10 August 2007

Wayan Titip, Pembela Wong Cilik


Kantor Unit Penyuluhan Konsutasi Bantuan Hukum (UPKBH) Universitas Airlangga di Jalan Dharmawangsa Surabaya kini tak sumpek lagi. Bangunannya jauh lebih luas, ada halaman parkir, juga pendingin udara. Mirip kantor pengacara kelas atas di kota-kota besar.

Pekan lalu, saat saya datang ke sana, tampak sekitar 20 mahasiswi (hanya satu mahasiswi) berdiskusi dan membahas berbagai agenda. Juga ada beberapa mahasiswi antusias melayani klien.
Beberapa menit kemudian pria berpenampilan rapi jali, kepala agak plontos, rambut memutih, keluar dari ruang utama UPKBH. Kami pun bersalaman.

"Apa kabar? Ini kantor UPKBH yang baru. Ada AC-nya, semua dibiayai dengan uang rakyat. Masak, rakyat kecil tidak pernah menikmati AC," ujarnya lalu tertawa keras. Para mahasiswi Unair pun tersenyum lebar.

Laki-laki yang menyambut hangat kedatangan saya itu tak lain I Wayan Titip Sulaksana SH MS. Sejak 1998, Wayan Titip dipercaya memimpin UPKBH. Sebuah lembaga nirlaba di bawah naungan Fakultas Hukum Unair yang memberikan layanan konsultasi dan bantuan hukum. Semuanya gratis alias prodeo. UPKBH memanfaatkan para mahasiswa semester atas, sekaligus untuk program magang.

"Kalau mahasiswa FH nggak magang kayak begini, nanti lulus mau jadi apa? Di luar sana mereka akan menemukan realitas yang sangat berbeda dengan di kampus. Nah, di UPKBH para mahasiswa langsung saya hadapkan dengan dunia nyata," jelas Wayan Titip.

Ada saja warga yang mengadukan nasibnya ke UPKBH setiap hari kerja. Buruh yang dipecat. Orang kampung yang tanahnya diokupasi pengusaha atau pemerintah. Kekerasan dalam rumah tangga. Kepala desa yang dipecat dengan tidak semena-mena. Juga konflik struktural yang telah berlangsung puluhan tahun.

"Dengan begini, mahasiswa saya jadi tahu bahwa persoalan hukum di Indonesia itu sangat banyak. Saya meminta mereka mendampingi klien, bahkan sampai ke pengadilan segala," tutur ayah tiga anak ini.

Wayan Titip Sulaksana tergolong dosen yang berani, ceplas-ceplos, dan tak gentar dengan ancaman. Entah itu ancaman dari luar maupun dari pejabat atau atasannya di kampus. Tak ada beban apa-apa. Karena itu, wawancara dengan Wayan Titip selalu dilakukan di ruang depan UPKBH, didengar dan disaksikan puluhan mahasiswanya. Mirip kuliah saja.

"Sebentar ya, saya ambil berkas di dalam. Biar Anda lihat sendiri bukti-bukti penyelewengan pejabat kita. Mereka dibayar dengan uang rakyat, tapi menyalahgunakan kepercayaan itu," ujar Wayan Titip.

Lalu, dia keluar membawa segepok dokumen berisi daftar penyelewengan pejabat di Kota Surabaya. Wayan memperlihatkan dugaan penyimpangan anggaran. "Mau diapakan berkas itu? Kan di mana-mana orang sudah capek berteriak memberantas korupsi, tapi hasilnya begitu-begitu saja," pancing saya.

"Saya akan tetap membawa kasus ini ke Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, bahkan Kejaksaan Agung. Kita tidak bisa diam. Tidak boleh menyerah meskipun korupsi makin lama makin parah. Sebagai nasionalis sejati, saya tidak kenal kata menyerah. Sampai mati saya harus berbuat sesuatu untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan, khususnya yang dilakukan pejabat publik," tegas Wayan Titip dengan nada tinggi.

Kegigihannya memberantas korupsi dan berbagai penyimpangan ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, Wayan Titip disukai para mahasiswa, aktivis, serta jurnalis yang punya idealisme sama. Pria yang logat Balinya sangat kental ini pun mudah dihubungi sebagai narasumber untuk menghantam tikus-tikus negara. Namun, di sisi lain, Wayan Titip banyak musuhnya. Di kampus Unair sekalipun ada saja dosen yang mencibir idealisme seorang Wayan Titip Sulaksana.

