04 August 2007

Pak Suryadi Dalang di Kakekbodo


Betapa bedanya dalang kondang, Ki Mantheb Soedarsono atau Ki Anom Suroto, dengan dalang-dalang kampung di Jawa Timur. Saat ini Pak Manthep jadi bintang iklan kampanye Fauzi Bowo di Jakarta.

Muncul di televisi. Tanggapan di mana-mana. Bicara di seminar. Melayani wawancara media. Jadi dalang setan....

Sekali tanggapan bisa puluhan juta rupiah. Ke mana-mana Pak Manthep pakai mobil mewah layaknya selebritas pop. Bagus jugalah, seniman tradisi beroleh penghargaan macam Pak Mantheb atau Pak Anom. Mengapa hanya ben-ben pop, penyanyi, bintang film yang dibayar mahal, bukan?

Nah, pekan lalu saya omong-omong dengan Pak Suryadi di warung baksonya. Tiap hari dia jualan bakso, kopi, teh, air mineral... di dekat air terjun kakekbodo, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Kalau sampeyan pesiar-pesiar di pegunungan, mampir ke kakekbodo [tempat wisata tekenal lho!], silakan mampir dan diskusi sama Pak Suryadi. Orangnya ramah, terbuka, apa adanya.

Pak Suryadi ini dalang jawa timuran. Dalang wayang kulit yang memainkan lakon-lakon ala Jawa Timur. Saya cerita tentang beberapa dalan wetan [jawa timuran] yang baru-baru ini mengisi program rutin di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya.

"Waduh, kalau saya sih sudah lama gak main. Sepi tanggapan, Cak," tukas Pak Suryadi lalu tertawa kecil. Tanpa beban, khas wong cilik. Sudah berbulan, bahkan bertahun, tidak tanggapan sehingga Pak Suryadi menekuni 'bisnis' bakso di air terjun kakekbodo.

"Perut ini kan harus selalu diisi. Kalau gak jualan, mau makan apa saya ini," ujarnya.

Kenapa tidak ditanggap? Banyak sebab. Di mana-mana pasaran seni tradisi memang turun, apalagi wayang kulit. Di kota macam Surabaya penggemar wayang kulit sangat sedikit, bahkan nyaris tidak ada lagi. Kecuali, ya, orang-orang 60 tahun ke atas. Anak-anak muda?

"Itu mah katro, ndeso, kampungan...," begitu makian anak-anak muda yang kerap saya dengar. Apa boleh buat, generasi muda kita, di Jawa Timur, memang sudah asing dan 'diasingkan' dengan budayanya sendiri. Apa-apa yang diimpor dari luar [musik, tangga nada, film, artis, buah-buahan, cewek, komoditas...] selalu dianggap lebih baik.

Menurut Pak Suryadi, tanggapan biasanya ada saja dari warga yang kebetulan punya hajat. Tapi ia tolak karena tarifnya terlalu murah. "Masa saya dibayar Rp 2,5 juta? Apa bisa untuk semua pemain yang sekian banyak itu? Lalu, satu orang dapat berapa? Gak mentolo mereka itu!"

Daripada makan hati, Pak Suryadi memilih 'istirohat' dulu dari dunia pedalangan. Ia optimistis suatu saat datang rezeki, dan ia akan turun gunung untuk memainkan lakon-lakon khas jawa timuran.

"Cak, yang namanya dalang itu gak ada pensiunnya," ujar Pak Suryadi lalu menyilakan saya minum kopi.

"Bupati, gubernur, presiden... ada pensiunnya. Ada istilah bekas bupati, bekas camat.... Tapi apa sampeyan pernah dengar bekas dalang? Nggak ada! Sampai mati ya saya ini dalang, meskipun saya sudah jarang main."

Saya lalu cerita tentang Pak Soenarjo, wakil gubernur Jawa Timur, yang juga dalang bukan jawa timuran. Pak Narjo ini sering banget tampil di televisi lokal di Surabaya. Ndalang ke mana-mana, ditemani pelawak Kirun plus grup campursari. Kini Pak Narjo gencar mencalonkan diri sebagai gubernur.

"Apa sampeyan tahu itu?"

"Tahulah! Saya ini biar di kampung, tapi tetap dapat informasi sosial politik lho. Gak apa-apa, kalau beliau mau ndalang ya silakan saja. Orang itu kan ada rezeki dan jalannya sendiri-sendiri," ujar Pak Suryadi.

Saya tahu Pak Suryadi aras-arasan bicara politik. Maka, saya pun cepat-cepat mengalihkan pembicaraan ke soal lain. "Kenapa di Tretes kok banyak pelacur dan germo?" tanya saya sekenanya.

"Hehehe... Kalau itu sih sejak zaman dulu sudah ada. Bolak-balik diobrak ya pancet ae. Namanya juga mereka usaha, dagang, ya, tetap akan ada. Yang penting kita masing-masing jaga diri. Gak usah ngurusi orang lain," ujar Pak Suryadi.

Lalu, saya pun pamit pulang. Saya ingat terus kata-kata Pak Suryadi: dalang itu tak kenal pensiun!



Suasana air terjun kakekbodo di Prigen, Pasuruan, Agustus 2007.

No comments:

Post a Comment