08 September 2007

Jihad melawan kolesterol



Badan saya kegemukan, 77 kg, tinggi 170 cm. Lemak dan kolesterol menumpuk di tubuh saya. Hati-hatilah dengan serangan penyakit!


Hidup sehat di kota besar macam Surabaya [saya tinggal di Kabupaten Sidoarjo, hanya lima kilometer dari Surabaya] ternyata tidak gampang. Apalagi pekerja surat kabar macam saya yang beroleh banyak peluang makan enak di mana-mana. Makanan selalu banyak kalori, banyak daging, lezat... kelas atas.

Maka, ketika usia wartawan menembus kepala tiga, kemudian periksa ke laboratorium, hmmm... susah menemukan manusia yang 100 persen sehat. Ada saja ganjalan, karena bagian-bagian yang diperiksa cukup banyak.

Itulah yang saya alami [pun banyak teman di Graha Pena, Surabaya). Akhir Agustus 2007 semua pekerja media di Graha Pena wajib diperiksa total oleh PRODIA, laboratorium rekanan. Tes darah lengkap, urine lengkap, kadar gula, fungsi hati, fungsi ginjal, kadar CEA. Juga dislipidemia dan hiperurisemia. Istilahnya sangat teknis sehingga saya kurang paham.

Secara umum, begitu catatan PRODIA, hasil tes saya DALAM BATAS NORMAL. Tapi saya tidak lega karena ada dua saran: (1) diet rendah lemak dan (2) diet rendah purin. Tim PRODIA tak lupa memberikan daftar makanan yang harus dipantangi untuk diet dua macam ini. Wah, boleh dikata, hampir semua makanan enak sebaiknya tidak boleh lagi masuk ke dalam perut saya.

"Ini namanya mengajak kita melarat lagi kayak di kampung dulu. Lha, kalau sate gak boleh, gule gak boleh, soto gak boleh, bakso gak boleh, pisang goreng gak boleh, es krim gak boleh... kita makan apa? Diet ini gak enteng, Cak," komentar seorang teman.

Benar, diet rendah lemak dan purin itu sangat-sangat tidak ringan. Tapi kalau yang merekomendasikan itu PRODIA, lab terkenal di Surabaya, apa kita mau langgar? Toh, ini semua demi kesehatan kita juga. Hehehe....

Membaca hasil tes di halaman pertama, saya langsung gelisah. Sebab, saya punya tujuh bintang [tanda *]. Artinya, 7 dari 17 item yang dites di halaman satu itu menunjukkan hasil tidak normal [kelebihan/kekurangan]. Yang afdal tentu tak ada satu pun bintang atawa normal semuanya.

Apa saja yang tidak normal dari tubuh saya itu?

GPT 51 [normal < 50]
Glukosa puasa 78 [80 - 100]
Kolesterol total 255 [< 200]
Kolesterol LDL 182 [< 100]
Kolesterol HDL 40 normal
Trigliserida 261 [150]
Total/HDL 6.4 [< 5]
Asam urat 7.8 [< 7.0]


Hasil ini, kata dokter di Gedangan, Sidoarjo, yang saya temui, belum mengkhawatirkan, namun harus diwaspadai. Saya harus menjaga makanan, selektif memilih makanan. Tidak mengonsumsi sembarang makanan selama ini. Kalau bisa, tidak makan sate lagi.

"Bagaimana kalau sekali-sekali saja, Dok?"
"Hehehe.... Memang diet itu berat. Sebab, yang harus kita hindari itu justru makanan yang enak-enak. Yang penting, kamu tidak boleh makan jerohan, lemak, kalori tinggi," pesan Pak Dokter saat saya konsultasi, kemarin.

Gara-gara hasil tes PRODIA ini, saya makin sering membaca artikel di koran, internet, majalah tentang kolesterol. "Kolesterol itu pembunuh diam-diam, silent killer," tulis Kompas, 5 September 2007. Tanpa disadari manusia terkena kolesterol tinggi, dan baru tahu setelah terkena serangan jantung atau stroke!

