18 July 2007

Gereja Palasari, Kampung Katolik di Bali




Gereja Palasari menjadi simbol inkulturasi agama Katolik dan budaya Bali di kawasan Jembrana, Bali bagian barat. Komunitas ini dirintis oleh Pater Simon Buis SVD sejak 1940.


Belum lama ini saya ketemu Prima, gadis manis bekas aktivis gereja di Surabaya. Aha, dia sudah punya calon suami. "Mas, kenalin calon saya. Ganteng nggak?" ujarnya sambil tertawa kecil.

Hehehe... pancet ae Ning Prima iki.

"Aku punya keinginan, kalau bisa saya menerima sakramen pernikahan di Palasari. Gereja dan lingkungannya luar biasa," ujar Prima.

Kali ini nadanya serius.

Celetukan kawan lama ini bikin saya ingat gereja Katolik di Dusun Palasari, Kabupaten Jembrana, Bali. Saya kebetulan beberapa waktu lalu mampir ke sana saat berwisata lewat darat dari Surabaya ke Bali. Dan sejak lama saya dengar cerita Gereja Palasari lewat mulut Dewa Made Ramawidia Swara, bekas aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia [PMKRI] Surabaya.

Kakek si Dewa ini kebetulan salah satu pejuang, pendiri gereja di Palasari, sekaligus peletak dasar komunitas Katolik di pedalaman Bali tersebut. "Perjuangannya sangat panjang, berliku-liku, penuh pengorbanan. Puji Tuhan, komunitas Katolik akhirnya terbentuk secara alamiah di Palasari. Saya termasuk keturunan Palasari."

Gereja Katolik Hati Kudus Palasari mencerminkan inkulturasi agama Katolik di pulau dewata itu. Bangunan dibikin mirip bangunan-bangunan adat di Bali. Begitu banyak detail, aksesoris, dan tetek-bengek lain yang serba Bali. Hanya saja, di tengah bangunan dan di dua sisi gapura ada salib kristus, simbol kekristenan.

Dewa Made menyebutnya sebagai arsitek gotik bernuansa Bali yang khas. Pohon mangga tua masih bisa dinikmati kerimbunannya. Inilah yang membuat Gereja Palasari menjadi sangat unik di Bali [provinsi dengan mayoritas mutlak orang Hindu], dan bikin cukup banyak orang di luar Bali penasaran ke sana. Atau, ingin menikah di gereja itu.

Lalu, bagaimana kisah singkat Gereja Palasari, termasuk pembentukan 'Gereja' dalam G [besar] alias jemaat alias ecclesia? Saya bersyukur, sahabat dekat Dewa Made Ramawidia Swara hafal di luar kepala.

"Bagaimana bisa lupa? Gereja Palasari itu simbol semangat pembebasan yang ditanamkan oleh Pater Simon Buis SVD. Menjadi pembebas bukan pekerjaan mudah karena pelaku harus merasa bebas dulu," ujar Dewa Made.

[Aha, Dewa ini memang suka diskusi yang berat-berat tentang ajaran sosial gereja, civil society, bahaya kapitalisme... sehingga kalimat-kalimatnya khas aktivis. Dia juga aktif dalam berbagai unjuk rasa menentang rezim Orde Baru pada 1997-1998 di Surabaya.]




Menurut Dewa Made, Pater Simon Buis masuk ke Bali sebagai misionaris atau pastor Katolik pada 1936. Sembilan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Simon giat menggali informasi tentang komposisi masyarakat Bali, adat, budaya, bahasa, dan semua yang berkaitan dengan Bali.

Biasalah, di mana-mana misionaris Societas Verbi Divini [SVD] selalu melakukan itu. Tujuannya, ya, untuk memudahkan reksa pastoral atawa penggembalaan umat. "Dalam waktu singkat Pater Simon Buis menguasai bahasa dan budaya Bali," tutur Dewa Made. Pater Simon tinggal dan bersosialisasi dengan masyarakat umum yang beragama Hindu.

Ketika itu wilayah Tuka, dekat Denpasar, semakin padat sehingga pada 1939 pemerintah berencana mengembangkan wilayah di Bali bagian Barat. [Sekarang Kabupaten Jembrana, dekat dermaga penyeberangan di Gilimanuk.] Pater Buis menangkap rencana ini sebagai peluang untuk mendirikan sebuah komunitas Katolik di Pulau Bali yang hidup rukun dan damai dengan saudara-saudaranya yang Hindu.

