09 August 2007

Widhi KDI Pulang Kampung


Widhi Setio Nugroho (19) lolos ke babak tiga besar Kontes Dangdut TPI (KDI-4). Selasa (7/8/2007), dia pulang kampung untuk menggalang dukungan, sekaligus bernostalgia tentang rumahnya di Perumtas yang ditenggelamkan lumpur panas.

Sekitar seratus orang berkumpul di kawasan Lemahputro, Sidoarjo. Jalan raya yang tak jauh dari pintu perlintasan kereta api itu dibuatkan terop, laiknya hajatan kampung. Bunyi musik dari organ tunggal mengiringi nyanyian campursari, langgam, keroncong, dangdut, pop nostalgia, hingga lagu pop masa kini.

Ada apa gerangan?

"Kami keluarga besar dari Sidoarjo dan sekitarnya menunggu kedatangan Widhi. Sekalian bikin kejutan untuk dia," ujar Sri Hartuti kepada saya. "Alhamdulillah, Widhi bisa menembus tiga besar KDI-4."

Widhi yang dimaksud tak lain Widhi Setio Nugroho, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Sejak Minggu (5/8), Widhi dipulangkan ke Jawa Timur untuk menggalang dukungan dan restu dari kampung halamannya. Sebab, malam Minggu nanti, Kontes Dangdut TPI Keempat alias KDI-4 akan memasuki babak dua besar. Widhi pun pergi ke kampung halamannya di Kediri, tepatnya Desa Bedrek, Kecamatan Grogol, untuk menemui ayahnya Kusno, pensiunan guru sekolah dasar.

Dari Kediri, Widhi melakukan tur ke Surabaya, kampus Unesa, sowan ke Wakil Wali Kota Surabaya Arif Afandi, lalu ke Sidoarjo. Kenapa ke Sidoarjo? "Soalnya saya kan ibu angkatnya Widhi. Sejak kecil dia sudah bolak-balik ke rumah saya di Perumtas Blok B-4 Nomor 45. Rumah itu sekarang sudah terendam lumpur," papar Sri Hartuti sambil menahan linangan air mata.

Sejak kuliah di Unesa, Widhi yang lahir di Kediri pada 14 Januari 1988 itu tinggal di Perumtas. Nah, kendati semburan lumpur menenggelamkan perumahan di Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, itu, Widhi mendaftarkan diri ikut KDI-4 dan ternyata sukses. Tak dinyana, pemuda yang fasih membawakan lagu apa saja ini melenggang mulus hingga tiga besar. "Ini semua berkat dukungan keluarga, masyarakat, dan teman-teman korban lumpur," sambung Titin, tante si Widhi.

Kembali ke hajatan kecil di Lemahputro. Menjelang magrib, Widhi yang ditunggu-tunggu pun datang. Spontan ratusan kerabat dan pendukung Widhi membunyikan musik tradisional 'terbangan'. Karena penasaran, warga Lemahputro turun ke jalan untuk melihat dari dekat wajah artis dangdut masa depan itu.

Sri Hartuti secara spontan memeluk erat Widhi, anak angkatnya, erat-erat. "Alhamdulillah, kamu masih bertahan di KDI. Kami di Sidoarjo hanya bisa berdoa dan mendukungmu lewat SMS," ujar Sri.

Pertemuan ini memang sangat mengharukan. Maklum, sejak babak awal KDI Widhi tak pernah kembali ke Sidoarjo maupun Kediri. Sri Hartuti pun hanya sempat bertemu satu kali dengan Widhi di kampus KDI-4, kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Manajemen KDI-4 memang melarang keras semua peserta yang belum tereliminasi untuk pulang kampung atau bertemu siapa saja tanpa izin.

"Alhamdulillah, saya diberi kemudahan oleh Allah SWT selama ikut KDI. Posisi saya selalu rawan, tapi selalu selamat. Rasanya seperti mimpi saja," kata Widhi yang didampingi Ipunk Permana, ketua tim suksesnya, yang juga masih keluarga dekat.

Bunyi 'terbangan', alat musik perkusi tradisional khas Sidoarjo, pun berhenti. Widhi menginjakkan kaki ke dalam rumah yang juga sanggar seni milik Ipunk. Setelah bersalaman disertai peluk-cium dari para kerabat dan penggemar, Sri Hartuti mengeluarkan tumpeng, ubi-ubian rebus (pala pendhem), serta makanan khas Sidoarjo: kupang.

"Ini kami buat khusus sebagai kejutan untuk Widhi. Saya nggak bisa menyajikan hidangan lebih dari ini karena tahu sendiri kami kan korban lumpur Lapindo," tutur Sri Hartuti.

Mendengar kata-kata 'lumpur Lapindo', Widhi terlihat murung. Senyumnya hilang. Maklum, gara-gara terjangan lumpur, rumah orangtua angkatnya di Perumtas, Kedungbendo, tenggelam. "Sudah setinggi apa?" tanya Widhi. Dijawab oleh beberapa kerabat, rumah bercat biru itu sudah tenggelam sekitar 1,5 meter. Begitu juga rumah-rumah lain di Perumtas.

Widhi tertunduk. Lalu, Sri Hartuti menunjukkan foto rumah mereka di Perumtas B-4 Nomor 45 sebelum terkena lumpur. Rumah itu tinggal kenangan. Adapun Sri Hartuti bersama suami, Joko Sahid Hidayat, kini mengungsi di sebuah rumah sederhana di kawasan Kwadengan, Sidoarjo. Widhi sendiri belum pernah tahu rumah kontrakan sementara itu.

Agar tidak larut dalam kesedihan gara-gara berita lumpur, dan derita pengungsi, Ipunk Permana mengatakan, ribuan warga Perumtas yang beberapa waktu lalu mengungsi di Pasar Baru Porong merupakan pendukung utama Widhi. Setiap kali Widhi tampil di televisi, mereka ramai-ramai kirim SMS.

"Terima kasih. Mudah-mudahan warga Perumtas segera mendapat ganti rugi agar persoalan ini segera selesai," ujar Widhi yang belajar musik secara otodidak.

Sayang, Widhi tak bisa berlama-lama melepas kangen bersama keluarga di Sidoarjo. Sebab, agendanya yang sudah diatur manajemen KDI sangat padat. Sebagai artis papan atas di KDI-4, Widhi harus ditarik kembali di hotel oleh manajemen KDI-4.

"Saya mohon doa restu dari keluarga dan semua penggemar di Sidoarjo dan Jawa Timur. Insya Allah, saya akan memberikan yang terbaik pada babak tiga besar, Sabtu (11/8) malam," ujar Widhi.

1 comment:

  1. Duh kasian banget ya korban lumpur itu. Dah kesusahan kena lumpur, masih juga disedot pulsanya untuk polling yang ga berguna dan udah pasti tidak akan bisa menolong mereka dari kubangan itu.

    Oh tipi, tipi....

    ReplyDelete