06 September 2007

Koran = sampah, kritik warga


Dialog di Radio Mercury Surabaya, Kamis pagi, 6 September 2007. membahas media massa, khususnya surat kabar. Henry Subiakto, dosen komunikasi Unair, menjadi sumber utama. Cukup banyak pendengar yang bertanya ini-itu.

Wah, sebagai redaktur koran, saya sangat sedih karena ternyata sebagian besar pendengar mencerca wartawan dan surat kabar. Pendengar di Surabaya rupanya sangat marah dengan wartawan bodrek (pemeras) yang begitu banyak. Wartawan CNN: cuma nanya-nanya. Wartawan 'tempo': tempo-tempo terbit, tempo-tempo tidak. Banyak sekali julukan buruk untuk wartawan.

"Wartawan terlalu berkuasa, sementara masyarakat tidak diberi peluang untuk melakukan klarifikasi," kata seorang pendengar. "Percuma saja kita melawan wartawan. Sebab, pernyataan kita akan dipelintir lagi," tambah yang lain.

Pak Andre, pengusaha besar, mengaku sudah tujuh tahun lebih tidak baca koran. Kenapa? "Koran itu sampah. Buat apa dibaca? Nggak ada gunanya!" ujar Andre panjang lebar.

Pak Andre mengatakan, dia jengkel, marah, mengutuk surat kabar (koran) karena berkali-kali disakiti oleh wartawan. "Saya ini korban wartawan, korban koran. Apa yang diberitakan tentang saya tidak ada yang benar. Tapi giliran saya melakukan klarifikasi, eh, malah saya semakin dihancurkan. Sudahlah, koran itu sudah jadi sampah. Jadi, kalau anda suka baca koran, ya, sama saja membaca sampah."

Suara Pak Andre sangat emosional. Tujuh tahun dia tak membaca koran, dan dia berusaha mempengaruhi pendengar Mercury FM agar tidak lagi membaca koran. Koran sama dengan sampah! Wah, saya geleng-geleng kepala. Pengusaha sehebat Pak Andre melakukan gebyah uyah atau generalisasi yang luar biasa dan bikin kesimpulan macam ini.

Tapi apa betul koran itu sampah? Bukankah kami, awak surat kabar, setiap hari kerja keras menyiapkan berita yang akurat, berimbang, komprehensif? Pendapat gebyah uyah ala Pak Andre sangat berbahaya. Seharusnya dia menyebut koran apa yang telah menghancurkan dirinya. Menyebut fakta atau data secara konkret. Lha, kalau asal marah saja, ya, siapa yang tak bisa?

Kasus wartawan bodrek banyak disoroti pendengar. Maksudnya, orang-orang yang menyalahgunakan profesi wartawan untuk memeras pejabat, pengusaha, narasumber. Kalau wartawan macam ini memang harus dilawan oleh masyarakat serta awak media sendiri. Pak Andre, ketahuilah, wartawan yang menghancurkan anda [memeraskah?] sebenarnya merusak nama baik korps wartawan?

Lha, kalau ada stu dua wartawan memeras, memelintir berita... lantas menganggap semua wartawan sebagai penjahat, semua koran sebagai sampah, apakah itu adil? Juga tidak adil kalau pengusaha kita dianggap buruk semua, suka menyuap pejabat. Tak adil pula kalau menganggap semua pejabat itu korup, rakus, tidak bertanggung jawab, tidak bisa dipercaya.

Pak Henry Subiakto, dosen Universitas Airlangga, yang sering menjadi narasumber untuk membedah media di Kota Surabaya berusaha memberikan perspektif yang berimbang. Secara halus dia mengingatkan pendengar untuk melihat media massa secara jernih. Okelah ada koran yang berita-beritanya ngawur, asal jadi, tapi tidak semua begitu. Masih ada media (cukup banyak) di Indonesia yang baik.

Terus terang saja, dialog di Radio Mercury ini sangat menarik. Para komentator umumnya orang-orang berwawasan luas, tahu banyak seluk-beluk media. Meskipun pedas, kata-kata Pak Andre ["koran itu sama dengan sampah"] kiranya bisa menjadi bahan introspeksi bagi kami, pekerja surat kabar. Kalau koran itu "sampah", dan Pak Andre menganjurkan orang Surabaya beralih ke radio atau televisi saja, maka bisnis koran akan tamat.

[Rupanya Pak Andre tidak sadar bahwa teman-teman radio dan televisi pun banyak mengutip surat kabar harian sebagai bahan liputan. Kantor berita dan media online yang mirip koran menjadi rujukan radio juga.]

Saya teringat omongan Pak Slamet Abdul Sjukur, pemusik asal Surabaya yang sangat dikenal di forum internasional, tentang surat kabar. Slamet mengatakan, sejak 13 tahun lalu dia tidak membaca surat kabar. Alasan Pak Slamet berbeda dengan Pak Andre. Slamet tidak merasa dijahati oleh pekerja surat kabar.

"Sederhana saja. Berita-berita koran itu perang, kejahatan, melulu. Padahal, saya ini pecinta kehidupan," kata Slamet Abdul Sjukur. Anehnya, pria nyentrik ini masih sering menulis artikel untuk surat kabar atau majalah. Saya, pekerja koran, pun beberapa kali mewawancarai Pak Slamet, dan ia menyambut saya dengan sangat baik. Dia juga meminta agar tulisan yang sudah dimuat dikirim ke alamatnya.

Mengutip lagu karya Rinto Harahap tahun 1980-an, naga-naganya, hubungan antara surat kabar dan masyarakat [macam Pak Andre] itu bisa dilukiskan sebagai "benci tapi rindu". Mungkin sekarang Pak Andre sangat membenci koran. Koran dianggap sampah, dianggap sia-sia. Tapin saya yakin suatu saat kelak Pak Andre akan merindukan koran.

Pak Andre, bayangkan sebuah negara tanpa koran. Tanpa buku-buku. Tanpa literatur tertulis. Semua orang hanya menikmati budaya pandang-dengar macam era sebelum manusia mengenal aksara.

1 comment:

  1. jelek2 gitu koran masih dipercaya kok. cuman perlu peningkatan kualitas wartawan.

    ReplyDelete