17 September 2007

Koran di Surabaya Rp 1.000


Di Surabaya harga barang-barang selalu naik, kecuali surat kabar. Begitu kata-kata saya sejak era reformasi tahun 1998. Dan benar-benar terbukti. Makin lama koran makin murah dan murah, nyaris tak ada harga lagi.

Bahkan, beberapa koran disebarkan gratis, tak perlu keluar uang serupiah pun. Koran-koran gratis ini lazimnya marak saat menjelang pemilihan bupati, gubernur, pemilu. Teman-teman seniman pun bikin majalah 'gratis', dalam tanda petik. Saudara boleh bawa pulang, boleh berinfak seikhlasnya.

Saudara, harga koran-koran [harian] di Kota Surabaya saat ini benar-benar tidak masuk akal. Logika ekonominya tidak jalan. Lihat saja di jalan-jalan. Saya sendiri tidak tega melihat surat kabar kita yang terpaksa melakukan obral besar-besaran, entah sampai kapan.

Harian SURYA Rp 1.000. [Harga ini bahkan dicetak di halaman depan, dekat logo koran.] Jam 10 pagi, KOMPAS dijajakan Rp 1.000. Padahal, resminya ditulis 'harga eceran Rp 2.900'. MEDIA INDONESIA Rp 1.000. REPUBLIKA Rp 1.000. SEPUTAR INDONESIA Rp 1.000. KORAN TEMPO Rp 1.000. REK AYO REK Rp 1.000. MEMORANDUM Rp 1.000.

"KOMPAS dijual Rp 1.000? Ah, yang benar saja. Setahu saya KOMPAS itu punya standar harga kok," bantah Romo Laurentius Heru Pr, bos Penerbit Dioma Malang, kepada saya. Romo Heru tergolong pembaca KOMPAS yang loyal. Dia menganggap koran ini sangat berkualitas.

Hehehe.... Maklum, pastor ini tinggal di Malang, sering ke Jakarta dan luar negeri, sehingga tak banyak tahu liku-liku bisnis koran di Surabaya. Sekali-sekalilah dia melintasi jalan protokol Surabaya, mulai Jalan Ahmad Yani hingga Tanjung Perak, untuk melihat langsung banderol koran-koran Surabaya.

RADAR SURABAYA pagi-pagi dijual Rp 1.500, agak siang sedikit Rp 1.000. JAWA POS lumayan karena harganya stabil, Rp 2.500 [sore Rp 2.000], dan selalu laku keras. Dijual berapa pun, berita apa pun, JAWA POS senantiasa dicari masyarakat Surabaya. Anehnya, kalau disuruh melanggan, penduduk Surabaya pikir-pikir dulu.

Selain banting harga, saya melihat begitu banyak upaya pengelola koran untuk meningkatkan omzet. Mulai jalan santai, donor daah, bedah buku, lomba ini-itu..... Terlalu banyak untuk disebutkan. Tapi ya itu tadi, pembeli koran sedikit meskipun harga sudah diobral tinggal Rp 1.000. Saya khawatir, suatu ketika harga diturunkan lagi ke Rp 500, lantas nol rupiah.

Saya pernah ditanya beberapa teman wartawan dan pengamat media, mengapa harga koran di Surabaya tidak rasional, tapi oplah stagnan. Ada apa? Bukankah makin banyak orang yang melek huruf? Banyak orang cerdas? Saya selalu jawab: masalah ini terkait habitus membaca orang Indonesia. Kita belum menjadi masyarakat membaca. Reading society masih jauh sekali!

Sehari setelah diskusi ringan itu, besoknya Yonky Karman menulis artikel menarik di KOMPAS, 15 September 2007, berjudul 'Berhenti Berpikir Cara Televisi'. Pendeta ini pun mengungkapkan keundahannya macam saya. Soal kematian surat kabar [media cetak umumnya] karena tergilas televisi.

"Pesona televisi dapat melumpuhkan minat baca kita yang notabene masih rendah. Ada korelasi kemajuan bangsa dengan kegemaran membaca," tulis Yonky Karman. Pendapat ini sudah sangat umum, boleh dikata sudah menjadi postulat umum. Namun, memang perlu digemakan terus-menerus.

Kini, televisi menjadi sumber informasi utama orang Indonesia, khususnya Surabaya. Pak Bambang, seniman yang bekas wartawan, misal, berjam-jam duduk di depan televisi. Hampir semua acara, termasuk gosip artis, dilalapnya. Padahal, salah satu sumber penting saya di Sidoarjo ini, dahulu kutu buku, penulis produktif di Jawa Timur.

Pak Bambang tidak pernah melanggan koran meski sangat senang membaca koran kalau dikasih gratis. Tiap hari dia membeli beberapa bungkus rokok seharga belasan ribu. Bandingkan dengan koran yang hanya seribu. "Saya menganggap semua informasi sudah ada di TV. Gak baca koran gak masalah," kata Pak Bambang.

Lain lagi Ibu Irene, pengusaha kaya. Hampir tiap hari dia makan bersama rekanan, atau keluarga, di restoran mewah. Sambil menikmati hiburan karaoke, live music, dan sebagainya. Saya pastikan, tiap hari ratusan ribu rupiah [minimal] dia keluarkan untuk konsumsi dan hiburan. Beberapa kali dia mentraktir saya makan mewah.

