04 August 2007

Tentang Lagu 'Kulihat Ibu Pertiwi'




1. kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matamu berlinang
mas intanmu terkenang

hutan gunung sawah lautan
simpanan kekayaan
kini ibu sedang susah
merintih dan berdoa

2. kulihat ibu pertiwi
kami datang berbakti
lihatlah putra-putrimu
menggembirakan ibu

ibu kami tetap cinta
putramu yang setia
menjaga harta pusaka
untuk nusa dan bangsa


Juru Tulis: Lambertus L. Hurek

Iman Dwi Hartanto, penyiar Radio Suara Surabaya [SSFM], yang sangat dikenal warga Surabaya dan sekitarnya. Ini karena SSFM banyak didengar, sering menjadi rujukan informasi lalulintas, dan berita-berita mutakhir alias breaking news.

Setiap Jumat malam, Iman memandu 'Memorabilia', program lagu-lagu kenangan. Ada lagu Indonesia, Barat, jenisnya macam-macam. Ada lagu 1950-an, 1960-an, 1970-an. Penyanyinya macam-macam. Iman cakap bikin kategorisasi, ini didukung koleksi SSFM yang cukup, sehingga sajian 'Memorabilia' selalu menarik. Apalagi, kalau Ibu Tutik [lansia] gabung melalui telepon, wuih... ramai nian.

Ada lagi yang menarik, sekaligus menjadi penanda berakhirnya 'Memorabilia'. Apa itu? Iman Dwi Hartanto selalu memutar nomor instrumental Kulihat Ibu Pertiwi. Anak-anak sekolah dasar dan lanjutan di Indonesia, khususnya Jawa, tahu benar syair dan melodi nyanyian ini.

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang



Suatu ketika ada pendengar bertanya, Kulihat Ibu Pertiwi itu ciptaan siapa? Kok enak sekali? Iman, saya tahu, berusaha menjawab dengan hati-hati. Sebab, bagaimanapun juga SARA [suku, agama, ras, antargolongan] sangat peka di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Salah jawab bisa gawat, Bung.

Tapi Pak Markus Sajogo dalam sebuah percakapan dengan saya mengatakan, lagu Kulihat Ibu Pertiwi jelas-jelas lagu rohani kristiani atawa gospel song. Saya pun diminta mengecek KIDUNG JEMAAT, buku nyanyian umat Kristen Protestan di Indonesia. Karena itu, Pak Markus, pengacara dan tokoh masyarakat Surabaya, heran kok bisa lagu gospel direkayasa menjadi Kulihat Ibu Pertiwi.

Saya pun cek KIDUNG JEMAAT. Benar! Lagu itu bertajuk Yesus Kawan yang Sejati, KIDUNG JEMAAT Nomor 453.

Lagu tiga bait itu ditulis Charles Crozart Converse, 1868, komposer asal Amerika Serikat, 1832-1918. Syair asli 'What a friend we have in Jesus', ditulis oleh Joseph Medlicott Scriven, 1855. Yayasan Musik Gereja [Yamuger] kemudian menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia pada 1975, dan kemudian menjadi lagu rohani kristen di Indonesia.

Aransemen paduan suara [kor] standar diambil dari Hymns of the Christian Life, 1936. Lagu ini pendek, hanya 16 bar, 4/4, moderato [MM 80], F = do. Tata suara sederhana saja sehingga sangat mudah dinyanyikan. Dalam dunia paduan suara, masuk kategori A: sangat mudah, tidak perlu latihan lama-lama. Anak-anak sekolah dasar pun bisa.

Lalu, bagaimana pula dengan lagu Kulihat Ibu Pertiwi yang sangat terkenal di Indonesia itu? Siapa yang menulis syair dan musiknya? Saya sudah memeriksa beberapa buku kumpulan lagu nasional, termasuk terbitan Musika, Jakarta. [Buku-buku nyanyian penerbit ini terbilang sangat bermutu dan laku keras.]

Ada memang Kulihat Ibu Pertiwi. Tapi tidak ada informasi apa pun tentang nama penulis lagu dan lirik. Hanya ditulis N.N. = no name atawa anonim. Jangan heran, orang Indonesia [umumnya] tidak pernah tahu asal-muasal lagu tersebut. Dan memang sejak dulu orang Indonesia kurang memperhatikan 'hak cipta', tak begitu gubris nama pengarang lagu. Praktik bajak-membajak, jiplak-menjiplak, malah menjadi 'tradisi' di industri musik rekaman Indonesia.

