06 August 2007

Sedikit tentang Indonesia Raya

 

Catatan LAMBERTUS HUREK
Bekas Pelatih Paduan Suara Amatir

Gara-gara Roy Suryo, lagu kebangsaan Indonesia Raya kembali jadi polemik di media massa. Sayang sekali, polemik kali ini kurang bermutu karena bahan yang disodorkan Pak Roy mentah nian. Tidak ada yang baru.

Saya justru heran kenapa orang sekaliber Roy Suryo, pakar yang bolak-balik masuk koran, bicara di televisi, baru tahu bahwa Indonesia Raya itu sejatinya ada tiga stanza. Setahu saya, semua anak sekolah dasar di Indonesia pernah membaca kisah sejarah Indonesia Raya--selalu dikaitkan dengan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Di situ disebutkan bahwa Indonesia Raya memang ada tiga stanza. Pada masa penjajahan, kata 'merdeka' sengaja disensor karena penjajah tentu tidak sudi dengar. Bahwa cara membawakan, ekspresi... Indonesia Raya ada perubahan, ya, kita semua tahu. Bahwa Presiden Sukarno bikin tim penggubah Indonesia Raya, pun sudah banyak ditulis.

Lalu, apa yang baru dengan isu yang diangkat Roy Suryo? Tidak ada. "Yang baru itu, ya, Roy Suryo ternyata baru tahu kalau Indonesia Raya itu ada tiga stanza. Juga beberapa kali revisi...," kata teman saya. "Nggak ada mutunya polemik versi Roy Suryo," tambah sang kawan di Surabaya.

Yah, polemik tak penting, buang-buang waktu saja. Tapi dibahas di koran-koran, televisi, internet, hanya karena yang bicara itu seorang Roy Suryo. Tak apa-apalah. Dengan polemik ini, semua orang ramai-ramai cari bahan, referensi, wawancara sumber sejarah yang tepat, agar kisah seputar Indonesia Raya menjadi lebih akurat.

Apa pun kata orang, yang jelas, status Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan sudah final dan mengikat. Pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945 secara jelas menyebutkan bahwa lagu kebangsaan kita Indonesia Raya.

Saat saya masih remaja bau kencur, tahun 1990-an, polemik seputar Indonesia Raya sudah muncul di surat kabar. Isu yang diangkat waktu itu, antara lain oleh Remy Silado, adalah 'kemiripan' alur melodi Indonesia Raya dengan lagu rakyat Eropa, kalau tak salah 'Leka-Leka'. Remy, wartawan kawakan, penulis ulung, musikolog, munsy, mengupas habis struktur lagu Indonesia Raya.

Polemik ini benar-benar menambah pengetahuan masyarakat seputar Indonesia Raya. Sebab, tulisan Remy Silado lantas diikuti tulisan penulis lain yang sama-sama pakar dan mengandalkan bahan dan referensi bermutu. Apa yang ditulis Remy dan beberapa musikolog, waktu itu, benar-benar informasi baru. Segar. Masyarakat pun senang mengikutinya.

Lha, kalau polemik menjelang 17 Agustus 2007 ini diangkat KRMT Roy Suryo yang bukan pakar musik. Referensi musiknya minim sehingga bisa dengan mudah disanggah para sesepuh macam Pak Des Alwi. "Tidak ada yang baru dalam temuan Roy. Sebab, dokumen aslinya masih saya simpan," kata Pak Des Alwi.

Pak Urip Sudarman, keponakan W.R. Supatman, Jalan Dharmahusada Indah V Blok F/204 Surabaya, terkejut dengan klaim Roy Suryo. Pak Urip ini sejak dulu jadi referensi para wartawan di Surabaya kalau bicara soal Indonesia Raya dan W.R. Supratman. Pada saat makam W.R. Supratman direnovasi, juga Museum W.R. Supratman di Jalan Mangga 21 Surabaya diresmikan, saya pun pernah membuat tulisan bersambung tentang Indonesia Raya dan W.R. Supratman.

