29 September 2007

Juliani Pudjiastuti pengurus Kelenteng Hong San Koo Tee





Setiap bulan Ramadan, pengurus Kelenteng Hong San Koo Tee di Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya menggelar acara buka puasa untuk orang-orang miskin. Ini merupakan sebentuk solidaritas umat kelenteng, Tridharma, terhadap sesama yang beragama Islam.

"Sejak beberapa tahun lalu kami adakan buka puasa bersama, tiap hari Jumat. Mas Hurek, silakan datang menikmati hidangan kami," ujar Juliani Pudjiastuti, ketua pengurus kelenteng di Jalan Cokroaminoto itu, kepada saya, September 2007 .

Umat non-Islam di Kota Surabaya dan sekitarnya tentu saja tidak berpuasa selama bulan Ramadan. Namun, mereka tetap menggelar acara-acara untuk mendukung saudara-saudari kaum muslim yang sedang menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Pekan lalu, Pak Nugroho, ketua pengurus wihara di Sidoarjo, bikin buka puasa bersama anak-anak jalanan. Sejumlah gereja bahkan rutin menggelar acara sahur keliling sejak tahun 2001.

Saya salut dan ikut berbahagia atas semangat kerja sama, kerukunan, saling berbagi, macam ini. Ramadan, bulan penuh rahmat, ternyata juga diisi umat non-Islam dengan kegiatan-kegiatan amal saleh. Kebersamaan dirajut.

Datanglah halaman kelenteng di Jalan Cokroaminoto setiap Jumat, sekitar pukul 17.00 WIB. Begitu banyak kaum terpinggirkan [pemulung, pengemis, abang becak, tukang sapu, anak jalanan] menerima makanan dari pengurus kelenteng. "Hanya ini yang bisa kami lakukan. Sebab, kami sadar bahwa kelenteng kami bisa bertahan di sini karena dukungan warga," tutur Juliani Pudjiastuti.

Setelah Presiden Soeharto lengser, 21 Mei 1998, acara-acara bakti sosial memang sangat gencar dilakukan Ibu Juli dan kawan-kawan. Saya selalu diberi tahu karena kebetulan kenal baik. Asal tahu saja, dulu saya tergolong wartawan yang paling banyak menulis aktivitas warga keturunan Tionghoa di Kota Surabaya.

Sebelum era keterbukaan, ketika warga Tionghoa masih tertutup, saya sudah masuk keluar kelenteng. Bicara dengan pengurus. Meliput kegiatan sembahyang. Kue bulan. Wayang potehi. Ulang tahun makco. Dewa Dapur. Malam Imlek. Ciswak. Cerita-cerita kecil tentang kelenteng dan suka dukanya. Dan sebagainya.

Karena itu, saya berhubungan sangat dekat dengan Juliani Pudjiastuti. Saat dia terbaring sakit di rumah sakit, saya besuk dia. Kini, Juliani Pudjiastuti terpaksa ke mana-mana pakai kursi roda. "Puji Tuhan, yang penting saya masih dikasih berkat, dikasih hidup oleh Tuhan. Mas Hurek, mengurus kelenteng itu nggak gampang lho. Wow, ada saja masalah," tutur Juliani yang lahir di Surabaya, 4 April 1956, ini.

Dia lalu menceritakan beberapa kasus terakhir yang bersifat off the record. "Kalau nggak punya semangat pelayanan, anda akan bisa mengurus rumah ibadah semacam ini. Tapi saya lakoni ini sebagai wujud bakti saya kepada Tuhan dan leluhur saya," tutur Juliani Pudjiastuti.

"Silakan dihabiskan makannya. Kamu kan akhir-akhir ini jarang ke meliput ke sini. Katanya di kantor terus ya? Hehehe....," begitulah keramahtamahan khas Juliani Pudjiastuti.

Tiap saya mampir ke kelenteng di dalam Kota Surabaya ini, dan ketemu Juliani Pudjiastuti, hampir pasti saya dijamu makan. Pada malam tahun baru Imlek, wah, makannya makan besar. Aneka menu berikut buah-buahan disediakan pengurus kelenteng.

"Bagaimanapun juga Mas Hurek ini wartawan pertama yang saya kenal dekat di Surabaya. Saya nggak bisa lupa," ujar Juliani yang memang selalu kirim SMS manakala akan menggelar acara-acara penting.