Aha, saya ingat Pak Bambang, tetangga saya di Sidoarjo. Ia sangat akrab dengan saya, sering ngobrol macam-macam hal. Tahu-tahu terkena stroke, tak bisa jalan... dan dua bulan lalu meninggal dunia. Ia ternyata terkena kolesterol tinggi sehingga memicu stroke. Padahal, selama ini Pak Bambang terlihat sehat-sehat saja, rajin menata kampung, menyiram kembang, aktif sekali di kampung kami.


Cholesterol is the silent killer!


Syukurlah, manajemen Grup Jawa Pos 'memaksa' semua karyawannya diperiksa oleh tim PRODIA dengan biaya kantor. Saya pun jadi tahu komposisi kolesterol, asam urat, urine, dan komponen-komponen lain di dalam tubuh saya. Saya punya kesempatan untuk membatasi makanan kalori tinggi, makanan-makanan kaya kolesterol.

Mengapa kolesterol saya sudah di atas normal? Bahkan, trigliserida sudah 261, padahal normalnya kurang dari 150?

Jawabnya sangat gampang. Semua karena ulah saya sendiri. Asupan makanan saya rata-rata tinggi lemak, minyak, kalori tinggi lah. Pisang goreng, misalnya, menjadi 'makanan wajib' saya tiap hari. Saya bahkan tahu di mana lokasi pisang goreng paling enak di Surabaya dan Sidoarjo. Pisangnya sih bagus, tapi minyak untuk menggoreng itu lho!

Saya juga doyan sate. Di Jawa, kalau orang beli sate, hampir pasti 10 tusuk. Sudah 10 tusuk, eh sering pakai gule lagi. Sate kambing, sate ayam, sate kelinci, bahkan di kampung saya [Gedangan, Sidoarjo] ada sate kuda. Saya sikat semua itu dengan lahap. Makan kenyang sebagai kompensasi kerja sampai larut malam di Graha Pena.

Belum lagi menghadiri acara-acara di hotel, restoran, pernikahan, launching produk... di Surabaya, Sidoarjo, Malang. Hm... pastilah panitia menyajikan makanan lezat, enak, memanjakan lidah. Saya dan teman-teman biasanya menikmatinya dengan riang. Tidak terpikir sama sekali di kepala saya bahwa makanan-makanan itu gudangnya kolesterol.

Pak Nasaruddin Ismail, wartawan senior, baru saja melawat ke Tiongkok selama satu bulan lebih. Ia bertugas melayani Pak Dahlan Iskan, bos Grup Jawa Pos, yang menjalani operasi pencangkokan lever di Kota Tianjin. Saya selalu diskusi dengan Pak Nasaruddin soal gaya hidup, termasuk makanan.

"Pola makan orang Tiongkok sangat sehat. Pola makan orang Indonesia, khususnya di Jawa Timur, sangat tidak sehat. Wajar kalau kita di sini banyak yang kelebihan kolesterol dan penyakit-penyakit generatif," ujar Pak Nas.

Menurut Pak Nas, orang Tiongkok [khususnya di Tianjin yang dipantaunya selama satu bulan] sangat doyan sayur-mayur dan buah-buahan. Porsi sayur jauh lebih banyak daripada nasi atau daging. Mereka juga jarang menggoreng makanan, termasuk menumis pakai minyak, macam kita di Indonesia.

"Di kita kan semua pakai minyak, digoreng. Bagaimana kita orang bisa sehat?" ujar Pak Nas, asal Nusatenggara Barat.

Ia selalu menasihati saya untuk mulai belajar dari pola makanan orang Tiongkok. Diet rendah lemak. Banyak makan sayur dan buah. Banyak olahraga. "Di Tiongkok itu, tengah malam pun orang lari-lari di jalan raya. Tiap pagi lapangan di mana-mana penuh dengan warga yang lari-lari. Nggak kayak kita di sini," papar Pak Nas.

Olahraga!

Yah... gerak badan memang kurang saya lakukan. Makan lezat, jarang gerak, badan saya pun kegemukan. Perut sudah tertimbun lemak. Jalan atau lari tidak selincah saat mahasiswa. Dulu, saya bisa lari lima kilometer tanpa istirahat. Sekarang satu kilometer saja tidak kuat.

