20 August 2007

Durian bangkok, penjajahan gaya baru

Jual duren bangkok di pinggir jalan raya Pandaan, Jatim. 


Benarkah kita sudah merdeka? Apa makna Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 1945? Yang jelas, kita semakin dijajah oleh berbagai produk impor, khususnya komoditas pertanian.


Pada 17 Agustus 2007 saya melakukan refleksi kecil-kecilan di pasar buah pinggir jalan. Aha, saya tertarik pada buah durian yang elok dipandang. Durian impor. Tepatnya, durian bangkok.

Jawa Timur, mungkin juga kota-kota lain di Indonesia, memang sudah lama diserbu buah-buahan impor. Durian alias duren. Duku. Leci. Apel. Jeruk. Anggur. Pir. Naga. Paling banyak dari Thailand. Dan masih banyak lagi.

Nah, durian bangkok itu akhirnya saya beli Rp 50 ribu sebuah. Rata-rata durian bangkok di Jawa Timur berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 80 ribu. Jauh lebih mahal dibandingkan dengan durian lokal.

Saya mendengarkan lagu-lagu kebangsaan, saya nikmati durian bangkok. Hmm.. lezat nian. Manis. Dagingnya sangat tebal. Biji sangat kecil. Nyaris sempurna. Kok bisa ya buah-buahan kok bisa sesempurna itu?

Sebagai alumnus Fakultas Pertanian, saya tentu paham proses pemuliaan tanaman dengan rekayasa genetika. Teman-teman kita di Thailand melakukan riset luar biasa untuk menghasilkan produk pertanian berkualitas terbaik. Berkat teknologi pertanian, Thailand menjadi negara yang sangat unggul di bidang pertanian.

Bagaimana dengan kita, Indonesia? Contoh sederhana: durian. Saya biasa membeli durian yang dijajakan di sepanjang Jalan Raya Pepelegi [Aloha] Sidoarjo - saat musimnya dua bulan lalu. Sekarang tak musim lagi, sehingga diisi durian bangkok [thailand]. Harganya murah: ada Rp 5.000, Rp 10 ribu, Rp 15 ribu. Paling mahal ya Rp 25 ribu.

Bagaimana rasanya? Pepatah lama bilang 'alah membeli menang memakai'. Benar-benar parah. Jauh sekali dibandingkan dengan durian bangkok. Durian kita tak ada jaminan mutu. "Silakan anda beli yang Rp 5.000, tapi saya nggak berani menjamin rasanya seperti apa. Anda tahu sendiri lah," kata Ahmad, pedagang asal Madura.

Saya nekat beli. Saya berharap, pedagang berlogat Madura ini tidak sampai hati menipu saya. Hari itu lima butir durian saya bawa pulang ke rumah. Lalu, saya buka. Amboi, semuanya [kelima-limanya] tidak layak dimakan karena busuk. Saya pun memaki-maki si penjual, tapi mau bilang apa. "Risiko anda tanggung sendiri," begitu pesan si pedagang buah-buahan di pinggir jalan raya itu.

Besok, lusa, beberapa hari kemudian, saya berusaha menemui si pedagang buah di jalan raya. Benar dugaan saya. Si penjual durian buruk itu tak ada lagi. Yang ada wajah-wajah baru dengan produk yang sama. Sejak saat itu saya trauma membeli durian lokal di pinggir jalan Sidoarjo, Surabaya, Malang. Sebab, uang kita habis, sementara kepuasan tidak ada.

Saya pernah lihat di televisi Presiden Susilo panen durian bersama wartawan. Pak Susilo saya lihat sangat menikmati durian lokal itu. "Hmm... enak sekali," katanya di televisi.

Tapi, maaf saja, saya belum percaya. Sebab, berbagai buah-buahan lokal di Jawa Timur mutunya sangat buruk. Pemerintah tidak berani jamin mutu, apalagi pedagang kecil macam orang-orang Madura itu. Bangsa kita sudah telanjur jadi 'homo homini lupus'. Menjadi serigala bagi sesama. Biasa menipu sesama anak bangsa tanpa rasa bersalah. Inikah hikmat kemerdekaan itu?

Terus terang, saya iri sama pemerintah Thailand. Meskipun sering terjadi kudeta, perhatiannya sama petani luar biasa. Semua produk pertanian Thailand ditempeli label. Bahwa pemerintah menjamin mutu buah-buahan atau sayur-mayur. Dijamin buah-buahan yang kita beli tidak busuk seperti di Aloha, Sidoarjo. Dijamin pedagang tidak akan lari setelah menjual buah berkualitas jelek.

Tulisan di label durian bangkok itu begini:

For quality problem, please contact Agricultural Product Export Promotion Center, Ministry of Agriculture and Cooperatives Thailand. Tel: 66-29406320-1 Fax: 66-29406322 E-mail: apepc@doa.go.th. Website: www.successimp-expfuits.com

Saya sangat malu menjadi manusia Indonesia. Manusia yang kurang [bahkan tak pernah] mementingkan kualitas. Manusia tak bertanggung jawab, tega menjual produk busuk kepada sesama bangsa. Manusia yang lupa asal-usul bahwa bangsa ini bangsa agraris. Manusia yang keblinger sehingga produk-produk pertanian pun harus diimpor, sementara tanah pertanian di Indonesia sangat luas.

