13 July 2007

Silitonga Pembina Narapidana Kristiani


Jauh-jauh dari Tanah Batak, Sumatera Utara, Erfan Silitonga diberi tugas mendampingi para narapidana kristiani di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya di Porong. Tugas berat, tapi mulia.

Karena selalu mendampingi narapidana untuk 'pembinaan mental', Erfan Silitonga sering dikira pendeta, evangelis, atau semacam tokoh umat. Padahal, ia mengaku hanyalah petugas penjara biasa. Sama dengan sipir-sipir lain.

Di penjara, ia pun tetap memperhatikan narapidana lain, apa pun latar belakang agama, suku, etnis, politik, dan seterusnya. Hanya saja, "Sejak empat tahun terakhir saya dipercaya menangani napi-napi yang beragama Kristen. Di sini kita tidak membedakan gereja, karena sifatnya oikumene," ujar sipir yang sudah 14 tahun berkarier di penjara itu kepada saya, pekan lalu.

Data terakhir yang dipegang Silitonga, napi kristiani di LP Porong sekitar 25 orang. (Total napi sekitar 450-500 orang.) Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, mulai pendidikan, taraf ekonomi, wawasan, hingga kadar keimanan. Namanya juga pelaku
tindak pidana, banyak napi (agama apa saja) yang jarang menekuni ritual keagamaan. Ikut kebaktian, baca kitab suci, doa pribadi, banyak yang alpa.

Nah, orang-orang semacam ini harus 'dibina' secara intensif agar 'kembali ke jalan yang benar' alias bertobat. Menurut Silitonga, tugasnya adalah mengikatkan saudara-saudara yang 'alpa' untuk merenungkan perbuatan-perbuatan di masa lalu, mempersiapkan diri, untuk kembali ke masyarakat.

Di penjara, kata Silitonga, pembinaan rohani (semua agama dapat tempat) merupakan salah satu model pemasyarakatan bagi para napi di Indonesia. Selama bertugas di LP Porong, Silitonga menemukan banyak perubahan yang dialami para napi. Mereka
menekuni kegiatan-kegiatan rohani dengan serius, rajin, jauh lebih rajin ketimbang masyarakat biasa di luar penjara.

Maklum, kegiatan di dalam penjara sangat terbatas, sehingga tak sedikit napi yang memfokuskan diri ke aktivitas rohani. Mereka yang dulu jarang ke gereja, tak pernah baca kitab suci, tiba-tiba menjadi orang-orang 'saleh'.

Setiap kebaktian di gereja (LP Porong punya gereja cukup besar di dalam kompleks penjara), napi sangat antusias. Mereka juga berlatih paduan suara, vocal group, main musik, untuk memuji kemuliaan Tuhan.

Atraksi mereka bisa dinikmati jemaat dari luar yang bertandang ke sana secara rutin. Gedeanto, pengacara terkenal di Surabaya, pernah menjadi 'tokoh' gereja LP Porong.

"Kita senang melihat mereka begitu antuasis menjalankan ibadah. Yang Islam juga sangat rajin di masjid, ngaji, dan sebagainya," ujar Silitonga yang murah senyum ini. Begitu khusyuknya para napi beribadah, jemaat yang datang dari luar sering kali
'iri'. "Siapa yang tidak terharu melihat teman-teman di dalam ini bertobat, kembali kepada Tuhan," kata Sisca, aktivis gereja dari Surabaya.

Apakah ada pendeta atau rohaniwan khusus yang berstatus PNS di penjara? Menurut Silitonga, sampai sekarang belum ada. Namun, sejak di Kalisosok (LP
Porong merupakan hasil relokasi LP Kalisosok, Surabaya), yang namanya pengelola penjara selalu membuka diri pada gereja-gereja atau persekutuan-persekutuan kristiani untuk melakukan 'pelayanan' di penjara.

"Kami bekerja sama dengan gereja-gereja di Surabaya, Sidoarjo, maupun Pasuruan, yang kebetulan dekat dengan LP Porong. Mereka punya jadwal rutin ke sini," kata ayah tiga anak itu.

Sedikitnya ada 10 gereja yang punya jadwal rutin, di samping kunjungan sporadis dari gereja, yayasan, atau organisasi lain.

Sebagai pembina mental, harapan Silitonga sederhana saja. Mudah-mudahan setelah keluar dari LP, para 'anak buahnya' bisa kembali ke masyarakat, menjadi orang yang benar, tidak neko-neko.

Silitonga merasa begitu prihatin manakala ada mantan napi yang harus 'masuk' lagi gara-gara melakukan tindak pidana baru.

1 comment:

  1. Saya mau minta nomer yang bisa dihubungi dari gereja di LP Porong tersebut. Berapa ya nomernya??
    kalau bisa di emailkan ke nyot_nyot_mbeledoz@hotmail.com
    Terima Kasih

    ReplyDelete