Saya bertanya: "Bagaimana ceritanya Ibu Juliani menjadi pengurus kelenteng? Apakah Ibu ahli agama? Atau, diwarisi orang tua?"

"Wah, saya bukan ahli agama lho. Mas Hurek, saya ini tadinya Katolik lho. Saya kalau misa di Katedral, anak-anak saya sekolah di Santa Maria," tutur ibu tiga anak ini (Erwina Tedjaseputra, Erdina Tedjaseputra, dan Ervansyah Tedjaseputra) seraya tersenyum.

Di Surabaya, memang banyak orang Tionghoa yang berlatar belakang Konghuchu atau Tridharma beragama Katolik dan menempuh pendidikan di sekolah-sekolah Katolik. Pada era Orde Baru [1966-1998] kelenteng-kelenteng praktis mati suri karena memang digencet rezim Soeharto. Banyak sekali aturan untuk menghambat segala sesuatu yang berbau Tionghoa. Memperbaiki kelenteng saja pakai izin. Sembahyangan pakai izin. Rezim Soeharto sejatinya ingin menghancurkan semua kelenteng, karena dianggap simbol Tionghoa, tapi gagal.

Nah, orang tua, kakek nenek Juliani Pudjiastuti, tentulah menganut kepercayaan leluhurnya. Tapi tradisi ini tidak diteruskan oleh anak cucu lantaran situasi politik yang tidak menguntungkan. Apalagi, rezim Orde Baru secara sistematis memaksa semua orang Indonesia untuk memilih salah satu dari lima 'agama resmi' [Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha]. Juliani Pudjiastuti memilih Katolik.

Pada 1990-an, Juliani menghadapi situasi dilematis. Setelah kematian orang tuanya, pengurus kelenteng, para rohaniawan melakukan doa khusus untuk menemukan orang yang pas untuk mengurus kelenteng. Singkat kisah, Juliani Pudjiastuti lah yang terpilih sebagai ketua pengurus Kelenteng Hong San Koo Tee. Bukan yang lain.

Bukankah Juliani beragama Katolik?

"Itulah persoalannya," kata Juliani Pudjiastuti yang selalu murah senyum. Ia mengaku harus merenung, berdoa, bertanya kepada Tuhan, sebelum menerima amanah dari leluhur. Ini jelas kepercayaan luar biasa sebagai pelestari agama, budaya, tradisi... Tionghoa yang harus diemban.

"Saya sampai konsultasi sama Romo Thoby. Saya ceritakan semua permasalahan saya, khususnya situasi terbaru yang saya hadapi. Bagaimanapun juga saya ini orang Katolik yang aktif di gereja. Lha, kok saya ketiban sampur ngopeni kelenteng," kenang Juliani.

Romo Thoby yang dimaksud adalah Pastor Thoby M. Kraeng SVD, pastor kelahiran Lewuka, Kabupaten Lembata, Nusatenggara Timur, yang kini bertugas di Rumah Sakit Katolik [RKZ] Santo Vincentius a Paulo Surabaya. Romo Thoby ini teolog cum filsuf yang menulis buku tentang pentingnya cinta AGAPE.

"Cinta agape bukan saja merupakan model cinta yang terakhir dan tertinggi, tapi juga masuk dari dimensi yang lain ke dalam seluruh hidup dan kualitas cinta itu sendiri," tulis Romo Thoby. Jadi, bisa dimengerti bahwa wawasan pastor yang satu ini sangat terbuka dan iklusif.

Juliani plong setelah bicara panjang lebar dengan Romo Thoby. Sang pastor mempersilakan dia menangani Kelenteng Hong San Koo Tee yang sudah dipercayakan kepadanya. Harus serius, fokus, tekun, sungguh-sungguh... karena umat kelenteng cukup banyak.

"Romo Thoby bilang, apa pun yang kita lakukan dengan iman, insya Allah, mendapat ganjaran dari Tuhan. Sejak itulah saya sibuk mengurus kelenteng ini," kata janda mendiang The Eng An alias Anwar ini.