Hancurnya pertanian kita, ditandai membanjirnya produk-produk impor di plasa, mal, bahkan kaki lima. Durian pakai impor. Apel impor. Jeruk impor. Jagung impor. Kedelai impor. Ubi kayu impor. Beras yang notabene makanan pokok kita pun sudah impor.

Mau dibawa ke mana negara ini kalau ketahanan pangannya ambruk seperti sekarang? Pramoedya Ananta Tour, penulis dan novelis besar kita, mengatakan bahwa sebuah bangsa yang melupakan produksi, hanya melulu konsumsi, cepat atau lambat akan hancur. Tanpa produksi, maka kita hanya menjadi konsumen yang rakus.

Pusat belanja modern berdiri di mana-mana sebagai simbol konsumsi berlebihan bangsa ini. Badan boleh miskin, pendapatan pas-pasan, yang penting bergaya, Bung! Maka, di Surabaya pemerintah kota memihak kaum kapitalis dengan menjual habis semua ruang terbuka untuk plasa, mal, hipermarket, dan pusat-pusat belanja [konsumsi] lainnya.

Kapan ya pemerintah kita memikirkan buah-buahan, sayur-mayur, peternakan, pengolahan makanan macam di Thailand? Kapan ya pemerintah kita memakmurkan petani? Kapan ya kita membanjiri negara-negara lain dengan produk-produk pertanian? Kapan ya pemerintah dan birokrat kita tidak korupsi? Tidak makan suap? Ah, malu lah awak jadi bangsa Indonesia.

Masih dalam suasana tujuh belasan, kita kembali dikejutkan oleh kasus buruh migran kita yang dianiaya di Malaysia. Parsiti nekat melarikan diri dari lantai 17 apartemen majikannya. Bulan sebelumnya Ceriyati juga melakukan hal serupa di Kuala Lumpur, juga dari lantai 17. Beberapa kain diikat, dijadikan tali untuk bergelantung ala Spiderman. Wah.. gila!

Masih suasana kemerdekaan, beberapa perempuan pekerja kita di Malaysia tewas disiksa oleh majikannya. Kasus memalukan, dan seharusnya memalukan bangsa kita, ini terus berulang. Tapi, seperti biasa, pemerintah kita tidak pernah berpikir jauh ke depan untuk mengatasi akar masalahnya.

Pernyataan-pernyataan Menteri Luar Negeri dan Menteri Tenaga Kerja, bahkan Presiden Susilo [doktor pertanian lulusan Institut Pertanian Bogor], sejak dulu saya nilai belum sentuh akar masalah. Nanti, kalau ada kasus lagi, dia ulangi statemen itu. Saya ketawa, tapi juga sedih. Sebab, pemerintah kita cenderung berpikir pendek, kasuistik, nyaris tidak mau menyentuh akar masalah.

Bagi saya, kasus durian bangkok yang membanjiri Jawa Timur, dengan kualitas sangat bagus, merupakan bukti nyata bahwa produk-produk pertanian sesungguhnya efektif menjadi komoditas ekspor andalan. Bayangkan, ribuan hektare lahan dibuka dan digarap dengan manajemen modern ala Thailand. Berapa banyak pekerja yang bisa diserap?

Nilai tambah akan sangat banyak. Sehingga, jutaan perempuan Indonesia, yang asalnya petani, tidak perlu diekspor jadi babu di Malaysia atau Timur Tengah. Tapi, apa boleh buat, pemerintah kita membiarkan bangsanya jadi babu di luar negeri [ada juga yang jadi pelacur lho!] daripada serius mengurus bidang pertanian. Indonesia ambuk karena sektor pertanian ditelantarkan.

Ah, jangan-jangan yang kerja di kebun durian di Thailand atau kebun sawit di Malaysia ternyata orang Indonesia juga?

6 comments:

  1. bibit kita jelek, trus gak digarap secara modern. emang kita jadi bangsa pengimpor.
    faisal, jember

    ReplyDelete
  2. hehehe... bernie, ada2 aja idenya. tapi memang pertanian kita terpuruk krn gak diperhatikan pemerintah. kita lama2 jadi pembeli produk2 pertanian dari negara lain.

    ReplyDelete
  3. KARENA NIKMATNYA BUAH DURIAN, MAKA ORANG YANG MENDAPATKAN REZEKI YANG MENYENANGKAN DIKATAKAN REZEKINYA ITU "SEPERTI MENDAPAT DURIAN RUNTUH".

    ReplyDelete
  4. tantangan bagi peneliti indonesia

    ReplyDelete
  5. setuju saya juga beli durian bangkok di department store di surabaya selatan mendapatkan durian yg mentah total + busuk walaupun cara makannya di biarkan 4 hari tetep buduk

    ReplyDelete
  6. karena durian diambil dari pohonnya alias dipanen belum waktunya ( masi muda)hanya karna ingin menjual dengan harga tinggi bukanya kwalitas yang diutamakan

    ReplyDelete