Berdasar data-data di KIDUNG JEMAAT, juga beberapa buku nyanyian gerejawi lainnya [terbitan Indonesia dan luar Indonesia], saya akhirnya menyimpulkan bahwa lagu Kulihat Ibu Pertiwi itu IDENTIK dengan What a Friend We Have in Jesus karya Charles Crozart Converse asal Amerika Serikat pada 1868. Melodinya 100 persen sama.

Saya menduga, melodi khas nyanyian gerejawi internasional itu kemudian diadopsi oleh seorang komposer atau guru musik atau siapa saja yang punya hubungan dengan pendidikan musik di sekolah dasar atau sekolah menengah di Indonesia. Besar kemungkinan orang itu beragama Kristen, atau setidaknya akrab dengan melodi karya Charles Crozat Converse.

Mungkin, karena terkesan dengan melodi nan indah, ia memasukkan kata-kata baru bertema kepedihan Ibu Pertiwi [alam Indonesia], dibukukan, diajarkan kepada anak-anak sekolah. Maka, orang Indonesia pun terbiasa dengan 'lagu nasional' Kulihat Ibu Pertiwi.

Beberapa tahun lalu, Pak Markus Sajogo pernah mencoba mengusut siapa gerangan penulis lirik Kulihat Ibu Pertiwi, yang meminjam melodi karya Converse, 1868. Tapi hasilnya belum jelas.

Sekali lagi, saya menduga-duga, orang yang kreatif itu niscaya komposer berlatar belakang Kristen Protestan karena buku-buku nyanyian Katolik [resmi] yang pernah beredar di Indonesia [Jubilate, Kantar Serani, Syukur Kepada Bapa, Madah Bakti, Kidung Adi, Exultate, Kidung Syukur, Puji Syukur, dan beberapa lagi] tak pernah memuatnya. Sebaliknya, hampir semua buku nyanyian Protestan memuatnya.

Sebagai catatan, lagu-lagu nasional atau lagu wajib atau apa pun namanya mengikuti pola strofik di kidung-kidung kristiani yang diwariskan misionaris Barat, entah itu Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Swiss. Ini bisa dipahami karena pengarang lagu-lagu nasional kita banyak yang beragama nasrani, khususnya Protestan dari gereja-gereja arus utama.

Sebut saja Liberti Manik, Binsar Sitompul, Cornel Simanjuntak, Subronto Kusumo Atmojo, F.X. Sutopo, Frans Haryadi, N. Simanungkalit, dan seabrek nama terkenal lainnya. Mereka ini berlatar belakang sekolah musik gerejawi, setidaknya berguru pada pemusik-pemusik klasik Barat. Dirasa Indonesia membutuhkan banyak lagu-lagu nasional, maka jalan termudah, ya, mengikuti pola nyanyian strofik gereja yang sudah ada.

Bagi saya, 'pinjam-meminjam melodi' sudah lazim dalam dunia musik. Bukankah lagu-lagu gerejawi, khususnya pasca-Reformasi Martin Luther, menggunakan melodi lagu-lagu rakyat di Eropa? Setelah diberi syair baru, syair kristiani, jadilah lagu gerejawi, puji-pujian kepada Tuhan.

Jangan lupa, Misa Dolo-Dolo yang sangat tekenal di Gereja Katolik Indonesia menggunakan melodi lagu rakyat Lamaholot di kampung saya, Flores Timur. Oleh Pak Mateus Wari Weruin, komponis musik liturgi, bahan dasar dari kampung ini diolah menjadi ordinarium misa bernuansa Flores Timur. Pola macam ini pun masih dilakukan Pusat Musik Liturgi, Jogjakarta, saat menggelar lokakarya musik liturgi di berbagai daerah di Indonesia.

Kembali ke Kulihat Ibu Pertiwi. Lagu ini sudah telanjur terkenal di Indonesia, syairnya sangat menyentuh orang Indonesia, apa pun agama, etnis, suku, latar belakangnya. Bahwa dia meminjam melodi karya Charles Crozat Converse bukan masalah. Persoalannya, sejak dulu guru-guru musik serta penerbit buku nyanyian di Indonesia alpa mencantumkan nama penulis melodi dan penulis lirik/syair.