Inti tulisan, sejak dulu sampai sekarang, ya, sama saja. Bagaimana tidak. Sumbernya sama, data-data sama, semua sama. Jadi, membaca tulisan panjang lebar di koran-koran Surabaya, merespons isu Roy Suryo, saya hanya ketawa-ketawa saja karena tidak ada yang baru. Teman-teman wartawan, ya, kembali menemui sumber-sumber saya yang dulu.

"Kalau kita mau jujur, sejak dulu memang tidak ada yang baru dalam pemberitaan. Apa yang kita tulis hari ini sebetulnya pernah ditulis wartawan-wartawan dulu. Bedanya, ya, tipis-tipis saja dan akan selalu berulang," kata Adi Sucipto, kawan wartawan KOMPAS di Surabaya.

Meski direvisi beberapa kali, inti lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman itu masih sama saja. Menggunakan tempo marcia alias kecepatan menyanyi sama dengan orang berbaris. Sebagai bekas pelatih paduan suara, saya tahu sedikit banyak tahulah istilah-istilah musik vokal dan bagaimana harus menerapkannya saat menyanyi.

Indonesia Raya itu bertempo cepat, mars. Metronom Malzel [M.M.] untuk lagu mars bertempo cepat ini berkisar 120 hingga 169. Maksudnya: dalam satu menit ada 144-169 ketukan. Karena itu, betul kata Roy Suryo, lagu dinyanyikan dengan heroik, cepat, penuh semangat.

Con bravura! Ini tanda ekspresi [bukan tempo] bahwa lagu itu dibawakan dengan semangat menggelora. Salah kalau Roy menyebut 'con bravura' sebagai jenis tempo. Temponya, ya, tetap mars atawa 'tempo di marcia'.

Nah, setelah direvisi oleh tim bentukan Bung Karno, tempo Indonesia Raya diturunkan menjadi sekitar M.M. 120. Aransemen garapan Jozef Cleber, komponis dan dirigen orkes simfoni terkenal di Jakarta pada awal kemerdekaan, menjadikan Indonesia Raya lebih gagah dan megah. Elegan! Lagu tetap semangat, tapi tidak tergesa-gesa macam aransemen versi era Jepang dulu.

Ada bagian yang dibuat maestoso [hormat, megah] pada :

hiduplah tanahku,
hiduplah negeriku,
bangsaku rakyat semuanya
bangunlah jiwanya
bangunlah badannya
untuk Indonesia Raya


Bagian ini dibawakan lebih lirih, volume diturunkan, dan mengalir alias legato. Nada-nada dirangkaikan, sehingga terasa bak alunan gelombang. Kalau anda pernah ikut kursus atau pelatihan dirigen/konduktor paduan suara, tentu apa yang saya gambarkan di sini sangat mudah dipahami.

Kontras kemudian terjadi di refrein atawa ulangan atawa chorus. Di sini dipakai fortessimo [ff]. Volume suara atau alat musik sangat keras. Efek menggelegar sangat terasa karena Jos Cleber menyertakan timpani di bagian ini.

Indonesia Raya! Merdeka! Merdeka!
Tanahku negeriku, yang kuncinta
Indonesia Raya! Merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia Raya


Addie M.S. bersama orkestranya, Twilite Orchestra, saya nilai sangat berhasil menampilkan aransemen Indonesia Raya yang sangat hidup sesuai dengan keinginan Bung Karno. Lihat saja ketika tim nasional Indonesia tampil di Piala Asia, Jakarta, beberapa pekan lalu. Semua pemain dan penonton [juga penonton televisi di rumah] bisa merasakan kegagahan lagu Indonesia Raya hasil gubahan Jos Cleber.

Aransemen sama, lagu sama, tapi di tangan Addie M.S. dan Twilite Orchestra berasa lain. Beda sekali dengan rekaman lama yang dimainkan orkes lain.

