06 July 2007

Mana Investigative Reporting?

Mana liputan investigasi?
Kok berita kalian stright news melulu?
Kami tunggu investigasi ada apa di balik kasus fasum [fasilitas umum].
Kok koran-koran makin gak mutu?
Wartawan kerjanya apa?
Wartawan kok kayak pegawai?
Reporter sukanya jumpa pers melulu?
Wartawan hobi cari amplop?
Wartawan doyan memeras nara sumber?
Wartawan gak bisa menulis bagus?
Redaktur kok goblok, gak kreatif?
Apa sih susahnya bikin investigative reporting?
Kan banyak kasus di Surabaya?
Bikin perencanaan lah!


Pertanyaan, pernyataan... plus kecaman macam ini selalu saya dengar dari para [mantan] wartawan, seniman, dan pemerhati media massa di Surabaya. Salah satunya Jaka Mujiana, bekas wartawan Surabaya Post. Dia kecewa dan marah besar melihat kualitas media-media di Surabaya.

Media beroplah besar, sedang, kecil, kata dia, sama saja. "Lha, kalau koran-koran cuma nulis berita pendek, peristiwa kecil, besoknya hilang... buat apa? Kenapa nggak bisa bikin laporan penyelidikan. Investigative reporting. Dulu saya sering bikin lho," kata Jaka Mujiana.

Saya berusaha menjawab mengapa isi koran belum memenuhi harapan Jaka dan kawan-kawan. Tapi sia-sia. Saya jawab satu kalimat, saat itu juga muncul gugatan dalam 10 kalimat.

Makin dijawab makin saya terpojok. Saya pun jadi terdakwa yang tidak bisa berkutik. Sebab, harus diakui, isi koran-koran sekarang memang demikian.

Selasa, 3 juli 2007, Radio Suara Surabaya mendiskusikan topik ini. Pembicaranya Henry Subiakto [Lembaga Konsumen Media], Bambang Purwadi [RCTI Biro Surabaya], Arya Gunawan [pengamat media, bekas wartawan, pekerja Unesco di Jakarta].

Aha, ternyata para pendengar [kebanyakan pemerhati media, pengamat sosial] melontarkan gugatan yang sama. Bahkan, lebih keras daripada gugatan Jaka dan kawan-kawan kepada saya.

Saya membatin, "Untung, bukan saya yang bicara di radio. Hehehe... Cak Bambang RCTI sing kena damprat konco-konco pengamat lan pendengar radio."

Maka, kawasan saya Bambang Purwadi dari RCTI pun menjadi bulan-bulanan pendengar dan pengamat. Bambang bilang, pada dasarnya semua wartawan ingin investigasi, bikin laporan mendalam... tetapi....

"Di televisi itu berita desak-desakan dengan sinetron, sepakbola. Lha, mau ditaruh di mana laporan investigasi," kata Bambang Purwadi.

Bisa diduga, jawaban redaktur RCTI ini dimentahkan oleh pengamat dan pendengar.

Arya Gunawan, bekas reporter KOMPAS dan BBC, sebagai pengamat, menyebut empat alasan mengapa laporan investigasi tidak berkembang di Indonesia. Arya juga mengaku heran karena justru di era pers bebas pasca-Orde Baru ini investigative reporting malah tidak ada. Hanya majalah TEMPO yang masih berusaha menjaga 'tradisi' investigasi meskipun masih tersandung-sandung.


SATU, kepentingan pemilik media. Jika ada kasus atau kebobrokan yang berkaitan dengan pemilik media, otomatis tidak akan ada investigasi. Termasuk kepentingan pemasang iklan atau relasi media massa itu. Media tak akan investigasi kasus-kasus yang dibikin oleh pemasang iklan alias klien tetap.

DUA, ketidaktahuan pemilik media akan pentingnya investigative reporting. Sebab, banyak pemilik media yang latar belakangnya bukan wartawan, tapi pengusaha.

TIGA, kemalasan wartawan dan redaktur. Menurut Arya, ini yang paling terasa di era pasca-Orde Baru. "Penyakit wartawan Indonesia sekarang adalah kemalasan yang luar biasa untuk melakukan verifikasi, cek dan ricek, apalagi investigasi."

Karena itu, wartawan Indonesia [sekarang] asyik saja dengan berita-berita biasa, jumpa pers, bahkan meng-copy paste berita-berita dari temannya. Tanpa verifikasi lagi! Jangan harap lahir investigative reporting selama mental wartawan kita masih seperti ini.

EMPAT, wartawan memang tidak tahu cara membuat investigative reporting. Artinya, perlu pendidikan dan latihan entah dari lembaganya, kampus, atau lembaga di luar yang peduli pada investigative reporting.


Henry Subiakto, juga dosen Universitas Airlangga, menambahkan, tren media sekarang memang kurang menguntungkan media serius yang peduli investigative reporting. Menurut dia, oplah TEMPO misalnya menurun, padahal majalah ini berusaha bekerja keras bikin liputan investigasi.

Di Inggris, koran The Sun yang banyak gosip dan hiburan malah oplahnya sampai tiga juta. Sedangkan The Guardian yang serius, peduli investigative reporting, tak sampai separonya. "Masyarakat kita juga suka sinetron, hiburan. Belum suka investigative reporting di televisi, misalnya," papar Henry.

Belum lagi biaya investigative reporting boleh dikata sangat mahal. Sudah mahal, belum tentu ratingnya baik. "Lalu, bagaimana saya bertanggung jawab kepada atasan saya?" ujar Bambang Purwadi dari RCTI.

Diskusi soal investigative reporting kian panas dengan datangnya telepon dari Sidharta Adimulya, aktivis sosial budaya di Surabaya. Pernyataan Sidharta benar-benar memukul awak media.

Katanya, "Bagaimana mau investigasi, bikin investigative reporting? Wong masang foto di koran saja salah. Lha, selama akurasi media-media kita tidak beres, jangan harap ada investigative reporting."

Sidharta tak asal bicara. Dia menyebut beberapa bukti nyata di koran terbitan Surabaya yang memang tidak akurat. Kurang verifikasi. Tidak cek dan cek ulang. Sebagai konsumen media, Pak Sidharta merasa mendapat sajian yang tidak sesuai dengan harapannya.

Terus piye, Cak????

2 comments:

  1. yah.. memang persoalan berat di indonesia.

    ReplyDelete
  2. sulit mas, kalo wtw skrg byk yg rangkap cari iklan n servis klien. gak kebayang bisa buat investigative reporting.

    ReplyDelete