11 August 2007

PKS Pemenang Sejati Pilkada Jakarta

Pemilihan gubernur Jakarta berlangsung 8 Agustus 2007. Belum sampai maghrib beberapa lembaga survei mengumumkan hasil hitung cepat atawa quick count. Fauzi Bowo-Prijanto unggul atas Adang Daradjatun-Dani Anwar. Kemenangan yang sudah bisa diprediksi oleh orang awam.

Menurut Lembaga Survei Indonesia peroleh suara Adang-Dani: Fauzi-Prijanto 43,33% : 56,12%. Lingkaran Survei Indonesia 41,41% :58,59%. LP3ES 42,4% : 57,6%. Litbang Kompas 42,24% : 57,76%. Secara umum hasil hitung cepat beberapa lembaga ini sama saja. Bahwa Fauzi-Prijanto unggul sekitar 60%. Hasil resmi (populasi) kita tunggu saja pengumuman Komisi Pemilihan Umum Jakarta.

Sekadar mengingatkan, Fauzi-Prijanto didukung oleh 20 partai. Adapun Adang-Dani hanya didukung satu partai: Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Benarlah pendapat bahwa PKS dikeroyok ramai-ramai oleh 20 partai. PKS pemain seorangan, solo run player, tapi sangat tangguh. Bayangkan, hanya satu partai dia bisa dapat suara 40 persen.

Lalu, muncul analisis tentang mesin politik partai. Benarkah mesin politik 20 partai pendukung Fauzi-Prijanto itu bekerja? Lha, kok menangnya cuma sedikit? PKS seorang diri kok bisa setangguh itu. Saya tertawa saja dalam hati menyaksikan debat dan analisis di televisi-televisi Jakarta.

Hehehe....

Saya ketawa karena kebetulan banyak tahu perilaku politisi dan partai-partai di Indonesia. Saya, meskipun orang kampung, dulu kerap bikin analisis kecil-kecilan tentang perilaku orang-orang partai mulai pengurus ranting (desa), anak cabang (kecamatan), cabang (kabupaten), wilayah/daerah (provinsi), hingga pusat.

Sejak awal reformasi sampai sekarang tabiat politisi kita sama saja. Sami mawon, kata orang Jawa, kecuali Partai Keadilan Sejahtera.

Pengamat di Jakarta bilang mesin politik 20 partai pengusung Fauzi-Prijanto kurang jalan. Hehehe... Kayak gak tahu saja. Mesin politik dalam arti kader di ranting sampai provinsi memang ada, tapi mana 'bensinnya'? Tanpa bahan bakar, bensin, solar... apa pun namanya mesin tidak jalan. Kalaupun ada sedikit bensin, tapi mesine bobrok, ya gak iso mlaku, Cak!

Saya tahu persis kejadian saat pemilihan presiden tahun 2004. Megawati Soekanoputri, ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), jadi calon presiden. Dia punya partai besar. Megawati ibarat dewi, sangat karismatis, di PDIP. Tapi, saya tahu, kader-kader di lapangan tidak bekerja untuk memenangkan jagonya.

"Uangnya mana, Cak? Kalau nggak ada uang, bagaimana kita bisa bergerak? Semua kegiatan itu kan perlu uang," kata seorang kader PDIP di Sidoarjo. Kata-kata yang sama disampaikan kader banteng gemuk di Surabaya. Ada uang alias bensin baru bergerak. Habis uang, ya tidurlah dia.

Begitu apatisnya kader-kader PDIP, termasuk politisi yang baru saja terpilih sebagai anggota parlemen di daerah. Mereka lesu bak kurang darah. Hanya sedikit basa-basi di media, seakan-akan mereka kerja keras, kampanye, untuk Megawati. Militansi kader partai tak ada. Orientasi yang melulu pada uang telah membuat Megawati kalah dari Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004. Terlepas bahwa citra Susilo saat itu sangat bagus.

Saya tidak sempat ke Jakarta menjelang pilkada kemarin. Tapi saya duga penyakit kader-kader partai di daerah sama saja dengan di Jakarta. Benar bahwa 20 partai mengusung Fauzi-Prijanto. Benar beberapa ketua partai beriklan di televisi untuk Fauzi-Prijanto. Benar bendera-bendera partai dibawa ke lapangan kampanye. Benar partai-partai (di luar PKS) ramai-ramai ikut pawai untuk Fauzi-Prijanto.

Tapi benarkah mereka kerja keras, habis-habisan... agar Fauzi-Prijanto menang? Hua-hua-hua..... Tahu sendirilah tabiat politikus kita. Elite di pusat macam Pramono Anung, Idrus Marham, Agung Laksono cakap bicara, piawai bersilat lidah. Tapi saya yakin mesin politik itu tidak jalan.

Tamrin Amal Tomagola, pengamat politik dan sosiolog, menulis di KOMPAS (10/8/2007):

"Kedua puluh parpol (partai politik) ini hanya secara harfiah menyewakan logo resmi surat keputusan pencalonan. Itu saja. Mereka diketahui tidak banyak menyumbang dana. Juga tidak habis-habisan dalam memobilisasi mesin organisasi semasa kampanye."

Bagaimana dengan PKS?

Saya kebetulan tahu lumayan banyak tentang PKS. Sejak kuliah saya berteman dengan para aktivis dakwah kampus, yang kini banyak di PKS. Sampai sekarang pun saya kerap dapat SMS undangan meliput acara-acara PKS di Surabaya dan Sidoarjo. Karena itu, saya hafal tabiat kader-kader PKS.

