14 July 2007

Luluk Purwanto Srikandi Jazz


Pertemuan dengan Luluk Purwanto [lahir di Jogja, 25 Juni 1959] ketika saya baru beberapa hari menjadi wartawan sebuah harian di Surabaya. Mbak Luluk bersama suaminya, Rene van Helsdingen, gelar konser jazz di kampus Universitas Kristen Petra Surabaya.

'Anda silakan wawancara dengan Luluk Purwanto. Tahu nggak Luluk Purwanto? Dia dedengkot jazz Indonesia, pemain biola hebat. Biar anda tambah wawasan.'

Begitu perintah redaktur, agak membentak. Biasa, reporter pemula lazimnya diperintah agak keras... untuk tes mental. Saya senang karena selama ini saya hanya tahu nama Luluk Purwanto dari media massa.

Aha.. saya pun ketemu Mbak Luluk Purwanto. Orangnya kecil, mungil, baik hati. Suaminya orang Belanda, tinggal di sana, keliling dunia, pejazz hebat... tapi rendah hati. Enak diajak bicara. Luluk malah suka bicara dalam bahasa Jawa, gak kemelodo, kata orang Surabaya.

'Yo opo rek... banyak nggak ya yang suka jazz di Surabaya?' begitu basa-basi Luluk Purwanto. Teman saya, wartawan senior dari koran lain, bilang cukup banyak, tapi kurang merakyat. Beda dengan pop, apalagi dangdut.

"Hehehe... dari dulu ya begitu," kata Luluk Purwanto.

Maka, wawancara pun berlangsung santai, kayak omong-omong dengan kakak kita sendiri. Luluk tidak menganggap remeh kami, wartawan, yang rata-rata masih mentah soal musik, apalagi jazz. Dia bilang kita jangan sampai membuat masyarakat [pembaca] punya image bahwa jazz itu sulit, rumit, hanya untuk kalangan elite.

"Jazz itu jua bisa sangat menghibur lho," kata pemain biola jempolan ini. Kalau sering dinikmati, sering ditampilkan... Luluk Purwanto yakin musik jazz bisa diterima masyarakat Indonesia. Sebab, pada dasarnya jazz itu musik universal, menembus berbagai sekat dan batas negara, etnis, agama, apa pun.

Saat itu, Luluk Purwanto bersama suaminya, plus pemain bas betot [perempuan], saya lupa namanya, mungkin Belinda [?], membawa panggung berjalan. Sebuah mobil dimodifikasi sedemikian rupa menjadi panggung pertunjukan jazz. Rene main piano, Luluk biola, lalu bass akustik. Konser di halaman UK Petra Surabaya itu gratis.

Aha... malam itu saya menyaksikan langsung atraksi Luluk Purwanto bersama The Helsdingen Trio. Berkat kartu pers, saya bisa berdiri paling depan, di bawah panggung. Bisa motret, bisa lihat ekspresi pemusik. [Konser Luluk ini tidak pakai kursi. Semua berdiri dan menikmati musik jazz secara bebas.]

Dari belasan nomor instrumental, terus terang, waktu itu kuping saya masih asing. Saya yakin ratusan teman-teman mahasiswa Petra pun kurang familier dengan komposisi jazz standar. Toh, semua senang, enjoy banget. Kenapa?

Luluk Purwanto membuktikan janjinya saat jumpa wartawan. Mereka ingin buktikan bahwa jazz itu atraktif, sangat menghibur. Atraksinya di mana? Penampilan trio itu sangat istimewa. Selain musiknya yang swing, bahasa tubuh mereka pun renyah.

Luluk pakai ikat kepala, mengesek biola [violin] dengan gaya. Matanya merem melek, menikmati betul nada-nada biru [blue note]. Rene yang rapi busananya sekali-sekali bikin gerakan lucu. Belinda [?] yang gemuk pun kerap mendemontrasikan bas betotnya.

Maka, penonton senang. Ngerti tidak komposisi, itu bukan hal pokok. "Sing penting terhibur, Cak," kata orang Surabaya. Tepuk tangan panjang selalu terdengar setiap akhir lagu.

Menjelang akhir konser, Luluk Purwanto memainkan nomor pop yang tak asing lagi: Layu Sebelum Berkembang. "Hatiku hancur mengenang dikau..." Tepuk tangan panjang. Luluk Purwanto bernyanyi sambil main biola diiringi bas dan piano. Lagu pop biasa itu di-jazz-kan tanpa kehilangan aslinya.

Belum cukup, Luluk dan kawan-kawan membawakan nomor pamungkas, instrumental. 'Selayang Pandang', lagu melayu yang melodinya manis dan khas. "Layang-layang selayang pandang, hati di dalam rasa begoncang...."

Belum pernah saya menyaksikan gelar jazz di Surabaya semeriah konser Luluk Purwanto. Nomor 'Selayang Pandang' saya ingat terus, dan saya tirukan sampai sekarang.

13 Desember 2003.

Luluk Purwanto bersama suami dan pemusik lain kembali tampil di Surabaya. Kali ini di halaman kampus Universitas Airlangga. Pakai mobil terbuka macam di UK Petra dulu.

Bedanya, Luluk Purwanto memadukan jazz dengan wayang kulit. Eksperimentasi ini unik, tak lazim. Lagi-lagi saya berada di tengah ratusan penonton, tapi tidak sempat wawancara langsung dengan Luluk. Sebab, kini saya bukan peliput musik dan budaya.

Penonton senang, tapi menurut saya tidak semenarik waktu di halaman UK Petra dulu. Kolaborasi jazz-wayang kulit ala Luluk Purwanto ini mengajak penonton ke suasana reflektif. Suasana kurang cair. Tapi koran-koran di Surabaya menilai konser di Unair ini sukses.

Saat konser baru separo perjalanan, saya dapat pesan pendek [SMS] dari teman-teman aktivis gereja. "Mgr. Hadiwikarta [Uskup Surabaya] meninggal dunia. RIP. Harap segera ke RKZ untuk membuat reportase khusus di koran anda."

Apa boleh buat. Saya pun pulang untuk menulis laporan tentang wafatnya Mgr. Johanes Hadiwikarta. Karena itu, saya tidak bisa menilai konser Luluk Purwanto di kampus Unair secara utuh dan tuntas. Namun, saya berterima kasih kepada Luluk Purwanto, suaminya, dan seniman pendukung yang telah memperkaya apresiasi musik jazz di Kota Surabaya.

Saya selalu ingat kata-kata Luluk Purwanto:

"Untuk jazz, saya tidak pernah persoalkan honor. Jazz bukan tempat untuk mencari uang. Jazz tempat untuk menyalurkan kemampuan bermusik."

1 comment:

  1. mbak luluk ini jazzer yg langka. konsisten banget.

    ReplyDelete