22 September 2007

Dansa di rumah Lorens Serworwora

Berita tentang pencopotan tujuh jaksa di Papua dimuat cukup besar di halaman muka koran-koran Surabaya. Mereka dianggap mbalela karena tidak mengindahkan arahan dari Kejaksaan Agung. Tujuh jaksa ini menuntut ringan terdakwa pencuri ikan.

M.S. Rahardjo, ketua jaksa agung muda bidang pengawasan, mengatakan bahwa para jaksa di Papua itu telah melakukan perbuatan tercela. Arahan Kejaksaan Agung agar terdakwa dituntut hukuman beat tidak diikuti. "Instruksi Kejaksaan Agung diabaikan," kata Rahardjo.

Saya terkejut membaca saat membaca koran karena salah satu dari tujuh jaksa itu, Lorens Serworwora, sedikit banyak saya kenal. Lorens kepala Kejaksaan Tinggi Papua, jabatan karier yang terbilang sangat tinggi di Indonesia. Lorens orang nomor satu di lingkungan Kejaksaan Tinggi Provinsi Papua. Sangat sedikit jaksa beroleh peluang meniti karier setinggi Lorens Serworwora.

Pak Lorens mendapat sanksi paling berat, dan paling bikin malu, karena dialah yang menginstruksikan agar terdakwa pencuri ikan cukup dituntut denda hanya Rp 500 juta. Adapun Jakarta [Kejaksaan Agung] meminta agar terdakwa dituntut penjara empat tahun dan perintah ditahan, denda Rp 1 miliar.

Lorens Serworwora membangkang?

Saya terkejut. Kok Pak Lorens sekarang kok beda dengan yang saya kenal saat masih kuliah di Jember pada tahun 1990-an? Kenapa nekat mbalela? Bukankah institusi kejaksaan punya hierarki yang menuntut loyalitas? Pak Lorens sudah berubah? Begitulah. Banyak sekali pertanyaan tentang keberanian Pak Lorens 'mengabaikan' instruksi Jakarta.

Siapa Lorens Serworwora itu?

Dia lahir di pelosok Maluku, terbiasa hidup susah di kampung halaman. Berkat keuletan, ketekunan, kecerdasan, Lorens bisa meraih gelar sarjana hukum. Istrinya orang Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Dus, Bu Lorens sama-sama satu kabupaten dengan saya. Karena itu, pada 1990-an beliau dianggap sebagai tokoh Flores, NTT, di Jember dan sekitarnya [Bondowoso, Situbondo, Lumajang].

Pak Lorens benar-benar meniti karier sebagai penegak hukum dari bawah. Terbiasa hidup sederhana, bahkan sangat sederhana. Terjerat kemiskinan struktural macam orang NTT, Maluku, Papua pada umumnya. Pada 1990-an Lorens Serworwora bertugas sebagai jaksa penuntut umum di Bondowoso, sekitar 40 kilometer dari Jember.

Saat itu Om Lorens [kami, para mahasiswa Unej asal Flores, biasa menyapa Om Lorens] mengontrak rumah kecil di Perumahan BTN Mastrip, kalau tidak salah Blok I. Keluarga Om Lorens sangat religius. Tak heran, kami sering berkumpul untuk sembahyang keliling [doa rosario, lingkungan, dan sebagainya] di antara sesama jemaat.

Kalau ada sembahyangan di rumah Om Lorens, anak-anak muda asal Flores biasanya datang ramai-ramai. Selain menjadi ajang diskusi dan konsolidasi, mahasiswa bisa menikmati makanan enak dan gratis. Sesuatu yang amat mewah untuk ukuran mahasiswa Flores yang rata-rata berlatar belakang keluarga miskin di kampung.

Kalau bulan rosario [Mei, Oktober], doa bersama plus makan gratis ini diadakan hampir setiap hari. Kami tentu saja tidak pernah absen karena itu tadi, bisa makan enak dan gratis! Saya kadang-kadang 'curiga' dengan kerajinan anak-anak muda Flores dalam berbagai kegiatan gereja di Jember saat itu. Nomor satu agar bisa dapat jatah makan gratis.

Hehehehe..... Bukankah berdoa bisa dilakukan di mana saja? Sebab, setelah tidak lagi jadi mahasiswa, punya penghasilan lumayan, umumnya semangat untuk doa bersama ini kendor. Sangat beda dengan saat masih menjadi tangungan orang tua.

Nah, saya masih ingat betul beberapa kali acara keluarga Flores, khususnya anak-anak muda, di rumah Lorens Serworwora. Suatu ketika, mungkin malam tahun baru, teman-teman asal Kabupaten Ngada, Flores Barat, berinisiatif menggelar makan besar.

"Sekali-sekali kita makan daging lah. Masak, tiap hari kita makan tempe atau mi instan thok," kata Vinsen, adik kelas saya di Universitas Jember.

Acaranya, ya, di rumah Om Lorens Serworwora. Teman-teman cewek menyiapkan makanan sejak siang, kemudian ada yang urus dekorasi, tempat duduk, tim doa, sound system, siapkan kaset/CD, undang beberapa tokoh Flores. Lalu, pesta bersama di rumah Om Lorens. Suasana sangat guyub.

Om Lorens, seperti biasa, tidak banyak bicara, namun selalu ramah pada kami, anak-anak muda.