"Pak Wayan, kalau sampeyan terus-terusan seperti ini, kapan bisa punya mobil bagus, rumah yang layak. Masak sih puas sudah dengan sepeda motor jelek itu," ujar seorang bekas dosen Unair, seperti ditirukan Wayan Titip.

Orang itu beberapa tahun lalu terlempar dari Universitas Airlangga gara-gara kasus korupsi kelas tinggi. Statusnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dicabut. Eh, di tempat lain sang pecatan Unair itu malah beroleh posisi empuk. Kariernya naik, bisa ngobjek sana-sini, sehingga menjelma menjadi orang kaya. Gaya hidupnya tak beda jauh dengan pengacara-pengacara kelas atas di Jakarta.

"Yah, saya ditelepon, dicibir dengan kata-kata yang nggak enak. Nggak apa-apa. Sejak menjadi PNS, saya sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa saya tidak mungkin kaya. Jadi kaya, ya, jangan mau jadi PNS, jangan jadi pejabat. Makanya, kalau PNS bisa kaya, pejabat kaya-raya, perlu dipertanyakan uangnya dari mana? Hehehe...," ujar Wayan Titip lalu tertawa keras-keras.

Setiap kali bertemu saya, Wayan Titip mengemukakan empat 'teori' mengapa seorang PNS bisa kaya. Pertama, dari sananya memang kaya karena kebetulan orangtua orang berada. Kedua, mertua si PNS itu memang kaya. Dia pun bisa menikmati dan menghabiskan harta kekayaan sang mertua.

Ketiga, ngobjek atau mencari penghasilan dari kerja sampingan. Ini banyak dilakukan PNS, entah itu dosen, guru, hingga pegawai pemerintah. Ngobjek itu, kata Wayan, ada yang halal dan haram. Tak sedikit dosen perguruan tinggi negeri (PNS) terpental gara-gara sibuk ngobjek mencari sampingan di luar.

Saking asyiknya di luar, penghasilan banyak, tugas utama sebagai dosen dikesampingkan. "Saya tidak perlu sebut nama-nama. Anda kan sudah tahu semua. Hehehe...," ujar Wayan Titip.

Keempat, PNS kaya-raya karena memang berwatak maling. Namanya juga maling, peluang sekecil apa pun dimanfaatkan untuk memperkaya diri. Kalau tak ada peluang, ya, dia sangat kreatif membuat peluang.

"Sejak kenal dengan Oni Maharani tahun 1979, yang sekarang jadi istri saya, saya bilang bahwa saya ini dosen, PNS. Saya tidak mungkin kaya. Apa kamu mau menikah dengan saya? Alhamdulillah, Oni mau menerima saya dengan segala konsekuensinya," cerita Wayan yang hobi memelihara burung berkicau di rumahnya, kawasan Gresik.

Meski tak mampu membeli mobil, apalagi mobil mewah seperti beberapa bekas koleganya di Unair yang kini kaya-raya, Wayan Titip mengaku cukup bahagia dan bisa menikmati hidup. Sebagai manusia religius, Wayan berpendapat, kekayaan sejati itu tidak terletak pada banyaknya harta, mobil mewah, serta berbagai kenikmatan duniawi.

Wayan Titip kemudian menitipkan pesan bijak ini kepada saya: "Orang kaya yang tak pernah puas adalah orang yang paling melarat di dunia. Mereka itulah yang seharusnya diberi sedekah."


Dua 'Pisang' untuk Istri

Kehidupan religius I Wayan Titip Sulaksana cukup berwarna. Pria kelahiran Bali 10 Agustus 1956 ini mengaku mengalami pergumulan panjang, jalan berliku, sebelum mencapai kemantapan seperti sekarang.

"Dulu, saya ini dibilang Hindu, ya, nggak jelas, Islam juga bukan. Pokoknya mengambang nggak karuan," cerita I Wayan Titip Sulaksana kepada saya.

Setelah berkenalan dengan Oni Maharani, gadis lulusan IKIP Surabaya, Wayan memacari Oni selama enam tahun. "Dulu sih dia cantik sekali. Sekarang sih tidak cantik lagi karena tiap hari kumpul dengan saya," ujar Wayan Titip, disambut tawa para mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Airlangga, di kantor Unit Penyuluhan Konsultasi Bantuan Hukum (UPKBH) Unair.