Dari Katolik taat menjadi orang nomor satu di Hong San Koo Tee jelas 'revolusi' kecil. Toh, bagi Juliani, pengalamannya menghayati agama yang berbeda membuat dirinya semakin matang dan dewasa.

Ia menemukan banyak benang merah yang sama di antara agama-agama. Ajaran boleh beda, ritual lain, tapi substansi agama pada asasnya sama.

"Semua makhluk Tuhan harus berbakti kepada-Nya. Bersyukur, memuji, dan memuliakan nama Tuhan," papar Juliani.

Perempuan berusia 50-an tahun ini [Bu Juli enggan menyebut usianya secara pasti. Malu ya? Hehehe....] bicara layaknya orang biasa, bukan rohaniawan yang suka mengutip ayat-ayat suci. Ia mengaku tidak layak disebut rohaniwan, karena sehari-hari ia hanya 'ngopeni' [merawat, mengurus, memelihara] Kelenteng Hong San Koo Tee. Tidak lebih!



Yang jelas, di tangan Juliani Pudjiastuti, Kelenteng Hong San Koo Tee [alias Kelenteng Cokro, kata warga sekitar] berkembang pesat. Saya lihat pembangunan fisiknya maju pesat. Kalau tahun 1998 bangunannya terkesan tua, kumuh, penuh asap... sekarang tampak sangat megah. Pelataran yang tadinya penuh rumput liar kini sudah dibangun menjadi satu kesatuan dengan ruang utama. Malam hari puluhan lampion memeriahkan suasana.

"Omong-omong apa bedanya kelenteng zaman sekarang dengan zaman Orde Baru?" tanya saya sebelum berpamitan. "Banyak," kata Juliani.

Kalau dulu, aparat keamanan [pakai pakaian dinas atau preman] ramai-ramai datang untuk mengintai dan melarang kegiatan-kegiatan di kelenteng. Hampir semua kegiatan diawasi secara ketat. Pengurus kelenteng setiap saat bisa diciduk karena dianggap menyebarkan 'virus' budaya Tionghoa di Indonesia.

"Sekarang aparat tetap datang, tapi tugasnya mengamankan kami-kami yang melaksanakan sembahyangan. Kami merasa sangat dilindungi, dan kehadiran kami semakin diakui di Indonesia," ujar Juliani lalu tertawa kecil.

3 comments:

  1. hallo bang hurek...
    sebenarnya aku menemukan blog abang secara tidak sengaja. aku sedang mencari informasi tentang ibu Nafsiah Mboi lewat google. dan salah satu artikel yang muncul dari blog abang. pengennya sih, mau dapat email atau no yang bisa dihubungi dengan ibu Nafsiah. tapi toh akhirnya belum dapat juga.
    ibu Nafsiah dan pak Ben itu temen papaku. aku juga dari NTT, besar di Kupang. papaku dulu kerja di dinas kesehatan kupang juga, jadi dulu sering melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan bersama ibu Nafsiah. aku sekarang ini benernya pengen ikut terlibat dalam kegiatan sosial gitu. dan tertarik dengan program AIDS dari ibu Naf. walaupun belum banyak yang aku tahu tentang program2 itu.
    setelah baca artikel abang di blog, aku rasa abang dah pernah ketemu, paling enggak ada email yang bisa aku hubungi. boleh berbagi ga?
    sejak SMP aku pndah ke malang juga. tapi tinggalnya di singosari. sekarang kuliah di muhammadiyah malang-komunikasi jurnalistik. abang temannya mbak susi, wartawan berita hukum kriminal radar surabaya ya? aku kenal mbak susi waktu magang di RCTI surabaya.
    seneng banget kalo bisa email2an sama abang. biar bisa menurunkan ilmu jurnalistik ya...
    aku tunggu kabar dari abang ya....

    Kamelia A samana
    nengkho@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. Abang,
    Saya senang membaca blog abang. Sekedar info, Pater Thoby Muda Kraeng, SVD itu bukan dari Flores Barat tapi malah dari Flores Timur. Pasti abang terkecoh dengan nama "Kraeng".

    Salam
    Yan Lengari

    ReplyDelete
  3. terima kasih kamelia dan yan lengari. hehe.. aku memang terkecoh dengan kraeng yang berasa manggarai. saya akan cek langsung sama pater thoby. salam.

    ReplyDelete