22 September 2007

Frater Vianney BHK dan Frater Clemens BHK


Museum Zoologi Frater Vianney di Malang, Jawa Timur.


Oleh Frater M. Clemens, BHK


Apa arti sebuah nama?
What's a name?
Nomen est omen?
Wat is een naam?


Frater Maria Vianney adalah seorang berkebangsaan Belanda. Beliau seorang biarawan (rohaniwan) Katolik dari Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (BHK). JKP van Hoessel, nama pemberian orang tuanya, dilahirkan di Apeldoorn pada 2 Agustus 1908.

Sedari muda dalam gemblengan keluarganya, ia mulai merasakan adanya getaran kalbu, terpanggil untuk hidup membiara. Maka, pada 29 Agustus 1927 ia menggabungkan diri dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus dan memilih nama Frater Maria Vianney–lazim disapa Fr M Vianney BHK.
Sebelum Perang Dunia II, ia diutus berlayar ke tanah misi. Menuju ke sebuah negeri indah di ufuk timur belahan bumi, negeri khatulistiwa, Nusantara, Indonesia. Dan misionaris muda karismatis ini ditugasi untuk berkarya di Malang, kota dingin di Jawa Timur, selanjutnya Ende (Flores tengah), kemudian Larantuka (Flores Timur).

Di ketiga kota ini beliau bertugas sebagai guru. "Relasi yang terindah di bumi ini ialah relasi antara guru dan murid," kata Sokrates.

Tahun 1959, saya berstatus siswa Sekolah Guru Atas (SGA) atau Pendidikan Sekolah Guru A. Di taman pendidikan guru ternama inilah, untuk pertama kalinya, saya berjumpa dengan Fr M Vianney. Waktu itu beliau sebagai pejabat kepala sekolah dan juga guru. Beliau mengajarkan bidang studi ilmu hayat (biologi).

Sebelum mengajar, ia telah menyiapkan diri secara cermat dan selektif. Dipilihnya sejumlah pertanyaan tentang ilmu tubuh manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan ilmu kesehatan. Pertanyaan-pertanyaan itu dicatat di papan dan siswa menulis dalam buku catatannya. Setiap kali masuk kelas, mengajar, Vianney membawa buku-buku pelajaran, termasuk sebatang tongkat kayu. Pada momen-momen tertentu kayu itu ikut 'berbicara' (mengajar).

Jika tongkat itu dibunyikan berarti semua aktivitas dihentikan.
Pandangannya diarahkan kepada setiap siswa secara merata (menyapu). Siswa yang tidak peduli–masih beraktivitas–didekatinya dengan tenang dalam kondisi sabar menanti. Selanjutnya, dalam gaya menarik, penuh wibawa, dijelaskannya satu per satu semua pertanyaan itu. Penjelasan yang singkat dan sarat isi serta mudah dipahami oleh siswa. Apa yang dibuat Vianney jika kelihatan ada siswa yang mulai lesu? Untuk membangkitkan semangat siswa, ia beberapa kali melemparkan tongkat ke atas dan berusaha menangkapnya dalam gaya seorang mayoret.

Atau cara lain: Vianney mulai menggerak-gerakkan gerahamnya sehingga kedua telinganya pun ikut bergerak. Tentu, ini suatu ketrampilan ekstra yang langka, yang tidak dimiliki orang lain. Setiap akhir suatu pelajaran, Vianney menyumbangkan nasihat kecil kepada anak didiknya.
Apa muatan nasihat itu? Motivasi belajar untuk calon guru agar aktif menyiapkan diri sebelum berguru di masyarakat. Carilah buku-buku sumber! Belajarlah secara autodidak! Berinisiatif! Celakalah, menurut Vianney, jika para calon guru ini hanya berkelakar tentang hal-hal yang sepele.


GURU DAN MURID


Mencermati gaya hidup Frater Maria Vianney BHK [penampilan, cara mengajar, kedekatannya dengan sesama, cinta pada ilmu pengetahuan] sangat memesona dan memikat hati. Seluruh gaya hidup beliau berimbas pada saya selaku anak didiknya.

Saya kagum dan merasa tertarik. Dari keterpesonaan inilah, akhirnya seluruh jalan hidup saya mengalir dan bermuara ke sumber dan muara yang dilewati oleh Vianney. Saya akhirnya dengan ikhlas menggabungkan diri dengan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (BHK).