Pater Simon Buis SVD kemudian berdiplomasi dengan dewan raja-raja. Dia minta izin pembukaan lahan sekitar 200 hektare di Palasari. [Sebelumnya, sudah berkembang jemaat Kristen Protestan di Blimbingsari.] Perjuangan Simon Buis tak sia-sia. Mengutip istilah Dewa Made dan umat Katolik di sana, ini semua karena anugerah dan berkat melimpah dari Tuhan.

Setelah diperoleh kepastian, pada 15 September 1940, Pater Simon Buis SVD melakukan long march bersama 24 warga Tuka, Denpasar. Mereka jalan kaki sejauh 170 kilometer lebih menuju hutan pala. Pater Simon Buis bersama 24 warga itu kini dikenang sebagai peletek iman alias pendiri komunitas Katolik di Palasari.

Jalan kaki yang begitu jauh melelahkan ibarat 'jalan salib' Kristus. Via dolorosa. Dari 24 orang, yang tersisa hanya 18 orang. Nah, 18 orang itulah yang kemudian bikin gereja di sana: Gereja Katolik Palasari [lama]. Benih-benih Katolik mulai disemai oleh 18 pelopor tersebut.

"Salah satunya kakek saya," beber Dewa Made Ramawidia Swara.

Saat Jepang masuk, 1942, orang-orang Belanda ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Termasuk para pastor Katolik, termasuk Pater Simon Buis SVD yang ditahan di Sulawesi. Ajaibnya, meski gembalanya dipenjara dan diasingkan, jemaat Palasari terus berkembang dan berbuah.

Jepang pun kalah. Pater Simon Buis kembali ke Palasari pada 1947. Dia terkejut karena sudah ada 96 keluarga Katolik di situ. Gereja lama pun menjadi terlalu sumpek. Maka, dia mengajukan izin menambah lahan seluas 200 hektare kepada dewan raja-raja. Disetujui! Lahan inilah kemudian didirikan Gereja Katolik Palasari sekarang.

"Palasari lama melalui Sungai Gede. Saat ini di Palasari Lama hanya tinggal beberapa keluarga Katolik saja. Di situ didirikan sebuah salib sebagai simbol perjuangan membangun gereja lokal awal," tulis Dewa Made dalam sebuah catatan kenangannya akan kampung halamannya di Palasari, Bali.

Pada 25 Agustus 1960 Pater Simon Buis SVD meninggal dunia di Belanda. Resquescat in pace! Untuk mengabadikan namanya, jalan raya di Desa Ekasari pun diberi nama Jalan P. Simon Buis. Juga ada patung P. Simon Buis SVD.

"Beliau mewariskan kepada kami di Palasari sebuah semangat pembebasan, semangat pantang menyerah. Kami, generasi muda Katolik, selalu ingat bagaimana nenek moyang kami jalan kaki dari Denpasar sampai ke Palasari untuk membentuk sebuah komunitas. Iman Katolik itu mahal lho," ujar Dewa Made yang juga kolumnis di sejumlah media cetak di Surabaya.

Data pada tahun 2002 menyebutkan bahwa umat di Paroki Palasari ada 319 keluarga atau 1.382 jiwa. Tentu saja, saat ini sudah ada penambahan maupun perpindahan ke tempat lain untuk studi, kerja, dan sebagainya. Harian Jawa Pos edisi 26 Desember 2006 menulis ada 331 keluarga.

Umat Katolik di Palasari menghayati imannya sebagai orang Bali. Tak hanya bentuk gerejanya, pada Natal kemarin misalnya, umat memakai busana adat Bali saat perayaan ekaristi [misa] Natal. Perempuan pakai kain dan kebaya, laki-laki pakai kampuh, lengkap dengan udeng atau destar.

Umat juga pasang penjor di sisi kiri pintu gerbang rumah masing-masing plus umbul-umbul. Benar-benar bernuansa Bali.

"Itu sudah menjadi tradisi kami di Palasari. Kami ini, meskipun Katolik, berusaha tetap melestarikan budaya leluhur Bali. Makanya, nuansa Natal di sini mirip umat Hindu merayakan Galungan," kata I Gusti Putu Triyasa, tokoh umat Katolik di Palasari.

Sehari menjelang Natal, kata Putu yang juga bekas kepala desa Ekasari, umat melakukan penampahan galungan. Yakni, memotong hewan serta membuat makanan dari olahan daging tersebut. Lalu, ziarah ke makam keluarga. Seperti orang Bali umumnya, umat Katolik juga mengunakan 'canangsari' lengkap dengan dupa.

