29 August 2007

Jazz di radio-radio Surabaya



Isa Anshori, pengasuh Jazz Traffic di Radio Suara Surabaya. [foto: suarasurabaya.net]

Pengemar musik jazz di Surabaya [Jawa Timur umumnya] tak begitu banyak. Boleh dikata, sangat sedikit. Bandingkan dengan pop, rock, apalagi dangdut. Jazz, kendati masuk ke tanah air sejak zaman Belanda, sulit hidup, apalagi berkembang.

Di mana-mana memang begitu. Jazz itu menggunakan accord, harmoni, cara bermain yang jauh berbeda dengan musik biasa. Maka, sering orang menyebut jazz sebagai musik nyeleneh. "Lagu bagus-bagus kok dirusak. Jazz itu hanya merusak komposisi," kata teman saya. Ia bekas penulis dan bekas pemusik.

Ada memang pergelaran jazz kecil-kecilan di Surabaya, tapi hanya dinikmati kelompok kecil. Penikmatnya itu-itu saja. Pemusiknya ya sama saja. Beda sekali dengan industri musik kita, termasuk band-band indie, yang sangat subur. Jazz memang ada, tapi sekarat kondisinya.

Rekaman jazz sulit dijual di Indonesia. Laku 10 ribu keping saja sudah bagus. Bandingkan dengan Peterpan atau Padi yang bisa jual kaset/CD sampai satu juta atau dua juta!

Syukurlah, di tengah lahan yang gersang, jazz tetap eksis di radio-radio Surabaya. Tidak semua radio, tapi kebanyakan di radio-radio berpengaruh. Saya selalu menyempatkan diri menyimak musik jazz di Radio Suara Surabaya setiap malam, Senin sampai Jumat. Musik jazz juga masuk program Radio Star FM, Delta FM, Sonora FM. Itu yang sempat saya pantau.

Kredit khusus saya berikan kepada Radio Suara Surabaya FM 100. Radio milik Pak Sutoyo ini sejak dulu memberi tempat kepada musik-musik non-industri macam jazz atau klasik. Meskipun penggemarnya sedikit, segmented, iklan [hampir] tidak ada, Radio Suara Surabaya menyiarkan program jazz secara tetap. Saya bisa katakan, Radio Suara Surabaya terdepan dalam urusan jazz di Kota Surabaya atau Jawa Timur.

Siaran jazz di Radio Suara Surabaya berlangsung pukul 22.00-24.00 WIB, Senin-Jumat, namanya JAZZ TRAFFIC. Pengasuhnya Isa Anshory, penyiar senior yang sangat gandrung jazz. Mas Isa ini konsisten banget dengan musik jazz. Selain memandu program jazz, Isa kerap meliput festival-festival jazz berkelas macam Java Jazz di Jakarta. Isa juga kerap memboyong pemusik-pemusik jazz ke studio Radio Suara Surabaya untuk wawancara khusus.

Wawancara dengan musisi jazz, kemudian interaksi dengan pendengar, menambah wawasan jazz bagi orang Surabaya. Kita pun jadi tahu gaya bicara pemusik-pemusik jazz, latar belakang, referensi, hobi, pendidikan, cita-cita, wawasan jazz... dan macam-macam lah. Sungguh sebuah medan apresiasi jazz ala Radio Suara Surabaya yang layak diapresiasikan.

Radio Suara Surabaya itu radio berita yang fokus pada laporan lalulintas. Sebagian besar programnya berisi KELANA KOTA. Pengguna jalan telepon lapor kemacetan, tabrakan, kecelakaan, dan sebagainya. Pendengar lain kritik pemerintah, komentar soal politik, lumpur lapindo, ganti rugi korban lumpur, korupsi... Musik di Radio Suara Surabaya hanya sekadar selingan belaka. Kalau ada kejadian besar, ya, musik dihilangkan.

Nah, di sela-sela KELANA KOTA itulah, Radio Suara Surabaya menyiarkan musik jazz. Saya perhatikan, Isa Anshory selalu memutar nomor-nomor jazz populer. Ringan atawa gampang dengar, easy listening. Dia berusaha menghindari jazz-jazz yang terlampau berat, karena bagaimanapun juga pendengar di Surabaya belum biasa dengan jazz berat.

Kalau terlampau berat, ruwet, pendengar bisa kabur. Itu yang terjadi pada konser hidup Indra Lesmana dan kawan-kawan di Vista Sidewalk Cafe Surabaya beberapa waktu lalu. Juga konser pejazz Prancis di Balai Pemuda. Nomor-nomor yang dimainkan asing di telinga sehingga penikmat tidak betah. Kaburlah dia!