Mudah-mudahan di era copyright ini, sebaiknya penerbit Indonesia merevisi buku nyanyian anak sekolah dengan menyertakan nama penulis lagu, Charles Crozat Converse, serta penulis lirik versi Indonesia.

Harus diakui, sejak dulu orang Indonesia malas mencari data dan informasi, sehingga dengan gampang menulis N.N. Ingat-ingat pesan Bung Karno:

"Janganlah kita menjadi bangsa penjiplak, a copy nation!"

30 comments:

  1. Baru nonton film jepang dan ada lagu ini. Awalnya bingung kok nadanya persis lagu ibu pertiwi. Setelah browsing ketemu posting ini, baru pahamlah saya. Terimakasih.

    ReplyDelete
  2. aq kira gak masalah krn di mana2 melodi lagu saling pengaruh. kalau sudah dikenal sbg IBU PERTIWI, why not? yg penting penggubah melodinya perlu ditulis.

    ReplyDelete
  3. Salam kenal Mas,
    tertarik dengan artikel di blog anda mengenai lagu Kulihat Ibu Pertiwi. Ada hal yang menggelitik saya, berikut ini cuplikan dari blog anda

    "Jangan lupa, Misa Dolo-Dolo yang sangat tekenal di Gereja Katolik Indonesia menggunakan melodi lagu rakyat Lamaholot di kampung saya, Flores Timur. Oleh Pak Mateus Wari Weruin, komponis musik liturgi, bahan dasar dari kampung ini diolah menjadi ordinarium misa bernuansa Flores Timur. Pola macam ini pun masih dilakukan Pusat Musik Liturgi, Jojakarta, saat menggelar lokakarya musik liturgi di berbagai daerah di Indonesia."

    Ini yang memang lazim terjadi di lingkup hirarki gereja Katolik. Selalu terjadi dan terjadi lagi. Arogansi hirarkis yang top-down system. Institusi gereja masih terlalu tinggi hati untuk menundukkan kepala menghargai para penulis lagu yang "nobody person".

    PML memang sudah terkenal di kalangan penulis lagu selalu bertameng "lagu hasil lokakarya"nya untuk menghindari royalti.

    ReplyDelete
  4. Terima kasih atas respons beberapa kawan yang disampaikan lewat e-mail. Ini berarti tulisan ringan tentang Kulihat Ibu Pertiwi diperhatikan serta mendapat apresiasi yang baik. Saya nggak nyangka kalau blog ini ternyata dibaca dan diperhatikan.

    Pak Markus Sajogo, terima kasih atas tanggapan langsung via telepon. Saya perhatian beberapa nasihat dan 'petujuk' agar tulisan-tulisan di blog ini tidak kebablasan.

    Juga Bung Hotma Roni Simamora yang membuat catatan khusus, sharing pengalaman, serta apresiasi yang sangat menggembirakan. Selamat bermusik, sukses terus! God bles you! Damai untuk kita semua!

    ReplyDelete
  5. informatif banget. jarang ada org yg punya kemampuan menulis plus pengetahuan musik yg luas kayak sampean. bravo!

    gerard, bandung

    ReplyDelete
  6. Cak Lambertus,
    Salam kenal....
    luar biasa cak, tulisan anda
    "Tentang lagu'Kulihat Ibu Pertiwi'
    di Blog anda.
    Itu adalah lagu bendera mas Iman pada acara Memorabilia di Suara Surabaya FM 100, dan salah satu favorit saya. Kadang2 saya sering minta mas Iman untuk memutar lagu tersebut. Saya dulu memang penasaran ingin tahu siapa pencipta lagu tersebut, karena hanya tertera NN saja, barulah setelah baca artikel anda saya akhirnya tahu duduk soalnya. Betul2 saya harus berterima kasih pada anda, karena telah menjawab rasa penasaran saya selama ini.
    Okey.... sekali lagi trims berat cak...