Sebaliknya, umat Katolik asal Palasari yang berada di Jawa selalu berusaha terlibat dalam perayaan-perayaan agama Hindu. Teman saya, Dewa Made Ramawidia Swara, aktivis gereja, misalnya, selalu bersemangat saat menusung ogoh-ogoh bersama para pemuda Hindu lainnya di Jawa Timur.

"Bagi kami di Bali hal-hal seperti ini memang biasa. Penghayatan terhadap budaya leluhur sangat tinggi dan itu selalu kami syukuri," tegas Dewa Made.

Ah, Palasari! Inkulturasi yang sempurna! Pantas saja kalau Prima ingin melangsungkan pernikahan di sana.



FOTO-FOTO: Yoga Raharja dan Leonardus Dewa Made RS

20 comments:

  1. thanks atas informasi n foto gereja palasari. very interesting.

    ReplyDelete
  2. kita jd tau kalo di bali pun ada kampung nasrani. selama ini org taunya bali identik dg hinduisme.

    ReplyDelete
  3. THERESIA NI PUTU SRI HERAWATI11:02 PM, August 12, 2009

    saya suka dgn gereja palasari yg memengang tegu tradisi gereja karna saya jg asli org palasari sudh lama tdk plg, saya ingin tau bg mana goa mariax sudh selesai apa blm???

    ReplyDelete
  4. Salam damai saudara2ku..

    Saya ada rencana utk berkunjung (lagi) ke Gereja Palasari di akhir September nanti. Mohon informasi bila ada yang mengetahui losmen/guest house yang murah meriah di sekitar Palasari.. biar bisa ikut misa sekalian disitu.. hehe..
    bisa email langsung di yanuardarmaji(at)gmail(dot)com
    Terimakasih sebelumnya...
    GBU

    ReplyDelete
  5. Selamat datang di Palasari,sebuah desa di Bali dengan mayoritas penduduk beragama Kaolik..
    Saya orang Palasari ingin sedikit memberi info..
    Jika anda ingin minginap untuk menghadiri perayaan ekaristi di Palasari,silahkan menghubungi Pastor Paroki Palasari..
    Barangkali anda bisa mendapat tempat istirahat di rumah umat ataupun juga di Panti Asuhan Maria Goretti Palasari..
    Trimakasih,
    Tuhan memberkati anda

    ReplyDelete
  6. yan hendra ( FB:palasari comunity/ www.palasaricommunity.blogspot.com ) from Palasari.
    Saya sangat senang membaca ini. untuk nama nama perintis silahkan di baca di komunitas palasari. Dan semakin banyak orang yang tau atau mengerti tentang sejarah gereja kami, kamipun merasa senang dan bangga. yang penting sejarah itu perlu di luruskan, karena kami ingin adik, anak bahkan cucu kami tau, dari mana sebenarnya palasari itu. dan di samping gelombang I, ada juga gelombang ke II. itu juga perlu di ketahui. selamat, GBU.

    ReplyDelete
  7. saya mau mengikuti misa natal di palasari . Sy dari jkt bermobil kebali. mudah2an sampai tepat waktu dgn selamat. amin

    ReplyDelete
  8. Inilah Nama dari 18 Perintis PALASARI
    Yang datang untuk Pertama kalinya ke Hutan PALA di Jembarana Bali Barat

    1. Gerardus I Gusti Kompiang Djiwa (alm) Beliau yang menjadi Pimpinan rombongan
    2. Mateus I Nyoman Runtun (alm) alias Kak Rosa
    3. Thomas I Nyoman Narta (alm) alias Kak Budi
    4. Stanislaus I Nyoman Senteg (alm) Tidak mempunyai keturunan di Palasari
    5. Tadeus I Wayan Rinten (alm) alias Pan Limin
    6. Sebastianus I Md Serinun (alm) alias Pan Mindra Kakeknya Kadek Deni
    7. Robertus I Nyoman Ngantem (alm) alias Pan Runia Kakeknya Mang Endi
    8. Nikolaus Pan Catri (alm) alias Kak Dawio
    9. Yoseph I Nyoman Taweg (alm) alias Pan Anna / Kak Yosi
    10.Blasius I Wayan Kepug (alm) alias Kak Heri
    11.Antonius I Wayan Geledug (alm) alias Pan Riog / Kak sur
    12.Raimundus I Wayan Kerosok (alm) Pan Nyamen
    13.Kornelius I Ketut Kenyir (alm) alias Pan WEsta
    14.Yohanes I Wayan Ngantug (alm) alias Pan Mundra / Kak Klara
    15.Andreas I Ketut Sobrat (alm) alias Pan Sandi / Kak Erni
    16.Kornelius I Made Kebek (alm) alias Pan Kandri / Kak Tikok
    17.Yoseph I Nyoman Manis (alm) alias Kak Indra
    18.Teodorus Iketut Celonok alias Pan Sukantra (satu satunya Yang Masih bersama kami di Palasari

