30 July 2007

Nasaruddin dan Dahlan Iskan


Oleh M. NASARUDDIN ISMAIL


Sejak empat bulan silam Dahlan Iskan istirahat di Tianjin First Center atau Hospital Tianjin Medical University, Tiongkok. Saya katakan istirahat karena Sabtu dan Minggu dia bisa terbang ke mana-mana, termasuk pulang ke Surabaya. Fisiknya pun seperti orang yang tidak sakit.


Berat badan wartawan senior ini justru bertambah enam kilogram. Sejak Sabtu lalu, Dahlan Iskan punya kesibukan baru di rumah sakit yang ditempatinya sejak April 2007 itu. Yakni, memperdalam bahasa Mandarin untuk tahap kedua. Sebab, sebelumnya mantan wartawan majalah Tempo yang sekarang mengelola 82 koran di berbagai daerah di Indonesia itu juga pernah belajar bahasa Mandarin langsung di negeri Tiongkok.

Kali ini, dia memanggil tiga guru bahasa Mandarin. Tiga gadis lulusan sastra itulah yang pagi dan sore mengajar secara bergantian di ruang perawatannya. Pagi hari, mulai pukul 09.00 sudah mulai belajar selama dua jam. Sorenya, pukul 18.00 hingga pukul 20.00 waktu setempat belajar lagi.

Ayah dua anak kelahiran Madiun 17 Agustus 1950 itu ingin agar sepulang dari Tiongkok, bahasa Mandarinnya sudah bertul-betul mahir. Tidak saja lisan, tapi tulisan. Sebab itu, sekarang dia rajin belajar menulis. "Bahasa Mandarin saya sekarang kan masih jelek sekali sehingga perlu diperdalam lagi," tuturnya.

Jumat pekan lalu, saya juga ikut sibuk menyiapkan papan tulis, penghapus, spidol, dan sebagaianya. Sekaligus memasang papan tulis pada tembok di belakang meja kerjanya. Untuk memudahkan proses belajar dan mengajarnya, ruang belajar dilengkapi dengan digital projector serta kamus elektrik tiga bahasa--Mandarin, Inggris, dan Indonesia.

Gurunya pun selalu hadir tepat waktu di Kamar 1102, rumah sakit yang tengah direnovasi untuk rujukan kontingen Olimpiade Beijing, Agustus 2007, itu. "Orang di sini sangat disiplin," komentar pria asal Madiun yang dikenal sebagai pekerja keras itu. Akibat kerja keras itu pula, dia harus istirahat di rumah sakit agar tidak terganggu dengan pekerjaan rutinnya mengurus koran-koran di lingkungan Grup Jawa Pos.

Menurut Dahlan, belajar bahasa Mandarin memang sangat sulit dibandingkan bahasa-bahasa lain seperti Inggris dan Prancis, atau Arab. Banyak kata-kata yang tulisannya sama, tapi ucapan dan artinya berbeda. 'Si' misalnya punya 160 arti. Bisa berarti mati, waktu, dan seterusnya.
Begitu juga kata 'yang' terdapat 40 arti dengan tulisan yang sama. Artinya, kambing, gatal, dan sebagainya.
Untuk mengucapkannya, ada yang pakai ujung lidah, ada juga yang di kerongkongan. Itu yang paling dominan.
Lucunya, saat gurunya itu menyuruh mengucapkan kata-kata 'cha' yang diucapkan dengan suara kerongkongan, Dahlan sampai batuk-batuk. Lantas, dia permisi kepada gurunya untuk minum dulu karena serak. "Kalau sudah menyebut kata seperti ini sampai batuk," komentarnya sembari melirik saya yang berada di belakangnya.

Saya ikut tersenyum melihat Dahlan yang minum saat disuruh menirukan ucapan sang guru. Mulutnya pun harus dimencongkan. Saat itu pula dia minta untuk difoto. "Waduh, sulitnya minta ampun," kata Dahlan lalu menyebutkan kata-kata sulit itu berulangkali.

Pria yang memimpin Jawa Pos sejak 1 April 1982 itu berkomentar, "Mungkin dulu Rasulullah itu menyuruh umatnya menuntut ilmu sampai ke negeri Tiongkok sekalipun, antara lain karena bahasanya yang sulit itu. Sedikit aja lidah meleset dalam mengucapkan kata-kata, artinya pun sudah berbeda. Bayangkan, tulisannya sama, artinya bisa 160 macam."

Ada lagi debat kecil antara Dahlan Iskan dan gurunya. Ketika sang guru menyuruh menyebutkan suatu kata, Dahlan mengatakan bahwa ucapannya itu tidak sesuai dengan suara di kamus. Gurunya bilang kamus tidak bisa bersuara, tapi hanya bisa dibaca. Lantas, Dahlan membunyikan kamus elektroniknya yang membuat gurunya tertawa.