Mudah-mudahan setelah ditegur oleh Tuhan, melalui hasil tes PRODIA, saya bisa insaf. Selalu sadar bahwa di dalam segala jenis makanan selalu ada kolesterol, the silent killer! Penyebab kematian terbesar di kalangan orang kota.

7 comments:

  1. Mas Hurek,

    Saya kebetulan saja membaca posting di blog anda. Kalau boleh sedikit memberi masukan:
    kondisi anda saya rasa sudah digolongkan sebagai "sindroma (=kumpulan gejala) metabolik" yang a.l. ditandai oleh index massa tubuh >30, kadar TG lebih dar 150 mg%, kadar asam urat tinggi dll. Bagaimana tekanan darah anda? Kondisi ini memang disebabkan oleh pola hidup yang kurang sehat, seperti anda telah melakukan "riset" sendiri mengenai itu. Dikatakan, pada keadaan ini tubuh mengalami resistensi insulin. Kiranya SGPT atau ALT anda juga sudah mulai merangkak naik. Resistensi insulin juga menyebabkan terjadinya perlemakan hati/fatty liver, yang antara lain ditandai naiknya SGPT.
    Jadi, memang benar keputusan anda, perbaiki pola makan dan terapkan pola hidup sehat, agar anda tidak tercebur ke dalam penyakit DM, gangguan hati, gangguan jantung dll.
    Selamat berjuang (untuk kesehatan anda)

    Gunawan (yohanesko@rocketmail.com)

    ReplyDelete
  2. Wah, Mas Gunawan, terima kasih banyak. Sampean sudah memberikan masukan berharga untuk saya. Nggak nyangka kalau catatan ringan saya ini dibaca.

    Sekali lagi, terima kasih.

    ReplyDelete
  3. Mas Hurek, cobalah baca The Cholesterol Lie.Dari buku itu anda akan tahu bahwa kolesterol itu barang yang diperlukan oleh tubuh. Tanpa kolesterol anda tak bisa berpikir. Penelitian terbaru mengatakan kolesterol tinggi itu baik. Yang berbahaya adalah kolesterol yang glycated, yang tercemar gula, sehingga pembuluh darah anda terjadi inflamation. Karena ada pembengkakan ini maka kolesterol melapisi pembuluh yang luka.Semakin banyak pembuluh yang luka karena terkena gula, maka pembuluh menyempit. Jadi bukan kolesterol yang jahat menjadi plak. Jaga tubuh anda dari gula, nenek moyang kita "hunter gatherer" sedikit sekali makan karbohidrat yang akan jadi gula.
    Wasalam Sudradjat

    ReplyDelete
  4. Mas Hurek, tak usah resah dengan kolesterol anda. Baca The Cholesterol Lie. Dalam buku itu diuraikan.Kolesterol adalah zat yang diproduksi oleh tubuh. Tanpa kolesterol anda gak bisa berpikir karena otak terbuat dari kolesterol. Syaraf kita juga dilapisi kolesterol.Kolesterol akan melapisi pembuluh darah yang luka. Pembuluh darah luka karena kita kebanyakan makan gula atau karbohidrat.Jadi glycated cholesterol yang berbahaya. Untuk menjaga agar cholesterol tidak glycated kurangi karbohidrat. Nenek moyang kita "hunter gatherer" makan karbohidrate hanya dari buah. Mostly makan daging.Wasalam

    ReplyDelete
  5. Terima kasih Mas Sudradjat atas masukan dan nasihat-nasihat sampean. Kesehatan memang mahaaal.

    ReplyDelete
  6. [...]Low Cholesterol Foods. When you first learned that your cholesterol level is too high, you might start to imagine the illnesses you will have to suffer if you cannot reduce the cholesterol level in your blood[...]

    ReplyDelete
  7. hasilnya mirip mmas kaya saya...

    kolestrol total : 217.
    Kol.LDL : 133
    Trigliserida : 234.
    Asam Urat : 7.8

    gimana penyakitnya mas sekrang?

    ReplyDelete