14 August 2007

Rindu sama Ebiet G. Ade




















 
NYANYIAN RIDU

coba engkau katakan padaku
apa yang seharusnya aku lakukan
bila larut tiba, wajahmu terbayang
kerinduan ini semakin dalam

gemuruh ombak di pantai kuta
sejuk lembut angin di bukit kintamani
gadis-gadis kecil menjajakan cincin
tak mampu mengusir kau yang manis

bila saja kau ada di sampingku
sama-sama arungi danau biru
bila malam mata enggan terpejam
berbincang tentang bulan merah

coba engkau dengar lagu ini
aku yang tertidur dan tengah bermimpi
langit-langit kamar jadi penuh gambar
wajahmu yang bening sejuk segar

kapan lagi kita akan bertemu
meski hanya sekilas kau tersenyum
kapan lagi kita nyanyi bersama
tatapanmu membasuh luka oh...
du..du.. du.. du....

coba engkau dengar lagu ini
aku yang tertidur dan tengah bermimpi

(Dipetik dari album Ebiet G. Ade in Love, 2007)



Tiga pekan ini saya tersihir lagi oleh lagu-lagunya Ebiet G. Ade. Pak Ebiet, apa kabar? Gara-gara membeli album baru Pak Ebiet, tajuknya 'Ebiet G. Ade in Love 25th Anniversary', beta terkenang lagi suara, gaya, syair, penampilan....

Kini, hampir tiap hari saya memutar album Ebiet G. Ade baik yang baru rilis maupun lama. Tak ada rasa bosan sedikit pun. Makin didengarkan, direnungkan, beta makin mabuk dengan kata-kata khas Pak Ebiet. Tak syak lagi, Ebiet G. Ade punya tempat khusus di hatiku dan, mungkin, banyak orang Indonesia.

Kalau tak salah, Ebiet G. Ade mulai merilis album perdana, Camellia I, tahun 1977. Usia Ebiet waktu itu tentu masih muda, di bawah 30. Tapi kok syair-syairnya sangat matang, dipadu melodi manis, aransemen, dan semuanya yang serba apik? Wah, anak-anak muda tahun 1970-an rupanya ditempa zaman menjadi manusia matang.

Melodi matang, syair matang, indah nian. Sederhana tapi bernas.

Saya merenung. Makin tahun, ketika pembangunan fisik sangat maju, teknologi informasi, internet, digitalisasi, televisi berjibun, teknologi rekamanan luar biasa, alat musik sangat canggih... kematangan penyanyi Indonesia kok tak ada lagi ya? Setidaknya makin sulit ditemukan di era serbainstan ini. Makin lama kok makin sulit menemukan sosok macam Pak Ebiet.

Simak saja lagu-lagu pop masa kini. Ben-ben terkenal. Liriknya macam apa sih? Begitu-begitu saja lah. Cinta remaja tanpa kedalaman, hanya permukaan. Sulit beta menemukan lirik-lirik puitis, kuat, reflektif....

Pak Ebiet, penyanyi yang sangat religius itu, salah satu dari sangat sedikit seniman musik di negeri kita. Di Indonesia begitu banyak penyanyi, penulis lagu, pemain musik, tiap saat ada kontes nyanyi... tapi sangat sedikit yang layak disebut seniman.

Dan seniman tidak akan pernah dilahirkan secara instan. Tidak akan lahir berkat dukungan pesan pendek (SMS) yang manipulatif itu.

Wahai, Ebiet G. Ade, katakanlah pada kami, mengapa tuan bisa membuat lagu dengan melodi dan syair begitu kuat selama 25 tahun? Resepnya apa? Rumusnya apa?

Ketika negeri ini dilanda nestapa, bencana, dukacita, lagu-lagumu hadir menguatkan hati anak bangsa. Kita selalu diajak merenungkan hidup, kehidupan, berikut berbagai misterinya.

Ini bukan hukuman
Hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah....


Saya ingat benar suasana misa requiem mengenang para korban bencana tsunami Aceh di Katedral Surabaya. Ratusan jemaat menangis saat mendengar lagu ini, Untuk Kita Renungkan.

"Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih. Suci lahir dan di dalam batin. Tengoklah ke dalam sebelum bicara. Singkirkan debu yang masih melekat."

Ebiet G. Ade memperlihatkan kepada kita, bangsa Indonesia, bahwa menjadi penyanyi rekaman (industri) itu tidak harus glamor. Cat rambut norak. Goyang heboh macam Inul Daratista dan sejenisnya.