"Bu Irene, boleh tahu sampeyan langganan koran apa?" tanya saya.

"Wah, nggak langganan sama sekali. Saya tidak punya waktu untuk membaca," katanya santai.

Irene tak merasa perlu berlangganan surat kabar. Ingat, harga koran cuma Rp 1.000 atau Rp 2.000. Beda dengan sate kambing satu porsi yang paling murah Rp 50.000. Setelah bincang-bincang lebih banyak, tahulah saya bahwa Irene ini malas membaca. Bukan tidak punya waktu. Dus, budaya membaca belum ada di keluarganya.

Yonky Karman mencatat buku yang dicetak di Indonesia hanya 4.800 judul setahun. Malaysia 7.000, Thailand 8.000, Jepang 10.000, Korea Selatan 43.000, Amerika Serikat 50.000. Saya yakin, dalam hal oplah koran pun Indonesia dipastikan kalah jauh daripada negara-negara lain.

Penduduk Surabaya plus Sidoarjo dan Gresik sekitar 7 juta. Tapi pelanggan koran tidak sampai 500 ribu. Pembeli eceran banyak, toh tetap tidak sepadan dengan penduduknya yang boleh dikata melek huruf dan punya penghasilan bagus.

Ironisnya, beberapa pengusaha di Surabaya, yang pernah disoroti media cetak, menganjurkan warga supaya tidak lagi membaca koran. "Koran itu sama dengan sampah," katanya. Wah, anjuran yang sangat tolol dan makin merusak budaya baca masyarakat kita yang sangat lemah.

Selain televisi, tantangan media cetak yang sangat serius adalah internet. Saya mencermati, anak-anak muda di Surabaya belakangan ini menghabiskan waktunya berjam-jam di internet untuk chatting, berselancar, main game. Satu jam rata-rata Rp 3.000. Padahal, umumnya anak-anak muda ini minimal menghabiskan dua jam di warnet, plus menikmati minuman ringan dan camilan.

Habis berapa tuh? Eh, ternyata anak-anak muda pecandu internet ini tidak pernah membeli, apalagi melanggan, surat kabar. Terus terang, saya belum pernah melihat anak-anak muda Surabaya mengeluarkan koran dari tas dan membacanya di tempat umum macam kafe, restoran, depot, hall bioskop.

Sudah pasti yang dikeluarkan adalah ponsel dengan aneka variasnya. Ponsel serta berbagai produk teknologi informasi memang lawan berat surat kabar. Asyik, enteng, menghibur. Lain dengan media cetak atau buku yang menuntut konsentrasi, olah pikir, kemauan berefleksi.

Lantas, apa yang bisa dilakukan pekerja dan pengelola media cetak?

Sebetulnya sudah banyak usaha dan masukan dari mana-mana. Koran-koran pun sudah laksanakan meski belum optimal. Namun, hasilnya belum juga terlihat. Yang terjadi, masyarakat semakin kecanduan televisi [plus internet, PS, games] dan mengabaikan media cetak.

Menurut saya, pemerintah, pendidik, pemimpin, yang punya kepedulian pada masa depan bangsa harus segera mencari jalan keluar. Bukan semata-mata demi menaikkan oplah koran, melainkan demi masa depan bangsa Indonesia sendiri.

"Jangan berharap banyak pada industri pertelevisian yang berorientasi bisnis," tegas Yonky Karman. Saya mengutip kembali tulisan Pak Yonky di KOMPAS 15 September 2007:

"Tayangan televisi merusak karakter reflektif manusia. Iklan komersial dikemas menarik sampai tak ada hubungan dengan kualitas dan manfaat produk yang diiklankan. Orang dibujuk membeli karena pencitraan. Kesan pertama dibuat menggoda, selanjutnya terserah pemirsa.

"Pesona tulisan tergeser pesona tayangan. Bisnis surat kabar di Amerika Serikat [pun] terdesak televisi dan mesin pencari berita, opini, dan iklan seperti Google dan Yahoo."

5 comments:

  1. Kata guru saya waktu SMP, koran Kompas meskipun di bagi2 gratis aja masih untung, lha wong iklannya gede2 gitu hehe.. (bener ga sih ?)

    ReplyDelete
  2. media elektronik telah menguasai bagaimana penyampaian berita yang lebih cepat dan akurat... tapi bagaimanapun juga jika kelak memang media cetak sudah pada titik kepunahan, media ini pernah menjadi jalan pembuka bagi dunia informasi...

    ReplyDelete
  3. Budaya televisi (dan komik) merusak kemampuan imajinasi otak. Karena disuguhi gambar komik dan gambar bergerak, otak tidak usah repot-repot berimajinasi lagi.

    Komik & televisi menjadi ajang kreativitas pelaku komik & televisi, dan sebaliknya menjadi ajang pembodohan bagi pembaca & pemirsanya.

    ReplyDelete
  4. suwun cak priyo atas komentar sampeyan. selamat lebaran, maaf lahir batin.

    ReplyDelete
  5. bagi kita yang masih ingin melihat fakta dan data yang lebih akurat serta dijamin tanggungjawabnya dari si pembawa berita media cetak adalah yang paling baik.

    ReplyDelete