuat.

Saya menilai KANTATA TAKWA sangat berhasil meramu kekayaan musik nusantara, juga kekayaan musik islami. Sejak intro sampai koda, penikmat musik KANTATA TAKWA dibuat terpesona. Musik benar-benar musik. Bukan sekadar hiburan pengusir sepi di kamar atau klangenan belaka. Kejayaan KANTATA tentu tak lepas dari 'kenekatan' Setiawan Jodi yang berani menerobos iklim musik inustri yang stagnan.

Masak sih tidak ada lagi seniman idealis macam para senior kita di KANTATA? Masak tidak ada Jodi-Jodi yang lain? Masak tidak ada pemusik [islami] yang mau menyumbangkan musik yang bernas untuk bangsanya, ketimbang sekadar membonceng ramadan ala GIGI, UNGU, GITO?

Sulit dipercaya, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini sulit menelurkan karya-karya seni musik berbobot, bisa dikenang sepanjang masa. Lha, kalau sekadar bikin lagu-lagu bersyair rohani macam UNGU, nyanyi sambil menangis ala Gito Rollies, siapa yang tak bisa?

Kita, bangsa Indonesia, memerlukan orang-orang kreatif yang tidak boleh tunduk begitu saja pada logika industri dan kapitalis. Nah, ketika seniman-seniman muslim pun ditaklukkan logika kapitalis, maka habislah kita.

Menutup catatan ringan ini, saya ingin mengutip pendapat Suka Hardjana, pemusik, dirigen, dan kritikus musik terkemuka di tanah air:

"Rasa rendah diri dan mental terjajah masih sangat menghantui diri kita dalam hal daya cipta dan tata pergaulan dunia.

"Para pencipta dan pelaku musik Indonesia tidak akan pernah menjadi seniman yang unggul selama mereka tidak mau menoleh pada kebudayaan sendiri yang sebenarnya sangat unggul."

4 comments:

  1. Om Hurek, nama om Iwan kesebut 2 kali tuh di list personel Kantata :D
    Kalo ttg Opick gimana om ?

    ReplyDelete
  2. Jie, terima kasih sudah mampir, baca, dan komentari catatan saya. Ini sekadar pandangan sekilas saya sebagai 'orang luar' yang ikut menikmati musik islami.

    Tidak semuanya jelek, tentu saja. Saya suka dan sangat kagum pada kretaivitas DEBU. Grup ini punya Mustafa, komposer hebat, yang bisa meramu beragam jenis musik di dunia. Saya mengoleksi dua albumnya.

    BIMBO juga sangat hebat dan sulit dicari tandingannya. Mendengar musik/lagu BIMBO, kita diajak lebih dekat pada Sang Pencipta.

    Opick muncul di era industri yang sangat eksesif. Musiknya sih biasa saja, karena latarnya memang penyanyi, pemain band pop-rock. Hanya dia pintar mengemas menjadi komoditas rohani yang layak jual dan disukai. Dia pakai jubah, sorban, simbol-simbol yang kuat untuk mempertegas identitas musiknya.

    Menurut saya, Opick standar saja lah. Manis, gurih, menyenangkan telinga... tapi kurang berbekas macam BIMBO. Tentu saja, ini pendapat subjektif saya. Salam!

    ReplyDelete
  3. Bimbo tetap teratas, mas. Dan jangan lupakan Ebiet G Ade juga. Ungu, Gigi, dkk belum teruji oleh waktu.

    ReplyDelete
  4. aq kira tahun 2008 ini Ungu dah menurun jauh. selera pendengar indonesia memang cepat berubah. thanks atas ulasannya.

    ReplyDelete