06 July 2007

Karyadi Penulis Biografi Mgr. Sutikno


Oleh Maria dan Agus

Pada tanggal 3 April 2007, Dubes Vatikan untuk Indonesia Mgr. Leopoldo Girelli secara resmi mengumumkan uskup baru Keuskupan Surabaya: Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono. Bersama ini pula, muncul ide brilian dari Kanisius Karyadi untuk membuat sebuah buku yang isinya memuat profil dan segala hal yang berhubungan dengan Mgr. Sutikno.


Sebuah ide bagus, tetapi sekaligus tantangan tersendiri bagi Karyadi. Mengingat, dalam waktu kurang dari tiga bulan buku tersebut harus kelar. Alhasil, pada saat tahbisan Mgr. Sutikno (29/6/2007), buku tersebut sudah dapat dinikmati oleh umat di Keuskupan Surabaya.

Dengan judul 'Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Sang Maestro dari Perak', buku yang memuat segala sesuatu terkait Gembala Baru Keuskupan Surabaya ini secara perlahan mulai dinikmati oleh umat. Secara perlahan namun pasti, buku ini mulai diburu di mana-mana.

"Semoga dengan membaca buku ini, kita lebih mengenal dan mencintai uskup kita yang baru," ungkap Romo Y. Eko Budi Susilo, Pr. selaku Ketua Panitia Tahbisan Mgr. Sutikno, dalam pengantar buku ini.

Menjadi kebanggaan dan sekaligus titik awal bagi kebangkitan orang muda Katolik Keuskupan Surabaya, terlebih dalam bidang jurnalistik. Dengan demikian, kekhawatiran Gereja terhadap generasi muda Katolik dalam perannya menciptakan sinergisitas yang membawa kesejahteraan bersama bagi umat dan masyarakat, terjawab sudah.

Banyak cerita unik dan menarik yang menyertai proses pembuatan buku 'Sang Maestro dari Perak'. "Mulai dari hadangan orang mabuk saat mau mengambil foto makam Bapak Mgr. Sutikno sampai ngadatnya komputer karena dipakai 24 jam untuk menuntaskan buku ini," ungkap Karyadi seperti yang tertulis dalam kata pengantar buku perdananya.

MODAL NEKAT

Karyadi awalnya tidak mengenal sama sekali Romo Sutikno, Pr. Sebelum terpilih sebagai Uskup Surabaya. Ini memang tergolong nekat. Bermodal nomor HP yang diberi oleh wartawan JUBILEUM, dia nekat mengirim pesan pendek [SMS] kepada Mgr. Sutikno untuk minta izin membuat biografinya.

Ternyata, SMS itu adalah awal mula yang baik, karena setelah itu hubungan mereka berdua menjadi akrab. Bahkan, Karyadi yang punya nama panggilan Leyu sering hadir ketika Mgr. Sutikno melakukan audiensi dengan berbagai kelompok.

Sebelum mengenal Mgr. Sutikno rupanya Leyu sudah memperoleh begitu banyak informasi tentang beliau. Berkat bantuan teman di Komisi PSE yang mengenalkan Leyu pada Kak Mia, adik kandung Mgr. Sutikno, yang juga ketua Komisi Bina Iman Anak Katolik [BIAK], dia bisa mendapatkan informasi lengkap dari saudara, keluarga, dan teman-teman kecilnya.

Selain banyak kemudahan dalam proses pengumpulan data dan wawancara, rupanya berbagai halangan juga menghadang. Mulai dari berburu data dan berita dari Kediri, Blitar, Malang, Jatijejer, Krian, sampai keliling Kota Surabaya. Proses perburuan yang sampai membuat Leyu hidup seperti wong mbambung ini bisa terjadi karena dukungan keluarga, terutama sang istri Cecilia D.V.

Halangan terbesar justru pada proses akhir. Ketika semua data sudah didapat, proses pengetikan tidak berjalan lancar karena komputer ngadat. Berkeliling dari satu rental ke rental yang lain sudah menjadi makanan sehari-hari selama satu minggu (20 jam/hari). Saking setianya menjadi pelanggan rental, Leyu jatuh sakit. Kemalangan tidak berhenti sampai di sana.