    ReplyDelete
  9. sepuluh tahun lalu saya pernah tinggal di Palasari.ingin rasanya datang kembali merasakan teduh dan tenangnya tinggal dipalasari.kalo air ledengnya ga ngalir,rame2 mandi di bendungan Palasari sambil mancing.

    ReplyDelete
  10. Palasari, sebuah desa yang penuh kenangan yang tidak bisa dilupakan sepanjang masa. Meskipun cuma beberapa tahun tinggal di Palasari, tapi kenangan itu tak akan terlupakan seumur-umur. Dulu aku tinggal di Asrama STM Marga Ginawe, terus pindah, dan tinggal di rumah Pan / Men Budi yang rumahnya pas di depan Gereja. Beliau sudah aku anggap sebagai orang tua ku sendiri. Begitu ramah, begitu sabar, begitu sosial dan begitu rajin beribadah. Banyak pelajaran yang aku petik dari Beliau. Setiap sore mancing di bendungan bersama romo Yoseph. Palasari yang tak terlupakan, kapan ya aku bisa mengunjunginya lagi. Aku sudah kangen dengan saudara-saudaraku di palasari. Bapak Ruben, Bapak Wayan Sandy, Bapak Made Taros,
    Pan Elly, Bapak Theophylus, Pan Budi, Men Budi, Beli Budi, Beli Dirgo, Ibu Agustina Tukinem, Ibu Sumirah, Dek or, Pan Badi, dan masih banyak Saudara-saudaraku yang lain. Salam Hangat Tono

    ReplyDelete
  11. senengnya banyak yang suka dengan kampung halaman saya,,palasari tercinta...
    banyak yang berubah dari palasari,sudah semakin maju..
    silahkan berkunjung kepalasari..

    ReplyDelete
  12. Saya & keluarga akan berlibur ke Bali utk Natal tahun ini. Boleh minta petunjuk jalan menuju gereja Palasari? Apakah jauh dari Legian? Terima kasih :)

    ReplyDelete
  13. my God,.....so beautyful....,oneday I will there..
    .........

    ReplyDelete
  14. sangat menarik cerita ttg palasari. aq juga kepengin mampir kalo ada kesempatan berkunjung ke bali. gbu.

    ReplyDelete
  15. beberapa waktu yg lalu aku mengunjungi desa palasari dalam r angka Kuliah Kerja Lapangan bahkan sempet di berkati sama romo Paroki Bartolomeus kayaknya hehehe pengen banget bisa ikut misa di greja yg gede itu !!!!!!!!!! TUHAN semoga aku bisa ikut misa di sana AMINNN

    ReplyDelete
  16. Salam hangat buat Pastor Parokinya
    Dari Stevanus

    ReplyDelete
  17. setiap q pergi jauh,hanya satu tempat yang tak bisa q lupakan,palasari,kampung halaman q,.sahabat mudika palasari,aktif selalu ya dalam pelayanan gereja,,palasari ada di pundak kita,,,salam damai..

    ReplyDelete
  18. Someday harus kesana,, palasari bkin penasaran.. Salam dari mudika st.Ursula Palangkaraya, Kalteng :)

    ReplyDelete
  19. Bangganya aku jadi orng palasari, ternyata palasari banyak di segani orang bahkan terkenal sampai di mancanegara... Ga nyesel deh kalo kalian dapet ke palasari guys

    ReplyDelete
  20. Pengamat Indonesia11:53 PM, February 11, 2014

    Begitulah seharusnya penyebaran agama yang mantap, dengan contoh tauladan dan dengan akulturasi budaya setempat. Jangan budaya dari Arab atau Amerika asal mau dimancepkan saja, lantas sumpah serapah sekelilingnya.

    ReplyDelete