Pada 1985 mereka menikah secara Islam. Wayan sih oke-oke saja karena dia sudah telanjur sayang pada Oni Maharani. "Istilahnya, tahi kucing pun rasanya cokelat. Kontrak politiknya, saya harus masuk Islam atau setidaknya mau menikah sesuai dengan ajaran Islam. No problem."

Usai menikah, Wayan Titip mengaku agamanya tidak jelas. Hindu tidak lagi, karena dia sudah menikah secara Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat. Tapi dibilang Islam juga bukan, karena Wayan tak pernah salat dan melaksanakan berbagai ketentuan Islam. Mengambang.

"Saya juga doyan minum minuman keras. Saya sampai hafal semua minuman keras sekalian rasanya."

Oni Maharani tenang, sabar, dan tak henti-hentinya berdoa. Aditya Nugraha, anak sulung Wayan-Oni, oleh ibunya diminta belajar mengaji rutin di Sahan, adik kandung pembantu rumah tangga, di kawasan Kedungcowek 26 Surabaya.
"Nah, anak saya si Adit ini akhirnya fasih sekali mengaji. Ngajinya luar biasa," tutur Wayan.

Suatu ketika Aditya Nugroho keranjingan menonton film 'Tom & Jerry' di televisi. Dia lupa bahwa hari itu ada jadwal pengajian yang dibimbing oleh Sahan. Aditya batal mengaji. Wayan, meski agamanya tidak jelas, tidak ingin anaknya meninggalkan acara pengajian. Dengan tegas Wayan meminta anaknya meninggalkan televisi dan pergi mengaji.

Aditya pun meradang. "Ayah ini agamanya apa kok suruh saya ngaji segala?" tukas Aditya. Kata-kata Aditya yang kini berusia 20 tahun itu dirasa Wayan sebagai pukulan telak. Wayan yang biasanya galak, suka minum, tiba-tiba merasa disadarkan oleh anak pertamanya. "Saya jadi berpikir-pikir, betul juga omongan Adit. Agama saya tidak jelas."

Setelah itu, Wayan Titip memutuskan untuk menekuni agama Islam secara serius. Dia datang ke dr Kabat di Unair. Belajarlah dia di tokoh terkenal tersebut sehingga Wayan makin menyadari kekhilafannya di masa lalu.

"Ternyata, saya selama ini membohongi Allah. Sudah syahadat di FH Unair tahun 1985, tapi Allah saya bohongi," kenang Wayan Titip.

Pada 1995 Wayan Titip di-Islam-kan ulang di Masjid Al-Falah, Surabaya. Wayan juga disunat oleh dr Kabat. "Kenapa? Biarpun saya sudah syahadat tahun 1985, tapi burung saya masih utuh," cerita Wayan Titip di hadapan saya dan sekitar 20 mahasiswi FH Unair.

Wayan pun cuti selama satu minggu untuk mengobati 'burungnya' yang baru disunat. Kepada teman-temannya Wayan mengatakan sedang cuti ke kampung halamannya di Bali karena ada urusan penting. Para mahasiswa tertawa kecil.

"Alhamdulillah, istri saya senang sekali karena saya akhirnya menjadi muslim seperti yang dia inginkan. Tentu saja, istri saya senang karena dia bisa menikmati 'pisang' yang sudah dikupas kulitnya. Jadi, istri saya pernah menikmati dua macam 'pisang' dari saya. Hehehe...," tutur Wayan Titip dengan gayanya yang ceplas-ceplos.

Melihat Wayan Titip yang makin islami, beberapa ormas mengajaknya bergabung. Kemudian pada saat reformasi, 1998, partai besar berbasis Islam pun merekrut Wayan Titip sebagai salah satu kadernya. Namun, dalam perjalanan, Wayan Titip jengah melihat perilaku politisi kita yang sangat pragmatis dan cenderung korup.

De facto, partai-partai yang suka membawa-bawa bendera agama pun tingkah polahnya sama saja dengan partai-partai lain. "Saya kecewa sama partai politik. Makanya, sekarang saya tidak ikut aktif di partai politik mana pun," tandas Wayan Titip.

Kini, sebagai muslim yang 'lahir kembali', jangan kaget mendengar Wayan Titip fasih mengutip ayat-ayat Alquran dan Alhadits. Wayan Titip pun suka pakai topi putih ala Pak Haji yang baru balik dari Makkah.