Pada 1961 saya resmi menjadi anggota kongregasi dalam acara penerimaan dan pengenaan busana (jubah) kebiaraan. Mulai saat itu namaku yang semula JOHANES DJUANG KEBAN berubah menjadi Frater MARIA CLEMENS BHK.
Juni 1963 saya menyelesaikan pendidikan Sekolah Guru A (SGA) dan dipindahkan ke Kupang, Nusatenggara Timur, untuk mengajar di sekolah dasar Katolik yang dikelola oleh Yayasan Swastisari. Sebelum itu, Vianney telah dipindahkan ke Ndao, Ende, Flores, sebagai kepala SGA Ndao. Rencana mutasi saya ke Kupang ternyata terhambat sulitnya mendapatkan kapal dari Larantuka ke Kupang.

Akhirnya, saya disarankan untuk menunggu di Ende, yang selalu disinggahi dua kapal Pelni (KM Rainy dan KM Nanas) secara reguler. Betapa hati saya berbunga karena akan berjumpa dengan Vianney. Selama saya di Ende, beliau meminjami saya buku tentang ular OPHIDIA JAVANICA. Buku ini karangan beliau sendiri. Saya diminta mempelajari dan meringkasnya untuk dibawa ke Kupang, Pulau Timor. Akhirnya, pada pertengahan September 1963 dengan KM Nanas saya tiba di Kupang, kota karang. Di sini niat mengoleksi bakat 'turunan' itu mulai kuwujudkan.
Kegiatan saya setiap hari Sabtu, sepulang sekolah, ialah bersepeda keluar kota Kupang bersama sejumlah anak SD. Kami memasuki semak belukar sepanjang pesisir pantai atau naik turun bukit kapur. Kegiatan ini memang ekstra repot. Harus membungkukkan tubuh, melirik ke lubang-lubang batu, barangkali di sana buruan-buruan kami sedang istirahat (ular, gecko, atau biawak).

Desember 1963, musim penghujan, tampak alam menghijau permai. Kami menangkap biawak (varanus) yang asyik berkeliaran memangsa laron. Kali ini kami menangkap tiga ekor biawak. Biawak ini kemudian diteliti. Saya menyimpulkan bahwa ini bukan biawak biasa [umumnya disebut Varanus salvator, yang dagingnya biasa disantap]. Panjangnya mencapai dua meter. [Yang biasa ditangkap di Pulau Timor mencapai 80 cm.] Warna dasar cokelat tua diselingi bintik-bintik kuning. Biawak jenis ini biasa berkeliaran pada musim hujan.

Saya mengalami hambatan dalam proses pengawetan. Bagaimana harus menyuntik, memasukkan formalin 40 persen. Ada usulan bahwa saya berkonsultasi ke kantor Dinas Kehewanan. Akhirnya, saya berhasil menjumpai Bapak Djari. Selain dekan Fakultas Peternakan, Universitas Nusa Cendana, Bapak Djari juga menjabat kepala Dinas Kehewanan. Menurut beliau, formalin dapat dibeli di rumah sakit. Dan beliau berjanji membantu penyuntikan varanus.

Akhirnya, saya mulai mengandalkan imajinasi saya. PYTON TIMORENSIS nama yang kuberikan kepada sejenis ular pyton yang saya tangkap di Pulau Timor. Untuk biawak kuberi nama VARANUS TIMORENSIS meskipun saya sendiri menyangsikannya. Seekor yang telah diawetkan saya kirim kepada Frater Vianney di Ende, Flores. Apa jawaban beliau? Ternyata, menurut Vianney, varanus itu juga terdapat di Australia utara. Sedangkan nama yang kuberikan sangat tepat, katanya.


SEKILAS TENTANG FRATER CLEMENS BHK

Frater Maria Clemens BHK lahir di Solor, Flores Timur, NTT, 25 Agustus 1937. Postulan BHK pada 25 Juni 1961, kaul kekal 7 Juni 1968. Ia pernah menjabat berbagai tugas kongregasi antara lain guru, overste, magister, vikarius, provinsial, bahkan wakil superior yang mengantarnya ke Belanda dan Kenya.

Pria yang fasih beberapa bahasa asing ini juga kutu buku, cinta sains, khususnya zoologi. Kini, Frater Clemens menjabat direktur MUSEUM ZOOLOGI FRATER VIANNEY, merujuk pada nama guru yang paling ia kagumi. Ia memberikan diri kepada dunia zoologi, dengan mengelola museum di Karangwidoro 7 Malang, sebagai ungkapan hormatnya kepada almarhum Frater Vianney.


Tulisan terkait:
http://hurek.blogspot.com/2006/09/museum-zoologi-vianney-malang.html

1 comment:

  1. salam damai, kami ini adalah salah satu pengagum fr clement, fr valent, fr Frans dan fr paulino (Alm)beliau- beliau ini adalah frater yang betul-betul mengimani kaul kemiskinan. kami salut untuk itu. Semoga yang lain daripara frater BHK setidaknya meneladani cara hidup mereka. untuk frater clement sukses selalu dalam mengembangkan museumnya.

    ReplyDelete