29 August 2007

Bangsa kuli di Malaysia


Kita, bangsa Indonesia, sering lupa sejarah. Jangankan rakyat biasa, pemimpin-pemimpin pun lupa. Akibatnya, ya, jadilah Indonesia macam sekarang ini. Harga dirinya lenyap, tidak direken di mata dunia.

Jauh-jauh hari Bung Karno sudah mewanti-wanti kepada bangsa kita, khususnya mereka yang dipercaya sebagai pemimpin. Jika tidak kerja keras, sibuk korupsi, maka "Indonesia akan menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa".

Bangsa kuli! Saya kira, tengara Bung Karno yang didengungkan pada 1930-an itu sudah menjadi kenyataan. Diakui atau tidak, kini kita sudah menjadi BANGSA KULI. Kuli di segala bidang. Kuli di antara bangsa-bangsa sehingga martabat orang Indonesia terpuruk di mata luar negeri.

Tak usah jauh-jauhlah. Di mata orang Malaysia, orang Indonesia adalah bangsa kuli atau bangsa budak. Orang bodoh yang tidak bisa kerja pakai otak, hanya bisa menjual tenaga. Buktinya, jutaan orang Indonesia [sebagian di antaranya perempuan] menjual tenaga sebagai kuli bangunan, kuli kebun, kuli rumah, kuli pelabuhan... di Kuala Lumpur dan bandar-bandar lain di Malaysia.

Hanya bisa jual tenaga. Dibayar murah. Diperlakukan layaknya budak atau kuli. Mana ada majikan yang derajatnya sama dengan kuli, bukan? Karena itu, saya tidak heran bahwa jutaan orang Indonesia disiksa, didera, diperkosa... oleh tauke di Malaysia. Saya tak heran mendengar kabar bahwa pekerja Indonesia melarikan diri dari apartemen [nekat menyambung kain] agar bisa bebas dari siksaan majikan.

Saya pun tak heran bahwa majikan-majikan jahat itu tidak mendapat hukuman sepadan di Malaysia. Sebab, undang-undang Malaysia tentu sangat melindungi warga negaranya sendiri. Mungkin saja pemerintah Malaysia menganggap apa yang dilakukan majikan sebagai perbuatan 'baik dan benar' kepada budak alias kulinya.

Kuli atau budak wajar saja kalau dihajar, diperlakukan tidak senonoh. Hak asasi manusia itu berlaku pula untuk kuli-kuli di Malaysia? Saya kurang tahu. Tapi, naga-naganya, Malaysia menganut ajaran macam itu. Mau apa lagi? Kita hanya bisa jadi kuli, jual tenaga dengan upah yang sangat murah, tapi masih lebih baik daripada menganggur di negeri sendiri.

Saking banyaknya kuli di Malaysia [ada yang bilang 10 juta, ada bilang 7 juta, 15 juta...], orang INDON identik dengan kuli atau budak. Dan itu berlangsung bertahun-tahun, sejak 1960-an, 1970-an, berlanjut terus sampai sekarang. Karena itu, jangan heran pandangan orang Malaysia terhadap orang Indonesia sangat buruk.

Melihat orang Indonesia yang jalan-jalan di Kuala Lumpur, misalnya, ya dikira budak atau kuli. Imej ini bisa menjelaskan mengapa Donald Pieter Luther Kolopita, wasit karate kita, dihajar oleh empat polisi Malaysia. Satu orang dikeroyok empat orang. Donald pun nyonyor, matanya berdarah, pelirnya terkena sepakan polisi Melayu... dan harga dirinya hancur. Donald, terlepas dari casus belli, dipelakukan layaknya binatang.

Mengapa empat polisi Malaysia itu begitu kejam? Lagi-lagi, imej orang INDON sebagai bangsa budak/kuli melekat erat di otak bangsa Malaysia. Biasanya, kuli-kuli Indonesia datang tanpa izin atau pendatang haram. Nah, polisi-polisi Malaysia itu tentu sudah hafal benar potongan orang Indonesia tak berizin [istilahnya PATI: pendatang asing tanpa izin] yang jalan-jalan di tempat umum Malaysia.

