21 July 2007

Christine Rod, Mengapa Kau Menangis?



Christine Rod bersama suaminya, Nasrullah, saat berlibur di Sidoarjo.

Tadi saya bersama tiga pelukis Sidoarjo [Bambang Haryaji, Dani Lukman, Saiful Munir] membesuk Christine Rod di rumah sakit. Christine baru saja tiba dari Jenewa, Swiss, ya di asli Swiss, untuk berlibur ke tanah air.

Tradisi yang sejak dulu dilakukannya karena cinta Indonesia, dan kemudian kawin dengan Nasrullah, pelukis asal Tanggulangin, Sidoarjo.

Di Paviliun Bogenvil RSUD Sidoarjo, saya lihat Christine terbaring lemas. Tangan kirinya ada selang infus. Dia dijaga Nasrullah, suami, dan Fitri, kerabat Nasrullah. 'Apa kabar? Senang bertemu anda. Kenapa kok sampai opname di sini,' ujar saya dan teman-teman.

Lalu, kami menyalami Christine Rod, guru matematika di Jenewa sana. Ah, guru biasa di negara Swiss bisa pesiar keliling dunia, kapan saja, karena gajinya cukup. Bandingkan dengan guru di sini, termasuk ayah saya yang pensiunan guru di pelosok Flores Timur. Di Jakarta, saya lihat di televisi, ada guru merangkap jadi pemuung sampai. Alamak!

Sakit apa? Kok tiba-tiba masuk rumah sakit? Pertanyaan ini tak berjawab. Christine justru menangis. Lama sekali. Lalu, dia mencoba menghapus air matanya. 'Saya sedih melihat Indonesia sekarang,' ujar Christine setelah menenangkan diri. Dia sudah bisa berbahasa Indonesia, makin lancar, apalagi setelah kawin dengan Nasrullah.

Tiba di Sidoarjo, Christine disambut aroma tajam lumpur lapindo. Kampung-kampung yan dulunya hijau, sawah-sawah... kini habis. Asal tahu saja, rumah Nasrullah, suami Christine, berada di Desa Ketapang, yang sebagiannya sudah hilang ditelan lumpur lapindo.

'Indonesia tidak seperti dulu, tahun 1980-an,' ujar Christine. Kali ini tangisannya lebih keras. Saya dan teman-teman mau bilang apa? Porong dan sekitarnya memang hancur akibat lumpur. Lalu, kecelakaan di jalan raya yang terus berulang, menelan korban jiwa.

Christine ternyata memantau dan merenungkan semua fenomena ini di pikiran dan harinya. Namanya juga seniman yang peka perasaan sih. Ternyata, bencana demi bencana, kerusakan lingkungan, kematian di jalan raya, polusi udara, kebisingan, semrawut, kemiskinan... di Indonesia yang bikin Christine sakit. Kata orang tua, sakitnya bukan sakit penyakit, tapi sakit perasaan, yang akhirnya merembet ke fisik.

Maka, suasana di paviliun RSUD [ada televisi, pengatur udara, bersih macam hotel] pun berubah jadi forum diskusi budaya, sosial, keadilan sosial, dan sebagainya. 'Saya sediiiih. Kenapa Indonesia jadi seperti sekarang?' kata Christine, dan menangis lagi.

Oh Tuhan, kami mau bilang apa? Pemerintah Indonesia, DPR, pejabat kita... toh tenang-tenang saja. Menganggap kegundahan Christine sebagai hal biasa. Bahwa 3000-an pengungsi korban lumpur masih bertahan di Pasar Porong pun biasa.

Ganti rugi tersendat-sendat biasa. Jalan rusak biasa. Interpelasi lumpur di DPR biasa. Rakyat miskin, tak bisa bayar sekolah atau kuliah biasa. Sulit cari kerja biasa. Pejabat doyan korupsi biasa. Rakyat dibohongi terus biasa!

Lalu, Christine Rod asal Swiss, mengapa kau menangisi Indonesia? Bukankah orang Indonesia sudah kebal dengan kemiskinan, penderitaan, korupsi...? Masih bergunakan air matamu, Christine, di Indonesia yang pemimpinnya tak lagi peka? Saya bicara sendiri dalam hati karena sulit mengucapkan langsung di depan Christine. Sementara teman-teman mencoba mengalihkan pembicaraan agar Christine, sahabat kami, tidak tambah sakit.

Setelah opname selama empat hari di paviliun terbaik di RSUD Sidoarjo, Christine mengatakan dia teringat ratusan pasien lain di kamar kelas ekonomi. Mutu perawatan di situ buruk. Kalaupun dilayani, orang-orang miskin itu tentu sulit membeli obat yang mahal itu. Mereka pun dirawat di ruang terbuka di bawah standar layanan kesehatan internasional.

'Siapa yang bisa bantu mereka? Saya bisa di sini karena bisa bayar. Bagaimana dengan mereka yang tidak mampu?' kata Christine, lalu menangis lagi.

'Hurek," ujar Christine memanggil nama saya. 'Kenapa di Indonesia seperti ini? Kamu kan wartawan, coba jelaskan. Saya tidak bisa mengerti. Indonesia ini kan negara kaya,' todongnya.

Lidah saya kelu. Mau omong apa? Masalahnya terlalu besar untuk dijelaskan dengan beberapa kalimat. 'Ini persoalan sistem. Sistem yang buruk membuat Indonesia seperti ini,' sela Nasrullah, pelukis, suami Christine. Saya pun selamat karena terbebas dari kewajiban menjawab pertanyaan Christine Rod.

'Kalau di Swiss bagaimana? Apakah semua rakyat yang sakit mendapat pelayanan kesehatan yang sama? Tidak dibeda-bedakan?' giliran saya bertanya.

'Oh ya. Semua orang di Swiss dilayani dengan sebaik-baiknya. Tidak peduli miskin, kaya, pendatang... harus dapat pelayanan kesehatan yang berkualitas. Sistem jaminan sosial sangat bagus, sehingga orang tidak perlu bingung kalau sakit, bahkan operasi,' jawab Christine, antusias.

Aha, saya pun ingat Pancasila. Ada sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Indah nian didengar di telinga, tapi tidak pernah dilaksanakan oleh pengurus negara Indonesia. Di sini pejabat kaya-raya karena korupsi dan suap, sementara rakyatnya miskin merana dan turun derajatnya alias mengalami dehumanisasi.

Christine, moga-moga air matamu untuk Indonesia tidak sia-sia.

Salam damai!

No comments:

Post a Comment