Tahu sendirilah pesta ala orang Flores. Tidak pernah langsung pulang setelah berdoa dan menikmati makan enak, tapi menghabiskan malam panjang di lokasi. Musik diputar dan... mulailah dansa-dansi di antara muda-mudi. Saya sendiri tidak bisa berdansa sehingga selalu memilih tempat paling belakang. Takut dipaksa MC ke lantai dansa. Atau, pura-pura cari alasan agar tidak diajak berdansa.

Sikap saya ini dianggap 'aneh' oleh teman-teman Flores. Sebab, dansa merupakan peluang emas untuk bisa berakrab ria dengan gadis-gadis manis. Kita bebas memilih nona manis yang kita inginkan untuk dansa bersama selama satu lagu. Menurut adat Flores, gadis secantik apa pun pantang menolak ajakan cowok seburuk apa pun. Tak sopan kalau dia menolak si A atau B, tapi mau berdansa bersama si X dan si Y. Bisa jadi gunjingan besar!

Saya menilai orang Ngada paling maniak dansa di Pulau Flores, bahkan Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya. Laki-laki, perempuan, tua, muda, sama saja. Pokoknya, kalau ada musik dansa [biasanya waltz, irama 3/4], orang Ngada itu pasti gatal berdansa. Orang Ngada hanya bisa dikalahkan orang Kupang dalam urusan dansa. Orang Timor Timur pun gila dansa juga, bahkan cara peluk perempuannya lebih erat.

Tiap kabupaten di Flores memang punya cara peluk nona yang khas. Ada yang erat, ada yang hanya pakai telunjuk. Cara mengayun-ayunkan mitra dansa pun berbeda-beda. Saya memang tidak bisa berdansa, tapi sejak anak-anak suka mengamati orang berdansa di desa hingga kota kabupaten dan provinsi. NTT memang identik dengan dansa-dansi, tapi dansanya itu termasuk social dance. Tidak profesional ala juara dansa di Surabaya atau Jakarta.

Demikianlah. Malam itu anak-anak muda Flores berdansa ria di halaman rumah Om Lorens Serworwora. Capek berdansa, minum kopi, istirahat sejenak, lalu dansa lagi. Warga perumahan tidak mempersoalkannya karena sudah sering memantau kegiatan anak-anak muda Flores di Jember.
Dansanya orang NTT itu masih sehat, sekadar tari pergaulan. Tidak sampai menjurus ke hal-hal yang tidak senonoh. Apalagi, tuan rumah, Om Lorens dan beberapa tokoh Flores, ikut mengawasi pesta kecil tersebut. Dan, berbeda dengan di Flores, acara dansa-dansi ini tidak berlangsung sampai pagi hari. Di Jawa, kami batasi sampai jam yang masih bisa diterima masyarakat lokal.

Saya ingat betul acara-acara keluarga Flores, NTT, di rumah kontrakan Om Lorens Serworwora di Jember pada tahun 1990-an. Rumah kecil BTN sangat sederhana, tak ubahnya rumah pegawai negeri di Jember. Dia pun tak punya mobil sehingga ke mana-mana pakai motor dinas. Bahkan, naik kendaraan umum layaknya anak kos di Jember.

Namun, pelan tapi pasti, kegigihan Lorens Serworwora SH membuahkan hasil. Kariernya sebagai jaksa terus menanjak. Cukup lama saya tak mengikuti kabarnya, tiba-tiba saya membaca berita di koran bahwa Lorens Serworwora sudah menjadi kepala Kejaksaan Tinggi NTT di Kupang.

"Pulang kampung nih. Teman-teman asal Flores yang dulu kerap bikin pesta kecil di rumah Om Lorens bisa lebih leluasa kalau mampir ke Kupang. Bisa ditraktir makan enak. Hehehehe...," batin saya.
Saya memang kagum dengan prestasi Lorens Serworwora yang luar biasa itu.

Sukses di Kupang, Lorens Serworwora dipindahkan ke Papua. Provinsi ini lebih menantang karena kasusnya lebih besar. Lorens diperlukan untuk menuntut seberat mungkin penjahat-penjahat kelas teri hingga kakap yang merugikan masyarakat. Illegal fishing tentu menjadi garapan utama.

Diam-diam, saya berpikir: "Teman-teman asal NTT di tanah Papua tentu bisa sembahyangan, makan enak, dansa-dansi di rumah Om Lorens Serworwora. Rumah kajati kan pasti besar, megah, mewah, punya fasilitas macam-macam." Tapi saya sama sekali tidak pernah mendengar cerita-cerita ringan seputar keluarga Lorens Serworwora selama bertugas di Papua.

Kini, awal September 2007, saya membaca berita di surat kabar. Kajati Papua Lorens Serworwora dicopot!

"Sejak dicopot, Lorens Serworwora sulit ditemui. Dia menolak ketika TEMPO hendak menemuinya di kantor Kejaksaan Tinggi Papua," tulis majalah TEMPO edisi 23 September 2007.

Mudah-mudahan Om Lorens bersama keluarga bisa mengambil hikmah kebijaksaan dalam musibah ini.

1 comment:

  1. Begitu banyak orang2 sukses yang pernah melewati kehidupan di Jember. Seperti anda dan om Lorens. Sukses terus. Jangan lupa mampir2 ke Jember.

    Salam..jemberbanget.com

    ReplyDelete