Indonesia Raya memang lagu kebangsaan yang lahir dari perut sejarah perjuangan Indonesia. Karakternya memperlihatkan bahwa nyanyian kebangsaan itu benar-benar lagu perjuangan. Heroik. Berapi-api. Tekad baja untuk merdeka. Bukan himne sentimental memuji raja atau ratu tertentu.

Itulah yang membedakan Indonesia Raya dengan lagu kebangsaan di beberapa negara Eropa macam Inggris, Belanda, Jerman, Malaysia. Kebetulan saya sangat menguasai melodi lagu kebangsaan dari empat negara ini. Lagu kebangsaan Malaysia malah mengadopsi 'Terang Bulan Terangnya di Kali' yang sangat populer di Indonesia. Diganti syairnya, jadilah lagu kebangsaan Malaysia.

Lantas, apa kelemahan Indonesia Raya?

1. Rentang nada (ambitus atau range) sangat lebar.

Ditulis pakai nada dasar G [satu #], nada terendah A [la rendah], nada tertinggi e [mi tinggi]. Bandingkan saja dengan God Save the Queen [Inggris] yang ambitusnya sedikit, temponya moderato, sehingga gampang dinyanyikan suporter bola di Inggris kapan saja.

Saat memimpin paduan suara pelajar, mahasiswa, atau umum, saya selalu merasakan bahwa tidak semua penyanyi bisa membidik nada dengan tepat. Di bagian awal, sopran dan tenor sulit menjangkau nada rendah. Di bagian refrein, giliran bas dan alto yang pusing menghadapi nada tinggi. Asal tahu saja, rata-rata orang Indonesia bersuara sedang alias bariton [laki-laki] dan meso-sopran [perempuan].

Repotnya, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1958, Indonesia Raya hanya boleh dinyanyikan secara unisono alias satu suara. Tidak boleh bikin aransemen vokal empat suara, tiga suara, dua suara, dan sebagainya. Ini aturan yang wajib kita ikuti.

Karena terlalu tinggi di refrein, dan terlalu rendah di insetting [nada awal], maka hampir semua orang Indonesia kesulitan mengambil nada untuk nyanyian a capella [tanpa musik]. Bisa saya pastikan, nada dasarnya pasti jauh di bawah G mayor. Nah, karena nadanya sangat rendah, ya, Indonesia Raya tidak bisa dinyanyikan.

Ada juga kasus di mana dirigen tertentu 'ambil suara' terlalu tinggi. Siapa yang bisa menyanyikan dengan baik? Hanya paduan suara dengan dirigen terlatih. Sekali lagi, Indonesia Raya punya tingkat kesulitan tinggi.

2. Terlalu panjang.

Dibandingkan lagu kebangsaan negara-negara lain, Indonesia Raya ini panjang banget. Makan waktu lama. Padahal, kita hanya menyanyikan satu stanza. Apa jadinya jika semua [tiga] stanza itu dinyanyikan? Karena panjang sekali, Indonesia Raya kerap 'disunat' di event-event olahraga Asia Tenggara, Asia, atau Olimpiade.

Ketika Susi Susanti dan Alan Budikusumah meraih emas Olimpiade, Indonesia Raya tidak ditampilkan utuh. Begitu juga saat Taufik Hidayat memenangkan emas olimpiade. Panitia setempat rata-rata mengeluh karena lagu yang panjang hanya makan waktu saja. Lagu kebangsaan Tiongkok, Zhungguo Guoge, durasinya hanya 27 detik ketika dimainkan oleh Japan Philharmonic Orchestra. 

3. Tidak bisa dinyanyikan dengan santai.

Ini terkait struktur melodi, irama, tempo.. dan karakternya. Bandingkan dengan Inggris yang lagu kebangsaannya sangat santai, meski maestoso, dinyanyikan setiap saat di stadion bola atau di mana saja.

