14 July 2007

Santoso Bikin Patung Cak Durasim


Santoso, perupa yang tinggal di kawasan Gedangan, Sidoarjo, saat ini lagi sibuk bikin patung Cak Durasim. Ia kerja sendirian di bagian belakang Taman Budaya Jawa Timur.

'Boleh dikata, saya ini single fighter. Dari dulu, ya, begitu. Tapi saya semangat karena tokoh yang saya patungkan ini bukan orang sembarangan,' kata Cak San, sapaan akrab Santoso, kepada saya.

Cak Durasim itu seniman tradisional asal Surabaya yang tewas disiksa penjajah Jepang pada 7 Agustus 1944. Nippon marah gara-gara sindirannya yang sangat tajam melalui parikan, pantun khas Jawa Timur:

Bekupon omahe doro
Melu Nippon tambah soro
.

Parikan ini telah menjadi klasik di Jawa Timur. Siapa yang tak kenal Cak Durasim? Kini, ada festival seni Cak Durasim. Penghargaan seni Cak Durasim untuk seniman tradisi. Tapi patungnya belum ada.

'Lha, sekarang aku kebagian tugas untuk bikin patung almarhum Cak Durasim. Sebuah kehormatan untuk saya,' papar Cak San, lahir di Jogja 12 Oktober 1950. Yang 'menugasi' Cak San tak lain Pribadi Agus Santoso, kepala Taman Budaya, yang juga sahabat Cak San semasa kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia, Jogja.

Lalu, dari mana Cak San menemukan gambar Cak Durasim?

'Ada gambarnya di buku lama, tapi kurang jelas. Saya perkuat gambaran itu melalui olah spiritual. Dari situ saya semakin yakin bahwa begini inilah wajah Cak Durasim, seniman sejati yang menjadi ikon kita di Jawa Timur,' terang Cak San.

Namanya juga orang Jawa, Cak San juga melakukan serangkaian ritual adat sebelum bikin patung ini. Bersama Cak Kartolo, seniman kidungan, Cak San nyekar ke makam Cak Durasim di kawasan Tembok, Surabaya. Kulo nuwun sek, Cak! Soale, ini bukan patung orang sembarangan!

Menurut Cak San, patung Cak Durasim yang akan ditempatkan di Taman Budaya ini dibuat lebih muda daripada aslinya. Cak Durasim digambarkan sebagai tokoh yang tegar hingga akhir hayatnya di tangan penjajah Jepang. Cak San berharap semangat pantang menyerah Cak Durasim ini menginspirasi warga Surabaya, Jawa Timur umumnya, untuk berkarya di bidang apa saja.

'Ojo lali, kita ini punya Cak Durasim yang luar biasa. Beliau sudah kasih contoh bagaimana berkarya secara konsisten di bidang kesenian. Beliau melakukan hal sederhana, bikin parikan, yang punya nilai perjuangan. Ini yang penting. Silakan cari uang melalui kesenian, hiburan, tapi jangan lupa bahwa seniman pun punya misi untuk bangsanya,' kata Cak San yang kerap mengelola pameran seni rupa di Surabaya, Sidoarjo, dan beberapa daerah lain di Jatim itu.

Nah, bahan untuk patung Cak Durasim ini sederhana saja. Semen. Tinggi 100 cm, vestek [penyangga] 160 cm. Juga ada tulisan di marmer seluas 30 x 50 cm : 'bekupon omahe doro, melu nippon tambah soro'.

'Kalau nanti ada rezeki, entah dari mana, saya mau bikin patung Cak Durasim lebih besar pakai perunggu. Ini tahap awal dulu lah,' tegas Cak San.

Menurut rencana, patung Cak Durasim karya Cak San ini diresmikan pada Oktober 2007. Momennya sengaja disesuaikan dengan festival seni [pertunjukan] Cak Durasim yang lazim diselenggarakan pada bulan itu. Patung akan ditempatkan di depan Gedung Cak Durasim, kompleks Taman Budaya Jawa Timur.

'Alhamdulillah, saya diberi kepercayaan untuk terlibat dalam pembuatan patung ini. Saya harapkan karya saya ini menjadi semacam tetenger bagi masyarakat Jawa Timur,' kata Cak San.

Ke depan, Cak San berencana membuat patung almarhum Gombloh, seniman rakyat yang terkenal dengan 'Kebyar-Kebyar', lagu patriotik. Ia menginginkan patung Gombloh itu dibuat sebesar mungkin dan ditempatkan di kawasan strategis Kota Surabaya.

'Saya sih inginnya di depan Balai Pemuda. Entah bagaimana caranya, yang jelas, Gombloh harus punya patung yang representif. Kita di Surabaya harus bangga punya Cak Durasim dan Gombloh. Keduanya seniman paling fenomenal pada zamannya," tegas Cak San.

No comments:

Post a Comment