02 August 2007

Ngaben Massal Pertama di Sidoarjo


Foto oleh Abdullah Munir.

Sekitar 300 umat Hindu dari berbagai daerah di Jawa Timur menggelar pitra yadnya bersama di Pura Prajapati, Desa Gisikcemandi, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Kamis (2/8). Keluarga, ahli waris, pengurus parisada, dan umat Hindu umumnya mengikuti rangkaian upacara sakral pertama di Jawa Timur itu.

Sejak Rabu, umat sudah berkumpul dan menggelar persiapan di kompleks makam milik TNI Angkatan Laut itu. Pihak keluarga membawa simbol sawe (jenazah) dan dijejerkan di meja khusus. Foto-foto korban diletakkan di depan simbol sawe alias pengawak sawe tersebut.

"Acara ini diikuti umat kami dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Kediri, dan Blitar. Untuk ngaben proses pertama ada 27 jenazah, sedangkan besoknya (hari ini, red), proses kedua atau memukur, ada 31 jenazah. Kenapa begitu? Karena empat di antaranya sudah menjalani tahap pertama," papar Wayan Suwarna.

Nama-nama jenazah yang diabeni, antara lain, Hawari, Juminah Rahayu, Sumarinah, I Wayan Rebyog, Suhermin, Kardjono, Mardjuki, Tohir, Taslimah, AA Ngurah Oka Parwata, Kartono, Ida Ayu Nyoman Manik, Sunar Mulyatiningsih, Sarkan Joyo Sudarmo, Siti Aminah, Sukijah, I Wayan Sudiarso, I Wayan Regong. Selanjutnya, Made Suhardana, I Nyoman Djaten, Ni Ketut Marmi, Sunjoto, Rakim, Simin Djojo Soemanto, I Ketut Lidera, I Wayan Lingga Indaya.

Ritual ini berlangsung sangat panjang. Selama dua hari penuh, siang-malam, umat mengikuti rangkaian prosesi keagamaan untuk mendoakan awah keluarganya. Karena itu, disediakan dapur umum di samping tempat upacara yang berada di kawasan tambak tradisional.

Dipimpin empat pendeta dari Surabaya, Malang, dan Blitar, ahli waris dan umat melantunkan tembang dan doa-doa khas Hindu. Berjalan membawa sesajen, memerciki air suci, membakar dupa, meditasi, hingga hening total sambil mendengarkan pembacaan ayat suci.

Puncak acara ditandai dengan pembakaran simbol jenazah (pengawak sawe). Abu bakaran dimasukkan ke dalam cengkir kelapa gading untuk selanjutnya dilarung ke laut. "Ini supaya sang atma lepas dari ikatannya, menjadi suci," jelas I Wayan Suwarna, ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Jawa Timur.

Adapun memukur, tahap kedua yang digelar hari ini, merupakan proses pelepasan badan halus. Setelah dibakar, disimbolkan dengan puspa sarira, maka parpurnalah proses perpindahan manusia dari alam fana ke alam baka dalam konsep agama Hindu.
Menurut Ketua PHDI Jawa Timur I Wayan Suwarna, pengabenan kemarin hanya berupa simbol karena jenazah yang sebenarnya sudah dibakar lebih dulu di tempatnya masing-masing. Hanya saja, proses itu belum sempurna karena berbagai kendala dan keterbatasan.

Kolonel purnawirawan, satu angkatan dengan Menko Polhukam Widodo Adi Sutjipto pada 1968 di Akademi TNI Angkatan Laut, ini kemudian menjelaskan panjang lebar makna pitra yadnya dalam konsep Hindu. Singkatnya, pembakaran mayat atawa ngaben bermakna melepaskan sang atma (roh) dari ikatan badan kasar (suksma sarira) yang telah mati. Nah, kemarin, tidak ada pembakaran "karena jenazah telah nitip digeni oleh keluarganya. Maka, yadnya dilaksanakan dengan jenazah simbol atau pengawak sawe".

Menurut Wayan Suwarna, upacara pitra yadnanya bersama seperti kemarin akan ditradisikan di Jawa Timur demi efisiensi. Sebab, jika ngaben dilaksanakan seperti di Bali, maka biayanya terlalu mahal. "Di Bali paling sedikit Rp 15 juta. Di sini, karena bersama-sama, hanya Rp 1 juta. Khusus untuk pendeta atau pejabat parisada, gratis," papar Wayan.

Persoalan lain, umat Hindu di Jatim, meskipun kebanyakan keturunan Bali, sudah punya gap dengan sanak kerabatnya di Bali. Karena sudah bertahun-tahun meninggalkan kampung halamannya, bahkan melahirkan anak-cucu di Jatim, mereka kurang dikenal di Bali. Karena itu, kurang afdal kalau bikin ngaben lengkap di Bali.

"Kami sudah membuat infrastruktur di sini sejak tahun 2002. Mudah-mudahan dua tahun sekali kami bisa mengadakan di sini atau tempat lain di Jatim," kata Wayan Suwarna.

1 comment:

  1. Saya sangat salut dengan upaya ini. Semoga tetap lestari dan generasi penerus dapat melanjutkan ini dengan baik.
    Btw, saya boleh bertanya...saya membaca ada kelapa cengkir yang digunakan dalam upacara tersebut. Dimana ya kelapa cengkir tersebut bisa diperoleh? Terima kasih....

    ReplyDelete