Atau, lagu kebangsaan Amerika Serikat yang bisa dibawakan dalam berbagai gaya. Perhatikan siaran langsung tinju yang melibatkan petinju USA. Hampir pasti lagu kebangsaan dibawakan ala soul, black music, pop, dan sebagainya. Sangat tidak resmi! Indonesia Raya tidak bisa begitu!



TERKAIT
Remy Sylado ihwal Indonesia Raya


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

22 comments:

  1. "saya pun pernah membuat tulisan bersambung tentang Indonesia Raya dan W.R. Supratman."

    Mas Lambertus, boleh saya tahu di mana saja mas menulis tulisan bersambung tersebut. Soalnya saya ingin menulis tentang Indonesia Raya buat kuliah.

    ReplyDelete
  2. Suwun, Mas, sudah mampir ke laman saya.
    Saya menulis di harian Suara Indonesia [sekarang jadi Radar Surabaya] saat peresmian Museum WR Soepratman di Jalan Mangga 21 Surabaya, sekitar awal 2000. Saya tidak punya dokumentasi karena memang--inilah kelemahan saya--tidak pernah bikin dokumentasi tulisan-tulisan yang rapi.

    Isinya, seingat saya, lebih ke sosok Soepratman, menjelang akhir hidup, kematian, rumahnya di Jalan Mangga. Kemudian sedikit membahas lagu Indonesia Raya dan beberapa lagu lain karya beliau. Itu saja.

    ReplyDelete
  3. "Itulah yang membedakan Indonesia Raya dengan lagu kebangsaan di beberapa negara Eropa macam Inggris, Belanda, Jerman, Malaysia. Kebetulan saya sangat menguasai melodi lagu kebangsaan dari empat negara ini. Lagu kebangsaan Malaysia malah mengadopsi 'Terang Bulan Terangnya di Kali' yang sangat populer di Indonesia. Diganti syairnya, jadilah lagu kebangsaan Malaysia."

    Wah, Mas Lambertus juga tau banyak soal lagu-lagu kebangsaan ya??? Berarti suatu saat bisa diajak ngobrol nih?? Hehehe.....

    Oh iya, Mas tahu nggak sih maksud dari maestoso con bravura yang jadi tempo Indonesia Raya ini??? Sebenarnya itu lebih condong ke Mars atau Hymne ya??? Padahal Indonesia Raya sendiri awalnya lebih cocok ke arah Mars tapi setelah di"maestoso con bravura"kan kok kayaknya malah jadi lebih lambat ya??? Duh, saya memang nggak tau apa-apa soal tempo, jadi kalau lagu kebangsaan taunya cuma tempo mars buat lagu keras sama tempo hymne buat lagu pelan. Jadi maestoso con bravura itu maksudnya apa ya??? Apakah itu adalah semacam percampuran antara hymne dengan mars yang jadinya dinyanyikan agak pelan tetapi gagah tidak seperti God Save the Quenn yang mendayu-dayu ataupun La Marseilassie yang militan???

    ReplyDelete
  4. Dody, anda rupanya intens mendalami Indonesia Raya. Boleh tahu kuliah di mana? Jarang lho ada anak muda yang menekuni bidang ini karena tidak populer.

    Sebelum tahun 2000 saya aktif di paduan suara 'kelas kampung' lah, sehingga sedikit banyak saya paham istilah itu. Istiah2 musik memang lazimnya pakai bahasa Italia atau Latin dan bersifat universal. Lebih afdal lagi kalo pake notasi balok [bukan not angka].

    Maestoso con bravura?
    Maestoso : hormat, megah, nuansa agung.
    Con bravura: dengan gagah [berani].
    Artinya, ya, dinyanyikan dengan megah tapi gagah. Interpetasi tergantung dirigen. Tempo [kecepatan] lagu jelas melambat karena unsur himne, pujian kepada tanah air, masuk. Tapi suasananya lebih agung dan itu sangat terasa kalau dibawakan orkes simfoni atau paduan suara yang baik. Ini yang berlaku sekarang.