Amboi! Betapa bedanya PKS dengan partai-partai lain di Indonesia. Bisa saya katakan, sejak Indonesia merdeka belum pernah ada partai dengan militansi kader sehebat PKS. Teman-teman PKS saya lihat tak hanya piawai beretorika, cakap angin, tapi benar-benar kerja untuk misi partai. Berpartai di PKS itu tak ubahnya ibadah.

Manajemen, tatakelola, pembinaan kader... ala PKS sungguh dahsyat. Ideologi ditanamkan sampai matang. Visi misi. Gerak perjuangan. Agenda isu. Hampir semua bidang digarap teman-teman PKS. Kadir, teman saya di Sidoarjo yang bukan PKS, mengatakan bahwa orang-orang PKS itu punya komitmen total pada partainya.

"Partai itu kayak agama saja. Disiplin organisasi mereka luar biasa, dan itu membuat mereka sangat solid," ujar si Kadir. Saya sangat setuju. Bahkan, saya tahu persis dari pengalaman meliput acara-acara PKS atau sekadar mengikuti berita-berita di media massa.

Bagaimana dengan mesin politik PKS?

Jangan tanya lagi. Saya jamin orang-orang PKS bergerak dengan segala daya, dana, kekuatan untuk memenangkan kandidat yang sudah dikomitkan pemimpinnya. Ada kesamaan antara pernyataan di bibir dengan aksi di lapangan. "Galanglah minimal 10 pendukung untuk masing-masing kader!"

Jika ada instruksi macam ini, saya yakin kader PKS akan bergerak. Dia bukan hanya dapat 10, tapi bisa 15 atau 20. Orang-orang PKS, setahu saya, tidak menggerutu soal uang bensin, uang rokok, tapi langsung bergerak. Bisa jadi pakai uang sendiri untuk kampanye Adang-Dani di Jakarta. Kalau ada instruksi bikin aksi untuk Palestina serentak, maka orang-orang PKS di seluruh Indonesia bergerak.

Saya punya pengalaman meliput pilkada di Sidoarjo bersama orang-orang PKS, 9 September 2005. Tidak ada quic count. Ada tiga pasangan calon bupati, dan PKS mendukung Win Hendrarso-Saiful Ilah (calon dari PKB) bersama PKB, PAN, PDS, dan beberapa partai lagi. Di sini komitmen PKS diuji. PKS tak punya calon sendiri, beda dengan pilkada di Jakarta yang ada Dani Anwar.

Toh, kader-kader PKS bergerak habis-habisan untuk menyukseskan Win-Saiful. Banyak acara digelar untuk memenangkan calonnya. Saat pencoblosan, semua kader PKS dikerahkan ke 353 desa di seluruh Kabupaten Sidoarjo, baik sebagai saksi maupun pemantau.

Hasilnya dahsyat! Selepas maghrib, data perolehan suara dari 353 desa sudah ada di kantor PKS Sidoarjo, kawasan Pasar Larangan. Data lengkap alias populasi, bukan quick count yang hanya pakai sampel atau contoh. Win-Saiful menang telak.

"Kami punya kader-kader di lapangan yang memasok data. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar," kata Habibul Muiz, ketua PKS Sidoarjo (waktu itu), kepada saya.

Pak Habibul ini kerap mengundang saya dalam acara-acara PKS di Sidoarjo, dulu. Bahkan, katanya, dia suka catatan-catatan politik saya di surat kabar. Hehehe....

Tapi dalam dua tahun terakhir saya sudah tidak lagi menulis artikel atau analisis politik. Capek! Kritik terus, kecam sana-sini, tapi perilaku politisi kita tak banyak berubah. Rakyat pun tetap miskin. Makanya, saya lebih banyak bikin tulisan-tulisan ringan tentang musik, wisata alam, hal-hal ringan lah.

Dari kasus pilkada Jakarta, kemudian event politik lain, saya ingin mengatakan bahwa PKS semakin membuktikan diri sebagai partai masa depan. Partainya kader militan. Partai yang diisi para kader loyal, tangguh, dan menghabiskan begitu banyak energi untuk misi partai. Kader yang, meminjam ucapan teman saya, menjadikan partai sebagai 'agamanya'.

Lha, kalau partai-partai lain tidak mau berbenah, mendidik kader, membenahi manajemen, mempertahankan status quo yang buruk, ya, usianya tak akan lama. Tunggulah kehancurannya! Dan, suka tidak suka, PKS yang akan terus berjaya.

2 comments:

  1. saya rasa pikiran sampeyan benar bung. partai2 banyak yg kehilangan ruhnya, kecuali barangkali yang satu itu.

    setidaknya harapan perbaikan bagi bangsa ini tetap ada dan tidak semua warga hanya bergerak ketika dibayar. salam.

    ReplyDelete
  2. BARU!!! www.jktlinks.com



    Menghubungkan semua badan usaha khusus di Jakarta.

    Gratis untuk mencatumkan link webside Saudara bulan ini.

    Badan usaha tidak mempunyai website???

    Kami dapat memberikan paket komplit dengan harga bagus.



    Hormat kami,

    Jeffrey & Feggy

    Managing Director

    Jakarta Links



    Webshop: http://webshop.jakartalinks.com

    ReplyDelete