17 August 2007

Mbah Tardjo dapat bintang mahaputra

Wakil Ketua DPR RI Soetardjo Soerjogoeritno (73) mendapat anugerah Bintang Mahaputra Adipradana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Apa reaksi politikus senior yang akrab disapa Mbah Tardjo itu?


RABU (15/8/2007), penampilan Soetardjo Soerjogoeritno alias Mbah Tardjo berbeda dari biasanya. Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 30 April 1934, yang biasanya ceplas-ceplos, suka bercanda, ini terlihat serius dan agak tegang. Berdampingan dengan Letjen TNI (Pur) Rais Abin, Mbah Tardjo mendapat penghargaan bergengsi dari kepala negara berupa Bintang Mahaputra Adipradana.

Usai menyematkan penghargaan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyalami Mbah Tardjo. Kedua tokoh itu pun berjabatan tangan sangat erat. Ini pemandangan menarik, karena selama ini Mbah Tardjo dikenal luas sebagai tokoh yang sering mengkritik kebijakan pemerintahan Presiden Susilo. Maklum, Mbah Tardjo tokoh senior Fraksi PDI Perjuangan, fraksi yang memilih menjadi oposan di Dewan Perwakilan Rakyat.



Foto dikutip dari presidensby.info

"Harus diingat, kali ini Susilo berperan sebagai kepala negara yang memberikan penghargaan kepada warga negaranya. Alhamdulillah, saya akhirnya termasuk dalam daftar nama orang yang layak menerima Bintang Mahaputra Adipradana dari pemerintah," ujar Mbah Tardjo.

Dia mulai terjun ke politik sejak 1950 dengan menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI). Artinya, ketika usianya baru 16 tahun ayah dua anak ini sudah merasakan pahit getirnya politik.

Lantas, apa jasa Mbah Tardjo sehingga mendapat penghargaan dari presiden? "Wah, jasa-jasa saya kepada negara tidak ternilai besarnya. Wuakeh banget," ujarnya setengah bercanda. "Saya ini kan sejak zaman Jepang berjuang dan baru kali ini mendapat penghargaan. Dulu saya dibilang Soekarnois, tapi sekarang nggak."

Mbah Tardjo mengaku sangat senang bisa mendapat penghargaan dari kepala negara. Lebih bangga lagi, karena kepala negara yang menganugerahinya bintang mahaputra adalah SBY, pendiri Partai Demokrat, yang secara politik berseberangan dengan dirinya di PDI Perjuangan.

"Itu artinya penghargaan untuk saya itu objektif. Lha, kalau yang beri itu presiden yang satu partai dengan saya, ya, mungkin dicurigai macam-macam seperti KKN dan sebagainya," ujar Mbah Tardjo lalu tertawa kecil.

Mbah Tardjo bercerita, sejak zaman Jepang (1939-1945) dia sudah berjuang sebagai tentara pelajar. Untuk zaman sekarang, mungkin aneh ada remaja belum berusia 10 tahun sudah jadi tentara. Tapi, di zaman Jepang, ketika Belanda baru saja menyerah tanpa syarat kepada pasukan Jepang, praktis hampir semua orang Indonesia menjalani wajib militer. Remaja dan anak-anak terpaksa angkat senjata, berjuang untuk tanah air yang belum merdeka.

"Kalau dihitung-hitung, saya ini ikut berjuang untuk bangsa dan negara sejak masih sangat muda. Jadi, saya tidak sempat menjalani masa remaja seperti anak muda sekarang," papar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, tahun 1969, itu.

Jepang akhirnya kalah. Pada 17 Agustus 1945 Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia. Soetardjo muda kemudian mengisi kemerdekaan dengan berjuang melalui medan politik, tepatnya Partai Nasional Indonesia (PNI). Boleh dikata, hampir sepanjang usianya, Mbah Tardjo tak pernah lepas dari partai politik. Setelah PNI berfusi menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI), kemudian PDI Perjuangan, Mbah Tardjo tetap terlibat di dalamnya.

Di zaman Orde Baru, ketika PDI dipecah belah oleh pemerintah, Mbah Tardjo memilih berjuang bersama Megawati Soekarnoputri. "Namanya perjuangan, ya, selalu ada pasang surut. Tapi hidup memang harus begitu," kata pria yang pernah berkarir sebagai guru pada 1953-1965 itu.

"Sekarang pun saya masih berjuang untuk bangsa ini. Tapi baru kali ini saya dapat penghargaan Mahaputra. Tentu saya bangga dihargai seperti itu," kata Mbah Tardjo. Karena itu, dia benar-benar merasa lega dan tidak putus-putusnya mengucapkan syukur kepada Allah SWT.

Mbah Tardjo juga mengaku sangat berterima kasih kepada rekan-rekannya di DPR yang selalu menganggap dirinya sebagai orang tua yang layak dihormati. Jika ada anggota dewan yang menggelar hajatan, Mbah Tardjo pun didaulat untuk memberikan wejangan. "Alhamdulillah, saya bersyukur karena sampai sekarang saya masih dihargai," ujarnya.

2 comments:

  1. walaupun saya anti PDIP, tapi saya nggak anti dengan tokoh yg satu ini...
    Maju terus mbak, hehehehe

    peace


    Bimbim

    ReplyDelete
  2. walaupun saya anti PDIP, tapi saya nggak anti dengan tokoh yg satu ini...
    Maju terus mbah tardjo, hehehehe

    peace


    Bimbim

    12:25 AM

    ReplyDelete