    Salam....
    Budi Widajanto, Surabaya

    ReplyDelete
  7. hehehe, sama, baru liat drama jepang terbaru dan ada yang mainin lagu ini lewat piano...didengarkan sampai akhir dan memang sama, jadi penasaran & langsung browsing, ketemu blog ini.. saya jd ngerti sekarang, terima kasih

    ReplyDelete
  8. wah, orang kampung tapi catatan musiknya luar biasa. baru kali ini aq ketemu blog yg bahasannya dalam n informatif. thanks boss!

    santoso

    ReplyDelete
  9. Ada juga lagu berbahasa Jawa yang melodinya sama dengan lagu Ibu Pertiwi/What A Friend We Have in Jesus.

    WIWIT AKU ISIH BAYI

    Wiwit aku isih bayi , wong tuwa sing ngopeni
    Nganti tumeka saiki, tansah digemateni
    Mangkat sekolah disangoni, sandang pangan wis mesthi
    Mula aku wajib bekti mbangun turut ngajeni

    ReplyDelete
  10. kalau lagu tsb kemiripannya lebih dari 8 bar..ya JIPLAK lah!

    ReplyDelete
  11. Kalau dengan lagu 'Kulihat Ibu Pertiwi' biasa aja.

    Tapi kalau dengan Lagu 'What a Friend We Have in Jesus'/'Yesus Kawan yang sejati" saya selalu merinding...
    bukan apa-apa lagu itu sering dinyanyikan saat acara penguburan ala kristen

    ReplyDelete
  12. gak.
    ibu pertiwi indonesia bgt.
    bleep.

    ReplyDelete
  13. Suwun cak informasinya...
    Saya lihat video pernikahan laki2 jepang dengan tokoh kartun. Lagu ini dimainkan... awalnya saya bangga karena lagu Indonesia dimainkan di sana, kemudian muncul keraguan jangan2 lagu Jepang klasik yang kita contek semasa penjajahan Jepang dulu...
    Tapi setelah baca tulisan mas ini, saya jadi tahu...ternyata kita dan Jepang sama2 nyontek ya... :(

    ReplyDelete
  14. Pada saat misa Jumat Agung 2010 di Dhaka, Bangladesh, lagu What A Friend We Have in Jesus ini dinyanyikan. Kebetulan saya sedang ada tugas di sana sekarang.

    Waaah, mantab blog ini, ya. :-) jadi ngerti saya.

    Makanya lagu-lagu nasional Indonesia keren-keren, ya? just my opinion.

    ReplyDelete
  15. kalau saya, ketika sedang membaca kinetic novel dari jepang, saya mendengar melodi yang mirip dengan lagu ini. Begitu selesai membacanya, saya langsung teringat lirik lagu 'kulihat ibu pertiwi ini'. Setelah membaca pos ini, saya tak lupa komposer lagu ini. Thx!

    ReplyDelete
  16. pernah nonton film "My Girl" ? .. iya.. di salah satu adegan film lawas yg diperankan Macaulay Culkin itu, ada (jelas sekali) lagu "ibu pertiwi" ini dimainkan dengan piano (tanpa syair) sebagai lagu pengantar jenazah..

    kalau tidak percaya, silahkan lihat sendiri di film nya, di adegan dimana si Thomas J (macaulay culkin) ini meninggal krn tersengat lebah dan sedang disemayamkan di rumah org tuanya..

    ReplyDelete
  17. buat Anonymous di atas saya: baca dulu secara lengkap tulisan pak Lambertus, sehingga tidak langsung menyimpulkan lagu yang dimainkan di film my girl adalah lagu ibu pertiwi.

    pada film my girl jelas yang dimainkan adalah lagu What a Friend We Have in Jesus karya Charles Crozart Converse

    ReplyDelete
  18. Hehehe. Malu-maluin. Ada yang ngaku penciptanya Kamsidi Samsuddin dari Solo. Nih link-nya http://komponiskamsidi.multiply.com/journal/item/1/Sejarah_musik_kota_Solo.

    ReplyDelete
  19. Halo...salam kenal..
    saya kebetulan baru dengar lagu ini dinyanyikan di televisi. Saking rindunya lagu yang biasa saya dan teman-teman nyanyikan waktu SD itu, saya lalu berusaha menggoogle syairnya just to make sure saya nggak salah. Tapi kok ternyata yang saya temui agak beda dengan yang saya tahu dari kecil ya? setahu saya seharusnya:
    ..... air matanya berlinang, mas intannya terkenang. (dilogika secara kebahasaan, Ibu Pertiwi ini kan sebagai pihak/orang ketiga tunggal, jadi mestinya bukan "mu" tapi "nya")
    ...... kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa (didengar rimanya juga lebih pas : lara - berdoa)
    Saya nggak tahu saya benar atau salah, tapi waktu saya cross check teman, ternyata yang dia tahu sejak kecil juga begitu. Jadi...?

