06 August 2007

Soundrenaline, Prasmanan Budayakan Merokok


Hajatan Soundrenaline di Kenjeran, Surabaya, 5 Agustus 2007. Foto: M. Rofiq.

Bedanya orang kampung [di Flores] dengan orang kota di Jawa adalah fasilitas dan peluang. Banyak peluang bagi kita di kota untuk menonton konser apa saja, artis-artis top, hingga bertemu dan bercakap dengan selebriti. Orang udik mana bisa?

Nah, saya beruntung tinggal di kawasan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Dua kali daerah kami [saya pegang kartu penduduk Gedangan] jadi tuan rumah Soundrenaline: tahun 2003 dan 2005. Soundrenaline itu pesta musik ala PT HM Sampoerna yang menampilkan begitu banyak ben dan artis: pemula hingga paling top di Indonesia.

Konser digelar berjam-jam, dari pagi sampai pagi lagi. Sampai telerlah awak. Para penggila musik mungkin suka karena jarang ada hajatan musik macam itu. Sampoerna bisa karena ia perusahaan rokok kaya di Surabaya dan, terpenting, ia ingin menanamkan 'budaya merokok' kepada anak-anak muda.

'Saya merokok maka saya ada,' kira-kira begitulah ideologinya.

Tahun 2007, tanggal 5 Agustus, Soundrenaline tidak lagi digelar di Bumi Marinir Gedangan, Sidoarjo, melainkan di Kenjeran. Kompleks balapan ini luas, tapi panas nian. Beda dengan Gedangan yang banyak pepohonan dan asyik suasananya. Mungkin panitia ingin suasana baru karena bosan di Gedangan?

Soundrenaline 2007, temanya Sounds of Change, hiruk-pikuk dengan berbagai artis dan ben di tanah air. Ben pemula sampai senior macam Boomerang, Jikustik, ada. Alirannya macam-macam. Ada Bunga Citra Lestari yang sentimentil hingga Suckerhead yang metal. Kangen Band, Samsons... dan seterusnya.

Setelah berkali-kali ikut menyaksikan Soundrenaline beberapa kali, termasuk Stadion Gajayana [luar] di Malang pada 2004, saya pun pikir-pikir:

Untuk apa sih bikin pesta musik macam itu? Puluhan ben, main maraton, dari pagi sampai pagi lagi [dini hari], dengan sajian yang sangat beragam? Apakah memang penggemar musik di Indonesia suka? Apa mungkin orang betah menikmati begitu banyak ben yang ideologinya 'rock and beat'?

Naga-naganya, HM Sampoerna ingin menjadikan Soundrenaline sebagai prasmanan musik. Ia sajikan hidangan beribu macam, silakan engkau pilih mana suka. Silakan engkau makan kalau perutmu masih mampu. Makanlah sampai kenyang... dan muntah. Sistem prasmanan mengandaikan kedewasaan si pemilih.

Kalau ambil telalu banyak, semua mau disikat, ya, matilah awak. Pilihlah menu [musik] yang engkau sukai saja. Jangan terlalu banyak. Apa-apa yang berlebihan pasti tak baik. Saya ketemu Zainul, anak muda asal Candi, Sidoarjo, di lokasi Soundrenaline.

Ia tabung uangnya khusus untuk bisa lihat Soundrenaline. Ia bukan orang yang bisa memilih dan memilah menu. Semua disikat habis. Sejak awal sampai akhir ia nikmati prasmanan musik ala Soundrenaline. Hasilnya?

"Asyik banget, Mas! Saya kan musicmania hehehe.... Tapi rokoknya mana? Jangan tanya-tanya terus," kata Zainul.

Lalu, saya kasih sedikit uang untuk membeli rokok. Kebetulan saya kenal baik remaja 20-an tahun ini yang sehari-hari berjualan koran di jalan raya. Dini hari, Soundrenaline bubar, badan Zainul lemas. Teler karena terlalu banyak menari di kompleks Soundrenaline. Energinya habis.

"Gak apa-apa, Mas, kan cuma setahun sekali. Itu pun belum tentu di Sidoarjo atau Surabaya," kata Zainul yang akrab disapa Kethek.

Hehehe.....

Gaung Soundrenaline tahun 2007 di Surabaya saya rasa tidak sehebat tahun-tahun sebelumnya. Ini karena absennya ben-ben besar macam Slank, Iwan Fals, God Bless, Peterpan, /rif. Ingat, Soundrenaline di Gedangan, Sidoarjo, 2005, sangat heboh gara-gara ada Iwan Fals, Peterpan, /rif. Kalau God Bless, meski teknik musiknya sangat bagus, sudah kehilangan pasar di kalangan anak-anak muda yang lahir pada 1980-an ke atas.

Ben asal Surabaya, Boomerang, yang jadi andalan di Soundrenaline 2007 boleh dikata sudah lama merosot pamornya. Ben yang dimotori Roy, yang bermarkas di Jalan Ketintang, ini lebih sering main di kota-kota kecil macam Pandaan, Jombang, Kepanjen, Blitar.... Rekamannya pun kurang sukses. Belum lagi kehilangan gitaris nyentrik, John Paul Ivan.

Maka, saya tidak heran membaca catatan KOMPAS Jawa Timur, 6 Agustus 2007, bertajuk 'Musisi baru kurang dihargai'. Kris Razianto menulis: "ratusan penonton [bukan ribuan ya? Hehehe...] kurang antusias. Musisi baru kurang dihargai. Matahari terik sehingga penonton enggan berada di lapangan terbuka. Respons untuk Suckerhead tidak setinggi pada konser-konser Suckerhead...."

Saya sendiri sudah lama menganggap prasmanan musik ala Soundrenaline sebagai hajatan yang mubazir dan boros. Berapa ratus miliar [atau triliun] yang dihabiskan HM Sampoerna untuk Soundrenaline sejak tahun 2002? Maksudnya sih baik, menyenangkan ribuan orang, tapi karena menunya terlalu banyak, penonton malah mual. Maka, makanan yang begitu banyak itu justru merusak tubuh.

Belum lagi kita bicara ketahanan manusia menikmati musik ribuan watt dalam durasi yang sangat lama. Ingat, sudah sering lho ada studi tentang hubungan antara musik pop-rock dengan perilaku manusia. Musik, apa pun baik, tapi dosisinya harus pas. Janganlah overdosis!

Menurut saya, akan lebih baik kalau HM Sampoerna cukup menaja konser tur untuk masing-masing ben saja. Jadi, konser khusus Slank, Iwan Fals, Jikustik, Padi, Dewa 19.... Dengan begitu, segmennya sangat jelas dan seletif. Yang datang tentulah penggemar ben atau artis bersangkutan. Ini juga sekaligus mengukur kekuatan sebuah ben di masyarakat.

Apa yang dilakukan Peterpan dengan mengelar tur sendiri, di Gresik, Sidoarjo, Surabaya, jauh lebih elegan daripada ikut Soundrenaline yang ramai-ramai. Kali ini, Peterpan benar karena tidak ikut Soundrenaline 2007. Sebuah ben dikatakan besar dan matang kalau berani tampil sendiri, pakai konsep sendiri, bukan 'nunut ngetop sekelebat' di hajatan prasmanan ala Soundrenaline.

Apa pun kata orang, saya tahu, misi paling penting di balik Soundrenaline adalah menanamkan 'budaya merokok' di kalangan anak-anak muda. Makin banyak anak muda yang merokok, bahkan sejak sekolah dasar, tentu semakin baik bagi perusahaan rokok di mana pun.

'Saya merokok maka saya ada'.

No comments:

Post a Comment