    Nah, kalau rekaman yang 'ditemukan' Roy Suryo memang mars atau istilah tempo di marcia = dinyanyikan dengan tempo seperti orang berbaris. Jadi, terkesan cepat-cepat kayak setengah berlari, semangat lah. MM {Maetronom Maelsel] sekitar 120, artinya 120 ketukan dalam satu menit. Kira-kira begitulah yang bisa saya ingat. Sekarang karena tidak menekuni musik vokal, ya, sudah lupa banyak.

    Terima kasih dan salam.

    ReplyDelete
  5. Wah, ada yang kelupaan nih.
    Tentang lagu kebangsaan Inggris, Belanda, Jerman, Malaysia memang saya kuasai melodinya karena relatif sangat sederhana. Malaysia jelas sama dengan stambul Terang Bulan. Jerman paling bagus dan enak, di Indonesia 'dipinjam' jadi salah satu lagu kebaktian Gereja Protestan. Belanda gak asing lagi, lebih-lebih kalau tim nas sepakbolanya disiarkan di televisi. Inggris lebih pendek dan gampang, selalu dinyanyikan suporter bola.

    Jadi, bukan karena saya ahli, tapi kebetulan sering dengar saja. Kira-kira demikian.

    ReplyDelete
  6. Jadi intinya, Lagu Indonesia Raya itu mau dinyanyikan secara hymne, atau dinyanyikan secara mars, itu tergantung yang nyanyi tapi yang penting dinyanyikan secara megah tapi gagah. Kira-kira vegitu ya maestoso con bravura???

    Saya mahasiswa UGM jurusan Ilmu Sejarah angkatan 2004. Saya sendiri mulai tertarik dengan Indonesia Raya sejak setahun yang lalu setelah membaca tuduhan Remy Sylado mengenai Leka Leka Pinda Pinda pada FFI tahun kemarin. Apalagi belakangan saya juga mulai tertarik mempelajari berbagai lagu kebangsaan. Jadi ya Indonesia Raya termasuk deh. Dan juga saya berencana untuk mengambil tema Indonesia Raya sebagai tema skripsi saya di kemudian hari. Jadi saya lagi mencari-cari bahan untuk penelitian. Karenanya jika Mas punya bahan-bahan yang mendukung kalau bisa kontak saya ya.

    Dan tentu saja dong sebagai bangsa Indonesia kita harus menghargai lagu kebangsaan kita sendiri. Jika tidak, salah-salah ntar diambil Malaysia terus baru deh ntar pada ribut-ribut padahal sebelumnya cuek bebek.

    Lagu kebangsaan Jerman di sini jadi lagu Gereja ya??? Boleh saya tahu judulnya apa ya??? Kalau yang saya tahu sih lagu itu melodinya "menjiplak" lagu kebangsaan Kekaisaran Austria-Hongaria di abad 19. Saya sendiri lebih senang yang Jerman Timur punya.

    ReplyDelete
  7. Jadi intinya, Indonesia Raya itu lagu MARS, bukan himne. Dari segi tempo, penggunaan banyak not 1/16, staccato, tanda ekspresi... semua memenuhi syarat mars. Mungkin anda bisa tanya lagi ke dosen2 atawa pemusik2 ISI Jogja yang hebat2 itu. Saya bukan ahli musik sehingga penjelasan saya bisa saja tidak pas. Pengetahuan musik saya sudah mentok. Hehehe...

    Melodi lagu Jerman diadopsi sebagai nyanyian gerejawi di buku Kidung Jemaat Nomor 262. Judulnya: Kota Sion Kota Allah, syair Indonesia oleh EL Pohan [pakar musik liturgi dan tokoh paduan suara Indonesia]. Melodi asli diciptakan Franz Joseph Haydn, lirik John Newton. Kidung Jemaat, terbitan Yamuger Jakarta, 1984, adalah buku nyanyian gereja-gereja Kristen Protestan di Indonesia.

