14 August 2007

Konser Kemerdekaan SSO 2007

Menjelang Hari Kemerdekaan, Surabaya Symphony Orchestra (SSO) menggelar Konser Kemerdekaan. Ini penampilan ke-53 satu-satunya orkes simfoni di Kota Surabaya dan Jawa Timur itu. Sejak didirikan pada 1996, Solomon Tong, dirigen dan motor utama SSO, memang menjadikan konser kemerdekaan sebagai agenda tahunan.

Selasa, 14 Agustus 2007, konser digelar di Hotel JW Marriott, Jalan Embong Malang 85-89 Surabaya. Kepada saya, Pak Tong mengatakan, hampir semua pengisi acara (pemusik, penyanyi) orang SSO jua. "Penyanyi tamu ada dua: Linda Hartono dan Audrey Azarine. Saya memang biasakan demikian," ujar Pak Tong sambil makan siang di kantor SSO, Selasa (14/8).

Meski namanya konser kemerdekaan, SSO tetaplah orkes simfoni klasik yang menyuguhkan nomor-nomor klasik. Keliru kalau membayangkan program konser sejak awal sampai akhir diisi lagu-lagu nasional (perjuangan) atau lagu daerah. Mungkin, orkes lain macam Twilite Orchestra pimpinan Addie M.S. melakukan seperti itu.

Kali ini Pak Solomon Tong memperkenalkan pianis remaja, Aerin Anggono. Usianya pekan depan genap 14 tahun, siswa Sekolah Musik SSO. Aerin memainkan Piano Concerto No. 2 in B-Flat Major Op. 19 gubahan L.v. Beethoven. Pak Tong memuji anak muda ini.

"Dia main sekitar 35 menit. Komposisi itu tingkat kesulitannya sangat tinggi. Saya bisa katakan bahwa itu kelasnya mahasiswa S-2. Tapi si Aerin bisa memainkannya dengan baik," ujar Pak Tong. Dirigen kawakan ini banyak membantu saya memahami musik klasik, komponis klasik, meresensi musik klasik, paduan suara, bell canto, hingga opera.

Seperti biasa Pak Tong menghadirikan petikan opera sebagai menu utama konsernya. Ada penyanyi Pauline Poegoeh, Melissa Setyawan, Liliana, Dewi Kang, Samuel Tong [anaknya Pak Tong]. Kemudian Linda Hartono dan Audrey Azarine. Soprano Pauline membawakan karya Mozart dengan suaranya yang menggelegar. Linda nyanyi Summertime karya George Gerswin (1898-1937).

Disusul paduan suara klasik, rohani. Freuden Lied (Haydn), Regina Coeli (Mozart), Tuhan Memberkati Engkau (J. Rutter). Kebetulan SSO punya paduan suara khusus, Surabaya Oratorio Society, yang memang sudah biasa menyanyikan lagu-lagu paduan suara dengan tingkat kesulitan tinggi.

Nah, nuansa kemerdekaan ditampilkan di bagian akhir. Ada empat komposisi, yakni Hati Memuji (R. Soetedja), Nyiur Hijau (Maladi), Tanah Airku (Iskak), Indonesia Pusaka (Ismail Marzuki). Lagu-lagu ini tak asing di telinga orang Indonesia, sehingga diharapkan bisa melepas 'ketegangan' setelah disuguhi nomor-nomor klasik yang rada berat.

Omong-omong berapa biaya produksi konser ini? Dua ratus juta? "Di atas itu. Sekitar Rp 230 juta," kata Pak Tong kepada saya.

Uang besar dan tak mudah didapat di Surabaya. Apalagi, sponsor sulit diajak untuk mendukung musik klasik. Tapi Pak Tong selalu percaya mukjizat Tuhan dan mengalami mukjizat itu berkali-kali. Menjelang konser, kata Pak Tong, uang mengalir dari mana-mana sehingga kebutuhan konser pun terpenuhi.

"Hurek, mungkin suatu saat kita bicara lebih banyak tentang mukjizat Tuhan. Ini benar-benar saya alami di SSO," kata Pak Tong, kakak kandung Pendeta Stephen Tong, yang terkenal itu.

Okelah! Bincang-bincang pun diakhiri karena Pak Tong harus segera ke lokasi konser untuk check sound. "Kapan-kapan kita bicara lebih banyak lagi ya?" ujar Pak Tong. Saya keluar ruangan Pak Tong, lalu makan pisang bersama beberapa staf SSO. Hehehe....


INFORMASI LEBIH LANJUT
Surabaya Symphony Orchestra
Jalan Gentengkali 15 Surabaya
Telepon (031) 531 3297, 534 2440
www.surabayasymphonyorchestra.com

No comments:

Post a Comment