Untuk ukuran Indonesia, sebenarnya Dahlan Iskan ini fasih berbahasa Mandarin. Tapi, setelah berbulan-bulan berada di Tiongkok, dia kian merasakan bahasa yang dikuasainya itu ternyata masih kurang. Karena itulah, agar tidak membuang waktu secara cuma-cuma selama di rumah sakit, dia memutuskan untuk memanggil guru bahasa Mandarin.
Rumah sakit di Tiongkok memang tidak ketat seperti di Indonesia. Selama fisik masih kuat, dokter di sana mengizinkan pasiennya jalan-jalan atau berlibur pada akhir pekan. Sabtu-Minggu merupakan hari libur resmi di Tiongkok.

Bahkan, pasien boleh belanja ke pasar sambil membawa botol infus. Sebab, rumah sakit tidak menyediakan makanan seperti di sini. Ingin berlangganan katering juga bisa. Sebab itu, saya selalu menemukan pasien yang berseragam rumah sakit yang sedang berbelanja sambil memegang botol infus. Ada juga yang didorong dengan kursi roda.

Kemudahan itu pula yang dimanfaatkan Dahlan Iskan (di Tiongkok sering disapa dengan Isikan) untuk belajar bahasa. Dia berprinsip bahwa belajar itu tidak ada akhirnya. Azrul Ananda, putranya, juga akan disekolahkan ke Beijing untuk belajar bahasa Mandarin. "Kalau saya nganggur di sini kan tidak ada gunanya, kecuali hanya untuk berobat," tutur tokoh yang juga pernah kuliah di Fakultas Hukum itu.

Dahlan mengaku mulai tertarik belajar bahasa Mandarin gara-gara karyawannya kursus bahasa Mandarin. Dia pun ikut-ikutan. Tapi seminggu kemudian karyawannya mulai protol karena tingkat kesulitannya sangat tinggi. Dahlan pun hampir putus asa, tapi malu terhadap karyawannya bila ikut malas. Selain itu, bisnisnya pun sudah mulai menerobos ke negeri tirai bambu tersebut.

Misalnya, untuk membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Samarinda dia bermitra dengan Tiongkok. Begitu juga saat mendirikan pabrik karet milik perusahaan daerah Jatim di Surabaya maupun pabrik nanas di Kalimantan Barat. "Bisnis kita kan mulai bermitra dengan Tiongkok, sehingga mau tidak mau harus menguasai bahasa mereka," tuturnya.

Pada saat rapat di Tiongkok, Dahlan pun merasa kesulitan karena tidak mengerti bahasa mereka. Maklumlah, orang Tiongkok sangat fanatik dengan bahasanya sendiri. Mereka jarang yang mengerti bahasa Inggris. "Saya berpikir bahasa Mandarin harus dikuasai karena bisnis sudah mulai merambah ke sana," ceritanya usai belajar bahasa tersebut.

Setelah mendapatkan pengetahuan dasar tentang bahasa tersebut, Dahlan pun langsung belajar di Tiongkok, di sebuah provinsi mitra bisnisnya. "Sambil sekolah, saya juga kepingin tahu lebih mendalam perusahaan mitra bisnis itu di sana," ujarnya.

Berkat bahasa Mandarin yang dikuasainya, dia mudah berkomunikasi selama berada di rumah sakit. Sebab, banyak pasien asing yang dirawat di sana yang kesulitan bahasa.
Pasien asal Arab Saudi, misalnya, suatu sore berteriak-teriak. Suster bingung dan menyuntik dengan obat penenang. Setelah ditanya dengan bahasa Arab, ternyata parsoalannya spele. Dia ingin menelepon keluarganya di Arab Saudi, tapi tidak bisa mengatakan kepada perawatnya.

"Setelah saya pinjami telepon dan bicara dengan keluarganya, akhirnya dia diam. Tapi sudah kadung disuntik obat penenang," cerita Dahlan lalu tertawa lebar tentang pasien di sebelah ruangannya yang tidak paham bahasa Mandarin.

Maka, Dahlan sering menjadi penyambung lidah pesien yang hanya bisa berbahasa Arab. Sebab, Dahlan Iskan yang juga keluarga Pondok Pesantren Takeran itu ternyata fasih juga berbahasa Arab.

"Karena di sini banyak dari Timur Tengah, ya, terpaksa harus ingat-ingat lagi pelajaran bahasa Arab dulu. Tapi tidak sesulit bahasa Mandarin. Hanya saja, ada kesamaan ucapan dalam bahasa Arab dengan Mandarin dan tidak ada dalam bahasa Indonesia," jelasnya.

1 comment:

  1. hey! i'm going to cali this weekend and won't be back until september...here is the website i was talking about where i made extra summer cash. Later! the website is here

    ReplyDelete