04 August 2007

Bincang dengan Turis Jerman


Baru-baru ini saya berkenalan, kemudian omong-omong lama, dengan dua turis Jerman. Joachim Schloemp dan satunya lagi tidak mau menyebut nama.

"Cukup tahu nama istri saya, Sri Mariatun, orang Madiun," kata tuan Jerman yang kedua ini.

Ceritanya, malam hari di kawasan Prigen, Pasuruan, saya main suling [recorder] seorang diri sambil menikmati udara sejuk dan segar. Beberapa lagu klasik Barat saya mainkan: Mozart, Bach, Haydn, hingga lagu kebangsaan Jerman. Kebetulan saya suka melodi lagu kebangsaan Jerman.

Kebetulan lagi di Larantuka, Flores Timur, diberi syair baru menjadi lagu rohani di Gereja Katedral. [Ah, ini kebetulan apa kesengajaan?] Tambah lagi: orang Protestan di Indonesia meminjam melodi lagu kebangsaan Jerman, lalu kasih syair baru. Jadilah lagu 'Kota Sion Kota Allah', KIDUNG JEMAAT Nomor 262. Menurut catatan, lagu itu ditulis Fanz Joseph Haydn 1797.

Aha, ternyata orang-orang kampung di Flores sana sering nyanyi karya Haydn, tapi tidak tahu siapa penciptanya. Haydn itu siapa. Kok sama dengan lagu kebangsaan Jerman. Dan seterusnya. Saya sendiri baru tahu setelah belajar musik liturgi [Katolik] di Jawa pada 1990-an.

"Selamat pagi, anda pemain flute yang hebat. Musik yang anda mainkan semalam bagus sekali. Kami kenal betul karena itu lagu-lagu Jerman," sapa Joachim Schloemp dalam bahasa Inggris.

Saya pun menyalami dua bapak asal Jerman itu dengan ramah. Saya bilang saya bukan pemusik. Hanya bisa sedikit-sedikit. "Tapi tadi malam itu anda memainkan lagu-lagu klasik yang sangat terkenal di negara kami, Jerman. Gak nyangka ada orang Indonesia fasih memainkannya."

Hehehe... Baru kali ini saya dipuji, apalagi oleh orang Barat. Lalu, saya perkenalkan diri, cerita-cerita kecil tentang orang Indonesia yang suka sepakbola. Saya, karena suka tim nasional Jerman, terbiasa mendengar lagu kebangsaan Jerman di televisi. Aha, kok sama dengan lagu gereja di Indonesia.

"Oh ya," Joachim Schloemp menukas, lalu tersenyum bahagia. Joachim ini pekerja bengkel, sudah menduda 14 tahun. "Saya ingin mencari ganti istri saya, tapi masih sulit ketemu. Hehehe...."

"Siapa tahu sampeyan ketemu perempuan Indonesia," kata saya sekenanya.

"Bisa saja. Bisa dari Indonesia, bisa dari mana saja, asalkan cocok."

Lalu, Joachim Schloemp yang tinggal di kota Landstuhl ini berkali-kali memuji alam dan orang Indonesia. Pohon-pohon. Buah-buahan. Sinar matahari berlimpah. Sungai. Manusianya yang ramah. Rasanya klise, tapi Joachim Schloemp bicara serius. "Saya baru sekali ini ke Indonesia. Saya senang sekali bisa melihat negara anda."

Kedatangan Joachim tak lepas dari jasa Pak Sri, temannya yang enggan menyebut nama asli. Pak Sri tak asing lagi dengan Jawa Timur, bahkan punya istri orang Madiun. Bahasa Indonesianya cukup lancar. Pak Sri tahu banyak watak manusia Indonesia "yang baik-baik, tapi juga sering tidak jujur. Di depan lain, di belakang lain. Pilih kasih sama orang bule".

"Kenapa sampeyan berpendapat begitu? Bisa kasih contoh?" tanya saya.

Kemarin, Pak Sri mengaku beli pisang di pasar Prigen. Harganya Rp 5.000. Tapi karena yang beli itu bule, penjual menaikkan jadi Rp 10.000. Beli jeruk dan rambutan pun sama.

"Makanya, saya selalu suruh istri beli barang-barang di pasar. Kenapa begitu ya? Mestinya harga barang itu sama entah yang beli itu orang Indonesia, orang China, orang Barat, orang Afrika...."

Saya mau bilang apa? Kenyataannya memang begitu. Bangsa kita memang bermuka dua. Orang bule dianggap kaya-raya sehingga harga dinaikkan. Kita lupa bahwa mereka itu bukan orang-orang dungu yang buta informasi. Diam-diam mereka berbagi informasi, cerita sama teman-temannya, sehingga sebelum ke tanah air mereka sudah punya pengetahuan tentang standar ganda ini.

"Saya pikir sikap itu perlu diubah," kata Pak Sri yang pagi itu pakai sarung kayak orang kampung di Jawa Timur.

Pak Sri dan Joachim Schloemp kemudian berdiskusi dengan saya soal terorisme. Mereka bertanya bagaimana sikap orang Indonesia terhadap terorisme. Bagaimana karakter umat Islam di Indonesia. Dan sebagainya. Saya jelaskan bahwa sejak dulu orang Indonesia cinta damai, terbuka, toleran, multikultur, banyak agama, saling hormat.

"Teroris itu hanya segelintir manusia yang keblinger. Harap sampeyan sadari bahwa orang Indonesia pun antiterorisme. Orang Islam pun benci terorisme, mengutuk mereka yang tega membunuh sesamanya atas nama agama. Saya bukan Islam, tapi saya bisa hidup di Jawa Timur dengan bebas, ke mana-mana tanpa ada rasa takut sedikit pun. Saya berkawan dengan santri, bertamu ke pesantren, berbincang sama kiai... dengan aman, bebas, tenang," kata saya panjang lebar.

Joachim Schloemp dan Pak Sri pun manggut-manggut. Tiba-tiba penjual pisang menginterupsi diskusi kami. "Silakan membeli, siapa tahu sampeyan senang. Mudah-mudahan harganya sama dengan orang Indonesia," kata saya kepada Joachim Schloemp.

Pak Sri tertawa kecil.

Hehehe....

2 comments:

  1. Bung, kami menyedot posting anda di juru-kabar.blogspot.com. Jika sudi, pasanglah pula link kami di blog ana. Jika sudi, lho, jika sudi.

    ReplyDelete
  2. Oke, Cak... entar saya link-kan. Salam buat teman-teman juru kabar.

    ReplyDelete