    Juga bisa ditemukan di buku Nyanyian Kemenangan Iman, penerbit Kalam Hidup, Bandung, 1984, dengan judul Negeri Sion Tempat Indah.

    Di Larantuka, Flores Timur, melodi lagu kebangsaan Jerman diadopsi menjadi lagu kebanggaan kota Larantuka yang dinyanyikan pada penutup Misa Bulan Maria [Mei, Oktober]. Judulnya: Larantuka Punya Renya Maria. Lagu ini sangat dikenal di kota kecil di ujung timur Pulau Flores itu.

    Sekian tambahan penjelasan dari saya.

    ReplyDelete
  8. sebernernya pendahulu kita membuat lagu indonesia bertujuan untuk mempersatukan rakyat di nusantara walaupun lagu tsb banyak kontrovesial sebagai anak bangsa kita harus menghargai karya bangsa sendiri. mari mampir di blog saya ini alamat nya http://regedit.blog.telkomspeedy.com/ jangan lupa komentarnya ya buat blog saya

    ReplyDelete
  9. hidup indonesia raya!!!! lagu ini sangat membantu kita semua dalam menanamkan nasionalisme dan patriotisme kita.

    merdeka!!!!

    ReplyDelete
  10. "Atau, lagu kebangsaan Amerika Serikat yang bisa dibawakan dalam berbagai gaya. Perhatikan siaran langsung tinju yang melibatkan petinju USA. Hampir pasti lagu kebangsaan dibawakan ala soul, black music, pop, dan sebagainya. Sangat tidak resmi! Indonesia Raya tidak bisa begitu!"

    saya pernah lho denger lagu indonesia raya dibawain sama rio febrian tapi nge-soul banget. waktu itu kalo gak salah final kobatama ato semacem itulah. pokoknya pas mau pertandingan basket.

    salam kenal.

    ReplyDelete
  11. bagaimanapun indonesia raya itu lagu kebangsaan yg bergelora... bagus utk indonesia yg berjuang utk merdeka. karakter itu tampak di lagu indonesia raya. lain dg lagu2 kebangsaan negara lain yg memuja2 raja atau ratu..

    ReplyDelete
  12. "Dibandingkan lagu kebangsaan negara-negara lain, Indonesia Raya ini panjang banget. Makan waktu lama. Padahal, kita hanya menyanyikan satu stanza."
    Pernah dengar lagu kebangsaana dari Benua Amerika Selatan? Dalam Undang^2 Brazil, lagu kebangsaaan Brazil harus dinyanyikan dengan dua stanza. Satu stanza jika hanya dimainkan bukan dinyanyikan. Akibatnya? Ketika ada acara olah raga atau sebelum pertandingan sepak bola dimulai, lagu kebangsaaan Brazil harus disunat hingga satu stanza saja. Bahkan lagu kebangsaaan Argentina pun disunat hingga hanya menyisakan intronya saja tanpa lirik yang panjangnya? Satu menit. Pun dengan uruguay yang memiliki intro, chorus, stanza pertama, kemudian chorus kembali. Pada akhirnya menjelang pertandingan sepak bola dimulai lagu kebangsaaan uruguay mau tidak mau harus dipotong hingga menyisakan intro dan chorus saja
    "Tentang lagu kebangsaan Inggris, Belanda, Jerman, Malaysia memang saya kuasai melodinya karena relatif sangat sederhana."
    Ya, lagu kebangsaan yang ada di Eropa Barat kebanyakan memiliki melodi yang sederhana berbeda dengan di Eropa Utara semisal Rusia atau Eslandia yang nadanya sangat tinggi. Bahkan semua nada lagu kebangsaaan Rusia memiliki melodi yang terlalu tinggi
    "Atau, lagu kebangsaan Amerika Serikat yang bisa dibawakan dalam berbagai gaya. Perhatikan siaran langsung tinju yang melibatkan petinju USA. Hampir pasti lagu kebangsaan dibawakan ala soul, black music, pop, dan sebagainya. Sangat tidak resmi! Indonesia Raya tidak bisa begitu!"
    Sayangnya identitas negara kita justru dipertaruhkan di situ. Lagu kebangsaan seperti itu justru merendahkan martabat suatu negara pada pergaulan internasional

