09 July 2007

Jaranan Turonggo Reso Wijoyo


Turonggo Reso Wijoyo, grup jaranan tradisional dari Desa Jatikalang, Prambon, belum lama ini tampil di kompleks Pasar Wisata Tanggulangin. Turonggo merupakan salah satu dari (sangat) sedikit grup jaranan di Jawa Timur.


Tampil di hadapan sekitar seratus warga, sejak awal pemain-pemain jaranan sudah terlihat nyeleneh. Bau dupa sangat tajam menusuk hidung penonton. Mirip arena pertapaan di gua atau pegunungan.

Cak Wakit, sang pimpinan, kemudian komat-kamit membacakan sesuatu sembari memegang tubuh anak buahnya. Tiga menit kemudian, para pemain, khususnya yang berbusana merah, mulai kesetanan. Gerakannya aneh, lepas, bebas, dan seperti tidak tahu malu.

Ketika pemain musik memainkan irama rancak, dua pemain ini langsung melompat, menyerang, koprol, salto, berguling di tanah, hingga minum air kotor. Air berwarna gelap, saking kotornya, diseruput layaknya orang minum kopi.

Edan tenan!

Bagi warga Sidoarjo, atraksi jaranan--yang sebetulnya sudah lazim di daerah lain, apalagi di bawah tahun 1980-an--menjadi tontonan langka dan menghibur. Bagaimana tidak. Kelompok seni tradisi jaranan hampir punah di Kabupaten Sidoarjo, tak sampai hitungan jari sebelah tangan. Sebelum 1980-an, kata warga, cukup banyak grup jaranan yang menggelar atraksi hiburan di kampung-kampung.

"Waktu itu kan televisi masih TVRI thok. Lha, setelah banyak televisi swasta seni tradisi jadi merosot. Untung ada kelompok jaranan dari Prambon," kata Sri yang mengajak dua anaknya ke lokasi acara.

Minimnya grup jaranan justru menjadi berkah bagi Cak Wakit dan kawan-kawan. Mereka bisa bermain di berbagai kawasan, khususnya pedesaan, dari Sidoarjo, Mojosari, Mojokerto, dan kawasan lain Jawa Timur.

"Alhamdulillah, tanggapan cukup banyak. Namanya rezeki, ya, kita syukuri," ujar Cak Wakit.

Menurut dia, kesenian tradisi seperti jaranan rata-rata kalah bersaing dengan hiburan modern seperti orkes dangdut atau band. Pengaruh televisi yang begitu luas membuat anak-anak muda merasa asing dengan seni tradisi.

"Padahal, jaranan itu kesenian tradisi kita. Kalau nggak ada yang nanggap, ya, habis kita-kita ini," ujar Cak Wakit.

Seperti juga wayang kulit atau ludruk, lanjut dia, seni jaranan hanya bisa eksis manakala ada tanggapan. Sebab, tidak mungkin lagi grup jaranan menjual tiket seperti konser band atau dangdut. Siapa yang mau beli?

"Harus ada yang nanggap dan warga menonton gratis. Makanya, kita berharap agar selalu ditanggap," kata Cak Wakit seraya tersenyum.

Herry Moelyanto dari Indosat Jawa Timur, yang menanggap Grup Turonggo Reso Wijoyo, mengatakan bahwa pihaknya sengaja menghadirkan grup jaranan asal Prambon itu sebagai apresiasi kepada seni tradisional. "Sekaligus memberikan hiburan murah meriah kepada masyarakat," kata Herry.

Menurut dia, acara hiburan khas desa ini sengaja dihadirkan karena Indosat-Mentari memang membidik segmen warga pedesaan. Karena itu, seni tradisi seperti jaranan, sulapan, atraksi paranormal, ludruk, dan sejenisnya akan sering dihadirkan perusahaan seluler terkemuka ini. Paling tidak, pemain-pemain jaranan seperti Cak Wakit bisa bernapas lega.

Cak Wakit sependapat. Hanya saja, menurut dia, sulit bagi para pemain untuk bisa hidup hanya dari bermain seni jaranan di kampung-kampung. Sebab, nilai tanggapan yang tidak begitu besar harus dibagi rata kepada anggota grup yang jumlahnya 12 hingga 20 orang.

Karena itu, Cak Wakit dan kawan-kawan menekuni pekerjaan lain (kerja apa saja) ketika grupnya tidak manggung.

"Kita ini mau main karena sudah kadung suka," ujar seorang pemain.

1 comment:

  1. namanya jga seni, kalo dikomersilkan kadang malah gak dapet apa2...ya khan, karena orang2 begitu hanya hidup buat kesenangan mereka.


    dari http://stupidman.wordpress.com/

    ReplyDelete