04 July 2007

Homili pertama Mgr. Sutikno


Yth. Bapa Kardinal, Your Excellency Apostolic Nuncio, Bapa2 Uskup, Bapak2 dan ibu, para biarawan-wati serta saudara2 yang terkasih,

Kiranya tidak berlebihan kalau orang mengatakan bahwa perayaan tahbisan uskup ini adalah peristiwa iman umat di keuskupan Surabaya. Iman akan Allah yang adalah kasih itu sendiri (Yoh 4:8). Upacara dan perayaan tahbisan uskup ini tidak dapat dilepaskan dari karya kasih Allah yang secara misteri menyelenggarakan apa yang penting dan perlu bagi umat Allah di keuskupan Surabaya ini untuk hidup, berkembang serta berbuah dalam kasihNya.


Keuskupan Surabaya perlu mempunyai seorang uskup, sebab melalui terang misteri kasih Allah dalam Kristus, Sang Gembala, dan Penyelamat jiwa (1 Ptr 2:25) dia dapat memahami lebih misteri Gereja, yang karena tahbisan menghayati tugasnya untuk mengajar, menguduskan dan memimpin umat Allah.

Karena itu, perayaan tahbisan ini jelas bukan suatu “pemuliaan” diri saya pribadi. Apalah saya ini untuk dipilih dan ditunjuk sebagai uskup Surabaya. Kalau boleh saya mengutip nasihat Tuhan sendiri untuk semua penunjukkan jabatan/pelayanan umat Allah ini dengan semangat hamba (“Demikianlah juga kamu, apa bila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba2 yang tak berguna; kami hanya melakukan aya yang harus kamu lakukan.” Luk 17:10). Dan kita ini semua sebenarnya adalah hamba2 yang melakukan kehendak Allah agar berbuah hidup, berkembang dan berbuah dalam kasihNya.

Arah hidup itulah yang saya pikirkan untuk motto tahbisan uskup (“Aku datang supaya kamu mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” Yoh 10:10). Karena iman akan Kristus itu, kita menerima dan menghayati hidup bukan sekedar hidup. Hidup sejati kata orang dan hidup yang diresapi dan diarahkan oleh hidup kekal. Kristus datang untuk memberi hidup kekal (selagi hidup masih di dunia, kita menghayati hidup yang diresapi dan menjadi persiapan untuk hidup kekal). Justru hidup yang demikian itu yang membuat berlimpah!

Dalam konteks jaman modern ini hidup tidak akan berlimpah karena ada banyak tentangan dan bahaya yang menjauhkan diri kita dari perspektif hidup kekal ini. Ensiklik Bapa Paus Yohanes Paulus II, dan terutama surat ajakan pastoral untuk hidup keluarga Familiaris Consortio, dipertegas dengan ensiklik pertama Paus Benediktus XVI, “Deus est Caritas” mengingatkan akan kerancuan hidup yang sempit, kerdil dan chaotic karena materialisme, hedonisme, konsumerisme, individualisme, sensualisme, seksualisme, ...sampai ke sekularisme.

Mengingat arah hidup kristiani yang demikian itu kiranya saya dapat berpesan beberapa hal untuk membuat hidup kita “berlimpah”. Saya pikirkan dalam kategori apa yang penting, perlu dan mendesak kita pikirkan dan lakukan sebagai kerangka acuan hidup umat Allah di keuskupan Surabaya.

Yang penting:

Kita sebagai umat katolik di keuskupan Surabaya hendaknya melihat iman kita ini bukan kebetulan saja. Saya beriman akan Kristus dalam Gereja Katolik bukanlah kebetulan. Ada panggilan, ada tugas ada misi hidup, karena terlebih dahulu menyadarinya sebagai anugerah Allah. Silahkan mencari dan menemukan keindahan, kebahagiaan yang nampaknya tidak menarik tetapi sebenarnya penuh dengan kebijaksaaan hidup dari ajaran para rasul sampai sekarang dan akan datang.

Singkatnya, berbahagialah menjadi katolik dan berbanggalah karena kita punya misi hidup tertentu. Kristus yang kita wartakan adalah Dia yang tetap selamanya (1 Ptr 1:25). Jangan sampai kita terkena bahaya sensualisme (yang penting medianya, kemasannya, menarik rasa atau tidak) apalagi materialisme utilitaris hedonistik (ada untungnya, enaknya, dsb). Bagaimana hidup yang berlimpah itu bagi anda dalam perspektif ini?

Umat di keuskupan Surabaya ini bisa dicirikan oleh semangat dinamisnya, berani, rela, murah hati, besar hati dsb. Inilah karakteristik pahlawan. Ini nampak dalam banyaknya kelompok, gerakan, devosional, organisasi, malah grup2. Kerap kali bisa saling benturan dan melemahkan dan jatuh dalam bahaya compartementalisme, pengkotak2an, pengkelompok2an yang cenderung eksklusif, menyandera Roh Kudus untuk kelompoknya sendiri. Memang sebenarnya ini soal tegangan di satu pihak “jangan padamkan Roh” (1 Tes 5:19) yang bekerja menggerakkan hati umat beriman tapi di lain pihak “ujilah roh2itu apakah mereka berasal dari Allah” (1 Yoh 4:1).