Mas Isa kerap memutar nomor instrumental atau vokal karya Antonio Carlos Jobim. Jazz beraroma Brazil. Bukan apa-apa, orang Surabaya lazimnya suka dengan nomor-nomor macam begini. Bisa saja Isa suka dengan Carlos Jobim, hehehe.....

Buby Chen, legenda jazz asal Surabaya, menjadi mitra tetap Isa di siaran jazz Radio Suara Surabaya. Om Buby memilih lagu, membahas sedikit latar belakang musisi, kemudian diputar musiknya. Penjelasan Om Buby bersifat apresiasi, memandu pendengar untuk masuk ke alam jazz. Wow, beliau ini pendidik sejati yang tak jemu-jemunya memperkenalkan jazz di Surabaya. Radio Suara Surabaya beruntung bisa menghadirkan Buby Chen secara tetap.

Interaksi dengan pendengar menjadi ciri khas Radio Suara Surabaya. Dari sini saya bisa tahu selera jazz di Surabaya. Ada Ibu Tutut, lansia yang sangat suka musik apa saja, termasuk jazz. Ada lagi remaja yang suka jazz karena pengaruh orang tua. Ada anggota komunitas jazz yang suka minta nomor-nomor berat. [Biasanya tidak diputar Isa, mungkin karena tidak pas dengan selera jazz pendengar SS yang tidak suka berat-berat.]

Yang menarik, hampir selalu ada pendengar yang minta jazz Indonesia. Maksudnya, lagu-lagu jazzy berbahasa Indonesia, dimainkan orang Indonesia, sudah akrab di telinga orang Indonesia. Mas Isa biasanya kesulitan memenuhi permintaan itu. "Soalnya, koleksi rekaman jazz Indonesia memang terbatas," ujarnya.

Mudah-mudahan saja pemusik kita mau bikin album-album jazz bernuansa Indonesia. Entah etnik macam Krakatau [Dwiki Dharmawan dan kawan-kawan] atau Balawan atau band-band fusion ala 1990-an macam Karimata, Krakatau, Karimata, Emerald, Black Fantasy, Chaseiro, Bhaskara.

Bisa juga penyanyi solo yang bertaat asas di jazz [ringan] macam Ermy Kullit, Iga Mawarni, Margie Siegers, Mus Mujiono, Utha, Tri Utami, Nunung Wardiman, Elfa's Singers.... Terus terang, industri musik Indonesia sejak tahun 2000-an terlalu seragam, monoton, tak banyak kasih ruang untuk jazz.

Bagaimana mau memutar jazz Indonesia secara rutin di radio? Salam saya untuk semua pengasuh jazz di radio-radio Surabaya.

7 comments:

  1. Salam kenal mas, tulisan yang menarik..!!!
    saya sebagai kru suara -suarabaya ikut tersanjung , sekaligus "tersentil" .. karena orang diluar SS saja begitu meng-apresasi " Jazz Traffic". Sementara saya boleh dihitung nge-dengerin-nya.
    Bravo..!!
    saya jadi rajin buka Blog-nya

    ReplyDelete
  2. Kawan Indah,
    Terima kasih sudah mampir, baca, dan berkomentar. Yah, ini cuma catan ringan, iseng-iseng, saja lah, senyampang ada makhluk baru yang namanya blog.
    Salam kenal juga, dan salam untuk kawan-kawan SSFM.

    ReplyDelete
  3. jazz memang dikit penggemarnya, tapi tetap eksis. musik abadi. salut buat radio2 yg nyiarin program jazz. salam.

    ReplyDelete
  4. mungkin bisa buat nambah2 playlist :))
    biarpun telah banget commentnys,, mudah2an keliatan..hehehe..
    Band saia pop-jazz juga soalnya.
    visit http://www.myspace.com/inclusio
    terima kasih

    .salam.

    ReplyDelete
  5. ada baiknya kalau komunitas jazz atau radio2 yang putin memutar lagu-lagu jazz langsung turun ke kampus. soalnya di kampus banyak penggemar jazz tapi gak tau mau berbagi kemana.. thanx

    ReplyDelete
  6. Setuju, industri musik indonesia monoton.
    Dan sebagian besar telinga di indonesia hanyalah penggemar bukan penikmat.. .
    Bagaimana tidak, mereka menghafalkan sebuah lirik layaknya anak SD yg menghafal pancasila.

    dan mreka marah saat lirik2 yang mreka hapal i2 digubah dalam skala pentatonik dan not2 dominant khas Jazz,.. .

    that's why i love idola cilik very much.. . Sangat banyak murid2 elfa's singer bercokol disitu. Dan mrekapun hebat dengan improvisasi jazz yang di ajarkan oleh pembimbing mreka di program pengembangan talent trsebut.

    ReplyDelete
  7. aq salut sama SS, yg masih setia memutar program jazz. salam utk kawan2 di SS.

    rahmat, arek malang

    ReplyDelete