09 August 2007

Buku Keempat Romo Eko


Di tengah kesibukannya sebagai Pastor Paroki Santo Aloysius Gonzaga [Algonz], Surabaya, dan seabrek aktivitas lain, Romo Yosef Eko Budi Susilo, Pr. tak pernah bosan menuangkan ide-idenya dalam tulisan. Maklum, sejak kecil romo kelahiran Karanganyar, Solo, 4 Juni 1961, ini suka menulis dan berorganisasi.

Romo Eko-lah yang mendirikan JUBILEUM, tabloid rohani Katolik di Keuskupan Surabaya. Sebelumnya, dia mendirikan tabloid SUKA [Suara Umat Katolik] yang sudah 'habis masa baktinya'. Romo Eko juga kerap diminta mengisi mimbar Katolik di beberapa media cetak umum dan rohani.

Setiap bulan Romo Eko punya kolom khusus di JUBILEUM, halaman 3, yakni Obrolan Jawa Timur. Di situ Cak Klowor [personifikasi Romo Eko] dan kawan-kawan ngobrol ngalor-ngidul membahas topik yang sedang aktual baik di gereja maupun masyarakat. Teologi, tradisi, sosial, budaya, politik... hingga bencana alam seperti tsunami dan lumpur lapindo.

Nah, kumpulan kolom yang ditulis dalam bahasa jawa timuran ini ternyata punya banyak penggemar. Romo Eko pun kerap disapa sebagai Cak Klowor. Penerbit Dioma, Malang, kemudian berminat menebitkan koleksi kolom Romo Eko alias Cak Klowor menjadi buku 'Dari Jubileum Arwah sampai Lapindo Beauty Spa'.

Menurut Romo Eko, awalnya obrolan ala warung kopi di Jawa Timur ini ditulis dalam bahasa Jawa. Namun, dalam perjalanannya banyak pembaca [umat Katolik di Surabaya dan sekitarnya] protes karena tidak paham istilah-istilah Jawa. "Akhirnya, saya tulis dengan bahasa gado-gado supaya bisa dimengerti," ujar ketua panitia tahbisan Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono ini.

Isi buku yang dipetik dari kolom tetap Romo Eko di JUBILEUM periode 2000-2006 ini pun gado-gado. Mulai soal liturgi dan kegerejaan, pedagang kaki lima, korupsi, terorisme, pilpres, caleg, takhta lowong, kematian Paus Yohanes Paulus II, kenaikan harga BBM, lumpur lapindo, hingga budaya pop dan gaya hidup. Isinya sederhana saja, kental guyonan khas orang Surabaya.

Gara-gara tulisannya yang blak-blakan, meski semua pakai nama fiktif, Romo Eko pernah diluruk panitia pembangunan gereja. Saat diprotes, Cak Klowor alias Romo Eko tenang-tenang saja. "Kalau sampeyan kebakaran jenggot, ya, silakan menggunakan hak jawab, bukan datang berduyun-duyun seperti ini," kata mantan anggota Panitia Pengawas Pemilu Kota Surabaya itu.

Dalam bedah buku di Aula Paroki Algonz, Jalan Satelit Indah I Surabaya ini, Romo Eko sengaja mengajak Ki Surono Gondo Taruno, dalang muda asal Surabaya, yang juga temannya di Perkumpulan Mekar Budaya. "Ki Surono itu selain mendalang, juga menulis. Dia sangat paham kebudayaan dan masalah-masalah sosial," ujar Romo Eko.

Selain buku ini, Romo Eko sudah menerbitkan tiga buku: Trampil Berorganisasi [1999], Hubungan Negara dan Gereja [2002], dan Menuju Keselarasan Lingkungan [2003].

"Saya akan tetap menulis untuk mengungkapkan uneg-uneg baik yang berisi kritik membangun atau hanya sekadar guyon parikeno dengan obrolan," tegas alumnus Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi [STFT] Widya Sasana, Malang, tahun 1990 ini.***

3 comments:

  1. selamat untuk rm eko budi susilo. moga2 teta rajin menulis.

    ReplyDelete
  2. sendangsono emang bagus. cocok buat ziarah ketimbang di kediri itu.

    ReplyDelete
  3. secara tidak sengaja saya membaca tentang romo.
    romo asli dari Karanganyar, paroki pundi, leresipun wiyos wonten pundo MO?

    ReplyDelete