Saya melihat langsung beberapa konser Ebiet G. Ade di Surabaya dan Malang. Ia bawa gitar akustik, duduk di kursi. Pakaiannya sederhana saja macam orang biasa. Di panggung ia tak pakai teriak-teriak, bergaya norak artis sekarang. Santai dan santun.

Tapi, ketika Ebiet G. Ade sudah memetik gitar dan bernyanyi, amboi, kita dibawa berenang dalam lautan puisi. Kata-kata apik yang tak jauh dari keseharian kita.

Tentang 'cinta yang bukan mesti bersatu'. Tetang kita 'yang masih dibei waktu'. Tetang 'roda zaman mengilas kita, terseret tertatih-tatih'. Ajakan bertanya 'kepada rumput yang bergoncang'. Tentang 'bercumbu dengan bayang-bayang'.

Luar biasa!

Semua lagu ciptaan Ebiet G. Ade [dan ia menyanyikan hanya lagu-lagunya sendiri] adalah puisi sekaligus filosofi. Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. "Padahal, saya tidak pernah membayangkan bahwa lagu-lagu saya bakal menjadi back sound untuk siaran bencana alam di televisi," ujar Ebiet G. Ade di Surabaya, tahun 2005.

Kembali ke album Ebiet G. Ade tahun 2006 yang baru saja dirilis. Total 16 lagu. Hanya satu lagu baru: Demikianlah Cinta. Lainnya, 15 lagu, tak asing lagi di telinga kita, khususnya penggemar Ebiet G. Ade di nusantara. Dua lagu diaransemen ulang oleh Anto Hoed, suami penyanyi dan penulis lagu Melly Goeslaw.

Tadinya saya sangka Anto Hoed 'merusak' langgam gaya Ebiet G. Ade yang sudah klasik itu. Saya salah duga ternyata. Aransemen Anto Hoed, khususnya string section, membuat dua lagu itu [Nyanyian Rindu, Camellia 3] bertambah manis. Karakter Ebiet sudah begitu kuat, sehingga di tangan penata musik siapa pun, Ebiet tetaplah Ebiet.

Dua lagu lama [aransemen baru] ini sungguh membuat beta kagum akan keunggulan Ebiet G. Ade di belantika musik Indonesia. Ketika industri musik kita dijajah habis oleh ben-ben dengan pola lagu, syair, cara menyanyi, sama dan dangkal, Ebiet G. Ade datang pada saat yang tepat. Ebiet G. Ade datang membawa 'nyanyian rindu'.

Yah, kita rindu penyanyi yang benar-benar seniman, membawa misi spiritual untuk bangsanya. Bukan artis yang sekadar mengumbar sensualitas, seksualitas, kata-kata hampa. Ebiet G. Ade, terima kasih banyak. Salam saya untuk anda dan keluarga! Semoga anda tetap berkarya, memberi warna tesendiri bagi musik Indonesia.

Bulan lalu saya dengar wawancara Ebiet G. Ade di Radio Suara Surabaya. Pak Ebiet bilang album baru ini hanya untuk mengetes pasar. Di mana gerangan Ebiet G. Ade setelah berkecimpung di dunia musik selama 25 tahun? Apakah penggemar Ebiet masih ada? Apakah generasi baru konsumen musik, yang usianya sama atau di bawah anak-anak Ebiet, masih bisa menikmati suara, puisi, melodi, gaya Ebiet G. Ade?

Syukurlah, waktu itu para pendengar Suara Surabaya menyampaikan kerinduannya untuk Ebiet G. Ade. Mereka ingin Pak Ebiet tetap berkarya. Tetap bikin album. Tidak boleh pensiun dulu. Kenapa? Bangsa Indonesia yang semakin ditelan globalisasi butuh seniman yang berkarakter.

Lagu-lagu Ebiet G. Ade senantiasa mengajak kita untuk mencintai sesama, mencintai Tuhan, mencintai alam. Selalu mengambil hikmah, pelajaran, dari pengalaman sepahit apa pun.

Tuhan ada di sini
Di dalam jiwa ini
Berusahalah agar dia tersenyum
Berusahalah agar dia tersenyum


Pak Ebiet, saya mau bicara apa lagi ya? Lagu-lagu anda sungguh menjadi berkat bagi beta. Menjadi bahan introspeksi, koreksi diri, menuju hari esok yang lebih baik. Pak Ebiet, terima kasih!