    ReplyDelete
  13. kemarin saya dapat tugas untuk mengkoordinasikan petugas koor untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya, sewaktu kemudian ketua menanyakan bisakah lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan bagi 3 suara saya kesulitan untuk menjawab karena selama ini saya tidak pernah mendengar lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan bagi 3 suara, saya mohon petunjuk bapak

    ReplyDelete
  14. Lagu Indonesia Raya HANYA boleh dibawakan satu suara atau unisono. Tidak boleh dua suara, tiga suara, empat suara, dan seterusnya. Begitu menurut ketentuan undang-undang dan peraturan pemerintah.

    Artinya, ketua Anda itu tidak paham aturan tentang lagu kebangsaan. Kira-kira begitu.

    ReplyDelete
  15. yang inngin saya tanyakan bagaimana mengajak anak-anak kecil lebih memahami dan mengenal lagu Indonesia Raya ? karena saat ini banyak anak-anak sekolah tidak hafal lagu Indonesia Raya

    ReplyDelete
  16. roy sukro ehhh roy suryo itu siapa sih..?!?!

    ReplyDelete
  17. haruskah lg mars dinyanyikan dng tempo 120

    ReplyDelete
  18. Sebaiknya tempo mars di atas 100 supaya dapat jiwanya. Kalau tempo terlalu lambat, kurang hidup. Suwun.

    ReplyDelete
  19. Pak Lambertus, saya mohon komentar anda mengenai lagu Kebangsaan kita yang sekarang sering di nyanyikan dengan iringan Orgen (dengan Intro), perasaan saya kurang sreg. Lain rasanya kalau menggunakan Orkestra Lengkap

    ReplyDelete
  20. Pak Lambertus..... saya selalu merinding ketika menyanyikan lagu INDONESIA RAYA ...tidak tau kenapa,, lagu INDONESIA RAYA .. cipt: WR.SUPRATMAN ...dikumandangkan di negeri ini. Sangat cetar membahana... tapi lom terpikirkan lagu untuk sang pembuat lagu... Hari itu 17 agustus 2010 ...kl tidak salah hari SELASA WAGE ,,, aku menyanyikan lagu INDONESIA RAYA ...kemudian tanpa aku sengaja ...aku mendapat inspirasi lagu dan kuberi judul ..'' BAPAK KITA WR.SUPRATMAN'' (bagiku itu sebuah lagu pertama yang kubuat dan sangat istimewa.... tapi belum tentu bagus untuk orang lain)
    inilah syairnya ....

    Bapak KITA WR.Supratman
    Bapak kita WR.Supratman, engkaulah pahlawan mulia,
    Namamu kan selalu terkenang, sepanjang masa...
    Lagumu selalu berkumandang, di nusantara

    Bapak kita WR.Supratman,
    berjuang 'tuk negara,
    Di pundakmu telah tertera,
    semua cita-cita,
    Di dadamu ada lencana...
    putra terbaik bangsa.

    Saya merekamnya di studio,saya les piano satu jam... lalu saya dianugerahi Tuhan bisa bikin lagu anak-anak. Saya rekam sendiri, saya iringi sendiri,saya nyanyikan sendiri, saya edit sendiri, semua sendiri. Kasetnya saya jual sendirI dan lumayan laris, pada cover kaset saya tulis ""LAGUKU BUAT YANG TERCINTA BAPAK KITA WR.SUPRATMAN'''
    Kata anak-anak di tempat saya menyanyikannya ......,
    sungguh mengharukan bagi saya....

    ReplyDelete