Melihat wajah dan sosok Donald di jalan raya, empat polisi itu niscaya percaya bahwa si Donald itu kuli tak berizin asal Indonesia. Hmmm... asal tahu saja, polisi Malaysia selama ini suka memeras kuli-kuli INDON itu untuk menggemukkan kantung. Ternyata, mereka salah karena Donald ternyata wasit karate yang datang ke Malaysia untuk sebuah kejuaraan karate antarbangsa.

Selasa 28 Agustus 2007. Saya melihat Menteri Luar Negeri Malaysia Hamid Albar dan Kepala Polisi Malaysia Musa menggelar jumpa pers di televisi kita. Tentu, kedatangan dua pejabat penting ini terkait penganiayaan Donald. Lihatlah si kepala polisi Malaysia [di SCTV] yang tinggi langsing, jalan petenthang-petentheng, penuh gaya. Tak terlihat penyesalan atau sekadar basa-basi sedikitlah bahwa empat anak buahnya sudah menghajar Donald.

Keterangan persnya yang standar saja. Empat polisi itu sudah diproses dengan undang-undang yang belaku di Malaysia. Tak ada pernyataan maaf sama sekali. Dan itu sangat wajar untuk Malaysia yang selama ini memandang rendah INDON sebagai bangsa kuli, bangsa budak. Mana ada majikan mau mengaku salah sama budaknya? Kuli ya kuli, majikan ya majikan....

Saya lihat pejabat-pejabat kita [presiden, menteri luar negeri, menteri sekretaris kabinet, menteri tenaga kerja, menteri olahraga, kepala polisi RI...] tak berkutik. Tidak bisa apa-apa. "Kita kan nggak bisa memaksa Malaysia untuk minta maaf," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Yah, mau apa lagi? Saya ingat kembali kata-kata Bung Karno istilah BANGSA KULI DAN KULI DI ANTARA BANGSA-BANGSA! Sampai kapan Malaysia, Arab Saudi... berhenti menghina martabat orang Indonesia?

Jawabnya gampang, tapi melaksanakannya sangat sulit. Sampai pemerintah kita mampu mencetak lapangan kerja di dalam negeri. Pemerintah harus bisa mengolah alam Indonesia yang kaya dan luas ini menjadi aset ekonomi yang luar biasa. Kalau cari kerja di dalam negeri sulit, ya, mau tak mau jutaan orang Indonesia lari ke Malaysia atau Timur Tengah.

Jadi kuli, jadi budak, jadi babu, jadi buruh-buruh kasar dan kotor! Bahkan, saya dengar-dengar banyak juga perempuan-perempuan Indonesia terpaksa jadi pelacur di luar negeri, khususnya Malaysia.

Kita boleh marah terus sama pemerintah dan rakyat Malaysia yang melecehkan orang-orang Indonesia. Tapi, kalau mau jujur, sebetulnya akar persoalannya ada di pihak Indonesia sendiri. Siapa suruh jadi kuli di Malaysia?

Saya berangan-angan, suatu ketika kita hanya mengirim pekerja-pekerja otak seperti dokter, ahli komputer, arsitek, dosen, dan sebagainya ke luar negeri.

6 comments:

  1. malaysia memang arogan.

    ReplyDelete
  2. Saya akan membuat blog tentang orang Indonesia yang jadi korban pelecehan, siksaan, pelanggaran hak asasi yg dilami org Indonesia atau bangsa lain di Malaysia, yg dilakukan oleh RELA atau polisi malaysia. Jika ada informasi/artikel dan/atau foto-foto tentang hal tsb, tolong dishare dong.
    Thanks
    Email saya: realbiz89@yahoo.com

    ReplyDelete
  3. Salam Sejahtera Untuk Saudara Lambertus,

    Saya Muhamat AR warga Malaysia tetapi leluhurnya Pekan Baru, Riau, Indonesia.. Almarhum kakek saya asal sana. Saya Generasi Ke 3 keturunan Indonesia. Di lahirkan di Batu Berendam Selangor. Dalam tubuh saya ada Jawa ada Mandailing. Tetapi saya di panggil Melayu. Saya mungkin kerana asalnya turunan perantau, sekarang merantau di Sabah dan beristeri seorang Bugis Indonesia. Profesi adalah seorang guru sejarah dan ICT

