09 July 2007

Delta Cafe Sidoarjo


Heru Siswanto, pendiri dan pengelola Delta Cafe Sidoarjo.


Delta Cafe Sidoarjo memang khas. Ketika banyak kafe oleng dan akhirnya tutup, Delta justru tetap eksis. Kafe dengan segmen utama anak-anak muda ini ramai terus.

Tak heran, Delta Cafe sudah menjadi semacam ikon bagi anak-anak muda Sidoarjo untuk melepas lelah dan mencari hiburan murah. Penjajakan, kencan, ngobrol, diskusi santai….

"Padahal, kami sih ingin membidik semua segmen masyarakat. Tapi yang kemudian menonjol adalah image bahwa Delta Cafe identik dengan kafe anak muda," kata Heru Siswanto, manajer sekaligus pemilik Delta Cafe, kepada saya.

Perjalanan Delta Cafe sebenarnya tidak mudah. Mula-mula kafe dua lantai ini bermarkas di Jalan Kartini 31 Sidoarjo. Pada 1997, ketika krisis moneter mulai menghantam republik ini, lima sekawan [HERU SISWANTO, BUDI PRIYANTO, ASNAN, SUWARNO, BUDI SANTOSO] sepakat mendirikan kafe untuk remaja.

[Karena itu, Delta Cafe sering disebut Delta Cafe5, merujuk pada lima tokoh perintisnya.]

Kebetulan, waktu itu kafe khusus anak muda belum ada di Sidoarjo. Dari hasil bincang-bincang santai, kata Heru, lahirlah ide membuat kafe yang berbeda karakter dengan kafe atau tempat hiburan malam lainnya.

Platform atau visi kafe disepakati. Kafe itu harus tanpa alkohol (miras), tanpa narkoba, dengan live music rutin. Minuman beralkohol, betapapun rendah kadar alkoholnya, haram hukumnnya di Delta Cafe.

Konsep tersebut jelas melawan arus utama pengelola kafe dan hiburan malam di mana pun. Selama ini, kita tahu, bir dan miras lainnya selalu menjadi komoditas andalan kafe-kafe di mana pun.

Bagi Heru Siswanto, konsep kafe tanpa miras perlu dicoba di Sidoarjo karena sesuai dengan karakter masyarakatnya yang religius. Makanan dan minuman dibuat sevariatif mungkin dengan harga murah.

Servis sangat diperhatikan. Pengunjung kafe harus segera dilayani pesanan makanan dan minumannya. "Saya memang selalu menekankan servis," kata Heru.

Para pelayan pun digembleng secara profesional dengan standar hotel berbintang. Busana rapi, ramah-tamah, bicara seperlunya dengan pengunjung agar tidak mengganggu servis bagi pengunjung lainnya.

Kiat sederhana ini ternyata jitu. Perlahan tapi pasti, Delta Cafe5 Sidoarjo dikenal luas sebagai kafe remaja (ABG) yang bersih, bebas miras, bebas narkoba, bebas 'purel', dengan servis sangat cepat. Konsumen diberi kesempatan untuk menyampaikan masukan kepada manajemen apa saja yang harus dibenahi.

Kafe jelas bukan restoran biasa. Untuk itu, pergelaran musik langsung (live band) menjadi salah satu menu Delta Cafe. Tiga kali seminggu (Minggu, Selasa, Rabu) manajemen menghadirkan live band. Flanella Band, yang biasa mangkal di Delta Cafe Malang, menjadi salah satu pengisi tetap.

"Live music itu pengaruhnya sangat besar. Anak-anak muda di Sidoarjo rupanya senang sekali menikmati musik, apalagi kalau yang main itu band bagus," cerita Heru Siswanto seraya tersenyum.

Band bagus. Ini yang agaknya masih sulit ditemukan di Sidoarjo. Ada beberapa band anak muda yang lumayan trampil, tapi perbendaharaan lagu mereka kurang. Ada band anak muda, yang bagus, tapi bergaya oldies. Heru pun bingung karena kerap mendapat keberatan dari pengunjung kafe.

"Ganti saja kalau mainnya kayak begitu," ujar Heri menirukan keberatan anak-anak muda pada band tertentu.

Inilah yang membuat Heru dan kawan-kawan terpaksa mendatangkan beberapa band luar kota untuk mengisi live music di Delta Cafe Sidoarjo.

Yang pasti, pengalaman bertahun-tahun membuat Heru Siswanto semakin pandai membaca selera anak muda Sidoarjo. Selera makan, selera musik, selera busana, hingga atmosfer kafe. Heru membuktikan bahwa tanpa miras pun sebuah kafe bisa eksis di tengah persaingan.

1 comment:

  1. semoga cafenya mas heru tetap laris...

    ReplyDelete