CAMELLIA 3

di sini di batu ini
akan kutuliskan lagi
namaku dan namamu

maafkan bila waktu itu
dengan tuliskan nama kita
kuanggap engkau berlebihan
oh....

sekarang setelah kau pergi
kurasakan makna tulisanmu
meski samar tapi jelas tegas
engkau hendak tinggalkan kenangan
dan kenangan

di sini kau petikkan kembang
kemudian engkau selipkan
pada tali gitarku

maafkan bila waktu itu
ku cabut dan ku buang
kau pungut lagi dan kau bersihkan
oh.....

engkau berlari sambil menangis
kau dekap erat kembang itu
sekarang baru aku mengerti
ternyata kembangmu kembang terakhir
yang terakhir

oh... Camellia,
katakanlah di satu mimpiku
oh... Camellia,
maafkanlah s'gala khilaf dan salahku

di sini di kamar ini
yang ada tinggal gambarmu
ku simpan dekat dengan tidurku
dan mimpiku


(Dipetik dari album Ebiet G. Ade in Love, 2007)

6 comments:

  1. salam kenal mas hurek..

    saya senang sekali membaca tulisan anda tentang Ebiet, begitu mengalir..beberapa kali saya baca blog ini, asyik banget bisa menulis seperti anda.. saya kebetulan penggemar Ebiet, dari kecil jaman rumput bergoyang sampai sekarang. Resensi yang mas hurek tulis sangat cocok dengan pendapat saya tentang lagu-lagu sekarang..

    masih senang mendengarkan Ebiet ?

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga mas

    Seandanya saya bisa menuangkan kekaguman saya terhadap ebiet dalam tulisan seperti mas,wah saya bangga sekali..dari masih enggak ngerti makna syairnya ebiet sampai saya ngerti saya masih suka sama syair lagunya sampai sekarang...

    Untuk saat sekarang sulit mencari penyanyi dengan syair yang penuh makna seperti ebiet..kebanysksn penysnyi sekarang syairnya kurang berbobot,tidak bermakna dalam..

    lagu favorit saya

    Ayah Aku Mohon Maaf

    oleh: Ebiet G. Ade

    Dan pohon kemuning akan segera kutanam
    Satu saat kelak dapat jadi peneduh
    Meskipun hanya jasad bersemayam di sini
    Biarkan aku tafakkur bila rindu kepadamu

    Walau tak terucap aku sangat kehilangan
    Sebahagian semangatku ada dalam doamu
    Warisan yang kau tinggal petuah sederhana
    Aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan

    Meskipun aku tak dapat menungguimu saat terakhir
    Namun aku tak kecewa mendengar engkau berangkat
    Dengan senyum dan ikhlas aku yakin kau cukup bawa bekal
    Dan aku bangga jadi anakmu

    Ayah aku berjanji akan aku kirimkan
    Doa yang pernah engkau ajarkan kepadaku
    Setiap sujud sembahyang engkau hadir terbayang
    Tolong bimbinglah aku meskipun kau dari sana

    Sesungguhnya aku menangis sangat lama
    Namun aku pendam agar engkau berangkat dengan tenang
    Sesungguhnyalah aku merasa belum cukup berbakti
    Namun aku yakin engkau telah memaafkanku

    Air hujan mengguyur sekujur kebumi
    Kami yang ditinggalkan tabah dan tawakkal

    Ayah aku mohon maaf atas keluputanku
    Yang aku sengaja maupun tak kusengaja
    Tolong padangi kami dengan sinarnya sorga
    Teriring doa selamat jalan buatmu ayah tercinta

    ReplyDelete
  3. Nyanyian Rindu selalu mengingatkanku pada seseorang yang sangat berarti,saat menghabiskan liburannya di Bali bersamaku. Dia berada di Ende..Aku jadi ingin ke Ende.

    ReplyDelete
  4. salut aku!!! kalo mau bahs tentang sang maestro ini, silakan gabung di EBIET G.ADE forever.. ty

    ReplyDelete
  5. Mantap banget tulisannya mas... Saya juga sangat suka dengan kalimat2 puisi dalam lagu ebiet.. Speechless deh pokoknya.. Matang dan merdu.. Juga rumit

    ReplyDelete
  6. *Ayo yg belum pesan Tiket LAUNCHING Komunitas Tembang Lawas Korda Jakarta mempersembahkan 1 JAM BERSAMA EBIET G ADE, Silahkan di order Tiket di FB Kotela Jakarta atau dgn Micka 085782377702, Rano 085717029990, 081317029990

    ReplyDelete