Kondisi yang terforsir dan pikiran yang stres membuat Leyu sempat kelimpungan ketika dia muntah-muntah di jalan. Maksud hati membeli obat di apotek, tapi petugas tidak berani memberi sebelum mendapat resep dari dokter.

"Berapa biayanya, Dok?" kata Leyu setelah diperiksa dokter dalam keadaan pakaian penuh muntahannya sendiri.

"Lima puluh ribu saja," sahut sang dokter.

"Saya tidak cukup uang, Dok," lanjut Leyu yang tidak menyangka akan membutuhkan biaya untuk berobat sehingga tidak membawa cukup uang.
Rupanya, sang dokter adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan. Dia membebaskan Leyu dari biaya dan memberi resep dengan pesan untuk ditebus setengah saja.

Setelah proses pengetikan dan editing yang dilakukan sendiri oleh Leyu selesai, masalah yang dihadapi masih belum usai. Data yang sudah diedit dan diserahkan ke percetakan tidak maksimal diotak-atik selama 10 hari.

Dengan setengah memaksa, Leyu berhasil membuat layouter mentransfer data dari word ke corel draw, meski harus ditunggui siang malam. Karena terburu-buru dan kurang teliti (capek ya layouternya?) banyak naskah yang hilang.

Proses cetak juga tidak lancar karena kurangnya dukungan logistik kertas dan juga operator cetak yang baru bekerja. Penulis pun akhirnya merangkap juga sebagai logistik kertas. Penulis, editor, pendamping layouter, logistik ternyata masih kurang, Leyupun juga menghitung kertas, menyortir hasil cetakan, dan juga menyortir hasil komplit buku sebelum dijilid.

Proses deg-degan masih berlangsung karena hingga H-2 buku masih belum jadi. Sejak pagi Leyu menunggu di percetakan, dan akhirnya buku selesai tepat pukul 13.00 WIB. Buku 'Sang Maestro dari Perak' yang masih fresh from the oven itu pun dibawa ke lokasi jumpa pers. Ndalalah, buku yang dihasilkan dengan penuh perjuangan itu jatuh di tengah perjalanan menuju lokasi, mengakibatkan puluhan buku rusak.

Lha kok profesinya masih nambah lagi, distributor dan direct selling pun dirangkap oleh Leyu. Bersama sahabat-sahabatnya Leyu menggempur Gereja Hati Kudus Yesus selama masa Triduum Vesper menyambut tahbisan Mgr. Sutikno. Lapangan Bumimoro, Kodikal, Surabaya, tempat ditahbiskannya Uskup Vincentius Sutikno Wisaksono juga dijadikan sasaran penjualan oleh Leyu dengan dibantu oleh istri, mertua, dan "bolo kurowonya". Stasi St. Andreas Porong menjadi tempat akhir masa promosi buku yang dijual dengan harga Rp 30.000.

Saat misa perdana Mgr. Sutikno di Katedral, Leyu kembali mengerahkan bala bantuan dari istri tercinta dan sahabatnya. Saat ini buku sudah tidak disubsidi lagi oleh penerbit (Karolmedia) dan mulai dijual dengan harga Rp 35.000/eks.

Lengkap sudah profesi Kanisius Karyadi, Ketua Presidium PMKRI DPC Surabaya periode 1998-1999. Rupanya, penerbitan buku biografi Mgr. Sutikno ini menjadi pengalaman yang sangat berharga buat Leyu. Buku ini tidak akan ada dan beredar tanpa turun tangan sendiri dari sang penulis dan bantuan teman-teman serta pengorbanan keluarga tercinta walaupun harus bekerja siang malam selama hampir tiga bulan.

Bahkan, demi buku ini Leyu tidak bisa dihubungi oleh JUBILEUM selama satu minggu lebih. SMS pun tidak pernah dibalas. Tapi setelah buku beredar, telepon dari penulis langsung diangkat pada dering kedua.

No comments:

Post a Comment