10 August 2007

Labih Basar, Raja Surat Pembaca



Rabu, 8 Agustus 2007, hampir semua surat kabar di Surabaya memuat surat pembaca dari Labih Basar. Laki-laki beralamat di Griya Kebraon Barat VIII-BH 4 Surabaya ini menulis pendapat berjudul 'Salah Meletakkan Koruptor dan Tikus'.

Gaya Pak Labih khas: blak-blakan mengkritik berbagai penyimpangan di negara ini. Labih Basar menulis demikian:

"... koruptor di negeri ini tidak dapat diberantas karena lebih banyak orang yang mengharapkan kucuran atau bocoran dana dari si koruptor. Sehingga koruptor tetap dapat duduk tenang menggerogoti uang negara. Akibatnya, negara ini tetap tergolong sebagai negara miskin dan korup!"

Sejak dulu saya perhatikan tulisan Labih Basar. Topiknya bervariasi: Jalan rusak. Korupsi. Anggota parlemen jalan-jalan berdalih studi banding. Biaya pendidikan mahal. Politisi busuk. Penggusuran pedagang kaki lima. Keserakahan investor. Boleh dikata, hampir semua isu menarik di Surabaya, Jawa Timur, nasional, dibahas Labih Basar.

Kalau warga lain hanya bisa menggerutu, nggerundel di warung kopi... Pak Labih menyusun idenya secara tertulis dan sistematis. Lalu dikirim ke media massa di Surabaya. Hampir semua dapat kiriman surat pembaca dari Arek Kebraon ini. Dan biasanya sehari atau beberapa hari kemudian dimuat di koran.

"Wah, Labih Basar lagi! Labih Basar lagi! Nulis apa sih hari ini?" begitu komentar pembaca koran.

Memang banyak orang heran dengan produktivitas Labih Basar bikin surat pembaca. Dan itu dilakukannya selama bertahun-tahun. Pak Labih rela keluar uang untuk ongkos faksimili, warnet, beli perangko, atau datang langsung ke kantor koran.

"Saya akui saya kalah jauh sama Pak Labih. Dia bisa angkat isu macam-macam dengan pembahasan yang enak," kata Hardono, pelukis yang tinggal di Taman, Sidoarjo. Hardono pun termasuk produktif menulis surat pembaca di koran-koran Kota Surabaya.

Bisa saya pastikan bahwa Labih Basar adalah 'raja surat pembaca' di Indonesia. Produktivitasnya belum bisa ditandingi. Bahkan, sulit dilawan siapa pun, dari mana pun. Jangan heran, Museum Rekor Indonesia (Muri) memberikan penghargaan kepada Labih Basar sebagai penulis surat pembaca terbanyak di Indonesia. Setelah masuk Muri, Labih Basar tambah semangat menulis surat pembaca. Hehehe....

Bagaimana Labih Basar mendapat ide menulis surat pembaca?

Pak Labih bilang dari koran. Dia baca banyak koran setiap hari. Isu-isu menarik dia cermati, renungi, kemudian menulis. Bisa juga dia jalan-jalan ke kota, ke mana saja, lalu lihat jalan rusak, lalulintas semawut, pasar tak karuan, dan sebagainya.

"Bahannya tidak pernah habis," kata Pak Labih.

Dulu, sebelum ada komputer, Labih Basar menulis pakai mesin ketik manual yang tak-tik-tok-tak itu. Karena sudah terbiasa mengetik, tulisan Labih Basar langsung jadi alias pressklaar. Tidak ada kata-kata yang dicoret atau kalimat yang dihapus pakai tip-ex. Habis mengetik satu isu, muncul ide untuk menulis yang lain lagi. Setelah dua isu, muncul ide lagi. Begitu seterusnya.

Jangan heran, satu halaman kertas folio bisa diisi empat hingga enam topik. Bahkan, kadang-kadang bisa tujuh sampai 10 topik. Lalu, dia kirim ke surat kabar harian [setahu saya, Labih Basar jarang atau tak pernah kirim ke mingguan, apalagi bulanan] di Surabaya. Tak hanya satu koran, empat lima koran dapat bingkisan surat pembaca dari Labih Basar.

"Silakan dibaca, dipilih mana yang layak dimuat. Saya hanya bisa menulis uneg-uneg. Yang menentukan dimuat tidaknya kan redaktur," kata Labih Basar. Pengusaha aki mobil ini punya banyak teman wartawan dan redaktur di Surabaya. Itu memudahkan aksesnya dengan koran, sekaligus bisa tahu langsung isu-isu apa yang sedang aktual.

Agus Hari, redaktur surat pembaca di sebuah koran, mengaku kewalahan menerima kiriman surat pembaca dari Labih Basar. Bagaimana tidak. Kirimannya banyak dan semuanya layak muat. "Tapi, kita harus edit betul karena Labih Basar ini suka menulis dengan kalimat-kalimat panjang, ide-idenya terlalu banyak, sehingga kadang-kadang ruwet."

Agus mengaku lebih suka surat pembaca yang berisi kritik terhadap layanan umum, infrastruktur, serta hal-hal konkret. Surat pembaca berbau opini ala Labih Basar boleh-boleh saja, tapi dibatasi. Kenapa? Yang namanya opini selalu mengundang pro-kontra, debat panas, yang bisa jadi membuat capek pengelola media massa.

"Kalau opini yang umum-umum sih nggak apa-apa. Capek kalau ," kata Agus.

Apa pun kritik untuk Labih Basar serta 'penulis tetap' surat pembaca produktif di Jawa Timur macam Hardono, Haryanto Bojonegoro, Agus Karangora, Asmara Hadi (dulu)... saya sangat menghargai keseriusan mereka menuliskan gagasan. Di tengah budaya lisan yang kian mewabah, budaya pesan pendek alias SMS, masih ada Labih Basar dan kawan-kawan yang terus menekuni hobi menulis. Salut Pak Labih Basar!

Kualitas opini Labih Basar (dan kawan-kawan), saya nilai, tidak kalah dengan tulisan pakar-pakar, pengamat, aktivis, di rubrik artikel opini. Labih Basar dan komunitas penulis surat pembaca pun lebih ikhlas. Kenapa? Mereka-mereka hanya menulis untuk menulis. Menuangkan gagasan, sumbang pendapat, urun rembuk, tanpa mengharapkan imbalan honorarium uang.

"Saya malah keluar uang untuk biaya pengiriman. Hehehe.... Tapi saya senang karena mendapat kepuasan batin. Itu yang sulit dinilai dengan uang," kata Labih Basar.

Salut banget, Pak!

2 comments:

  1. kawan, trims atas pujiannya, dan promosinya, maaf saya gagap tehnologi, jadi tidak bisa telusur sana sini. trims. GBU. Labih Basar, labihbasar@yahoo.com 0815 5333 7991

    ReplyDelete
  2. salam buat pak labih. aq sering baca tulisan2nya di koran.

    fred

    ReplyDelete