14 July 2007

Pameran Zsolt Jozsef Simon


Zsolt Jozsef Simon [biasa disapa Simon] seniman asal Hungaria yang rendah hati. Ia lagi studi banding di Universitas Airlangga Surabaya sebagai mahasiswa tamu.

Tinggalnya di kawasan Lidah Kulon, dekat kampus Universitas Negeri Surabaya, sehingga ia harus bersepeda sekitar 30 menit ke kampusnya tiap hari. Belum lama ini Simon bikin pameran tunggal di Taman Budaya Jawa Timur.

Saya ke sana... sendiri. Hampir satu jam saya nikmati karya-karya Simon. Sederhana, pakai bahan-bahan di sekitar kita [kayu, kertas, bolpoin, tikar pandan, perabotan bekas...]. Yang menonjol karya dari bahan gips.

Gips dibentuk macam batang pohon tua yang telah dimakan rayap. Urat-urat 'pohon' sangat kentara. Yah... Simon bikin karya seni rupa sedemikian rupa agar penikmat punya ruang tafsir. Tidak ada karya realis macam gambar pemandangan, sawah, laut, tambak, burung.... atau nona manis. Kita dibiarkan menjelajah sendiri.

'Saya pun tidak mau kasih mssage. Saya hanya memberikan example melalui karya-karya saya,' ujar pria kelahiran Celldomolk, Hungaria, 22 November 1973 ini. Simon ramah, selalu tersenyum, saat bicara dengan siapa saja. Ini membuat pengunjung pamerannya betah meski kurang paham apa makna di balik karya-karyanya.

Di riwayat hidupnya, Simon mengaku mulai memamerkan karyanya pada 1996 di Budapest. Kemudian hampir tiap tahun ia pameran di beberapa negara, termasuk ikut pameran keramik tingkat dunia di Korea Selatan. Pada 2006 Simon ke Indonesia, ya, tambah ilmu di Unair.

'Yah, semua karya yang dipamerkan sekarang saya buat di Surabaya. Semuanya karya baru,' ujar Simon dalam bahasa Indonesia yang belum fasih.

Dia bilang kesenian tidak bisa dipisahkan dari hidupnya. Sambil belajar [tugas pokoknya di Surabaya], Simon bikin karya seni rupa. Banyak hal yang bisa ia sampaikan melalui seni rupa. 'Saya terima kasih karena anda mau datang ke sini, lihat pameran saya,' papar Simon.

Saya juga melontarkan pertanyaan klise. 'Karya-karya macam ini kan sulit dijual. Lantas, apakah anda bisa hidup dari kesenian? Apakah di Hungaria seniman bisa hidup layak dari karyanya?'

Simon tertawa kecil. Yah, pertanyaan saya memang konyol dan klise. Acap kali ditanyakan kepada seniman serius.

'Sama saja. Kondisi seniman di Hungaria ya sama saja dengan di sini. Sulit kalau hanya mengandalkan seni untuk hidup. Tapi saya masih punya penghasilan dari bidang lain sehingga saya tetap bisa membuat karya-karya.'

Yang membedakan, barangkali, masyarakat Hungaria sangat menhargai seniman berikut karya-karyanya. Seniman, meski miskin harta, penampilan seadanya, dianggap sebagai aset budaya bangsanya. Maka, pemerintah menyediakan anggaran untuk mereka.

Di akhir obrolan, Simon memberikan catatan selembar tentang visinya sebagai seniman. Pakai tulisan tangan dalam bahasa Indonesia khas orang kampus [agak ruwet hehehe..]. Demikian petikannya:

Kehidupan saya adalah sebuah pergerakan. Jika seseorang melihat saya menciptakan patung, dia berkata bahwa hal tersebut terlihat seperti melakukan pijatan atau berdansa dengan tanah liat.

Ketika saya mengajarkan pergerakan, saya melakukan pergerakan. Saya merasa seperti menciptakan patung dengan ruang yang mengitari saya. Untuk menekan, melepas, dan membentuk.

Lukisan-lukisan, gambar-gambar, dan patung-patung saya di sini adalah pembelajaran pergerakan tanpa bentuk yang nyata. Saya tidak berkeinginan untuk mendapatkan bentuk, tetapi proses dari pembentukan bukan buah atau pun bunga yang selalu berbuah dan berkembang. Perkembangan dan perubahan itu sendiri yang akan membentuk bahan-bahan.

No comments:

Post a Comment