Baiklah kalau kita bersama melihat diri sebagai keluarga, yang tahu dan menghargai, tapi juga kritis terhadap diri sendiri sejauh apakah benar kita mewartakan Kristus melalui kelompok2, gerakan, grup2 itu?

Yang perlu:

Tetap hidup dalam jalur mengasihi melayani dan mengabdi sekalipun pahit dan tak ada imbalan, karena itulah jalan hidup kristiani. Namun untuk itu kita harus belajar dan belajar. Bukankah kita diberi perintah oleh Kristus (karena mudah seenaknya, enggan, mudah lupa, puas diri dan menganggap sudah cukup dan benar?) untuk mengasihi seperti Aku mengasihi kamu (Yoh 15:12). Kita tetap diharapkan untuk belajar dan meningkatkan diri dalam mengasihi, melayani, mengabdi dengan kasih Tuhan.

Orang dewasa ini bicara tentang profesionalisme dalam bekerja. Dalam kaitan ini kita orang2 rohani perlu belajar terus secara profesional melayani dengan kasih Tuhan (Semua yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu, Flp 4,8). Ini berlaku bagi kita semua umat Allah bukan saja para imam di keuskupan Surabaya yang sebenarnya tidak cukup profesional saja sebagai imam yang melayani sebagai gembala jiwa melalui pelayanan sakramental dan lainnya, namun seharusnya kita lebih harus menyucikan/menguduskan pekerjaan2 kita sehari-hari. Ada hal2 yang harus kita lakukan dengan serius dengan motivasi yang sungguh2 seakan2 kita melayani Tuhan, ada yang suci dan harus kita sucikan dalam pekerjaan2 kita karena meneladan kasih Allah kepada kita yang adalah suci.

Yang mendesak:

Kiranya tidak berlebihan jika hal2 yang mendesak yang harus kita lakukan ialah bertobat/mengaku salah dan lemah.

Setiap kali kita merasa hidup ini tidak melimpah karena kasih Tuhan, kita bertobat kepada Allah dan mengaku salah/ lemah kepada sesama, dan berjanji berbuat silih/melakukan perbaikan hidup/perubahan diri atas kerusakan hidup karena tidak mau hidup melimpah, ini harus mulai dari saya dan pada gilirannya kita semua.

Saya mengucapkan banyak terima kasih (dan minta maaf kalau tidak kesampaian ucapan terima kasih ini, ) untuk semua pihak yang telah berbuat sesuatu untuk perayaan (iman) tahbisan ini. Mulai dari anda semua yang mengucapkan selamat secara pribadi, telpon dan sms, mulai dari seluruh jajaran panitya yang mempersiapkan semua acara ini, sumbangan2 dana dan tenaga/pikiran, lengkap dengan semua yang ukuran super jumbo, koor, misdinar, sekuriti ... sampai kepada bapa Kardinal, Your Excellency Apostolic Nuncio, bapa2 uskup yang hadir dan yang mengucapkan selamat dari kejauhan. Peristiwa iman perayaan tahbisan uskup ini memang peristiwa besar, namun marilah kita biasa berbuat yang biasa-biasa sehari-hari dengan kesungguhan dan kesucian batin, melayani Allah dan sesama dan melalui karya2 yang biasa2 inilah yang menentukan kesungguhan untuk melakukan karya Tuhan.

Pada kesempatan ini saya giliran menunjuk (memberi tugas) untuk kuria keuskupan, sebagai Vikjen: Rm. Petrus Kanisius Edi Laksito; sebagai Vicarius Judicialis: Rm. Antonius Dwi Joko; sebagai Sekretaris: Rm. Martinus Damar Cahyadi; sebagai Bendahara: Rm. Petrus Unang Hermawan. Mohon doa restu pelayanan!

Akhirnya, marilah kita mohon kekuatan dan perlindungan dari Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus untuk karya2 Tuhan di keuskupan Surabaya, apapun bentuknya dalam hidup keluarga, pelayanan masyarakat, lebih dewasa dalam iman dan berbuah dalam kasih Tuhan. Kita mohon juga perlindungan Bunda Maria, bunda kita untuk kesejahteraan hidup dan perjalanan ke keselamatan akhir hidup kita.

Hidup karya Allah dalam dan melalui, serta bersama kita. Hiduplah Allah di dalam hati kita, sekian dan terima kasih.

1 comment:

  1. Kami sekeluarga mengucapkan Selamat NATAL 2008 & Selamat TAHUN BARU 2009. Damai NATAL & KASIH serta PENYERTAAN dari YESUS KRISTUS yang telah menebus kita dari jurang kebinasaan akan senantiasa mengiringi kita dalam mengarungi tahun 2009. GOD BLESS U & YOUR FAMILY. Mohon doa dan dukungannya dalam menghadapi PEMILU LEGISLATIF 2009.......NOMER URUT 2. Reny Juliana Setio, calon legislatif DPRD JAWA TIMUR (Daerah Pemilihan Surabaya & Sidoarjo) dari PARTAI KEDAULATAN(Nomer partai : 11)

    ReplyDelete