20 August 2007

Riwu Ga, orang NTT penyebar berita proklamasi RI


Riwu Ga begitu dekat dengan Bung Karno karena dia satu-satunya yang berada di samping Bung Karno pada saat-saat yang paling berat dalam perjuangan ini.

-- MEGAWATI SOEKARNOPUTRI, 6 September 2004.


Siapa yang kenal almarhum Riwu Ga? Mungkin ada, tapi sangat sedikit. Padahal, orang Nusatenggara Timur (NTT) asal Pulau Sabu ini telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa untuk Republik ini. Saya, yang kebetulan orang Flores, NTT, ikut bangga dengan beliau. Ternyata, orang kecil macam Riwu Ga punya kontribusi besar untuk Indonesia.

Cerita tentang Riwu Ga sudah ditulis Peter A. Rohi, wartawan senior asal NTT, dan diterbitkan menjadi buku. Peter menulis bagaimana Riwu Ga mendampingi Bung Karno [Ir. Soekarno] selama 14 tahun. Sejak di tanah pembuangan, Ende [Flores], ke Bengkulu, Jakarta, hingga Bung Karno menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

Mengutip buku karya Peter A. Rohi, Riwu Ga berperan penting dalam penyebaran berita proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, Soekarno, Hatta, dan para pejuang lainnya mendengarkan proklamasi dan mengibarkan bendera merah putih. Bung Karno, tutur Riwu Ga, menyanyi Indonesia Raya keras-keras.

"Upacara berlangsung sederhana, tapi banyak yang menangis. Saya juga ikut menitikkan air mata," cerita Riwu Ga kepada Peter A. Rohi di pelosok Pulau Timor, NTT, Agustus 1991. Peter perlu merayu pelaku sejarah ini agar mau buka mulut tentang pengalamannya mendampingi Bung Karno.

"Wo, kini giliran angalai (anda). Sebarkan pada penduduk Jakarta bahwa kita sudah merdeka. Bawa bendera!" perintah Bung Karno kepada Riwu Ga, yang akrab dia sapa Wo.

Maka, Riwu Ga membawa bendera merah putih di atas jip terbuka yang dikemudikan Sarwoko.

"Saya melambai-lambaikan bendera itu. Rakyat berjubel menyambut kami. Saat itu memang tegang. Siapa tahu tiba-tiba kami dicegah atau ditembak Kenpeitai. Tapi ini tugas nasional dari Bung Karno. Maka, saya pun berteriak memberitahukan penduduk Jakarta yang tumpah ke jalan: Hei, rakyat Indonesia, hari ini kita sudah merdeka!"

Ucapan Riwu Ga beroleh sambutan. Semua oang di sepanjang jalan mengepalkan tangannya ke atas, lalu berpekik, "Merdeka! Merdeka!"

Dari Pegangsaan Timur, Riwu Ga bergerak ke Tanah Abang, Pasar Baru, Jatinegara, Pasar Ikan... seluruh sudut Jakarta. Hari itu, tulis Peter A. Rohi, penduduk Jakarta mendengar berita proklamasi kemedekaan dari mulut Riwu Ga, orang NTT. Tidak mungkin dengar radio karena sudah disegel pasukan Jepang.

Sore hari, setelah mendengar berita proklamasi, warga Jakarta berkumpul di Pegangsaan Timur. Banyak yang bawa senjata siap siaga menghadapi segala kemungkinan. "Saya dengar mereka bisik-bisik untuk melucuti tentara Jepang. Kita harus punya tentara, dan tentara itu haus punya senjata. Begitu kata penduduk," papar Riwu Ga.

Seperti diketahui, proklamasi 17 Agustus 1945 berlangsung pada hari Jumat, bulan Ramadan atau puasa. Ketika azan magrib dikumandangkan, rakyat yang berkumpul di Pegangsaan melakukan sujud syukur. Ada yang ke masjid. Ada yang salat di halaman rumah. Lalu, buka puasa bersama-sama.

Pesan Bung Karno ketika masih berada di Flores, 1934-1938: "Kalau sudah merdeka, tidak ada lagi Jawa, tidak ada lagi Timor, Flores, atau Sabu."

Esok harinya, 18 Agustus 1945, Bung Karno resmi menjadi presiden. Kepala negara tentu membutuhkan ajudan, pembantu, staf administrasi... yang cakap. Riwu Ga merasa tahu diri dan minta pamit pada Bung Karno dan Ibu Fatmawati.

"Saya orang kampung, buta huruf lagi. Tapi saya sudah siap kembali ke kampung halaman saya," ujar Riwu Ga.

Sabtu, 17 Agustus 1996, sekitar pukul 18.10 Witeng, Riwu Ga meninggal dunia di Rumah Sakit W.Z. Johannes, Kupang, setelah dirawat selama tiga minggu karena tifus dan komplikasi. Usianya 78. Riwu Ga meninggalkan istrinya, Belandina Riwu Ga, bersama sembilan anak dan 16 cucu.

Tak ada pesan atau wasiat apa pun dari almarhum Riwu Ga. Almarhum juga tak pernah meminta dimakamkan di taman makam pahlawan atau minta gelar pahlawan nasional. "Orang tua kami hidup sederhana. Selama hidup beliau tak pernah minta fasilitas kepada pemerintah," kata Nona Ritha Foeh, keluarga Riwu Ga.

Tentang Riwu Ga, Megawati Soekarnoputri [anak Bung Karno, mantan presiden] menulis:

"Riwu Ga menjadi sekrup kecil yang sangat menentukan ketika sejarah menemukan jalannya. Andaikata dia tidak ada, andai kata dia tidak dekat dengan Bung Karno, dan sejuta andai kata lagi, bisa membelokkan sejarah negeri ini."

No comments:

Post a Comment