Tak Mampu Bayar Unair

Sebagai dosen senior di kampus terkenal, Universitas Airlangga, I Wayan Titip Sulaksana mengaku gundah dengan manajemen pendidikan dewasa ini. Kampus, termasuk negeri, dikelola layaknya perusahaan.

Badan Hukum Milik Negara (BHMN), bagi Wayan Titip, pelan tapi pasti, kian menjauhkan anak-anak orang miskin dari perguruan tinggi negeri. Sebab, biaya pendidikan menjadi begitu mahal, tak terjangkau orang miskin dan pegawai negeri sipil (PNS).

"Sistem ini sudah tidak cocok dengan amanat konstitusi. Jadinya, ya, hanya anak-anak orang kaya yang bisa menikmati perguruan tinggi," kritik Wayan Titip. Ironisnya, biaya pendidikan tinggi yang mahal, termasuk Unair, justru diterapkan ketika pendapatan rata-rata orang Indonesia masih jauh di bawah standar hidup layak.

"Sense of crisis perguruan tinggi di mana? Dulu, saya tidak pernah bayangkan Unair bakal seperti ini. Semakin sulit dijangkau oleh rakyat jelata, keluarga marhaen," ujar Wayan Titip yang mengaku Soekarnois dan berideologi marhaenis itu.

Tak usah jauh-jauh. Wayan Titip mencontohkan anak pertamanya, Aditya Nugraha (20). Meski ayahnya dosen Unair, kerap tampil di media massa sebagai narasumber, dikenal luas sebagai pengacara kaum duafa, Aditya tidak bisa menikmati pendidikan tinggi di Unair.

"Bayarnya pakai apa? Gaji saya sebagai PNS itu berapa? Saya kan tidak punya objekan, sampingan, di luar. Kuliah di Unair itu mahal sekali dan saya tidak mampu," ujar Wayan Titip blak-blakan.
Menguliahkan sang anak di perguruan tinggi swasta apalagi. Biayanya tentu lebih mencekik leher.
Karena itu, Wayan akhirnya memilih memasukkan Aditya ke lembaga pendidikan profesi di Surabaya. Sekolah yang menekankan ketrampilan, tidak berlama-lama, tamat langsung kerja. "Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk Adit. Saya sih ingin dia kuliah di perguruan tinggi negeri kayak saya. Tapi biayanya dari mana?" tegas Wayan Titip.

Selain mengkritik manajemen kampus berbiaya tinggi, Wayan Titip menilai kampus-kampus sekarang kehilangan kepedulian terhadap masyarakat yang menderita. Contohnya, kasus Lapindo di Porong.

Menurut Wayan, orang-orang Unair terlalu sibuk dengan urusan internal macam pemilihan rektor, isu BHMN, sehingga lupa bahwa ribuan warga menjadi korban semburan lumpur panas sejak 29 Mei 2006. "Unair sudah bikin apa di Porong? Sekarang sudah terlambat karena kami di Unair ini kurang peka, lambat bertindak. Kalau sekarang mau masuk ke sana terlambat. Malah dicurigai macam-macam karena sudah banyak kepentingan yang masuk."

Seandainya manajemen Unair responsif, kata Wayan Titip, sejak awal sebuah tim gabungan lintas fakultas bisa dikerahkan ke Porong. Sebab, Unair punya begitu banyak fakultas, mulai kedokteran, kesehatan masyarakat, sosial-politik, hukum, yang bisa mendampingi ribuan korban lumpur.

"Sayang sekali, itu tidak dilakukan," sesal Wayan Titip.


Nama : I Wayan Titip Sulaksana SH MS
Tempat/tanggal lahir : Karangasem, Bali, 10 Agustus 1956.
Pendidikan : Fakultas Hukum Universitas Airlangga (S-1 dan S-2).

Istri : Oni Maharani (menikah 1985)
Anak :
1. Aditya Nugraha (20)
2. Bimo Paribuana (16)
3. Rahmadian Grawiro Nugroho (12)

Karier:
-Dosen FH Universitas Airlangga
-Kepala Unit Penyuluhan Konsultasi Bantuan Hukum (UPKBH) Unair sejak 1998.

1 comment:

  1. mantab pak wayan.... kulo agus..... anak angkat nya bunda sarophah...

    trimakasih atas ...wejangan....nya... yang sudah di up load di bloggernya....

    ReplyDelete