14 September 2007

Bintang Radio Tanpa Keroncong?



Notasi "Keroncong Dewi Murni", lagu yang sangat terkenal di lingkungan penggemar musik keroncong.


Pemilihan Bintang Radio tingkat nasional berlangsung di Surabaya pada 14 Juli 2007. Jadi, sudah lama lewat. Tapi ada beberapa penggemar keroncong di Surabaya dan Sidoarjo bertanya-tanya, tepatnya menggugat:

Kenapa jenis keroncong tidak dilombakan? Kenapa keroncong dianaktirikan? Bukankah sejak dulu jenis keroncong selalu dilombakan di bintang radio [dan televisi]? Kenapa tiba-tiba dihilangkan? Apa pertimbangannya?

Saya tidak bisa menjawab. Sebab, saya tidak ada urusan dengan bintang radio dan tidak punya akses ke sana. "Tolong anda sampaikan lewat tulisan, siapa tahu didengar oleh Bapak-Bapak di RRI. Lain kali, kalau ada bintang radio, mbok yo keroncong dilombakan juga," pesan Ibu Nurhayati, penyanyi keroncong senior di Sidoarjo.

Tak hanya Bu Nur, saya pun heran saat menyaksikan malam final Bintang Radio 2007 di halaman Balai Kota Surabaya. Yang dilombakan hanya dua jenis: hiburan [pop] dan seriosa. Peserta seriosa sangat sedikit seperti dulu-dulu. Pop sangat banyak, bahkan berlebih. Saya tidak sempat bertanya kepada Pak Parni Hadi, bos RRI se-Indonesia, meskipun sempat ketemu malam itu.

Pak Parni, bekas pemimpin redaksi Republika, malah mengusulkan agar kapan-kapan Bintang Radio diperluas. Kalau perlu melibatkan Malaysia, Singapura, Brunei. Kalau perlu ada jenis lagu melayu [bukan dangdut lho!] mengingat pemenang Bintang Radio otomatis ikut festival lagu melayu. Jenis keroncong? Sama sekali tidak disebut-sebut malam itu.

Kita tahu, sejak 1950-an Bintang Radio selalu melombakan tiga jenis musik: hiburan, seriosa, keroncong. Hiburan alias pop jelas sudah tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia di zaman apa pun. Industri musik hiburan berkembang pesat, penyanyi muncul di mana-mana, entah lewat kontes SMS, festival, dan sebagainya. Jenis pop tak mungkin dihilangkan.

Seriosa identik dengan seni suara klasik Barat. Jenis musik yang sangat sulit karena menuntut latihan, pengetahuan, wawasan, yang sangat tinggi. Akan sangat ideal kalau seriosa dilombakan di bintang radio. Tapi, kalau dianggap tidak efisien, karena peserta selalus sedikit, menurut saya, seriosa sebaiknya dihapuskan saja.

Kenapa seriosa bisa dihapus dari Bintang Radio? Saya yakin seriosa tak akan pernah mati. Asal tahu saja, kelompok-kelompok paduan suara di gereja, sekolah, perguruan tinggi, pada dasarnya menyanyikan lagu klasik alias seriosa. Teknik vokal ala Barat, termasuk bell canto, tentu dipelajari di paduan suara.

Solis-solis di gereja bisa dipastikan belajar teknik vokal seriosa. Anak-anak muda yang mengikuti kelas vokal, ya, tentu belajar seriosa juga. Dengan modal itu, dia bisa menyanyi apa saja sesuai dengan kebutuhan. Jika paduan suara berlatih dengan baik dan benar, saya jamin anggota-anggotanya tidak akan kesulitan membawakan lagu seriosa ala Bintang Radio.

Bagaimana dengan keroncong? Menurut saya, jenis keroncong MUTLAK HARUS ada di Bintang Radio. Selain punya sejarah yang sangat panjang, musik keroncong sangat berasa nusantara. Sangat Indonesia. Keroncong itu, kata guru musik Musafir Isfanhari [Universitas Negeri Surabaya], merupakan musik yang sangat unik, khas Indonesia. Menggunakan instrumentasi berat, notasi Barat, tapi dimainkan secara Indonesia, khususnya Jawa.
Jangan lupa, di era menjelang dan sesudah proklamasi, 1940-an hingga 1950-an, musik keroncong sangat digemari masyarakat Indonesia. Ibaratnya, keroncong menjadi musik paling populer masa itu. Tak heran, lagu-lagu keroncong bertemu perjuangan sangat populer sampai hari ini.

Misal: Sepasang Mata Bola, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, Jembatan Merah, Bung di Mana, Pahlawan Merdeka, Sampul Surat, Sapu Tangan dari Bandung Selatan, Bandung Selatan di Waktu Malam, Rangkaian Melati... dan masih banyak lagi. Setiap bulan Agustus, keroncong-keroncong perjuangan macam ini selalu kita dengarkan.

"Ingat, keroncong itu musik perjuangan," kata Prof. Tjuk K. Sukiadi, ekonom dari Universitas Airlangga, yang juga pembina musik keroncong di Surabaya. Dus, menikmati lagu-lagu keroncong berarti kita diajak menikmati romantisme di masa perjuangan untuk memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Lha, bagaimana mungkin musik keroncong 'dibuang' begitu saja dari Bintang Radio? Pak Parni Hadi, bagaimana dengan misi RRI sebagai pelestari budaya bangsa? Mudah-mudahan tahun depan, dan seterusnya, RRI menyertakan keroncong di Bintang Radio.

Kita tidak mungkin berharap pada televisi swasta yang sangat komersial atau radio swasta yang jangkauan dan jaringannya sangat terbatas. Hanya RRI yang tersebar dari Aceh sampai Papua punya kemampuan untuk mengangkat bakat-bakat muda pelestari musik keroncong.

Joko Supriyadi, pemusik keroncong di Sidoarjo, malah menyebut pemilihan Bintang Radio sebagai satu-satunya kontes seni suara yang bisa diandalkan untuk melestarikan keroncong. Dia melihat keroncong semakin redup seiring dihentikannya kontes Bintang Radio jenis keroncong.

3 comments:

  1. apa ada arsip / info penyanyi seriosa era 1950 - 1980
    yang bernama Penny Tambunan Manalu.

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Saya baru baca, ada yg respon ?

      Delete