    Sebagai Melayu berketurunan Indonesia, apabila berlaku kasus-kasus yang saudara ceritakan itu amat menyedihkan emosi saya dan mungkin 60 persen orang Melayu di Malaysia. Kenapa 60 persen bukannya 100 persen. Untuk informasi saudara 60 persen orang Melayu adalah asalnya orang Jawa, Bugis, Banjar, Mandailing, Rawa, Aceh dan lain-lain suku dari Indonesia. Terpikir dalam benak saya betulnya berapa persen? Sebab hakikatnya ramai perantau-perantau baru dari Indonesia yang berjaya di Malaysia. Contoh Restauren2 dan kedai2 makan di Kuala Lumpur dan Kota Kinabalu dikuasai oleh orang-orang Indonesia. Mereka jadi bos dan kuli-kulinya ada warga Malaysia dan ada yang di bawa dari Indonesia.

    Bagi saya apa terjadi hubungan bangsa tidak akan tergugat lebih lebih-lebih lagi wujud makluk seperti kami yang cinta pada negara baru kami Malaysia tetapi tetap bangga kerana berdarah Indonesia. Jangan lupa Wakil Perdana Menteri Malaysia iaitu Datu Seri Najib Tun Razak adalah cucu kepada perantau dari Makasar, SULSEL

    Sekian
    Muhamat AR
    Kota Kinabalu,
    Sabah, Malaysia

    ReplyDelete
  4. All about REOG PO(r)NO ROGO…..eehhhh PONOROGO!!!!!

    I just want to say “Thanks or Malaysian brothers there…that JAVANESE CULTURE still lives in Negeri Melayu…

    Matur nuwun poro sederek Melayu…poro leluhur Jowo sing iseh urip lan wis kundur dumateng ALLAH bileh kesenian jowo taksih wilujeng ing tanah Mojopahit kang sampun wucal dados MALAYSIA.

    Thanks for my grandpa and grandma…who still alive and back to ALLAH’s hand…..that Javanese Culture is still alive in Majapahit Land as known Malaysia….

    Terima kasih para leluhur Jawa yang masih hidup dan sudah kembali ke Rahmatullah…karya seni Bapak-Ibu masih terpelihara di tanah Majapahit yang sekarang kita kenal sebagai Malaysia…

    Masak hanya gara-gara tarian Reog kita ribut!!!???? malu aku…isen isiiiin aku….

    Pertama kali waktu awak menginjak tanah Melayu ini awak sebenarnya bangga dan merindiiiinng waktu disugihi tarian Jawa..”kuda lumping” kok ya masih ada di Malaysia ini….(awak datang waktu itu sebagai duta mahasiswa hukum dari Indonesia “Association of Law Students for Asean Countries”, padahal tarian itu sulit saya temukan di luar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.

    Lalu Kapan ada “The Real van JowoScript”???? bukannya JavaScript…
    padahal kalau mau kita pelajari JavaScript itu khan mengambil filsafat budaya Jawa murni ….ONE WRITE FOR ALL!!!! tanya si pembuatnya, kenapa dia pakai nama JAVA….

    Lha wong Google wae wis nganggo “boso jowo” lho…..kok ora podho ribut…

    ReplyDelete
  5. Ave Bung Hurek, mohon beribu-ribu maaf. Izinkanlah saya memakai peribahasa orang barat :
    Jedes Volk hat die Regierung, die es verdient.
    Entah bagaimana menerjemahkan ? Kira2 begini :
    Setiap bangsa memiliki pemerintahan yang sesuai dengan bangsa itu sendiri.
    Pemerintah jahat, korup, penipu, munafik,...dll.
    Siapakah yang memilih politikus2 tsb. ?????
    Marilah maju serentak ber-ramai2 ke jalan Jagalan membeli cermin.
    Sejak proklamasi kemerdekaan sampai 1965, negara Indonesia selalu diganggu oleh Nekolim melalui kaki tangannya, yang notabene bangsa Indonesia sendiri. PKI Madiun, DI/TII, APRA, PRRI, Permesta, Andi Aziz, GAM, RMS, OPM,
    G-30-S.
    Dua puluh tahun kesempatan membangun ter-sia2.
    Tiga puluh dua tahun ORBA, yang makmur hanya pejabat dan konglomerat. Era reformasi, yo sami mawon tho mas.

    ReplyDelete