    ReplyDelete
  20. thanks banget saudara hurek kali ini saya tahu setelah sekian lama bertanya2 koq sama benar2 ya,

    kalo Orang batax tuh biasanya pasti nangis kalo dengar lagunya. maksud saya yang "What a Friend We Have in Jesus" kalo bahasa bataknya "ise do ale - ale ta" thank bro

    no matter what you're religion, GBU.

    ReplyDelete
  21. Trims informasinya, sekarang ini Indonesia sedang berduka, maka lagu ini menjadi pas ketika terus menerus diputar di salah satu TV swasta. Izin untuk bikin status di Fb ya Mas,,.

    ReplyDelete
  22. yups betul bgt bro yg nulis blog ini. Info nya akurat.
    Lagu Ibu Pertiwi aka WHAT A FRIEND WE HAVE IN JESUS, itu sbnrnya lagu rohani umat kristen. Diciptakan udh lama bgt.
    Syair: joseph medlicott scriven, 1855
    lagu: charles crozat converse, 1868
    diterjemahkan ke bhs indonesia oleh YAMUGER (yayasan musik gereja), 1975

    ReplyDelete
  23. Penulisan artikel yg apik, tidak memihak (netral) dan informatif. Salut.

    Ahmad

    ReplyDelete
  24. Klik link ini: http://www.youtube.com/watch?v=CLAg2NDcOt4

    ReplyDelete
  25. Lagu Ibu Pertiwi ini seingat saya sudah sering dinyanyikan sejak saya masih SD di yogya tahun 1960 an. Dulu kalau tak salah ada buku kumpulan nayanyian Indonsia yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Kebudayaan warnanya sampulnya biru tua, isinya seluruh nyanyian wajib yang harus dihafal termasuk lagu-lagu daerah . Tentang penyanyinya saya tak ingat lagi. Jadi kalau ada komposer yang ngaku belakangan bahwa Ibu Pertiwi adalah ciptaannya ini ya tak benar.

    ReplyDelete
  26. pantes, waktu nonton film jepang tiba2 kok denger lagu ibu pertiwi

    ReplyDelete
  27. yang penting melodi lagu nya asik di dengar, dari anak2 sampai dewasa suka lagu ini, jadi dinikmati aja lagunya...... :D
    makasih....

    ReplyDelete
  28. film australia 'red hill' (2010) juga pembukaan melodi nya: kulihat ibu pertiwi
    yg kmd petikan singkat melodi diulang bbrp kali di film tsbt.

    kurasa di era modern pun banyak hak cipta yg dilenyapkan setelah 50 tahun berlalu, dan kmd default 'dipersembahkan' ke warga sedunia.

    lebih2 di jaman sebelum hak cipta ditekankan.

    secara implicit kuyakini bhw secara default KULIHAT IBU PERTIWI adalah SELALU milik bangsa Indonesia.

    jangan ragu2 lagi.
    matur nuwun.

    ReplyDelete
  29. Terima kasih untuk informasinya. Kebetulan saat ini kami sedang mempersiapkan pementasan Opera dalam rangka Sumpah Pemuda. Salah satu lagu yang dipakai adalah Kulihat Ibu Pertiwi. Senang bisa mengetahui informasi di balik lagu tersebut.
    Salam

    ReplyDelete
  30. Menggunakan melodi yang sudah tercipta dalam musik itu biasa, asalkan dengan jelas mencantumkan siapa yang menulisnya. Dalam buku2 nyanyian di USA, jelas sekali dicantumkan siapa penulis melodi, dan siapa penulis syair. Misalnya, lirik lagu kebangsaan Amerika "Star Spangled Banner" dituliskan oleh Francis Scott Key, tetapi melodinya dari lagu populer di jaman itu, yaitu "To Anacreon in Heaven", yang sebenarnya suka dinyanyikan orang pas minum2. Jadi gak apa ada lagu Kulihat Ibu Pertiwi yang bermelodikan "What a Friend We Have in Jesus", biasa saja. Gitu aja kok repot, kata Eyang Dur.

    ReplyDelete