26 July 2007

Janet Steele di Suara Surabaya

Diskusi selasaan di Radio Suara Surabaya, 24 Juli 2005, agak beda dari biasanya. Henry Subiakto dari Lembaga Konsumen Media membawa serta Janet Steele, pengamat jurnalisme dan dosen George Washington University, Amerika Serikat.

Diskusi ini selalu menarik karena kinerja wartawan di Surabaya, Indonesia umumnya, dibahas habis oleh pembicara dan pendengar. Kritik umumnya sangat keras sehingga banyak teman wartawan 'takut' mendengar.

'Kuping panas terus kalau disikat habis-habisan oleh pendengar SS. Kayaknya apa yang kita lakukan selama ini sia-sia,"  teman saya mengeluh.

'Tenang sajalah. Kritik itu kan kayak pil pahit. Pahit tapi bikin badan kita sehat lagi,' ujar saya membesarkan hati teman wartawan. Bukankah masih ada wartawan Indonesia yang punya hati nurani? Masa, kita semua dianggap tukang peras, pemburu amplop, penjahat semua? Generalisasi itu tak sehat, bukan?

Restu Indah, jangkar SS, mengajak pembicara untuk membahas kualitas wartawan Indonesia. Bandingannya wartawan Amerika Serikat. Wah, tentu jauh sekali. Menurut Henry, kita baru saja menikmati pers bebas, sementara USA sudah dalam hitungan abad. Kita masih perlu belajar banyaklah.

Dhimam Abror, ketua redaksi Surya, mengungkapkan, budaya telepon ala Orde Baru sudah tak ada lagi. Hanya saja, yang bikin pusing itu 'telepon' dari orang bisnis atawa pemasang iklan. Media-media khawatir kehilangan klien, pemasang iklan, sehingga pemberitaan tentang kasus yang berhubungan dengan pemasang iklan pun tak bisa leluasa.

"Fire wall itu sulit. Kita perlu memperhatikan sisi bisnis," ujar Abror.

"Apalagi, media-media yang memang sejak dulu tidak punya fire wall. Wah, tambah bebas,"  Henry, yang juga dosen Universitas Airlangga, Surabaya, menambahkan.

Diskusi mulai hangat dengan komentar pendengar. 'Wartawan kita dinilai kurang dalam dan lengkap dalam memberitakan sesuatu. Terlalu mudah ambil kesimpulan. Kurang investigasi.'

Keluhan-keluhan ini klasik, namun memang menjadi penyakit kronis di Indonesia. Kapan ya bisa beres? Mungkin 100 atau 200 tahun lagi.

Ada juga yang bilang wartawan kita terlalu muda. Tamat universitas, S-1, langsung jadi reporter. Wawasan dan bacaan masih sedikit. Kurang matang. Ini yang bikin media kita [umumnya] kurang bermutu. Begitu kritik pendengar lain.

Abror bilang wartawan-wartawan muda kita itu justru pintar-pintar. Tapi dia dibebani tugas membuat banyak berita setiap hari. "Kalau bikin empat berita per hari, ya, perlu fisik yang kuat. Makanya, banyak reporter usianya muda,' kata Abror.

Janet Steele pun heran. Menurut dia, di USA rekrutmen wartawan, atau profesi apa pun, tidak boleh dibatasi usia. Siapa saja boleh jadi wartawan kalau memang dia punya kemampuan. 'Membatasi usia itu sama dengan diskriminasi,' katanya.

'Di sini wartawannya muda-muda karena bisa dibayar murah,' ujar Henry Subiakto. Hehehe...

Singkatnya, Janet mengkritik pemberitaan kasus lumpur lapindo yang hanya fokus pada berita-berita rutin. Hari ini ada apa, tanggul jebol, korban demo, pembayaran ganti rugi... Begitu saja dari hari ke hari. Sementara tulisan mendalam tentang ada apa di balik kasus itu jarang muncul.

Ini tak hanya kasus lapindo, tapi juga kasus-kasus besar. 'Saya akui kritik Janet Steele ada benarnya,' ujar Abror, yang juga ketua Persatuan Wartawan Indonesia  Jawa Timur.

Di bagian lain, Janet mengakui bahwa wartawan-wartawan Indonesi sering kali kesulitan mewawancarai pejabat publik. Minta data pada pejabat tidak gampang di sini. Ini yang beda dengan di USA.

'Padahal, salah satu tugas pejabat, ya, menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan. Dia dibayar dengan pajak dari rakyat, bekerja untuk rakyat,' kata Janet.

Karena itu, Janet meminta wartawan Indonesia untuk tidak henti-hentinya mengingatkan pejabat Indonesia [di pusat maupun daerah] untuk sadar akan salah satu kewajibannya: menjawab pertanyaan wartawan. Itu penting dalam negara demokrasi. Bagaimana publik mengetahui kinerja pejabat kalau wartawan tak diberi akses?

Di sini wartawan malah sering diusir oleh pejabat, kata Henry Subiakto. Contohnya di Malang, 23 Juli 2007, ketika para wartawan hendak melihat lokasi jatuhnya pesawat latih, jenis Bronco, milik TNI Angkatan Udara. Di sini pejabat pun sering main kucing-kucingan dengan wartawan. Padahal, wartawan hanya meminta sedikit keterangan dari si pejabat yang masih relevan, tentu saja.

Mudah-mudahan pejabat-pejabat di Surabaya, dan daerah lain di Jawa Timur, mendengar program selasaan ini. Bahwa mereka wajib menjawab pertanyaan wartawan. Dan, saya tambahkan, pejabat dilarang memberikan amplop [uang, barang] kepada wartawan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pejabat kita suka menghindari wartawan karena takut dimintai uang oleh wartawan.

No comments:

Post a Comment