11 August 2007

Terkenang Suara Teresa La Rocca

Akhir pekan ini, iseng-iseng saya putar kaset opera. Saya nikmati suara sopran yang tinggi dan indah. Juga iringan musik orkestra yang megah.

Syairnya berbahasa Italia (kebanyakan), sehingga saya tak paham. Tapi saya bisa merasakan getaran musik vokal klasik Barat tersebut. Tak salah bahwa musik ini abadi. Menjadi klasik. Menjadi andalan orang Barat untuk memperkaya batin.

Beda sekali dengan kita. Musik klasik Indonesia nyaris tak ada lagi. Kita terlalu larut dalam ingar-bingar lagu pop yang menggelar, tapi sangat dangkal. Yah, banalitas memang dirayakan di Indonesia.

Saya teringat Teresa La Rocca. Perempuan bertubuh subur ini soprano asal Australia, dikenal sebagai salah satu penyanyi opera terkenal di negara kanguru. Beberapa tahun lalu dia ke Surabaya, tampil di beberapa pertunjukan. Saya bicara dengan dia beberapa kali. Eh, dia senang sekali ketika tahu kalau saya antusias dengan pilihannya sebagai penyanyi opera.

"Saya, walaupun sudah lama menekuni opera, harus terus belajar, berlatih... dari hari ke hari. Opera sudah menjadi bagian dari hidup saya," ujar Teresa La Rocca sambil tersenyum.

Orang ini ramah banget, suka senyum, dan mau menjadi sahabat saya. Dia lalu mengajak saya menyaksikan pertunjukannya di Hotel Majapahit, Jalan Tunjungan Surabaya. Teresa tampil solo. Pakai gaun warna biru, anggun kayak orang Eropa zaman dulu, Teresa bikin penonton, khususnya saya, terkaget-kaget.

Suaranya itu lho, dahsyat banget! Benar-benar dahsyat! Tidak pakai mikrofon dan aksesoris norak layaknya musik pop, suara Teresa La Rocca mengatasi Balai Adhika, ruangan di Hotel Majapahit yang biasa dipakai untuk konser klasik di Surabaya. Nada rendah, sedang, tinggi, semua bisa kita rasakan dengan artikulasi sangat jelas.

Teknik produksi suara (bell canto) Teresa La Rocca sangat matang. Cara dia menyanyi menunjukkan bahwa musik vokal itu ternyata tidak main-main. Jika diolah dengan teknik sempurna, siapa yang bisa melawan suara manusia? Tuhan telah menciptakan suara untuk kita, manusia, tinggal kita olah menjadi instrumen musik yang indah.

Dan Teresa La Rocca melakukannya dengan sempurna. Dari atas panggung, Teresa berjalan-jalan menyapa penonton. Sambil jalan dia menyanyi. Suaranya melengking. Kadang meringkik. Kadang tertawa sambil menyanyi. Singkatnya, banyak sekali teknik vokal yang tidak pernah saya lihat di Indonesia. Dan mungkin sangat sulit dilakukan karena opera tidak berkembang dan mendapat pasar di sini.

Saya lupa apa saja judul lagu yang dibawakan Teresa La Rocca di Surabaya. Kalau tidak salah, ada opera karya Mozart, Verdi, serta komponis-komponis klasik terkemuka lainnya.

"Lambertus, bagaimana penampilan saya tadi?" tanya Teresa saat rehat.

"Waduh, saya mau omong apa ya? Saya seperti kehilangan kata untuk mengungkapkan kekaguman saya. Luar biasa!" jawab saya, tentu dalam bahasa Inggris.

Saya lalu menceritakan pengalaman meliput penyanyi-penyanyi klasik Barat yang pernah berkunjung dan bikin konser di Surabaya. Umumnya menyanyi biasa, lagu-lagu yang sudah banyak dikenal di sini. Tapi anda, Teresa La Rocca, membawakan lagu-lagu kelas berat.

"Kelas berat? Ah, terima kasih. Saya hanya ingin memberikan sesuatu kepada pecinta musik di Surabaya. Saya senang karena publik di sini antusias banget," kata Teresa La Rocca yang waktu itu ditemani Rebecca G. Harris, pemain cello asal Australia juga.

Begitulah. Pengalaman menyaksikan langsung soprano terkenal Australia, Teresa La Rocca, sangat membekas di hati saya. Sampai sekarang kalau dengar lagu opera, saya selalu terkenang Teresa La Rocca.

Kok bisa ya ada manusia bisa menyanyi dengan teknik luar biasa seperti itu ya?

"Lambertus, saya menyelesaikan studi musik di Adelaide University. Saya juga berlatih dan berlatih setiap hari. Sebab, itu sudah menjadi bagian dari hidup dan pekerjaan saya," kata Teresa.

Indonesia memang lain. Di sini pemain sinetron yang baru muncul beberapa kali di televisi sudah bikin album, jadi penyanyi dadakan. Maia Ahmad sudah lama bikin album, punya grup Ratu, tapi baru kursus vokal.

Ah, Indonesia, negara yang terlalu banyak dihuni oleh manusia-manusia tanggung dan instan.

Salam dan doa saya untuk Teresa La Rocca kalau sempat baca tulisan ini di internet. Salam juga untuk Rebecca Harris. Kapan mampir lagi ke Surabaya?

No comments:

Post a Comment