09 July 2007

Cak Man, Juragan Bakso Kota



Siapa tak kenal Bakso Kota? Bakso yang sudah tersebar di 15 kota di Indonesia ini didirikan oleh Haji Abdur Rachman Tukiman [46 tahun]. Pada 8 Juli 2007 Cak Man resmi tercatat di Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai pembuat bakso terbesar di Indonesia. Diameter bakso raksasa itu 1,2 meter. Busyeeet!


Oleh ANIN WIBOWO


Gaya bicara dan dandanan Cak Man [panggilan karib Abdur Rachman Tukiman] nyaris tak mengesankan dia seorang bos. Mengenakan hem warna merah muda, dipadu dengan celana kain warna gelap, Tukiman terlihat sederhana. Tetapi dalam urusan manajerial penjualan bakso, jangan ditanya lagi. Buktinya, dia berhasil mendirikan 60 outlet Bakso Kota di seluruh Indonesia.

''Kami sangat menjaga mutu rasa," kata laki-laki yang lahir di sebuah dusun kecil di lereng Gunung Wilis, Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, ini.

Agar kualitas bakso yang dijualnya tetap bagus, dia menempatkan seorang juru masak dan satu asisten yang andal dan terpercaya di setiap gerai. Khusus untuk pencatatan di Muri, Cak Man menyiapkan lima kuintal daging sapi. Daging tersebut dicampur dengan berbagai bumbu yang dirahasiakan dan dimasak dalam steamer khusus. Proses memasak dilakukan di Malang dan membutuhkan waktu sekitar 20 jam.

Caranya, adonan pentol yang sudah disiapkan dicetak dalam bentuk bola dan dimasukkan ke dalam aluminium yang sudah dilapisi aluminium foil. Pentol yang sudah setengah matang dimasak lagi. ''Kalau dipotong-potong, nanti bisa menjadi sekitar 30 ribu pentol," kata suami Hajah Mariyah Maryatun ini.

Dibutuhkan dana sekitar Rp 60 juta untuk membuat pentol ini. Kegiatan ini sengaja dilakukan sebagai salah satu bentuk bakti sosial. Nantinya, usai dimasak dan dicatat Muri, akan dipotong dan dibagikan kepada anak-anak panti asuhan serta para undangan.

Namun, siapa yang menyangka, bahwa sebelum sukses seperti sekarang, Cak Man mengalami masa-masa yang sangat sulit. Saat dia berusia 9 tahun, ayahnya meninggal dunia. Hal itu, memaksanya untuk membantu beban ibunya dengan berjualan kayu bakar, daun jati dan hasil bumi ke pasar kota Trenggalek.

Usai salat Isya, dia harus menyusuri jalan berbatu memikul barang dagangan ke pasar kota Trenggalek yang jaraknya sekitar 20 kilometer. Setelah barang dagangan habis terjual, dia lantas pulang secepatnya untuk sekolah. Itu dilakukannya selama lima tahun sejak lulus SD tahun 1974.

Merasa hidup di desa tak ada perubahan, dia nekat pergi ke Malang dan bekerja pada juragan bakso, Sumaji. Sejak kecil dia memang ingin menjadi orang kota. Pertama kali bekerja, dia menerima upah Rp 75. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan dia bekerja di desanya yang hanya mendapatkan Rp 35 per hari.

Namun, tak berapa lama, Sumaji menutup bisnis baksonya. Cak Man lantas dititipkan pada teman Sumaji, Mukapi. Itu juga tak berlangsung lama, dan dia dititipkan ke Suyatno. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk berjualan bakso sendiri.

Resep dari tiga juragannya itu, lantas dikombinasikan untuk membuat bakso unggulan. Dia memecah tabungannya sebesar Rp 77 ribu. Awalnya, dia menyewa rumah dari orang lain yang masih empat bulan seharga Rp 95 ribu. Karena tak punya uang cukup, sisa uang sewa yang belum terbayar, akhirnya dibayar dengan diangsur.

''Alhamdulillah, bakso saya lumayan laris," tambahnya.

Dan ketika masa sewanya habis, dia berhasil menabung Rp 175 ribu, dan bisa digunakan untuk menyewa rumah lebih besar di Jalan Kedawung II/20 selama dua tahun. Kesuksesan terus diraihnya, ketika dia beralih menggunakan gerobak dorong untuk menjual bakso.

''Tetapi setelah sempat tanya ke juragan bakso yang lebih senior, ternyata jualan di gerai lebih banyak untungnya. Jadi, saya pun beralih membuat gerai saja," kata bapak berputra tiga ini.

Saat pertama kali membuka gerai, ada hal yang tak bisa dilupakannya. Saat itu, dia membeli kain untuk spanduk bertuliskan 'Warung Bakso'. Tetapi karena spidol yang dipakai tak tahan air, ternyata saat hujan turun, malah luntur dan pudar hurufnya. Karena itu, akhirnya Cak Man disarankan temannya untuk memesan spanduk ke tukang sablon.

''Tetapi saya sempat bingung apa nama yang cocok untuk gerai saya. Dalam kondisi seperti itu, saya lantas milih nama BAKSO KOTA saja. Karena saya memang ingin tinggal dan hidup layaknya orang kota," tuturnya sambil tersenyum.

Nama itu, ternyata makin membuat dagangannya laris. Bahkan, akhirnya nama tersebut didaftarkan ke hak paten ke Dirjen Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). ''Ini merupakan sebuah anugerah bagi saya. Dan saya ingin berbagi dengan orang lain," tuturnya.

No comments:

Post a Comment